Kejutan Piala di Tengah Kesibukan Menulis
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Swt. Atas nikmat sehat yang masih diberikan, saya kembali bisa menulis secara rutin. Tak terasa, hari ini sudah memasuki hari ke-8.
Tema yang ingin saya angkat kali ini adalah seputar kegiatan literasi. Sebagai seorang guru, dunia literasi tentu sangat dekat dengan keseharian saya. Menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga tentang merekam pengalaman, berbagi cerita, dan menyimpan jejak perjalanan.
Namun, tulisan hari ini justru berawal dari sebuah kejutan kecil yang tidak saya duga.
Telepon dari Petugas Pos
Pagi tadi, ketika sedang berada di luar rumah, telepon saya berdering.
“Assalamualaikum, Bu. Sampean di mana?” tanya petugas pos.
Saya spontan menjawab, “Wah, ada paket, ya, Pak?”
“Iya, Bu,” jawab beliau.
Karena saat itu saya masih berada di jalan, saya menjawab singkat, “Tunggu sebentar, ya, Pak. Saya masih di luar.”
Kebetulan saya sedang berbelanja konsumsi untuk teman-teman yang bekerja hari itu dalam persiapan kegiatan karnaval dan gerak jalan.
Cuaca begitu terik. Namun, semangat tetap membakar rasa. Setelah semua urusan konsumsi selesai, akhirnya saya pun pulang.
“Paket COD, Bu!”
Sesampainya di rumah, baru sekitar setengah jam saya beristirahat, telepon kembali berdering.
Kring... kring... kring...
Saya mengangkat telepon.
Ternyata petugas pos kembali mengabarkan bahwa paket saya sudah tiba.
Tak lama kemudian, paket pun mendarat di tangan.
“Lomba COD, ya, Pak?” tanya saya memastikan.
“Iya, Bu,” jawab petugas pos.
Saya langsung berpikir, Waduh, berapa ini harganya?
Dengan penuh percaya diri, saya hanya membawa uang Rp16.000,00.
Namun, setelah dihitung...
“Bu, totalnya Rp31.500,00.”
Saya pun sedikit terkejut.
“Lho, kok besar? Uangnya tidak cukup ini, Pak,” kata saya sambil tersenyum.
Rasa penasaran pun semakin besar. Sebenarnya paket apa yang datang?
Ternyata Sebuah Piala!
Begitu melihat paket tersebut, saya segera membukanya.
Dan...
MasyaAllah!
Ternyata di dalamnya ada sebuah piala apresiasi dari Tim KYM (Komunitas Yuk Menulis).
Hati saya langsung berdebar. Dengan penuh rasa penasaran, kotak itu saya buka perlahan. Momen unboxing tersebut pun saya abadikan dalam sebuah video.
Rasanya sederhana, tetapi bagi saya sangat berarti.
Mendapatkan sebuah piala dari perjalanan menulis adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru yang sedang belajar dan terus berusaha konsisten menulis.
Saya pun berkata dalam hati, “Nah, dapat piala begini saja sudah membuat Bu Guru bangga.”
Alhamdulillah, tulisan yang saya ikutsertakan berhasil lolos seleksi. Apresiasi ini menjadi penyemangat bagi saya untuk terus menulis dan belajar, dengan dukungan dari Komunitas Yuk Menulis (KYM) dan Pak Guru Pedia.
Menulis, Menyimpan Jejak, dan Terus Bertumbuh
Bagi saya, piala ini bukan sekadar benda penghargaan.
Ia menjadi pengingat bahwa setiap tulisan yang kita lahirkan dengan sungguh-sungguh akan meninggalkan jejak. Mungkin tulisan kita sederhana, tetapi bisa saja suatu hari menjadi kenangan yang berharga.
Kini saya masih menunggu kejutan berikutnya, yaitu buku yang akan menyusul.
Semoga perjalanan kecil ini menjadi langkah panjang untuk terus mencintai literasi.
Karena saya percaya, menulis tidak harus menunggu sempurna. Yang terpenting adalah berani memulai dan mau konsisten setiap hari.
Hari ke-8 selesai.
Besok, semoga masih ada cerita baru yang bisa saya tuliskan.
Salam literasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏