Oleh: Sri Wulandari
Ada hari-hari yang datang dengan riuh: ucapan, tawa, kejutan, dan doa yang bersahutan. Namun, ada pula hari yang datang begitu hening. Hanya kita, hati, dan ingatan yang saling berhadapan.
Bagiku, 15 September bukan sekadar angka yang bertambah dalam usia. Ia seperti sebuah pintu yang membawaku menoleh ke belakang—melihat jejak yang telah kutinggalkan, luka yang pernah kupeluk, perjuangan yang telah kulewati, serta orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan.
Di usia yang kembali bertambah ini, aku tidak sedang menghitung berapa banyak yang telah kucapai. Aku justru bertanya kepada diri sendiri: sudahkah aku menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin?
Pertanyaan itu ternyata tidak mudah dijawab.
Maka, pagi ini, kutuliskan percakapanku dengan diri sendiri dalam bait-bait sederhana.
Aku Bersama 15 September
Kala terjaga dalam sunyi yang suci
Ada resah berbisik di dasar hati
“Apakah gerangan yang ingin kau sampaikan
Wahai hati dan jiwa yang tak pandai membaca, namun selalu mampu merasa?”
Tanpa sadar, seulas senyum merekah
di antara retakan jiwa
Kembali kuingat perjalanan di dunia fana
Tentang seorang malaikat tak bersayap
Yang menjadi jembatan bagi kisah dan saksi hidupku
Wahai angin,sejenak aku tersadar
Tak ada sorak-sorai
Tak ada tepuk tangan
Bahkan ucapan yang menunggu di beranda
Lalu, apakah semua itu yang kau cari,
wahai perasaan
Tidak bisiknya
Hanya saja, waktu perlahan memendek
Tak perlu semuanya hadir, sebab kesunyian pun menjadi teman sejati
Wahai raga, tetaplah sehat
Masih banyak tanggung jawab yang harus kutunaikan
Wahai jiwa, tetaplah setia mengiringi langkah dalam irama yang sama.
Sebab waktu tak selalu berjalan beriringan
Akan tiba masanya
Raga kembali kepada tanah
Sementara perjalanan terus berlanjut
Menuju rahasia yang belum kita ketahui
Namun hari ini, bolehkah kalian tetap menemaniku
Wahai saudara-saudara kehidupan
Aku menulis bukan sekadar merayakan usia
Aku menulis untuk mengenang jejak perjalanan yang pernah membawa begitu banyak pertanyaan
Aku telah berusaha
Menjadi versi terbaik dari diriku
Namun, ketika bercermin pada perjalanan
Jawabannya masih saja terasa kurang
Dan hari ini, di hadapan 15 September
Aku mengaku pada diriku sendiri
Aku sedih bukan karena usia bertambah
Melainkan semakin kusadari waktu tak pernah benar-benar tinggal
Maka, sebelum lembar ini kembali menjadi kenangan
izinkan aku mengucap syukur
Atas setiap napas yang masih dititipkan
Jika esok masih diberi kesempatan
Aku ingin melangkah lagi
Bukan untuk menjadi sempurna
Melainkan menjadi lebih baik dari pada diriku yang kemarin
Sapeken,15 September 2026
Sebuah Doa untuk Diri
Mungkin begitulah ulang tahun seharusnya dimaknai. Bukan hanya tentang siapa yang mengingat tanggal lahir kita, berapa banyak ucapan yang datang, atau seberapa meriah sebuah perayaan.
Ada kalanya ulang tahun menjadi ruang paling jujur untuk berbicara dengan diri sendiri.
Di sana kita boleh mengakui lelah. Boleh merasa sedih. Boleh menengok kegagalan tanpa harus membencinya. Sebab setiap perjalanan, bahkan yang penuh luka, selalu membawa sesuatu yang layak dipelajari.
Hari ini aku tidak meminta kehidupan berjalan tanpa masalah. Aku hanya memohon agar diberi hati yang cukup luas untuk menerima, jiwa yang cukup kuat untuk bertahan, dan langkah yang tetap mau bergerak ketika jalan terasa panjang.
Untuk 15 September yang kembali datang,
aku titipkan satu doa:
Semoga sisa perjalanan ini tidak hanya panjang, tetapi juga penuh makna.
Semoga aku tetap sehat untuk menunaikan tanggung jawab, tetap rendah hati ketika mendapat kesempatan, tetap kuat ketika kehilangan, dan tetap bersyukur atas hal-hal kecil yang sering luput dari pandangan.
Sebab pada akhirnya, usia bukan hanya tentang seberapa lama kita tinggal di dunia, melainkan tentang seberapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan di sepanjang perjalanan.
Dan hari ini, aku masih di sini.
Bersama 15 September.
Bersama doa.
Bersama harapan.
Dan bersama diriku sendiri.
15 September 2026
Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.
https://wijayalabs.com