Sabtu, 03 Oktober 2026

Ketika kata Menjadi Cahaya

Ketika Kata Menjadi Cahaya
Oleh : Sri Wulandari

Muridku membawa kata-kata penuh tanya,
tak mampu merangkai ucap tulusnya.
Membawa harap di dalam hati,
menapaki hari dengan langkah tertatih.
Namun, langkah tak ingin menyerah,
di sana cahaya bintang kecil menjadi harapan.
Meski hanya membawa sepotong kalimat,
sebagian masih bingung mencari makna.

Satu kata, satu frasa, satu kalimat,
terangkai perlahan menjadi untaian indah.
Kutemani sepenuh hati,
perlahan, pasti, tanpa henti.

Laksana bintang yang berserak
di hamparan langit yang luas,
mereka menemukan suara
di antara barisan kata dan puisi.

Kalimat yang belum menemukan arah
laksana sepotong mimpi yang menggantung di langit bintang.

Belajar menyusun kata, merangkai makna
hingga satu kalimat menjadi cahaya.
Lalu cahaya itu menjelma cerita

Malam menjadi saksi ketika kata dirangkai menjadi bait puisi berteman milyaran bintang
yang berpendar di langit malam.

Ajarkan mereka keberanian,
agar tak takut pada kata yang belum sempurna.
Sebab dari satu kata yang sederhana,
dapat tumbuh makna yang luar biasa.

Dari kalimat yang masih terbata,
lahir mimpi yang perlahan menemukan arah.

Dan ketika mereka berani bersuara,
kata bukan lagi sekadar kata ia menjadi cahaya
yang memancar dari dalam diri.

Sapeken, 3 September 2026

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi*Omjay*https:// Wijayalabs.com

Pesan yang tersirat dalam puisi diatas
setiap anak memiliki cahaya dan potensi yang berbeda. Tugas seorang guru bukan sekadar mengajarkan kata, tetapi menemani anak menemukan keberanian untuk menyuarakan pikiran dan mimpinya. Dari kata yang sederhana, dapat tumbuh kepercayaan diri, kreativitas, dan harapan.

Malam Minggu penuh cerita😍

Jumat, 02 Oktober 2026

Jumat bercerita

Jumat Bercerita
Ketika Puisi Menjadi Jalan Belajar Anak-Anak Pesisir
Beberapa hari terakhir, seperti biasa, saya kembali melakukan pembinaan kepada murid-murid yang mengikuti kegiatan menulis puisi. Bagi sebagian anak, menulis mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi anak-anak di kepulauan tempat saya mengajar, merangkai kata menjadi sebuah puisi ternyata bukan perkara mudah.

Kendala yang kami hadapi cukup kompleks. Sebagian besar peserta didik belum terbiasa menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam kata-kata. Mereka masih belajar memahami kosakata, frasa, kalimat, bahkan tanda baca. Mereka mungkin sudah cukup akrab dengan gawai, tetapi belum tentu terbiasa menggunakan kata-kata untuk menghasilkan sebuah karya tulis.

Di sinilah saya sebagai guru mencoba mengambil langkah-langkah kecil.

Dengan waktu pembinaan yang terbatas, saya membantu mereka memahami judul yang dipilih, kemudian mengarahkan kata-kata apa saja yang dapat dikembangkan sesuai tema. Bukan untuk membuatkan karya mereka, tetapi untuk membantu mereka menemukan jalan agar mampu menuangkan gagasan dengan kemampuan sendiri.

Hal ini menjadi semakin penting karena karya tersebut akan dibukukan bersama puluhan peserta didik lainnya. Ada tanggung jawab yang harus kami jaga. Penyelenggara juga telah menetapkan bahwa karya tidak boleh menggunakan AI. Artinya, setiap puisi harus lahir dari proses berpikir, belajar, dan kreativitas anak itu sendiri.

Justru di situlah tantangannya.

Anak-anak tidak hanya belajar menulis puisi. Mereka belajar mengenal kosakata baru, memahami makna sebuah kata, menyusun kalimat, membaca, memperhatikan tanda baca, dan berani menuangkan pikiran mereka dalam bentuk tulisan.

Saya sempat berpikir, ternyata menulis bukan sesuatu yang mudah bagi anak-anak di sebuah kepulauan. Keterbatasan lingkungan belajar dan dukungan orang tua menjadi salah satu tantangan yang kami rasakan. Namun, keadaan bukan alasan untuk berhenti mencoba.

Saya percaya, pendidikan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang ia tumbuh dari sesuatu yang sederhana: satu judul, satu kata, satu kalimat, lalu berkembang menjadi sebuah karya.

Dengan jumlah peserta yang cukup banyak, pembinaan pun dilakukan secara bergilir. Ada anak yang dibimbing hari ini, sementara anak lainnya menunggu giliran. Saya harus mengatur waktu agar kegiatan tersebut tidak mengganggu pembelajaran di kelas.

Bagi saya, mengambil waktu pelajaran bukan pilihan yang tepat jika membuat kewajiban belajar mereka terganggu. Karena itu, saya berusaha memberikan pembinaan tambahan agar tugas dalam kurikulum tetap berjalan dan kegiatan menulis pun dapat terlaksana.

Saya ingin anak-anak belajar bahwa tanggung jawab bukan tentang memilih salah satu, melainkan tentang belajar mengatur waktu agar keduanya dapat berjalan seimbang.

Ada pula ingatan ikut menulis edisi pertama, perjuangan kecil yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang. Beberapa karya harus diketik secara manual. Ketika laptop mengalami kendala, saya memanfaatkan fasilitas laptop sekolah agar anak-anak tetap dapat menyelesaikan tugasnya.

Saya pun masih terus belajar. Menjadi guru pendamping bukan berarti saya telah sempurna dalam menulis. Saya juga masih mengikuti berbagai pelatihan dan terus belajar bagaimana mendampingi anak-anak menghasilkan puisi.

Bukankah seorang guru juga seorang pembelajar?

Alhamdulillah, dari proses ini saya melihat bahwa kegiatan menulis puisi tidak hanya menghasilkan karya. Lebih dari itu, anak-anak sedang belajar mencintai bahasa Indonesia.

Mungkin hari ini puisinya masih sederhana. Mungkin masih ada kata yang kurang tepat, tanda baca yang terlupa, atau kalimat yang belum tersusun sempurna. Namun, setiap kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Kepada teman-teman yang sudah berhasil menyetorkan naskah, selamat atas keberaniannya. Kepada yang masih menunggu dan belum menyelesaikan karya kami, jadi jangan menyerah semangat untuk diri. 
Setiap kata yang kalian tulis adalah satu langkah menuju kemampuan yang lebih baik.

Bagi saya, mendampingi puluhan anak dalam kegiatan ini bukan sekadar menyelesaikan sebuah tugas lomba. Ini adalah kesempatan untuk menanamkan keberanian, berani membaca, berani menulis, berani mencoba, dan berani menunjukkan karya sendiri.

Saya pun bersyukur karena sebelumnya telah memiliki beberapa karya puisi yang berhasil diterbitkan dalam solo ber-ISBN. Semoga pengalaman kecil ini menjadi jalan untuk terus menghasilkan karya-karya berikutnya, sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi anak-anak yang saya dampingi.

Sebab, literasi bukan hanya tentang menghasilkan buku.

Literasi adalah tentang menyalakan cahaya di dalam diri seseorang agar ia mampu membaca dunia, kemudian menuliskan kembali apa yang ditemukannya.

Dari kepulauan kecil ini, kami belajar bahwa keterbatasan bukan akhir dari sebuah cerita. Ia justru bisa menjadi awal dari sebuah perjuangan.
Amanat yang saya petik:
Jangan menunggu keadaan sempurna untuk mulai belajar. Dengan keterbatasan yang ada, kita tetap dapat menumbuhkan keberanian, kreativitas, dan tanggung jawab. Guru bukan hanya mengajarkan anak untuk menghasilkan karya, tetapi juga mendampingi mereka menemukan kemampuan yang mungkin selama ini belum mereka sadari.

Cukup sampai di sini cerita Jumat malam saya.
Salam literasi.
Jangan lupa, menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi (Omjay).


Kamis, 01 Oktober 2026

Dipeluk Semesta

Dipeluk Semesta
Oleh : Sri Wulandari
Halaman langit berbisik
Kau tidak bosan
Menemukan diri dalam sunyi
terlihat aneh katanya

Taman langit membentang bak lautan cahaya
Taman bintang hidup dalam ruang tanpa batas
Berselancar di antara gelap malam

Dipeluk semesta
ia mengajarkan damai di jiwa
Angin menyentuh penuh kasih
membawa harapan yang perlahan tumbuh

Ia paham ada hati yang penuh lelah
Namun memilih berjalan dalam sunyi
Bersama bintang malam yang menyalakan harapan

Hidup ini hanya persinggahan
Mengajarkan diri untuk belajar pulang
Semesta adalah rumah bagi doa-doaku

Syukur mengajarkan diri menuju jalan pulang
Dalam pelukan semesta aku berbicara
Bahwa doa adalah cahaya di jalan yang panjang

Sapeken, 1 Oktober 2026



Pesan yang tersirat:

Puisi ini mengajarkan bahwa kesunyian tidak selalu berarti kesepian. Ada kalanya seseorang justru membutuhkan ruang yang tenang untuk menemukan dirinya, memahami rasa lelah, dan mendengarkan suara hati.
Semesta melalui langit, bintang, angin, dan malam menjadi simbol bahwa kehidupan selalu menyediakan keindahan dan pengingat. Ketika hati sedang lelah, kita tidak harus selalu berlari. Kita boleh berhenti sejenak, memandang langit, menarik napas, lalu menemukan kembali harapan.

Bagian “hidup ini hanya persinggahan” menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bukan tempat untuk selamanya. Manusia sedang menjalani perjalanan, sehingga perlu belajar bersyukur, menjaga hati, berbuat baik, dan mempersiapkan jalan pulang.

Sedangkan “doa adalah cahaya di jalan” menjadi inti spiritualnya. Ketika jalan terasa gelap dan kita tidak tahu ke mana harus melangkah, doa menjadi cara untuk tetap memiliki harapan dan mendekat kepada Allah.

Secara garis besar memiliki makna:

Jangan takut pada sunyi. Di dalam sunyi, kita dapat menemukan diri. Ketika hati lelah, tetaplah berjalan dengan harapan. Nikmati kehidupan dengan syukur, karena hidup hanyalah persinggahan. Dan ketika langkah terasa gelap, jadikan doa sebagai cahaya untuk menemukan jalan pulang kepada-Nya.

Dipeluk Semesta, maknanya tidak hanya berarti dipeluk oleh keindahan alam, tetapi juga merasakan kasih Tuhan melalui seluruh ciptaan-Nya. 

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi (Omjay). https://wijayalabs.com

Rabu, 30 September 2026

ketika waktu tidak pernah cukup

Ketika Waktu Tak Pernah Cukup

Tulisan ini kutoreh dalam untaian kalimat. Berbicara tentang waktu yang seolah tidak pernah selesai, tetapi selalu terasa kurang. Mungkin begitulah cerita yang sedang kurasakan. Rasa lelah dan kantuk seperti menyelimuti tubuh, tetapi waktu terus berjalan.
Ketika pagi datang dan ada pekerjaan yang harus diselesaikan, memaksimalkan waktu menjadi tanggung jawab harian. Sebab, ketika gaji dan tunjangan belum cukup memenuhi kebutuhan, pekerjaan tambahan menjadi pilihan agar anak-anak tidak merasa kekurangan.

Sesekali aku teringat masa kecil. Uang jajan sudah dijatah. Pilihan makanan pun sederhana. Membeli makanan ringan di warung bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Namun zaman telah berubah. Kini hampir semuanya serba instan, sementara uang tetap menjadi alat tukar yang tidak bisa diabaikan. Tanpanya, banyak kebutuhan terasa lebih berat.
Di tengah keadaan itu, aku kembali pada tugas menulis. Ada sekitar lima puluh peserta yang ingin kuikutsertakan. Beberapa wali murid sudah dikonfirmasi untuk membantu anak-anak membuat puisi, tetapi sebagian akhirnya menyampaikan bahwa mereka tidak dapat melanjutkannya.

Aku memahami keadaan mereka.

Namun, semangat tetap kuusahakan tumbuh. Para peserta berasal dari kelas 4, 5, dan 6. Sebagian dari mereka sudah sering tampil dalam berbagai kegiatan. Bahkan, beberapa di antaranya kini telah lulus. Kami pernah bersama mengikuti berbagai lomba dalam kegiatan IGINOS. Dari sana aku belajar bahwa keberanian anak-anak untuk mencoba adalah sesuatu yang perlu terus dirawat.

Meski begitu, mendampingi mereka bukan perkara mudah. Kesibukan sore, kegiatan tambahan yang rutin, serta berbagai tanggung jawab membuat waktu kami tidak selalu bertemu. Mengajak mereka menyelesaikan tugas menulis bersama membutuhkan kesabaran.

Di antara lelah yang datang, harapan tetap kutanamkan. Semoga beberapa hari ke depan karya-karya mereka dapat selesai dan dikumpulkan. Bukan semata-mata untuk mengejar sebuah lomba, melainkan untuk mengajarkan kepada mereka bahwa setiap usaha memiliki nilai.

Barangkali tidak semua tulisan akan menjadi juara.

Namun, keberanian untuk menulis, mencoba, dan menyelesaikan sesuatu adalah kemenangan kecil yang patut dihargai.
Aku hanya ingin lelah ini menjadi lillah. Tidak mengharap banyak pujian, sebab aku percaya Allah melihat setiap usaha yang dilakukan dengan tulus.

Aku kembali mengingat kalimat yang sering menjadi penyemangat dalam perjalanan menulis:

“Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.”
Kalimat itu bukan sekadar ajakan untuk menulis. Bagiku, ia adalah pengingat bahwa sebuah perubahan sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Maka, meski waktu terasa tidak pernah cukup, aku akan tetap menulis.

Sebab mungkin, dari satu kalimat yang kutorehkan hari ini, akan tumbuh keberanian pada diri seorang anak untuk bermimpi esok hari
 Salam sehat penuh semangat, salam literasi

Selasa, 29 September 2026

Semesta Bercerita

Puisi tentang kerinduan
Semesta Bercerita
Oleh : Sri Wulandari 
Selasa malam tersenyum penuh damai
Ia bercerita tanpa suara
Miliaran bintang bagian aksara
Berteman cahaya menjadi bahasa

Kisah tak biasa bergema bersama rahasia-Nya
Semesta bak buku tanpa halaman
Hadirkan syukur tiap hadir cahaya
Betapa kecil diriku bersama bumiku

Menulis kisah di kanvas langit
Mengirim pesan cinta melalui kerlip bintang
Ajarkan syukur tiap cahaya menoleh
Aku hadir penuh sapaan kasih sayang
Karunia mengalir penuh sinar yang menuntun
Lentera-lentera semesta menjadi bias keabadian
Napas menjadi benang takdir di ruang tanpa batas
Merawat senyumnya bersama doa malamku

Sapeken, 29 September 2026

Berikut beberapa hal yang bisa kita petik  puisi diatas yaitu

“Semesta Bercerita” seolah menitipkan pesan bahwa setiap cahaya yang hadir adalah pengingat agar manusia tidak lupa bersyukur. Kita mungkin kecil di hadapan luasnya bumi dan semesta, tetapi setiap napas, setiap malam, dan setiap cahaya menyimpan karunia yang patut dirawat dengan kebaikan.

Untuk jiwa-jiwa baik, puisi ini berpesan
Jadilah cahaya tanpa harus menjadi bintang yang paling terang.
Hadirlah dengan kasih, tumbuhkan syukur, dan tinggalkan jejak kebaikan di mana pun berada.
Sebab semesta mungkin tidak selalu berbicara dengan suara, tetapi hati yang bening mampu membaca pesannya.

jangan hanya mengagumi cahaya semesta tetapi jadilah bagian dari cahaya itu.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.
https://:wijayalabs.com


Senin Bercerita

Senin Bercerita

Salam sehat dan penuh bahagia.

Begitu banyak kegiatan harian yang menyita waktu. Kali ini, saya mendapat panggilan dinas untuk mengurus perkara BOSKIN. Perjalanan pun harus ditempuh dengan kapal, sementara gelombang laut sedang cukup besar.

Namun, tekad dalam hati sudah bulat: ini adalah tugas yang harus saya jalani.

Obat antimabuk pun sudah mendarat di kerongkongan. Kapal terus bergoyang diterpa gelombang. Kepala ikut terasa berputar. Mata pun terpejam, hingga akhirnya saya tertidur.

Keesokan malam, saya tiba di Kota Sumenep. Angin malam terasa menembus tubuh. Ternyata, kedatangan saya bertepatan dengan hari yang kurang tepat. Kantor pendidikan masih dalam suasana akhir pekan, sehingga saya harus menunggu hingga Senin.

Hari Senin pun tiba. Beberapa teman sudah siap, termasuk kepala sekolah, pengurus ARKAS, dan saya sendiri. Singkat cerita, saya mulai membantu mengurus berbagai berkas yang harus dilengkapi.

Di sinilah cerita menjadi semakin seru. Ketika ditemukan berkas yang salah, tentu harus diperbaiki kembali. Satu per satu kami teliti agar semuanya dapat diselesaikan dengan baik.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan siang dan azan Zuhur terdengar. Dalam hati saya berkata, Alhamdulillah, akhirnya selesai.

Namun, muncul pertanyaan berikutnya: apakah masih cukup waktu untuk mengejar kapal?

Tiket sudah dipesan. Harapan untuk bisa pulang tepat waktu pun mulai menipis. Saya hanya bisa berdoa dan berharap masih diberi kesempatan untuk mengikuti perjalanan pulang tanpa tertinggal kapal.

Alhamdulillah, dengan wajah lega dan hati yang penuh cerita, akhirnya perjalanan pulang dapat dilalui.

di ada

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa sebuah tugas tidak selalu selesai dengan mudah. Ada perjalanan panjang, waktu yang terbatas, kesalahan yang harus diperbaiki, bahkan rasa cemas yang harus dilewati.

Namun, iyedi balik semua itu, selalu ada cerita dan pelajaran yang bisa dipetik.

Sebab setiap perjalanan bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang bagaimana kita belajar bertahan, bertanggung jawab, dan mensyukuri setiap prosesnya. Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi https://Wijayalabs.com


Minggu, 27 September 2026

Lomba bukan bercerita sekedar menang

Lomba Bukan Bercerita Sekadar Menang

Hari ini aku kembali bercerita tentang kegiatan lomba bersama anak-anak. Bagi kami, lomba bukan sekadar mengejar juara, melainkan bagian dari proses pembelajaran untuk mengenalkan pengalaman baru, membangun mental, dan menumbuhkan keberanian.
Sebagai guru di wilayah pesisir, aku memahami bahwa kemampuan setiap anak tidaklah sama. Waktu mereka pun cukup terbatas. Sepulang sekolah, sebagian mengikuti kegiatan mengaji atau pembelajaran lainnya hingga sore. Karena itu, setiap kegiatan lomba harus dipertimbangkan sesuai kemampuan dan kondisi mereka.

Ketika ada lomba yang dapat diikuti secara daring, aku berusaha mengajak mereka mencoba. Bahkan bagi anak-anak yang belum terbiasa menggunakan gawai, mengikuti lomba secara daring menjadi pengalaman tersendiri. Mereka belajar berhadapan dengan layar, memahami aturan, mengatur diri, dan berani mencoba.

Aku selalu mengatakan, “Tidak harus langsung menang. Cobalah dulu. Kita belajar bersama.”

Bagiku, lomba adalah pintu pengenalan. Anak-anak perlu mengetahui seperti apa Olimpiade, ujian daring, dan kompetisi yang kelak mungkin mereka ikuti ketika duduk di kelas 5 atau 6, bahkan bisa di bangku SMP dan SMA. Dari sana, mereka mulai mengenali kemampuan dirinya sendiri.

Pernah salah satu siswaku mengikuti ISCO 2024 dan berhasil lolos hingga sembilan besar Kabupaten Sumenep. Bagi sebagian orang mungkin angka sembilan bukan sesuatu yang istimewa. Namun bagi kami di kepulauan, pencapaian itu memiliki makna besar. Persaingan tidak hanya datang dari sekolah-sekolah di kepulauan, tetapi juga dari berbagai sekolah di wilayah perkotaan Sumenep.

Di sinilah aku semakin memahami bahwa keberhasilan anak bukan hanya tentang kecerdasan. Ada keberanian, pengalaman, pendampingan, kesempatan, dan dukungan dari banyak orang baik yang ikut menguatkan langkah mereka.
Perbedaan antara anak di perkotaan dan kepulauan juga terasa dalam proses persiapan. Jika sebagian anak di perkotaan memperoleh bimbingan tambahan melalui les atau bimbingan belajar, anak-anak kami sering kali lebih banyak bergantung pada pendampingan guru. Karena itu, kami berusaha memberikan bimbingan sesuai kemampuan mereka, tanpa memaksakan sesuatu yang justru membuat mereka kehilangan semangat belajar.

Kemudian, dalam panitia lomba Digniti, salah satu siswa kembali mendapatkan pengalaman berharga. Ia meraih peringkat perunggu dalam kegiatan lomba IPAS yang berkaitan dengan sains dan agama. Bahkan ketika hampir terlambat melakukan klaim sertifikat, kami tetap berusaha mencari informasi dan mengikuti ketentuan penyelenggara hingga akhirnya sertifikat tersebut dapat diklaim dan momen perjuangannya terdokumentasikan.

Dari semua pengalaman itu, aku belajar bahwa setiap anak memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh. Tugas guru bukan memaksa mereka menjadi seperti anak-anak lain, tetapi membantu mereka menemukan keberanian untuk melangkah sesuai kemampuan.
Sebab, terkadang sebuah kemenangan bukanlah ketika nama anak berada di urutan pertama. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika anak yang semula ragu akhirnya berani berkata, “Aku mau mencoba.”

Amanat tersirat:
Kenapa harus bicara tentang lomba terus  artikelnya, jawabannya simple, kadang dokumentasi seperti ini bisa berharga, jika kita tempatkan ditempat berharga pula, karena aku bukan siapa-siapa, dan pernah berjuang berada difase ini, salam sehat buat diriku.

Jangan ukur kemampuan anak hanya dari hasil akhirnya. Berikan mereka kesempatan untuk mencoba, karena dari sebuah kesempatan kecil dapat tumbuh keberanian, pengalaman, dan kepercayaan diri yang jauh lebih besar.

Hanya tulisan ini yang bisa aku bagikan. Sebagai saksi perjalanan tersebut, tulisan-tulisan lainnya dapat dikunjungi di laman https://wijayalabs.com.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Sabtu, 26 September 2026

Esai reflektif tentang pengalaman seorang guru dalam kegiatan literasi( kisah inspiratif)

Esai reflektif tentang pengalaman seorang guru dalam kegiatan literasi

Ketika Tubuh Meminta Berhenti, Tanggung Jawab Tetap Mengajarkan Arti
Seperti biasa, pagi itu kujalani dengan tenang. Berangkat ke sekolah sudah menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus kulaksanakan dengan semangat 45. Meski kondisi tubuh sedang kurang enak badan, sebelum berangkat aku menyempatkan diri untuk memeriksakan keadaan.

Namun, ada tugas yang tetap harus kuselesaikan. Salah satunya mengumpulkan tugas puisi dalam rangkaian kegiatan lomba yang sedang diikuti melalui komunitas KYM, sebuah kegiatan yang melibatkan kolaborasi bersama Pak Menteri, Kepala Dinas Pendidikan, serta Pak Bupati di daerah setempat.

Sesampainya di sekolah, aku memberikan beberapa arahan kepada peserta didik kelas 6. Setelah itu, mereka mulai mengerjakan rangkaian tugas menulis. Beberapa kalimat sederhana mulai mereka susun. Harapanku, tulisan-tulisan tersebut dapat selesai dan dikumpulkan sesuai batas waktu yang telah ditentukan.

Setelah kelas 6, kegiatan berlanjut bersama kelas 4 dan 5 yang saat itu kugabung menjadi satu. Tujuannya sederhana: memberikan ruang kepada anak-anak untuk berlatih dan menuangkan kemerdekaan berpikir melalui tulisan.

Materi yang diberikan juga merupakan kelanjutan dari pelatihan sebelumnya bersama tim KYM, termasuk arahan dari Ali dan moderator. Beberapa kegiatan sempat kami dokumentasikan karena bagiku, dokumentasi bukan sekadar foto. Ia menjadi jejak bahwa pernah ada proses belajar, perjuangan, dan karya yang dikerjakan bersama.

Hari itu anak-anak mulai menentukan judul. Kami sengaja menetapkan judul terlebih dahulu agar mereka lebih mudah mengembangkan isi tulisan dan tidak kehilangan arah. Suasana kelas begitu hidup. Banyak pertanyaan mereka lontarkan kepadaku.

Namun, di tengah semangat mereka menulis, tubuhku tiba-tiba meminta berhenti.

Rasa mual datang begitu kuat. Aku menghentikan kegiatan sejenak. Kupikir hanya sebentar dan akan segera membaik. Aku mencoba duduk di depan papan tulis sambil memaksakan diri untuk tetap melanjutkan tulisan.

Ternyata tubuhku berkata lain.

Kepalaku mulai terasa sangat pusing. Napasku terasa sesak dan tubuhku semakin tidak stabil. Aku meminta bantuan anak-anak untuk mengambilkan air. Mereka segera memberikan air kepadaku dan aku meminumnya perlahan.

Saat itu aku baru menyadari, ternyata keadaanku tidak sedang baik-baik saja.

Seorang sahabat yang melihat kondisiku segera memberikan perhatian. Ia meminta anak-anak mengambilkan minyak angin. Tanganku, kaki, dan kepala mulai terasa tidak nyaman. Aku mengoleskan minyak tersebut, tetapi tubuhku semakin lemah hingga aku tidak mampu duduk dengan baik.

Dalam keadaan seperti itu, ada satu hal yang tiba-tiba memenuhi pikiranku: bagaimana jika aku tidak bisa kembali berdiri dan meninggalkan anak-anak?

Aku berusaha menenangkan diri. Doa dan segala pengharapan kupanjatkan. Aku hanya bisa meminta pertolongan kepada Allah agar diberi kekuatan dan keadaan ini segera berlalu.

Namun, kondisi belum juga membaik.
Aku akhirnya meminta bantuan agar bisa diantarkan pulang. Tak lama kemudian, salah satu orang tercinta datang membantu. Dengan kondisi tubuh yang masih sangat lemah dan tidak stabil, aku akhirnya meninggalkan sekolah.

Sesampainya di rumah, aku mencoba beristirahat. Ada pekerjaan lain yang sebenarnya harus kuselesaikan. Bahkan ada kegiatan dan ujian yang menanti. Namun, untuk kali ini aku harus belajar menerima bahwa tubuh juga memiliki batas.

Hari itu memberiku pelajaran sederhana.

Tanggung jawab memang harus dijalankan, tetapi tubuh juga harus didengarkan.

Aku bersyukur karena di tengah keadaan yang membuatku lemah, masih ada anak-anak yang peduli, sahabat yang tanggap, dan orang tercinta yang datang membantu. Hal-hal kecil seperti itu ternyata menjadi bentuk kasih yang begitu besar.

Malamnya, meski tubuh belum sepenuhnya pulih, pikiranku kembali kepada tulisan anak-anak.

Aku berharap tugas mereka dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan dikumpulkan pada gelombang kedua sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Mungkin hari itu aku tidak berhasil menyelesaikan semua yang kurencanakan. Namun, aku belajar bahwa sebuah perjuangan tidak selalu tentang seberapa banyak pekerjaan yang mampu kita tuntaskan.

Kadang, perjuangan adalah tentang tetap bersyukur ketika harus berhenti, menerima bantuan ketika membutuhkan, dan percaya bahwa esok masih memberi kesempatan untuk melanjutkan langkah.

Karena seorang guru bukan hanya mengajarkan anak-anak bagaimana menulis kata menjadi kalimat. Dari perjalanan itu, guru pun belajar menulis makna kehidupan melalui pengalaman yang nyata.

Dan hari itu, tubuhku mengajarkanku satu kalimat sederhana: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi. Kalimat sakti https://wijayalabs.com

Puisi_Bayangmu Bersama Bintang

Bayangmu Bersama Bintang
Oleh: Sri Wulandari

Kilas wajahmu menari di pelataran gulita
Sang bintang menggantung di kaki cakrawala
Silhuetmu hadir di antara cahaya lembutnya
Menyapa mata dan jiwa dalam pelukan rindu

Aku terjebak dalam cahayamu yang memikat
Terangmu melambai mengisyaratkan makna
Kau bergerak seolah mengajakku memahami
Bahwa hadirmu tak pernah benar-benar pergi

Senyummu menjelma dalam bisikan angin
Tak terlihat namun begitu nyata
Kau titip salam lewat cahaya malam
Bayangmu kupeluk erat dalam doa

Ker­lip gemintang kembali memanggilku
Lantunan doamu menggema di relung jiwaku
Meski raga tak saling bersua
Hadirnya bayangmu dalam doa, cukup menjadi cahaya

Sapeken, 23 September 2026

kalimat refleksi yang bisa kita petik adalah 

1.“Tidak semua yang telah pergi benar-benar kehilangan jejak. Ada yang tetap hadir melalui kenangan, hidup dalam doa, dan menjelma cahaya yang menuntun langkah.”

2.“Ketika raga tak lagi dapat bersua, biarlah doa menjadi jembatan. Sebab seseorang yang pernah berarti tidak selalu hadir untuk dipeluk, tetapi dapat tetap hidup sebagai cahaya di dalam hati.”

3.“Meski raga tak saling bersua,
Hadirnya bayangmu dalam doa, cukup menjadi cahaya.”
Pesan tersirat tidak semua yang kita cintai harus hadir secara fisik untuk tetap berarti. Ada seseorang yang mungkin telah jauh, tetapi kebaikan, doa, dan hadirnya dapat menjadi cahaya yang menemani perjalanan hidup kita.

Amanat
Belajarlah menerima jarak dan tanpa kehadiran dengan lapang hati. Jangan menjadikan kerinduan sebagai luka yang terus digenggam. Jadikan sebagai doa, dan jadikan doa sebagai cahaya untuk melangkah.

“Ada bayang yang tak lagi dapat dipeluk, ada sosok yang tak lagi dapat ditemui. Namun ketika tak bernama kita titipkan dalam doa, jarak kehilangan kuasanya—sebab cinta yang tulus dapat menjelma cahaya, bahkan dari kejauhan.”

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi. https://wijayalabs.com

Jumat, 25 September 2026

Cerita Reflektif

Menulis dengan Hati, Berjuang dengan Berani

“Menulislah dengan hati agar maknanya tetap dirasakan.”

Begitu pula dengan perjalanan kami mendampingi anak-anak dalam berbagai kegiatan lomba dan olimpiade. Beberapa tahun terakhir, kami terus mencoba mengikuti berbagai ajang, bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan, tetapi untuk memberikan pengalaman kepada anak-anak.

Bersama King Expert Science, misalnya, kami mengikuti lomba dan berhasil mengantarkan dua peserta hingga masuk babak final, masuk ke katagori peringkat 1 dan 13 Bagi kami, pencapaian itu sudah sangat berarti. Alhamdulillah. Terima kasih kepada seluruh kru dan pembimbing yang telah mendampingi anak-anak dalam proses belajar dan berkompetisi.

Petualangan kemudian berlanjut bersama Olimpiade Orbit yang setiap tahun kami ikuti. Kali ini, anak-anak belum berhasil masuk final. Namun, bukankah setiap perjalanan selalu meninggalkan pelajaran? Dari sana mereka belajar bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti mencoba.
Begitu pula dalam beberapa ajang lain, termasuk OSN. Hasil yang kami harapkan belum selalu datang. Ada kalanya kami pulang hanya membawa sertifikat untuk kepala sekolah, guru pembimbing, dan peserta. Namun, kami tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang memalukan.

Justru dari setiap perlombaan, mental anak-anak perlahan terasah. Mereka belajar mempersiapkan diri, berani tampil, menerima hasil, dan menghargai perjuangan. Mereka juga memperoleh pengalaman yang mungkin tidak didapatkan hanya dari bangku kelas.

Terakhir, kami kembali mencoba melalui Jatim Science Competition dan Mozaik sesuai bidang mata pelajaran. Lagi-lagi, tujuan utama kami bukan sekadar mencari kemenangan, melainkan membuka ruang belajar yang lebih luas bagi anak-anak.

Saya selalu memegang satu prinsip sederhana: lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.

Menang adalah bonus dari sebuah perjuangan. Sementara pengalaman, keberanian, ketekunan, dan kemampuan bangkit adalah bekal yang jauh lebih panjang untuk perjalanan mereka.
Amanat yang dapat dipetik
 jangan takut mencoba hanya karena khawatir kalah. Sebab setiap perlombaan bukan hanya tempat untuk mencari juara, tetapi juga ruang untuk belajar menjadi pribadi yang berani, tangguh, dan tidak mudah menyerah. Kadang-kadang, kemenangan terbesar bukan ketika kita membawa pulang piala, melainkan ketika anak-anak pulang dengan keyakinan bahwa mereka mampu mencoba lagi.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi. https://wijayalabs.com

Kamis, 24 September 2026

Kakekku Pahlawanku

Kakekku, Pahlawanku
Oleh : Sri Wulandari

Kala itu Indonesiaku terisak dalam gulita
Langit kelam, tanah basah oleh air mata
Tiada bahagia, hanya sesak menggumpal di dada
Luka menganga di medan laga tanpa jeda

Kau melangkah gagah tanpa ragu
Menggadaikan usia demi merdeka syahdu
Tinggalkan ibu, ayah, dan rumah kecil di desa
Demi tanah air, kau relakan segalanya

Peluru penjajah menembus lenganmu
Tanganmu terluka, namun hatimu tetap utuh dan satu
Darah mengalir, namun tak memadamkan nyala
Semangatmu abadi meski tubuhmu luka-luka
Kini kau menua bagai senja yang megah
Bersahaja, menolak jaminan dan pujian megah
Kau pilih cangkul dan tanah
Menanam harapan di ladang hingga ajal memanggilmu pulang

Di tengah hidup yang serba kekurangan,
kau tak pernah menuntut balasan.
Jasamu tak kau ukur dengan harta,
sebab bagimu pengabdian adalah cinta.

Kakekku, engkau bukan sekadar nama di batu nisan
Engkau puisi yang hidup dalam perjuangan
Pahlawan tanpa pamrih, penjaga nurani bangsa
Warisanmu bukan harta, melainkan ketulusan dan pesan:
jagalah kemerdekaan dengan segenap pengabdian.

Sapeken, 24 September 2026

Pesan untukku dan generasi mendatang

generasi sekarang mungkin tidak lagi memegang senjata melawan penjajah, tetapi tetap punya perjuangan-melawan kemalasan, ketidakpedulian, mudah menyerah, dan melupakan jasa orang terdahulu.
 
Kalimat penutup bagi tulisan ini

Kakekku, perjuanganmu telah menjadi pesan,
bahwa kemerdekaan bukan akhir dari pengorbanan.
Jika dahulu kau melawan dengan keberanian, kini kami menjaganya dengan ilmu dan perbuatan.
Kepada generasi yang tumbuh di zaman perubahan, jangan biarkan kemudahan mematikan keteguhan.
Belajarlah dengan sungguh, berkaryalah dengan kejujuran, sebab bangsa ini membutuhkan tangan-tangan yang berkemajuan.
Tak perlu menunggu menjadi pahlawan,
cukup mulai dari hal-hal yang dapat dilakukan.
Menghargai perjuangan, menjaga persatuan,
dan mengabdi dengan tulus tanpa mengharap balasan.

Cukup sekian penulisan ini, menulislah setiap hari dan buktikan yang akan taerjadi.. https://wijayalabs.com

Ketika kata Menjadi Cahaya

Ketika Kata Menjadi Cahaya Oleh : Sri Wulandari Muridku membawa kata-kata penuh tanya, tak mampu merangkai ucap tulusnya. Membawa harap di d...

STATEGI MENANGKAL HOAKS