Minggu, 27 September 2026

Lomba bukan bercerita sekedar menang

Lomba Bukan Bercerita Sekadar Menang

Hari ini aku kembali bercerita tentang kegiatan lomba bersama anak-anak. Bagi kami, lomba bukan sekadar mengejar juara, melainkan bagian dari proses pembelajaran untuk mengenalkan pengalaman baru, membangun mental, dan menumbuhkan keberanian.
Sebagai guru di wilayah pesisir, aku memahami bahwa kemampuan setiap anak tidaklah sama. Waktu mereka pun cukup terbatas. Sepulang sekolah, sebagian mengikuti kegiatan mengaji atau pembelajaran lainnya hingga sore. Karena itu, setiap kegiatan lomba harus dipertimbangkan sesuai kemampuan dan kondisi mereka.

Ketika ada lomba yang dapat diikuti secara daring, aku berusaha mengajak mereka mencoba. Bahkan bagi anak-anak yang belum terbiasa menggunakan gawai, mengikuti lomba secara daring menjadi pengalaman tersendiri. Mereka belajar berhadapan dengan layar, memahami aturan, mengatur diri, dan berani mencoba.

Aku selalu mengatakan, “Tidak harus langsung menang. Cobalah dulu. Kita belajar bersama.”

Bagiku, lomba adalah pintu pengenalan. Anak-anak perlu mengetahui seperti apa Olimpiade, ujian daring, dan kompetisi yang kelak mungkin mereka ikuti ketika duduk di kelas 5 atau 6, bahkan bisa di bangku SMP dan SMA. Dari sana, mereka mulai mengenali kemampuan dirinya sendiri.

Pernah salah satu siswaku mengikuti ISCO 2024 dan berhasil lolos hingga sembilan besar Kabupaten Sumenep. Bagi sebagian orang mungkin angka sembilan bukan sesuatu yang istimewa. Namun bagi kami di kepulauan, pencapaian itu memiliki makna besar. Persaingan tidak hanya datang dari sekolah-sekolah di kepulauan, tetapi juga dari berbagai sekolah di wilayah perkotaan Sumenep.

Di sinilah aku semakin memahami bahwa keberhasilan anak bukan hanya tentang kecerdasan. Ada keberanian, pengalaman, pendampingan, kesempatan, dan dukungan dari banyak orang baik yang ikut menguatkan langkah mereka.
Perbedaan antara anak di perkotaan dan kepulauan juga terasa dalam proses persiapan. Jika sebagian anak di perkotaan memperoleh bimbingan tambahan melalui les atau bimbingan belajar, anak-anak kami sering kali lebih banyak bergantung pada pendampingan guru. Karena itu, kami berusaha memberikan bimbingan sesuai kemampuan mereka, tanpa memaksakan sesuatu yang justru membuat mereka kehilangan semangat belajar.

Kemudian, dalam panitia lomba Digniti, salah satu siswa kembali mendapatkan pengalaman berharga. Ia meraih peringkat perunggu dalam kegiatan lomba IPAS yang berkaitan dengan sains dan agama. Bahkan ketika hampir terlambat melakukan klaim sertifikat, kami tetap berusaha mencari informasi dan mengikuti ketentuan penyelenggara hingga akhirnya sertifikat tersebut dapat diklaim dan momen perjuangannya terdokumentasikan.

Dari semua pengalaman itu, aku belajar bahwa setiap anak memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh. Tugas guru bukan memaksa mereka menjadi seperti anak-anak lain, tetapi membantu mereka menemukan keberanian untuk melangkah sesuai kemampuan.
Sebab, terkadang sebuah kemenangan bukanlah ketika nama anak berada di urutan pertama. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika anak yang semula ragu akhirnya berani berkata, “Aku mau mencoba.”

Amanat tersirat:
Kenapa harus bicara tentang lomba terus  artikelnya, jawabannya simple, kadang dokumentasi seperti ini bisa berharga, jika kita tempatkan ditempat berharga pula, karena aku bukan siapa-siapa, dan pernah berjuang berada difase ini, salam sehat buat diriku.

Jangan ukur kemampuan anak hanya dari hasil akhirnya. Berikan mereka kesempatan untuk mencoba, karena dari sebuah kesempatan kecil dapat tumbuh keberanian, pengalaman, dan kepercayaan diri yang jauh lebih besar.

Hanya tulisan ini yang bisa aku bagikan. Sebagai saksi perjalanan tersebut, tulisan-tulisan lainnya dapat dikunjungi di laman https://wijayalabs.com.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Sabtu, 26 September 2026

Esai reflektif tentang pengalaman seorang guru dalam kegiatan literasi( kisah inspiratif)

Esai reflektif tentang pengalaman seorang guru dalam kegiatan literasi

Ketika Tubuh Meminta Berhenti, Tanggung Jawab Tetap Mengajarkan Arti
Seperti biasa, pagi itu kujalani dengan tenang. Berangkat ke sekolah sudah menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus kulaksanakan dengan semangat 45. Meski kondisi tubuh sedang kurang enak badan, sebelum berangkat aku menyempatkan diri untuk memeriksakan keadaan.

Namun, ada tugas yang tetap harus kuselesaikan. Salah satunya mengumpulkan tugas puisi dalam rangkaian kegiatan lomba yang sedang diikuti melalui komunitas KYM, sebuah kegiatan yang melibatkan kolaborasi bersama Pak Menteri, Kepala Dinas Pendidikan, serta Pak Bupati di daerah setempat.

Sesampainya di sekolah, aku memberikan beberapa arahan kepada peserta didik kelas 6. Setelah itu, mereka mulai mengerjakan rangkaian tugas menulis. Beberapa kalimat sederhana mulai mereka susun. Harapanku, tulisan-tulisan tersebut dapat selesai dan dikumpulkan sesuai batas waktu yang telah ditentukan.

Setelah kelas 6, kegiatan berlanjut bersama kelas 4 dan 5 yang saat itu kugabung menjadi satu. Tujuannya sederhana: memberikan ruang kepada anak-anak untuk berlatih dan menuangkan kemerdekaan berpikir melalui tulisan.

Materi yang diberikan juga merupakan kelanjutan dari pelatihan sebelumnya bersama tim KYM, termasuk arahan dari Ali dan moderator. Beberapa kegiatan sempat kami dokumentasikan karena bagiku, dokumentasi bukan sekadar foto. Ia menjadi jejak bahwa pernah ada proses belajar, perjuangan, dan karya yang dikerjakan bersama.

Hari itu anak-anak mulai menentukan judul. Kami sengaja menetapkan judul terlebih dahulu agar mereka lebih mudah mengembangkan isi tulisan dan tidak kehilangan arah. Suasana kelas begitu hidup. Banyak pertanyaan mereka lontarkan kepadaku.

Namun, di tengah semangat mereka menulis, tubuhku tiba-tiba meminta berhenti.

Rasa mual datang begitu kuat. Aku menghentikan kegiatan sejenak. Kupikir hanya sebentar dan akan segera membaik. Aku mencoba duduk di depan papan tulis sambil memaksakan diri untuk tetap melanjutkan tulisan.

Ternyata tubuhku berkata lain.

Kepalaku mulai terasa sangat pusing. Napasku terasa sesak dan tubuhku semakin tidak stabil. Aku meminta bantuan anak-anak untuk mengambilkan air. Mereka segera memberikan air kepadaku dan aku meminumnya perlahan.

Saat itu aku baru menyadari, ternyata keadaanku tidak sedang baik-baik saja.

Seorang sahabat yang melihat kondisiku segera memberikan perhatian. Ia meminta anak-anak mengambilkan minyak angin. Tanganku, kaki, dan kepala mulai terasa tidak nyaman. Aku mengoleskan minyak tersebut, tetapi tubuhku semakin lemah hingga aku tidak mampu duduk dengan baik.

Dalam keadaan seperti itu, ada satu hal yang tiba-tiba memenuhi pikiranku: bagaimana jika aku tidak bisa kembali berdiri dan meninggalkan anak-anak?

Aku berusaha menenangkan diri. Doa dan segala pengharapan kupanjatkan. Aku hanya bisa meminta pertolongan kepada Allah agar diberi kekuatan dan keadaan ini segera berlalu.

Namun, kondisi belum juga membaik.
Aku akhirnya meminta bantuan agar bisa diantarkan pulang. Tak lama kemudian, salah satu orang tercinta datang membantu. Dengan kondisi tubuh yang masih sangat lemah dan tidak stabil, aku akhirnya meninggalkan sekolah.

Sesampainya di rumah, aku mencoba beristirahat. Ada pekerjaan lain yang sebenarnya harus kuselesaikan. Bahkan ada kegiatan dan ujian yang menanti. Namun, untuk kali ini aku harus belajar menerima bahwa tubuh juga memiliki batas.

Hari itu memberiku pelajaran sederhana.

Tanggung jawab memang harus dijalankan, tetapi tubuh juga harus didengarkan.

Aku bersyukur karena di tengah keadaan yang membuatku lemah, masih ada anak-anak yang peduli, sahabat yang tanggap, dan orang tercinta yang datang membantu. Hal-hal kecil seperti itu ternyata menjadi bentuk kasih yang begitu besar.

Malamnya, meski tubuh belum sepenuhnya pulih, pikiranku kembali kepada tulisan anak-anak.

Aku berharap tugas mereka dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan dikumpulkan pada gelombang kedua sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Mungkin hari itu aku tidak berhasil menyelesaikan semua yang kurencanakan. Namun, aku belajar bahwa sebuah perjuangan tidak selalu tentang seberapa banyak pekerjaan yang mampu kita tuntaskan.

Kadang, perjuangan adalah tentang tetap bersyukur ketika harus berhenti, menerima bantuan ketika membutuhkan, dan percaya bahwa esok masih memberi kesempatan untuk melanjutkan langkah.

Karena seorang guru bukan hanya mengajarkan anak-anak bagaimana menulis kata menjadi kalimat. Dari perjalanan itu, guru pun belajar menulis makna kehidupan melalui pengalaman yang nyata.

Dan hari itu, tubuhku mengajarkanku satu kalimat sederhana: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi. Kalimat sakti https://wijayalabs.com

Puisi_Bayangmu Bersama Bintang

Bayangmu Bersama Bintang
Oleh: Sri Wulandari

Kilas wajahmu menari di pelataran gulita
Sang bintang menggantung di kaki cakrawala
Silhuetmu hadir di antara cahaya lembutnya
Menyapa mata dan jiwa dalam pelukan rindu

Aku terjebak dalam cahayamu yang memikat
Terangmu melambai mengisyaratkan makna
Kau bergerak seolah mengajakku memahami
Bahwa hadirmu tak pernah benar-benar pergi

Senyummu menjelma dalam bisikan angin
Tak terlihat namun begitu nyata
Kau titip salam lewat cahaya malam
Bayangmu kupeluk erat dalam doa

Ker­lip gemintang kembali memanggilku
Lantunan doamu menggema di relung jiwaku
Meski raga tak saling bersua
Hadirnya bayangmu dalam doa, cukup menjadi cahaya

Sapeken, 23 September 2026

kalimat refleksi yang bisa kita petik adalah 

1.“Tidak semua yang telah pergi benar-benar kehilangan jejak. Ada yang tetap hadir melalui kenangan, hidup dalam doa, dan menjelma cahaya yang menuntun langkah.”

2.“Ketika raga tak lagi dapat bersua, biarlah doa menjadi jembatan. Sebab seseorang yang pernah berarti tidak selalu hadir untuk dipeluk, tetapi dapat tetap hidup sebagai cahaya di dalam hati.”

3.“Meski raga tak saling bersua,
Hadirnya bayangmu dalam doa, cukup menjadi cahaya.”
Pesan tersirat tidak semua yang kita cintai harus hadir secara fisik untuk tetap berarti. Ada seseorang yang mungkin telah jauh, tetapi kebaikan, doa, dan hadirnya dapat menjadi cahaya yang menemani perjalanan hidup kita.

Amanat
Belajarlah menerima jarak dan tanpa kehadiran dengan lapang hati. Jangan menjadikan kerinduan sebagai luka yang terus digenggam. Jadikan sebagai doa, dan jadikan doa sebagai cahaya untuk melangkah.

“Ada bayang yang tak lagi dapat dipeluk, ada sosok yang tak lagi dapat ditemui. Namun ketika tak bernama kita titipkan dalam doa, jarak kehilangan kuasanya—sebab cinta yang tulus dapat menjelma cahaya, bahkan dari kejauhan.”

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi. https://wijayalabs.com

Jumat, 25 September 2026

Cerita Reflektif

Menulis dengan Hati, Berjuang dengan Berani

“Menulislah dengan hati agar maknanya tetap dirasakan.”

Begitu pula dengan perjalanan kami mendampingi anak-anak dalam berbagai kegiatan lomba dan olimpiade. Beberapa tahun terakhir, kami terus mencoba mengikuti berbagai ajang, bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan, tetapi untuk memberikan pengalaman kepada anak-anak.

Bersama King Expert Science, misalnya, kami mengikuti lomba dan berhasil mengantarkan dua peserta hingga masuk babak final, masuk ke katagori peringkat 1 dan 13 Bagi kami, pencapaian itu sudah sangat berarti. Alhamdulillah. Terima kasih kepada seluruh kru dan pembimbing yang telah mendampingi anak-anak dalam proses belajar dan berkompetisi.

Petualangan kemudian berlanjut bersama Olimpiade Orbit yang setiap tahun kami ikuti. Kali ini, anak-anak belum berhasil masuk final. Namun, bukankah setiap perjalanan selalu meninggalkan pelajaran? Dari sana mereka belajar bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti mencoba.
Begitu pula dalam beberapa ajang lain, termasuk OSN. Hasil yang kami harapkan belum selalu datang. Ada kalanya kami pulang hanya membawa sertifikat untuk kepala sekolah, guru pembimbing, dan peserta. Namun, kami tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang memalukan.

Justru dari setiap perlombaan, mental anak-anak perlahan terasah. Mereka belajar mempersiapkan diri, berani tampil, menerima hasil, dan menghargai perjuangan. Mereka juga memperoleh pengalaman yang mungkin tidak didapatkan hanya dari bangku kelas.

Terakhir, kami kembali mencoba melalui Jatim Science Competition dan Mozaik sesuai bidang mata pelajaran. Lagi-lagi, tujuan utama kami bukan sekadar mencari kemenangan, melainkan membuka ruang belajar yang lebih luas bagi anak-anak.

Saya selalu memegang satu prinsip sederhana: lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.

Menang adalah bonus dari sebuah perjuangan. Sementara pengalaman, keberanian, ketekunan, dan kemampuan bangkit adalah bekal yang jauh lebih panjang untuk perjalanan mereka.
Amanat yang dapat dipetik
 jangan takut mencoba hanya karena khawatir kalah. Sebab setiap perlombaan bukan hanya tempat untuk mencari juara, tetapi juga ruang untuk belajar menjadi pribadi yang berani, tangguh, dan tidak mudah menyerah. Kadang-kadang, kemenangan terbesar bukan ketika kita membawa pulang piala, melainkan ketika anak-anak pulang dengan keyakinan bahwa mereka mampu mencoba lagi.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi. https://wijayalabs.com

Kamis, 24 September 2026

Kakekku Pahlawanku

Kakekku, Pahlawanku
Oleh : Sri Wulandari

Kala itu Indonesiaku terisak dalam gulita
Langit kelam, tanah basah oleh air mata
Tiada bahagia, hanya sesak menggumpal di dada
Luka menganga di medan laga tanpa jeda

Kau melangkah gagah tanpa ragu
Menggadaikan usia demi merdeka syahdu
Tinggalkan ibu, ayah, dan rumah kecil di desa
Demi tanah air, kau relakan segalanya

Peluru penjajah menembus lenganmu
Tanganmu terluka, namun hatimu tetap utuh dan satu
Darah mengalir, namun tak memadamkan nyala
Semangatmu abadi meski tubuhmu luka-luka
Kini kau menua bagai senja yang megah
Bersahaja, menolak jaminan dan pujian megah
Kau pilih cangkul dan tanah
Menanam harapan di ladang hingga ajal memanggilmu pulang

Di tengah hidup yang serba kekurangan,
kau tak pernah menuntut balasan.
Jasamu tak kau ukur dengan harta,
sebab bagimu pengabdian adalah cinta.

Kakekku, engkau bukan sekadar nama di batu nisan
Engkau puisi yang hidup dalam perjuangan
Pahlawan tanpa pamrih, penjaga nurani bangsa
Warisanmu bukan harta, melainkan ketulusan dan pesan:
jagalah kemerdekaan dengan segenap pengabdian.

Sapeken, 24 September 2026

Pesan untukku dan generasi mendatang

generasi sekarang mungkin tidak lagi memegang senjata melawan penjajah, tetapi tetap punya perjuangan-melawan kemalasan, ketidakpedulian, mudah menyerah, dan melupakan jasa orang terdahulu.
 
Kalimat penutup bagi tulisan ini

Kakekku, perjuanganmu telah menjadi pesan,
bahwa kemerdekaan bukan akhir dari pengorbanan.
Jika dahulu kau melawan dengan keberanian, kini kami menjaganya dengan ilmu dan perbuatan.
Kepada generasi yang tumbuh di zaman perubahan, jangan biarkan kemudahan mematikan keteguhan.
Belajarlah dengan sungguh, berkaryalah dengan kejujuran, sebab bangsa ini membutuhkan tangan-tangan yang berkemajuan.
Tak perlu menunggu menjadi pahlawan,
cukup mulai dari hal-hal yang dapat dilakukan.
Menghargai perjuangan, menjaga persatuan,
dan mengabdi dengan tulus tanpa mengharap balasan.

Cukup sekian penulisan ini, menulislah setiap hari dan buktikan yang akan taerjadi.. https://wijayalabs.com

Senin, 21 September 2026

Semangat Literasi dari Ujung Kepulauan

Semangat Literasi dari Ujung Kepulauan

Menjadi guru bukan sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Ada begitu banyak proses yang harus dilalui, terutama ketika kita ingin menumbuhkan budaya literasi pada peserta didik.

Bagi saya, kesempatan menjadi salah satu kandidat Guru Aktif Literasi Nasional (GAL) dalam rangkaian apresiasi IGINOS menjadi sebuah pengalaman yang sangat berarti. Sebuah penghargaan mungkin hanya terlihat sebagai hasil akhir, tetapi di baliknya ada proses panjang yang tidak selalu terlihat.

Saya masih mengingat bagaimana saya mendampingi anak-anak menyelesaikan berbagai tugas. Mulai dari melatih mereka membuat puisi, membuat video, hingga menyelesaikan tugas-tugas lainnya dengan tenggat waktu yang harus dipenuhi.
Sebagai guru kelas, semua itu tentu menyita waktu dan tenaga. Namun, ketika satu demi satu tugas akhirnya selesai, ada rasa lega yang sulit digambarkan.


Dalam hati saya bergumam,

"Ternyata saya bisa."

Bukan karena saya merasa paling hebat, tetapi karena saya menyadari bahwa sebuah pencapaian sering kali lahir dari keberanian untuk terus mencoba, meskipun prosesnya melelahkan.

Sembilan Nama dari Sumenep

Saya pernah mengetahui bahwa terdapat sembilan kandidat GAL dan GIL IGINOS dari perwakilan Sumenep yang masuk dalam apresiasi tersebut. Saya pun berusaha mencari informasi dan laman yang memuat daftar para kandidat itu. Namun, hingga kini saya belum menemukan kembali situs yang memuat daftar tersebut secara lengkap.

Yang membuat saya terharu, dalam pemberitaan Madura Post tentang penghargaan literasi nasional, Agus Dwi Saputra, yang saat itu menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, secara khusus menceritakan perjuangan guru-guru dari wilayah kepulauan.

Beliau menyampaikan bahwa beberapa guru rela menempuh perjalanan jauh, menggunakan perahu, bahkan berpindah pulau demi menghadiri acara secara langsung. Menurut beliau, kehadiran para guru tersebut menjadi bukti bahwa semangat literasi tidak mengenal batas jarak maupun medan.

Mendengar kisah itu, saya merasa perjuangan kecil yang saya lakukan ternyata memiliki makna yang lebih besar.

Mengejar Kapal, Mengejar Kesempatan

Ada satu cerita yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan.
Saat itu saya hendak menghadiri acara tersebut. Barang-barang saya sudah lebih dahulu berada di kapal penumpang Sabuk Nusantara 51. Karena hari Jumat, saya sempat kembali kerumah sebentar. Namun, ketika kembali ke pelabuhan, kapal ternyata sudah meninggalkan saya.

Panik? Tentu.

Resah? Apalagi.

Barang sudah berada di kapal, sementara saya masih tertinggal di daratan.

Namun, ternyata masih ada jalan.

Saya menemukan kapal yang melayani lintasan Sapeken–Kangean. Di dalamnya ada camat dan beberapa petugas lainnya. Saya pun ikut menumpang. Perjalanan dilanjutkan dengan harapan dapat mengejar Sabuk Nusantara 51 yang akan transit di Kepulauan Kangean.

Gelombang saat itu cukup besar. Tetapi semangat untuk menghadiri acara membuat saya terus berusaha.

Rasanya seperti sedang melakukan "kejar-kejaran" dengan kapal.

Sebuah pengalaman sederhana, tetapi menjadi kenangan yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan saya.

Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil menyusul kapal tersebut. Tiket yang sudah saya beli dari Sapeken masih berada di tangan. Ada rasa lega yang luar biasa ketika akhirnya saya bisa melanjutkan perjalanan.

Saat itu saya menyadari satu hal:

Kadang-kadang, perjalanan menuju sebuah kesempatan tidak kalah penting daripada penghargaan yang kita terima di akhir perjalanan.

Literasi Tidak Mengenal Jarak

Kisah perjalanan tersebut membuat saya semakin memahami makna literasi.

Literasi bukan hanya tentang membaca buku. Literasi juga tentang keberanian untuk belajar, mencoba, berkarya, dan berbagi. Bahkan perjalanan seorang guru dari pulau kecil menuju sebuah acara nasional pun dapat menjadi bagian dari cerita literasi.


Artikel Madura Post yang saya baca seolah mengabadikan perjuangan itu. Agus Dwi Saputra menyampaikan bahwa kehadiran guru-guru dari kepulauan menjadi bukti bahwa semangat literasi tidak mengenal batas jarak dan medan.

Kalimat tersebut terasa begitu dekat dengan perjalanan saya.

Saya berasal dari wilayah kepulauan. Untuk mencapai suatu tempat, terkadang bukan hanya membutuhkan kendaraan, tetapi juga keberanian menghadapi laut, waktu perjalanan, perubahan jadwal kapal, bahkan ketidakpastian di perjalanan.

Namun, semua itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkarya.

Senyum di Balik Lelah
Ketika perjuangan itu akhirnya mendapat apresiasi, saya tersenyum.

Bukan semata-mata karena sebuah gelar atau penghargaan, melainkan karena semua proses yang telah dilalui bersama peserta didik ternyata memiliki arti.

Saya teringat tugas-tugas yang dikerjakan anak-anak, puisi yang mereka tulis, video yang mereka buat, serta waktu yang kami curahkan bersama.

Di situlah saya memahami bahwa penghargaan sesungguhnya bukan hanya sebuah nama yang tercantum dalam daftar penerima apresiasi.

Penghargaan juga bisa berupa senyum seorang anak ketika berhasil menyelesaikan tugasnya.

Bisa berupa keberanian seorang peserta didik membaca puisinya.

Bisa berupa guru yang tetap mencoba meskipun lelah.

Dan bisa pula berupa sebuah perjalanan panjang dari pulau kecil untuk menghadiri sebuah kegiatan literasi.

Dari kepulauan, kami belajar bahwa jarak boleh jauh, tetapi semangat tidak boleh kalah.

Jika literasi adalah cahaya, maka biarlah cahaya itu terus menyala dari sekolah-sekolah kecil di pulau-pulau, menjangkau anak-anak, guru, dan siapa saja yang percaya bahwa membaca, menulis, dan berkarya mampu membuka jalan menuju masa depan.

Saya mungkin hanya seorang guru dari sebuah pulau kecil.

Namun hari itu saya belajar:
mimpi tidak pernah mengenal batas geografis.
Dan perjalanan mengejar kapal itu akhirnya bukan hanya tentang mengejar Sabuk Nusantara 51.

Saya sedang mengejar sebuah kesempatan.
Kesempatan untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa dari ujung kepulauan pun, seorang guru bisa terus melangkah, berkarya, dan belajar bagaimana bisa menjadi bagian kecil dari cahaya literasi. 
Saya menulis hanya mengabadikan momen yang tidak pernah ditulis, bukan pamer namun sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. 

Terimkasih Omjay kalimat saktinya menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.

Minggu Bercerita


Minggu Bercerita
Oleh : Sri Wulandari

Minggu datang membawa cerita
Secerah warna langit membuka pagi
Aku menjalankan titah menunaikan tugas diamanahkan negeri
Meski sesekali hati ingin berhenti
dan berbicara kepada sunyi

Di antara yang tampak dan yang tak kasatmata
Aku belajar bahwa hidup tak selalu membutuhkan suara
Ada yang terasa hadir meski tak pernah terlihat
Ada yang hidup dalam ingatan meski telah lama berlalu

Maka hari ini aku belajar bersyukur
bukan karena semua cerita indah
melainkan dari setiap rahasia semesta
Allah mengajarkanku membaca makna.

Dulu aku adalah suara yang paling keras
Ketika luka mengetuk dada
Aku berteriak kepada keadaan
Mempertanyakan mengapa
air mata harus jatuh di wajah seorang ibu

Aku mengerti hidup sebuah naskah
Tapi manusia bukan penulis tunggalnya
Ada tangan Yang Maha Mengetahui
Menyusun pertemuan perpisahan air mata dan keheningan
dengan rahasia yang tak selalu mampu kita baca.

Namun ada satu cerita
Kala rasa setiap kali datang
Masih membuat dada bergetar
Darah tergores belati tipuan

Dialah tokoh pernah membuat seorang ibu menangis
Darah meninggi senyum berubah menjadi air mata
Luka meninggalkan jejak tak mudah dihapus waktu
Bukan karena aku belum ikhlas karena dia berani menghujamku

Aku hanya belajar memahami
bahwa ikhlas bukan berarti
mengatakan kesalahan sebagai kebenaran.
Memaafkan bukan berarti
membiarkan luka kembali
menjadi pintu bagi kesalahan yang sama.
Dunia mengajarkanku:
tidak semua orang berjalan
dengan pandangan yang sama.
Ada yang tak menyadari salahnya,
ada yang mencari celah
untuk kembali masuk
ke ruang yang pernah dirusaknya.

Lalu, haruskah aku membalas?

Tidak.

Biarlah waktu menjadi saksi.
Biarlah setiap langkah
menemui bayangannya sendiri.
Sebab hukum kehidupan
tak selalu datang dengan suara keras;
kadang ia hadir perlahan,
seperti gema yang kembali
kepada sumber suaranya.

Allah memang Maha Pengampun.

Tetapi jangan jadikan ampunan-Nya
sebagai tameng untuk mengulang kesalahan.
Pertobatan bukan sekadar kata
untuk membela diri,
melainkan keberanian
untuk mengakui, memperbaiki,
dan tidak kembali menyakiti
Namun apakah mampu jika kau memohon ampun padaku

Hari Minggu pun terus berjalan.

Aku kembali tersenyum,
meski pernah menangis.
Aku kembali bercerita,
meski pernah kehilangan kata.

Kini aku memilih diam bukan karena kalah
Melainkan karena percaya 
Bahwa keadilan tidak membutuhkan suaraku

Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengan mahluk itu
Semoga hatiku telah cukup luas
Untuk tidak membalas luka dengan luka

Sebab aku tidak ingin
menjadi tokoh antagonis
dalam cerita orang lain.

Aku ingin menjadi manusia yang pernah terluka
Memilih belajar dari luka pernah menangis
Namun tetap syukur dan pernah disakiti
Namun tak kehilangan kepercayaan kepada Allah

Minggu bercerita pun usai
Yang tampak akan berlalu
Yang tak tampak akan tetap jadi makna didalamnya

Dan aku akhirnya mengerti
Tiidak semua cerita harus kita menangkan
Ada cerita yang cukup kita serahkan
Kepada Sang Pemilik cinta seluruh cerita
Karena sejati Allah tak menciptakan musuh 
Karena itu pertanyaan Allah kepada kita
Dia menciptakan manusia
Dengan hati pilihan dan jalan masing-masing

Lalu kehidupan mempertemukan kita
Dengan mereka yang melukai
Bukan selalu untuk menjadi lawan
Tapi mungkin untuk menjadi cermin

Sebab boleh jadi pertanyaan Allah bukanlah
Siapa yang telah menyakitimu
Melainkan Setelah kau disakiti
Akan menjadi manusia seperti apa
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi. https://Wijayalabs.com

Puisi_IBU

Ibu
Oleh: Sri Wulandari


Ibu ....
Engkau pelita yang menerangi gulita
Pejuang gigih dalam derita
Demi asap dapur yang tetap menyala
Kau perjuangkan tiap rupiah
Menjemput rezeki menantang lelah

Ibu ....
Di telapak kakimu surga berteduh
Doamu mengalir bagai sungai tanpa muara
Samudra kasih kau hamparkan luas
Bagi kami, anak-anak yang sering lupa
Namun kelembutanmu tetap memeluk jiwa

Ibu ....
Di usia senja tuturmu bergoyang oleh waktu
Namun kami yang dahulu kau dekap mesra
Kini berbalik seakan lupa
Menatapmu dengan amarah dan kecewa
Padahal kasihmu tak pernah sirna

Sapeken, 21 September 2026

Amanat yang tersirat yaitu

“Engkau pelita yang menerangi gulita”
Ibu digambarkan sebagai cahaya yang memberi arah ketika kehidupan berada dalam kesulitan.
“Demi asap dapur yang tetap menyala”
Menggambarkan perjuangan ibu memenuhi kebutuhan keluarga, meskipun harus menghadapi kelelahan dan kesulitan.

“Di telapak kakimu surga berteduh”
Mengandung penghormatan yang sangat dalam kepada seorang ibu. Sosok ibu ditempatkan sebagai manusia yang penuh pengorbanan dan kasih.

“Doamu mengalir bagai sungai tanpa muara”
Doa seorang ibu digambarkan tidak pernah berhenti dan tidak mengenal batas.
“Bagi kami, anak-anak yang sering lupa”
Ini menjadi titik refleksi: seorang anak terkadang baru menyadari pengorbanan ibu setelah waktu berjalan.

“Padahal kasihmu tak pernah sirna”
Inilah salah satu inti emosional puisi. Sikap anak dapat berubah, usia ibu dapat menua, tetapi kasih seorang ibu tetap a
*Amanat yang terkandung*

Puisi ini menyampaikan pesan agar anak tidak melupakan perjuangan, doa, pengorbanan, dan kasih sayang seorang ibu. Waktu akan membawa seorang ibu menuju usia senja, tetapi kasihnya kepada anak tidak ikut menua.
Karena itu, selama ibu masih ada, hargailah, lembutlah dalam bertutur, dengarkan nasihatnya, dan jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa besar arti kehadirannya.
Ada satu pesan yang terasa sangat kuat dari puisi ini:
Jangan sampai kita baru memahami cahaya seorang ibu setelah rumah kehidupan kita kehilangan pelitanya.

 AMANAT YANG KETIK PETIK

Awalnya kita melihat perjuangan ibu, kemudian merasakan kasihnya, lalu pada bait terakhir kita dihadapkan pada sebuah teguran untuk diri sendiri. Jadi, puisi ini bukan hanya puisi tentang ibu, tetapi juga puisi perenungan seorang anak tentang waktu dan penyesalan.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.http://Wijayalabs.comhttp://Wijayalabs.com

Sabtu, 19 September 2026

Puisi_Malam


Malam
Oleh: Sri Wulandari


Gelap malam menyapa kalbu
Membawa bisikan rasa tentangmu
Aku terpaku di antara bintang-bintang
Menyaksikan kisah dua insan
yang pernah bertemu dalam pandang

Gelap malam menenun kerinduan
ditemani cahaya bintang dan rembulan
Di balik sunyi yang perlahan membiru
Sang Pencipta menyingkap kebesaran-Nya
Ajarkan hati mengenal syukur atas segala indah ciptaan-Nya

Malam memantulkan cahaya
Melintas lembut di wajah kekasihnya
Meneduhkan jiwa yang lama mencari
seakan membisikkan sebuah tanda
Bahwa ia telah ada meski tak selalu nyata di hadapan mata
Di kerajaan bintang yang bertebaran di awan
Malam bersahabat dengan rembulan
Di sana kutemukan wajah kekasih
yang penuh cahaya kerinduan
Menari bersama sunyi
dalam melodi keanggunan

Dan aku belajar dari malam
Gelap bukanlah akhir dari perjalanan
sebab selalu ada cahaya yang Tuhan titipkan
Rindu bukan sekadar rasa yang menggetarkan
Melainkan jalan bagi hati untuk mengenal cinta
Menghargai pertemuan menundukkan jiwa dalam syukur kepada Sang Pencipta

Sapeken, 19 September 2026

Pesan yang kita petik dari puisi ini, ketika malam membawa kerinduan, jangan hanya melihat gelapnya. Pandanglah bintang dan rembulan sebagai tanda bahwa Tuhan selalu menghadirkan cahaya. Cinta membuat hati merasa, tetapi syukur membuat hati memahami maknanya.

Ruh amanat puisinya paling kuat
di balik gelap ada cahaya, di balik rindu ada makna, dan di balik keindahan semesta ada kebesaran Sang Pencipta. 

Menulislah Setiap Hari Dan Buktikan Yang Akan Terjadi. https://Wijayalabs.com









puisi berjudul pagi

PAGI
Oleh: Sri Wulandari

Pagiku diiringi doa
Menunggu sang cahaya
Mengharap bintang kejora
Menemani senyum penuh makna

Laut saksi sang surya
Menampakkan keindahan cahaya
Sang bintang memudar
Meredup tertelan awan berpijar
Kubuka dengan senyuman
Berganti bersama harapan
Menjemput rezeki dengan impian
Bekerja demi sesuap makan

Berpeluh menetes di mata dan badan
Bercucuran penuh kelelahan
Apa daya dunia bukan di genggaman
Pelakon seperti cerita pewayangan

Sapeken, 18 September 2026


Refleksi Keseluruhan

Pagi bukan sekadar puisi tentang pagi.
sebuah puisi tentang manusia yang bangun setiap hari dan kembali bernegosiasi dengan kehidupan.
Pagi mengajarkan bahwa setiap hari adalah awal baru.

Bintang kejora mengajarkan bahwa harapan dapat hadir bahkan sebelum terang sempurna.
Laut mengajarkan keluasan dan ketabahan.
Keringat mengajarkan bahwa rezeki membutuhkan ikhtiar.

Wayang mengajarkan bahwa manusia tidak menggenggam seluruh alur cerita.
Tetapi selama cahaya masih datang dan napas masih diberi, peran itu masih layak dimainkan.
Dan kalimat refleksi yang paling cocok sebagai inti tulisan ini adalah

“Aku mungkin tidak mampu menggenggam seluruh dunia, tetapi aku masih bisa menggenggam doa, menjemput rezeki dengan ikhtiar, dan menjaga cahaya harapan agar tetap menyala di dalam diri.”

Tentang bagaimana seseorang memilih untuk tetap berjalan meski mengetahui bahwa hidup tidak selalu berada dalam genggamannya.
Selalu bersama kalimat sakti ini berbunyi
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.

Jumat, 18 September 2026

Artikel Reflektif

Artikel reflektif 

Pagi itu, 17 September 2026, aktivitas di sekolah berjalan seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang membuat hari itu terasa berbeda. Kami mengenakan pakaian khas Jogja sebagai bagian dari kegiatan dan dokumentasi sekolah.
Di sela rutinitas pagi, kami mengabadikan beberapa momen bersama guru dan murid. Dokumentasi itu bukan sekadar foto bersama. Ada sebuah cerita besar di baliknya: tentang buku, karya, keberanian menulis, dan mimpi anak-anak yang mulai tumbuh.
Beberapa waktu sebelumnya, buku karya mereka telah sampai dari penerbit. Buku tersebut merupakan hasil dari kegiatan menulis yang mereka ikuti bersama KYM. Komunitas Yuk Menulis. Pada awalnya, mungkin bagi sebagian anak, memiliki buku yang memuat nama dan karya sendiri hanyalah sebuah angan-angan.
Namun, hari itu angan-angan tersebut berubah menjadi kenyataan.
Ketika buku dibagikan, wajah anak-anak memancarkan rasa kaget sekaligus bahagia. Binar mata mereka seolah berkata, “Ternyata aku bisa memiliki buku yang di dalamnya ada tulisanku sendiri.”
Saya melihat sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar buku.
Ada rasa percaya diri yang mulai tumbuh. Ada kebanggaan terhadap karya sendiri. Ada motivasi untuk kembali mencoba.
Bagi seorang guru, momen seperti ini sangat berarti. Sebab, pendidikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah buku sederhana mampu membuka pintu mimpi seorang anak.
Saya pun mengajak mereka untuk tidak berhenti sampai di sini.
“Ayo, kita ikut menulis lagi. Kita berkarya untuk kedua kalinya bersama Bapak Bupati dan Kadis, berkolaborasi bersama tim KYM.”
Ajakan itu saya sampaikan bukan semata-mata untuk mengejar sebuah penghargaan. Lebih dari itu, saya ingin anak-anak merasakan kembali prosesnya: membaca, berpikir, menulis, berkarya, dan berani menunjukkan hasil karyanya kepada dunia.
Hari itu, kamera memang mengabadikan guru dan murid dalam sebuah foto. Namun, sesungguhnya yang sedang kami abadikan jauh lebih besar dari pada sebuah gambar.
Kami sedang mengabadikan sebuah proses tumbuhnya mimpi.
Dari selembar tulisan menjadi sebuah buku.
Dari sebuah buku menjadi rasa percaya diri.
Dari rasa percaya diri lahirlah keberanian untuk berkarya kembali.
Semoga kegiatan menulis sesi kedua dapat berjalan maksimal dan menjadi ruang bagi anak-anak untuk terus menumbuhkan kreativitas serta kecintaan terhadap literasi.
Sebab, mungkin hari ini mereka hanya memegang sebuah buku.
Tetapi siapa tahu, suatu hari nanti mereka akan menjadi penulis yang menginspirasi banyak orang.
Dan saya percaya, setiap mimpi besar sering kali berawal dari satu langkah kecil: berani menulis.


Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.https:// wijayalabs.com

Lomba bukan bercerita sekedar menang

Lomba Bukan Bercerita Sekadar Menang Hari ini aku kembali bercerita tentang kegiatan lomba bersama anak-anak. Bagi kami, lomba bukan sekadar...

STATEGI MENANGKAL HOAKS