Sabtu, 10 Oktober 2026

KEHILANGAN CAHAYA BESTI

KEHILANGAN
Karya : Sri Wulandari

Suara menggema bak melodi
Mengalun syahdu di relung sanubari

Perlahan sunyi bak nyala padam
Berganti hening menyesakkan malam

Menyendiri dalam kelam senja
Menatap langit muram tanpa bintang

Senja redup dalam siluet pilu
Bayang luka larut bersama waktu
.             .ohh....wajahku agak berubah🙃
Aku kehilangan juga terisih
Kau berlalu terus melangkah

Aku memeluk merangkul sisa bayang
Lalu melepas terhempas angin senja

Sapeken, 9 Oktober 2026

Puisi ini menggambarkan rasa kehilangan yang mendalam, kesunyian, kenangan yang tertinggal, dan kepasrahan ketika seseorang harus melepaskan kepergian.

Tak semua yang hilang harus kembali,
Tak semua luka abadi dalam diri.
Biarkan waktu merawat kenangan,
Jangan biarkan hilang memadamkan harapan. Esok siapa tau masih kembal
             Tarra....... Datang .....sulit²

Setiap pertemuan memiliki makna dan setiap perpisahan mengajarkan kedewasaan. Tidak semua yang hilang harus kembali, dan tidak semua kenangan harus dilupakan. Terkadang, kita hanya perlu berdamai dengan keadaan, memaafkan masa lalu, serta melangkah kembali dengan hati yang lebih lapang.

Jangan biarkan kehilangan merenggut seluruh kebahagiaan. Belajarlah menerima sesuatu yang telah berlalu, mengikhlaskan yang tak lagi bersama, dan merawat kenangan tanpa harus terus hidup di dalam kesedihan.  Tulisan malam ini versi mellow.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi , kalimat sakti Omjay berkata demikian...https://wijayalabs.com



Kamis, 08 Oktober 2026

Gerimis Rindu_Puisi

GERIMIS RINDU
Oleh: Sri Wulandari 


Gerimis jatuh membasahi jendela
Menyisakan jejak embun di kaca

Seperti kenangan yang tak sirna
Mengukir rindu dalam sukma

Bait-bait hujan memanggil namamu
Menari syahdu di atas daun-daun

Membawa semilir wangi setiamu
Mengajak hati berlayar dalam lamun

Setiap tetes adalah bisikan sunyi
Tentang janji yang tak pernah mati

Walau jarak terbentang kini
Cinta abadi tak akan berhenti

Biarlah gerimis ini jadi saksi
Kisah kita yang tak lekang waktu

Dalam setiap denting hati
Engkau selalu jadi melodi

Sapeken, 9 Oktober 2026

Makna yang tersirat yaitu, Tidak semua yang jauh harus dilupakan. Ada kenangan yang tetap menjadi cahaya, meski waktu dan jarak memisahkan. Sebab, sesuatu yang pernah bermakna dapat tetap hidup dalam hati, seperti bintang yang tetap bercahaya di balik gelapnya malam.

Makna keseluruhannya
“Geminis Rindu” menggambarkan seseorang yang sedang mengenang sebuah cinta atau hubungan yang terpisah oleh jarak dan waktu. Gerimis menjadi simbol kerinduan, malam menjadi ruang perenungan, sedangkan cahaya bintang menjadi lambang harapan bahwa sesuatu yang pernah berarti tidak benar-benar hilang.

Jadi jika dijabarkan memiliki makna secara garis besar.
1. Gerimis sebagai simbol kenangan
“Gerimis jatuh membasahi jendela atau menyisakan jejak embun di kaca”

2.Rindu yang masih tersimpan
“Seperti kenangan yang tak sirna atau mengukir rindu dalam sukma”

3. Hujan menjadi suara hati
“Bait-bait hujan memanggil namamu

4. Gerimis sebagai saksi perjalanan waktu
“Biarlah gerimis ini jadi saksi atau kisah kita yang tak lekang waktu”

5. Jarak tidak selalu memisahkan hati
“Walau jarak terbentang kini atau cinta abadi tak akan berhenti”

6. “Melodi” sebagai simbol kenangan yang terus terdengar
“Dalam setiap denting hati atau engkau selalu jadi melodi”


Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi - Omjay. https://wijayalabs.com

Puisi Doa

Aku akan membuat sebuah Makna puisi yang berisi perjalanan batin seseorang yang sedang berusaha keluar dari gelap dirinya menuju cahaya Allah.


Secara garis besar menjelaskan tentang sebuah : Syukur kepada Allah, pembuka puisi menunjukkan kesadaran bahwa dunia dan seluruh alam semesta adalah ciptaan Allah.
Cahaya Ilahi “cahaya-Nya” menjadi simbol petunjuk, iman, kasih sayang, dan jalan menuju kebaikan.

Luka dalam jiwa “gelap penuh luka” menggambarkan kelemahan, kesedihan, amarah, ego, dan pergulatan batin manusia.
Kerinduan kepada teladan kekasih Allah — penyair memohon agar tidak kehilangan tuntunan dari sosok yang dicintai Allah, yang dapat dimaknai sebagai kerinduan kepada teladan Rasulullah ﷺ.
Melawan ego dan keangkuhan bagian “amarah”, “ego”, dan “boneka dunia” merupakan pengakuan bahwa manusia bisa terjebak oleh hawa nafsu dan kesombongan.
Menjadi cahaya keinginan “agar gelapku menjadi nyala yang membara” bukan berarti menjadi sempurna, tetapi memiliki kekuatan iman untuk menerangi diri dan tidak kembali dikuasai kegelapan.

pesan terdalamnya adalah: manusia tidak hanya meminta agar hidupnya diterangi, tetapi juga memohon agar dirinya mampu menjadi cahaya bagi dirinya sendiri—dengan iman, keteladanan, kesabaran, dan pengendalian ego.

Puisi Mushahabah/ Doa
Oleh : Sri Wulandari


Cahaya yang Menuntun
Tanpa henti kuucap syukur pada Ilahi Rabbi
Yang menciptakan dunia dan alam semesta
Cahaya-Nya menuntun jiwa yang gelap penuh luka.

Ia datang membawa cinta dan iba
Wahai kekasih Allah Wahai kesayangan Allah
Jangan pergi aku butuh tuntunanmu
Agar gelapku menjadi nyala yang membara

Melindungiku dari gelap yang mencengkeram jiwa
Mataku kadang terbelenggu amarah dan ego
Keangkuhan menjadikanku boneka dunia

Bisakah engkau membimbingku
Agar sekuat cahayamu
Menanti hadirmu kembali dekap dalam abadi


Sapeken, 8 Oktober 2026

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi (OMJAY). https://Wijayalabs.com

Rabu, 07 Oktober 2026

Menyusuri Laut Menyimpan Kenangan

Malam Selasa Bercerita

Menyusuri Laut, Menyimpan Kenangan Bersama Anak-Anak

Malam Selasa ini aku ingin bercerita tentang kita, aku dan anak-anak didikku.

Sebelum mereka melangkah ke kelas yang lebih tinggi, ada banyak momen yang ingin kusimpan dalam ingatan. Bukan hanya tentang pelajaran di dalam kelas, tetapi juga tentang canda, tawa, kebersamaan, dan perjalanan kecil yang tanpa sadar menjadi kenangan besar.
Sore itu, anak-anak mengajakku melakukan sesuatu yang sederhana.

“Bu, kita bikin rujak, yuk!”
Ajakan sederhana itu akhirnya membawa kami menjelajah laut.
Di tempatku, ketika air laut mulai surut dan musim kering tiba, ada hamparan karang putih yang biasa dijadikan tempat duduk dan berkumpul. Pasir putih membentang, laut perlahan mengering, dan karang-karang mulai terlihat. Di sanalah kami berencana menikmati rujak bersama.

Kami menunggu air benar-benar surut.
Ketika waktunya tiba, perjalanan pun dimulai.

Anak-anak menyusuri laut yang perlahan membuka jalannya. Langkah demi langkah kami menuju karang putih. Sesampainya di sana, kami mulai mengupas buah dan menyiapkan rujak.

Rujakan pun dimulai.
Tentu saja, kalau sudah bersama anak-anak, rasanya tidak pernah benar-benar tenang. Selalu ada cerita lucu yang membuat kami tertawa.

Salah satunya ketika sandal seorang peserta didik tiba-tiba masuk ke sebuah lubang di antara karang. Ketika ia berusaha mengambilnya, sandal itu malah sulit dibalik dan tersangkut di sekitar kaki.

Kami spontan tertawa.
Bukan untuk menertawakan kesulitannya, tetapi karena kejadian sederhana itu berubah menjadi cerita lucu yang membuat suasana semakin hangat.
Di sela-sela tawa, kami juga mengabadikan momen dengan berfoto bersama.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan.
Kami menyusuri karang-karang laut, melihat berbagai biota yang selama ini akrab dengan kehidupan anak-anak pesisir. Ada berbagai jenis hasil laut yang mereka kenal dengan nama masing-masing. Bahkan bintang laut pun menjadi bagian dari permainan dan canda mereka.

Bagi sebagian orang, mungkin semua itu terlihat sederhana.
Namun bagi anak-anak pesisir, laut adalah halaman luas tempat mereka belajar mengenal kehidupan.

Hari mulai beranjak sore. Kami menyusuri pantai dari ujung ke ujung hingga akhirnya berhenti dan bermusyawarah untuk kembali ke daratan. Waktu magrib semakin dekat.

Kami pun pulang.
Sesampainya di daratan, aku baru menyadari bahwa anak-anak membawa cukup banyak hasil dari perjalanan kami.

Dalam pikiranku, tentu mereka akan membawa semuanya pulang ke rumah masing-masing.

Namun ternyata aku salah.
Mereka justru datang menghampiriku dan membagikan hasil yang mereka dapatkan.

“Bu, ini buat Ibu.”
Aku sempat terdiam.
“Lho, kok tidak dibawa pulang?”
Mereka menjawab dengan sederhana, seolah tidak ada yang istimewa.

“Buat Ibu saja.”
Kalimat pendek itu terasa begitu dalam.
Di situlah aku kembali belajar bahwa kebersamaan dengan anak-anak bukan hanya tentang apa yang bisa diberikan guru kepada murid. Kadang, justru dari tangan-tangan kecil mereka, seorang guru menerima ketulusan yang tidak ternilai.

Kami pun berpamitan.
Tetapi ternyata cerita belum selesai.
Kami masih menyimpan satu momen kebersamaan lainnya: makan bersama.

Dengan uang kas yang kami kumpulkan, kami membeli bahan makanan. Ada ikan untuk dibakar, ada ayam, dan tentu saja ada banyak cerita yang ikut tersaji di antara kami.

Kami duduk bersama, makan bersama, tertawa bersama.

Tidak ada jarak yang terasa kaku.
Yang ada hanyalah guru dan anak-anak yang sedang menikmati sebuah sore sederhana.

Kini aku sadar, momen seperti ini mungkin tidak akan terulang dengan cara yang sama.

Setiap generasi memiliki ceritanya sendiri.
Anak-anak yang pernah duduk di kelas empat akan membawa kenangan mereka sendiri ketika melangkah ke kelas berikutnya. Tahun depan mungkin akan hadir wajah-wajah baru, cerita baru, tawa baru, dan perjalanan yang berbeda.

Namun kenangan hari itu akan tetap menjadi bagian dari perjalanan kami.
Sebab pendidikan tidak selalu lahir dari papan tulis dan buku.

Kadang, pelajaran paling indah justru tumbuh ketika guru dan murid berjalan bersama, menyusuri laut, berbagi rujak, menertawakan sandal yang tersangkut di karang, mengumpulkan hasil laut, lalu duduk bersama menikmati makanan.

Dari laut aku belajar tentang kebersamaan.

Dari anak-anak aku belajar tentang ketulusan.

Dan dari sebuah sore sederhana, aku belajar bahwa kenangan terbaik tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mewah. Cukup kebersamaan yang tulus, tawa yang lepas, dan hati yang saling menghargai.

Mungkin suatu hari nanti mereka akan lupa pelajaran apa yang kami bahas pada hari itu.

Tetapi semoga mereka tidak lupa bahwa pernah ada seorang guru yang berjalan bersama mereka, tertawa bersama mereka, dan menyimpan setiap cerita kecil mereka sebagai kenangan yang berharga.

Karena setiap anak memiliki cerita.

Dan setiap generasi meninggalkan jejaknya sendiri.

Salam literasi.
Terus menuliskan setiap hari, mengabadikan yang terjadi, dan menemukan makna dari setiap perjalanan.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang yang terjadi Omjay. https:// Wijayalabs.com

setiap hari ada cerita

Setiap Hari, Ada Cerita

Malam ini aku kembali ingin bercerita.

Tentang keseharian di sekolah. Tentang hal-hal sederhana yang mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja, tetapi bagiku menyimpan begitu banyak makna.


Aku ingin mendokumentasikan setiap momen itu. Bukan karena semuanya istimewa, melainkan karena kelak, ketika waktu telah berlalu dan anak-anak telah tumbuh dengan jalan mereka masing-masing, mungkin justru hal-hal sederhana inilah yang paling ingin kuingat.

Sebagai guru di sekolah pesisir, aku bertemu dengan beragam karakter anak. Mereka memiliki dunia dan kebiasaan yang berbeda. Ada yang sulit diatur, ada yang merasa paling benar, ada pula yang baru saja mendengarkan nasihat, tetapi beberapa jam kemudian kembali mengulang hal yang sama.

Begitulah dunia anak-anak.

Suatu hari, ketika aku sedang asyik berbincang dengan beberapa rekan guru tentang berbagai hal, tiba-tiba terdengar keributan dari dalam kelas. Ada anak yang bertengkar, ada yang marah, dan tentu saja aku kembali harus menjalankan peran sebagai guru yang tegas.

Dengan spontan aku berteriak,

“Cepat pulang!”

Kupikir mereka akan segera berlari keluar. Namun, ternyata masih ada beberapa anak yang tetap berada di dalam kelas. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka.

Percakapan yang sempat terputus pun berlanjut.

Namun, ketika aku membuka pintu kelas, Masyaallah...

Aku justru mendapatkan sebuah kejutan.

Anak-anak ternyata menyiapkan sesuatu untukku. Bentuknya sederhana, seperti kipas-kipas kecil yang mereka buat entah dari mana. Aku bahkan tidak tahu mereka mendapat ide itu dari mana atau melihatnya dari media sosial yang mana.

Yang jelas, aku melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah kejutan.

Aku melihat perhatian.

Aku melihat kasih sayang.

Dan aku kembali menyadari bahwa menjadi guru tidak selalu tentang memberikan nasihat, mengajar, atau menegur ketika anak melakukan kesalahan. Kadang-kadang, seorang guru juga perlu hadir sebagai seseorang yang mau memahami dunia anak-anaknya.

Aku akui, terkadang aku bisa menjadi guru yang galak. Terutama ketika mereka sulit diatur, tidak mau mendengarkan, atau mengulangi kesalahan yang sama.

Namun, setelah semua itu, aku tetap berusaha menyapa mereka dengan ramah.

Di mana pun bertemu, ketika mereka menyapa, aku berusaha membalas sapaan itu. Ketika mereka tersenyum, aku berusaha mengembalikan senyuman mereka.

Sebab, mungkin bagi kita, sebuah sapaan hanyalah hal kecil.

Tetapi bagi seorang anak, sapaan dari gurunya bisa menjadi tanda bahwa dirinya dihargai dan diingat.

Bukankah indah jika seorang guru dan murid dapat saling menyapa ketika bertemu di jalan?

Tidak perlu selalu ada percakapan panjang. Cukup senyum, salam, dan sapaan sederhana.

Dari sanalah mungkin tumbuh rasa hormat yang tidak pernah diajarkan hanya melalui buku pelajaran.

Beberapa momen seperti inilah yang ingin terus aku dokumentasikan.

Dulu, aku tidak memiliki kebiasaan untuk menuliskan setiap kejadian. Banyak sekali cerita yang akhirnya berlalu begitu saja. Padahal, jika dikumpulkan, mungkin cerita-cerita kecil itu akan menjadi sebuah perjalanan panjang tentang pengabdianku sebagai seorang guru.

Kini, dengan kebiasaan menulis dan membuat dokumentasi setiap hari, aku mencoba menyimpan semuanya.

Hari ini mungkin hanya sebuah cerita kecil.

Besok mungkin menjadi kenangan.

Dan bertahun-tahun kemudian, bisa jadi ia menjadi bagian dari perjalanan yang sangat berharga.

Aku ingin menyimpan cerita tentang anak-anak kelas 4, 5, dan 6. Tentang canda mereka, tingkah mereka, pertengkaran kecil mereka, teguran yang pernah kuberikan, juga kejutan-kejutan sederhana yang kadang membuat hati seorang guru tersentuh.

Termasuk momen Hari Guru yang sering mereka rayakan dengan cara mereka sendiri.

Mungkin bagi mereka, apa yang dilakukan hanyalah sebuah kejutan kecil.

Namun, bagi seorang guru, perhatian kecil dari murid bisa menjadi hadiah yang tidak ternilai.

Pada akhirnya, aku belajar satu hal:

Apa pun yang kita lakukan sebagai guru, semoga semuanya kembali kepada satu tujuan—kebaikan dan masa depan anak-anak didik kita.

Mereka mungkin akan lupa sebagian pelajaran yang pernah kita sampaikan.

Mereka mungkin tidak mengingat semua nasihat yang pernah kita berikan.

Tetapi semoga mereka selalu mengingat bahwa pernah ada seorang guru yang menyapa mereka, mendengarkan mereka, menegur ketika mereka salah, tersenyum ketika mereka datang, dan percaya bahwa mereka mampu menjadi pribadi yang lebih baik.

Itulah mengapa aku ingin terus menulis.

Setiap hari ada cerita.
Setiap cerita menyimpan makna.
Dan setiap kenangan layak untuk diabadikan


Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi(omjay). https://wijayalabs.com

Senin, 05 Oktober 2026

Malam Minggu Bercerita

Minggu Malam Bercerita

Ketika Harapan Tertahan di Tengah Perjuangan

Malam ini sebenarnya aku ingin bercerita tentang kebahagiaan. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal di hati. Ada kisah panjang tentang perjuangan, rezeki yang terasa tertahan, kehilangan, dan sebuah harapan yang berkali-kali diuji.

Kisah ini bermula dari sebuah kerja sama pelayaran di NTB. Sebuah perjanjian telah dibuat. Aku percaya bahwa semua akan berjalan sesuai kesepakatan. Namun, kenyataan berkata lain.

Kapal yang seharusnya dapat beroperasi sesuai perjanjian ternyata tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan, kapal tersebut belum juga diselesaikan, sementara waktu terus berlalu.

Saat itu, pekerjaan kapal sebenarnya tinggal sekitar satu minggu lagi. Tukang yang kami datangkan bahkan bersedia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu dan pembayarannya bisa dilakukan kemudian. Namun, keputusan untuk menghentikan pekerjaan tetap diambil.

Di situlah kegelisahan mulai tumbuh.

Aku semakin membutuhkan biaya karena saat itu ibuku sedang menjalani pengobatan di Bali. Kapal yang seharusnya menjadi sumber penghasilan justru belum dapat beroperasi. Padahal, jika kapal tersebut dapat digunakan untuk mengangkut logistik, hasil yang kami harapkan cukup besar.

Hari berganti hari. Kepastian yang kutunggu tak kunjung datang.

Kapal saya utuh namu dirubah sedikit dibuat melalui kerja sama tersebut tidak segera dapat digunakan, sementara kapalnya yang dikerjakan dalam waktu yang bersamaan justru telah beroperasi melintasi laut.

Aku mencoba mencari jalan damai.


Dengan bahasa yang baik, aku meminta agar kapal tersebut dapat kupinjam untuk dioperasikan terlebih dahulu. Aku bahkan bersedia memberikan jaminan apa pun yang dianggap perlu. Bagiku, dari pada kapal hanya diam dan semakin berisiko mengalami kerusakan, lebih baik kapal itu digunakan untuk mencari penghasilan.

Namun, jawaban yang kuterima justru membuatku terdiam.

Aku diminta menyiapkan uang sebesar Rp250 juta jika ingin mengambil kapal tersebut.

Bagaimana mungkin aku mendapatkan uang sebanyak itu?

Terlebih lagi, menurut penjelasan tukang yang mengerjakan kapal, ada sejumlah perhitungan biaya dan pekerjaan yang menurutku perlu diklarifikasi. Ketika aku meminta rincian, sebagian memang dijelaskan, tetapi menurutku masih ada hal-hal yang belum tercatat secara jelas.

Aku kembali mencoba berbicara dengan baik.

Berulang kali aku menelepon dan memohon agar kapal dapat digunakan. Bukan karena aku ingin menghindari kewajiban, tetapi karena aku sedang berada dalam keadaan yang sangat membutuhkan biaya. Ibuku harus menjalani pengobatan dan cuci darah. Aku membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus biaya pengobatannya.

Namun, permohonan itu belum membuahkan hasil.

Bahkan, aku menerima peringatan surat di pos kan yang di jelaskan bahwa jika kapal tidak diambil pada waktu tertentu, aku tidak boleh menyalahkan pihak tersebut apabila terjadi sesuatu terhadap kapal.

Aku semakin bingung.

Di satu sisi, kapal belum dapat kuoperasikan sebagaimana kesepakatan awal. Di sisi lain, aku diminta menyiapkan uang dalam jumlah besar untuk mengambilnya.

Aku mencoba menahan emosi.

Dalam sebuah percakapan melalui telepon, aku berkata,

“Pak, saya hanya meminta waktu. Saya ingin menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Saya butuh kapal itu untuk mencari biaya pengobatan ibu saya.”

Namun, jawabannya tetap sama.

Aku diminta menyiapkan Rp250 juta.

Saat itu, air mata hampir tidak dapat kutahan. Aku hanya berpikir tentang bagaimana memenuhi kebutuhan anak, orang tua, dan kehidupan sehari-hari. 

Aku berusaha bertahan dengan berjualan, sementara sumber penghasilan yang kuharapkan justru tidak dapat digunakan.

Aku tidak ingin menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Aku hanya ingin ada jalan keluar. Aku ingin berdamai dan mencari solusi yang tidak merugikan kedua belah pihak.

Tetapi, jalan keluar itu terasa semakin jauh.
Waktu terus berjalan.
Beberapa nelayan bahkan menyampaikan keprihatinan karena melihat kapal yang lama tidak beroperasi. Mereka khawatir kapal tersebut akan semakin rusak apabila dibiarkan begitu saja.

Dan benar saja, keadaan semakin berat.
Di tengah persoalan kapal yang belum selesai, kondisi ibuku semakin memburuk.

Aku berusaha mencari jalan, tetapi kemampuan finansialku terbatas.

Sampai akhirnya, takdir berkata lain.
Nyawa ibuku tidak tertolong.
Aku kehilangan seseorang yang sangat kucintai.

Setelah ibuku berada di pusara, aku sendiri harus menjalani perawatan di rumah sakit di Bali. Dalam kondisi tubuh dan hati yang belum pulih, pesan kembali masuk.

Pesan itu kembali membicarakan kapal dan meminta agar aku segera menyiapkan uang serta mengambilnya.

Saat itu emosiku benar-benar pecah.
Bagaimana mungkin, ketika aku baru saja kehilangan orang yang paling kusayangi, persoalan kapal kembali datang menghampiri?

Aku tidak mampu menjawab semuanya dengan tenang. Ada luka yang belum sempat mengering, tetapi sudah kembali disentuh oleh persoalan lain.

Beberapa waktu kemudian, ketika kondisiku mulai membaik, telepon kembali berdering.

Ternyata dari pihak yang sama.
Ia menanyakan keadaan kapal.

Dikatakan bahwa kapal telah kemasukan air dan mesin kapal sudah diperingatkan untuk segera diambil.

Aku kembali bertanya dalam hati:

Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?
Bagaimana aku harus membayar biaya yang menurutku masih perlu diperjelas perhitungannya, sementara kondisi ekonomiku sedang terpuruk?

Aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak memiliki kemampuan untuk mengambil kapal dalam waktu singkat.

Namun, kembali disampaikan bahwa peringatan sudah diberikan dan surat telah dikirimkan.

Saat itu aku tidak mampu lagi menahan tangis.

Aku berkata dengan suara bergetar bahwa aku baru kehilangan ibu. Aku sedang berusaha memulihkan diri,..teriak sekencang kencangnya.. bapak sudah puas ibuku sudah mati pak,,,teriakanku dan tangisan tidak mampu aku bendung lagi,..tetapi persoalan kapal terus datang tanpa henti.

Bukan karena aku tidak mau menyelesaikan masalah.

Aku hanya sedang tidak memiliki kemampuan dengan kenyataan bahwa kami kena tindakan penipuan,

Kini kapal itu akhirnya dapat dikeluarkan. Namun, kondisinya tidak seperti yang kuharapkan. Kapal membutuhkan perawatan dan perbaikan setelah lama tidak beroperasi.

Di tengah semua kesulitan itu, Allah kembali menunjukkan bahwa pertolongan bisa datang melalui siapa saja.

Ada seseorang yang berhati baik. Sosok yang hadir seperti malaikat dalam perjalanan panjang ini. Ia membantu agar kapal dapat diselesaikan dan kembali memiliki harapan untuk beroperasi.

Aku bersyukur.
Namun, persoalan belum benar-benar selesai.

Masih ada surat dan persoalan lain yang harus kuhadapi. Bahkan, pernah ada upaya untuk meminta agar kapal tersebut ditahan dan tidak dioperasikan melalui pihak berwenang, Pol Air, kapal agar ditahan sebelum dibayar, gila kan padahal  dia ingkar perjanjian, kluarganya bilang biar jalan dulu baru dibayar, dan sekarang belum jalan suruh dibayar dan ditahan seperti kami melakukan tindakan pidana, ya Allah.

Menurut pemahamanku, persoalan awal yang kami hadapi berawal dari kerja sama dan perjanjian yang semestinya dapat diselesaikan melalui jalan yang jelas dan baik, namun kayaknya tidak mungkin ini sudah kelas berat. Karena itu, aku memilih untuk tidak mengambil kesimpulan sendiri. Aku percaya setiap persoalan memiliki jalur penyelesaian dan setiap pihak memiliki hak untuk mendapatkan kejelasan. Karena kerugian materi aku tanggung hampir 1 Tahun Lebih

Aku hanya berharap kebenaran dapat menemukan jalannya.

Refleksi: Ketika Hidup Mengajarkan Arti Bertahan

Dari semua yang terjadi, aku belajar satu hal:

Tidak semua perjuangan selesai dengan cepat, dan tidak semua kebaikan langsung mendapatkan balasan.

Ada masa ketika kita sudah berusaha berbicara baik-baik, tetapi belum menemukan jalan keluar.

Ada masa ketika kita ingin bekerja, tetapi kesempatan tertahan.

Ada masa ketika kita membutuhkan rezeki, tetapi seolah pintu-pintu tertutup.

Dan ada masa ketika kita kehilangan orang yang paling kita cintai, tepat ketika kita sedang membutuhkan kekuatan.

Namun, mungkin di situlah kehidupan sedang mengajarkan arti sabar.

Aku belajar bahwa manusia memiliki batas kemampuan, tetapi pertolongan Allah tidak pernah terbatas.

Ketika satu pintu terasa tertutup, bukan berarti semua pintu telah berakhir.

Kadang pertolongan datang melalui seseorang yang tidak pernah kita sangka. Kadang jalan keluar muncul setelah kita melewati hari-hari yang terasa paling berat.

Aku juga belajar untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Biarlah setiap persoalan menemukan jalannya melalui cara yang benar. Jika ada kesalahan, biarlah kebenaran yang membuktikannya. Jika ada hak yang harus diperjuangkan, biarlah diperjuangkan dengan kepala dingin dan hati yang tetap menjaga martabat.

Aku mungkin pernah marah.
Aku pernah menangis.
Aku pernah merasa tidak berdaya.

Tetapi aku tidak ingin semua luka itu menjadikanku manusia yang kehilangan hati.

Aku ingin tetap berdiri.
Untuk anakku.
Untuk keluargaku.
Untuk perjuanganku.

Dan untuk semua harapan yang belum selesai.

Kapal itu mungkin pernah tertahan.
Rezekiku mungkin pernah terasa tertahan.
Tetapi harapanku kepada Allah tidak boleh ikut tertahan.

Sebab aku percaya, ketika manusia tidak lagi mampu membuka jalan, Allah selalu memiliki Minggu Malam Bercerita
Ketika Harapan Tertahan di Tengah Perjuangan
Malam ini sebenarnya aku ingin bercerita tentang kebahagiaan. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal di hati. Sebuah kisah tentang perjuangan, rezeki yang terasa tertahan, kehilangan, dan harapan yang berkali-kali diuji.
Kisah ini bermula dari sebuah kerja sama pelayaran di NTB. Sebuah perjanjian telah dibuat. Aku percaya semuanya akan berjalan sesuai kesepakatan. Namun, kenyataan ternyata berkata lain.

Kapal yang seharusnya dapat beroperasi sesuai perjanjian belum juga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Waktu terus berjalan, sementara penyelesaian kapal tak kunjung mendapatkan kepastian.
Saat itu, pekerjaan kapal sebenarnya hanya tinggal sekitar satu minggu lagi. Tukang yang kami datangkan bahkan bersedia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu dan pembayarannya dilakukan kemudian. Namun, pekerjaan tetap dihentikan.
Di situlah kegelisahan mulai tumbuh.
Aku semakin membutuhkan biaya karena saat itu ibuku sedang menjalani pengobatan di Bali. Kapal yang seharusnya menjadi salah satu sumber penghasilan justru belum dapat beroperasi. Padahal, jika kapal tersebut dapat digunakan untuk mengangkut logistik, hasil yang kami harapkan cukup besar.
Hari berganti hari. Kepastian yang kutunggu tak kunjung datang.
Kapal yang dibuat melalui kerja sama tersebut masih belum dapat digunakan, sementara kapal pihak lain yang dikerjakan dalam waktu yang hampir bersamaan justru telah beroperasi melintasi laut.
Aku mencoba mencari jalan damai.
Dengan bahasa yang baik, aku meminta agar kapal tersebut dapat kupinjam untuk dioperasikan terlebih dahulu. Aku bahkan bersedia memberikan jaminan apa pun yang dianggap perlu. Bagiku, daripada kapal hanya diam dan berisiko mengalami kerusakan, lebih baik kapal itu digunakan untuk mencari penghasilan.

Namun, jawaban yang kuterima justru membuatku terdiam.
Aku diminta menyiapkan uang sebesar Rp250 juta jika ingin mengambil kapal tersebut.
Bagaimana mungkin aku mendapatkan uang sebanyak itu?
Terlebih lagi, menurut penjelasan tukang yang mengerjakan kapal, ada sejumlah perhitungan biaya dan pekerjaan yang menurutku masih perlu diklarifikasi. Ketika aku meminta rincian, sebagian memang dijelaskan, tetapi masih ada beberapa hal yang menurutku belum tercatat secara jelas.
Aku kembali mencoba berbicara dengan baik.
Berulang kali aku menelepon dan memohon agar kapal dapat digunakan. Bukan karena aku ingin menghindari kewajiban, melainkan karena saat itu aku sedang berada dalam kondisi yang sangat membutuhkan biaya. Ibuku harus menjalani pengobatan dan cuci darah. Aku membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pengobatannya.
Namun, permohonan itu belum membuahkan hasil.

Bahkan, aku menerima peringatan bahwa jika kapal tidak diambil pada waktu tertentu, aku tidak boleh menyalahkan pihak tersebut apabila terjadi sesuatu terhadap kapal.
Aku semakin bingung.
Di satu sisi, kapal belum dapat kuoperasikan sebagaimana kesepakatan awal. Di sisi lain, aku diminta menyiapkan uang dalam jumlah besar untuk mengambilnya.
Aku berusaha menahan emosi.
Dalam sebuah percakapan melalui telepon, aku berkata,
“Pak, saya hanya meminta waktu. Saya ingin menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Saya membutuhkan kapal itu untuk mencari biaya pengobatan ibu saya.”
Namun, jawabannya tetap sama.
Aku diminta menyiapkan Rp250 juta.
Saat itu, air mata hampir tak dapat kutahan. Pikiranku hanya tertuju pada bagaimana memenuhi kebutuhan anak, orang tua, dan kehidupan sehari-hari. 

Aku berusaha bertahan dengan berjualan, sementara sumber penghasilan yang kuharapkan justru belum dapat digunakan.
Aku tidak ingin menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Aku hanya ingin menemukan jalan keluar. Aku ingin berdamai dan mencari solusi yang tidak merugikan kedua belah pihak.

Namun, jalan keluar itu terasa semakin jauh.
Waktu terus berjalan.
Beberapa nelayan bahkan menyampaikan keprihatinan karena melihat kapal yang lama tidak beroperasi. Mereka khawatir kapal tersebut akan semakin rusak jika terus dibiarkan.

Dan benar saja, keadaan semakin berat.
Di tengah persoalan kapal yang belum selesai, kondisi ibuku semakin memburuk.
Aku terus berusaha mencari jalan, tetapi kemampuan finansialku terbatas.
Sampai akhirnya, takdir berkata lain.
Ibuku tidak tertolong.
Aku kehilangan seseorang yang sangat kucintai.

Setelah ibu berada di pusara, aku sendiri harus menjalani perawatan di rumah sakit di Bali. Tubuhku belum sepenuhnya pulih, hati pun masih dipenuhi duka. Namun, di tengah keadaan itu, pesan kembali masuk.
Pesan itu kembali membicarakan kapal dan meminta agar aku segera menyiapkan uang serta mengambilnya.

Saat itu, emosiku benar-benar pecah.
Bagaimana mungkin, ketika aku baru saja kehilangan orang yang paling kusayangi, persoalan kapal kembali datang menghampiri?
Aku tidak mampu menjawab semuanya dengan tenang. Ada luka yang belum sempat mengering, tetapi kembali disentuh oleh persoalan lain.
Beberapa waktu kemudian, ketika kondisiku mulai membaik, telepon kembali berdering.
Ternyata dari pihak yang sama.
Ia menanyakan keadaan kapal.
Dikatakan bahwa kapal telah kemasukan air dan mesin kapal sudah diperingatkan agar segera diambil.
Aku kembali bertanya dalam hati:
Dari mana harus kucari uang sebanyak itu?
Bagaimana aku harus membayar biaya yang menurutku masih perlu diperjelas perhitungannya, sementara kondisi ekonomiku sedang terpuruk?
Aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak memiliki kemampuan untuk mengambil kapal dalam waktu singkat.

Namun, kembali disampaikan bahwa peringatan sudah diberikan dan surat telah dilayangkan.

Semoga Allah memberikan jalan terbaik atas segala kesulitan yang sedang kuhadapi, memberikan kekuatan untuk menerima kehilangan, melapangkan rezeki, serta mempertemukan setiap persoalan dengan penyelesaian yang adil.
Aamiin.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi Omjay.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi-Omjay. https://wijayalabs.com

Sabtu, 03 Oktober 2026

Ketika kata Menjadi Cahaya

Ketika Kata Menjadi Cahaya
Oleh : Sri Wulandari

Muridku membawa kata-kata penuh tanya,
tak mampu merangkai ucap tulusnya.
Membawa harap di dalam hati,
menapaki hari dengan langkah tertatih.
Namun, langkah tak ingin menyerah,
di sana cahaya bintang kecil menjadi harapan.
Meski hanya membawa sepotong kalimat,
sebagian masih bingung mencari makna.

Satu kata, satu frasa, satu kalimat,
terangkai perlahan menjadi untaian indah.
Kutemani sepenuh hati,
perlahan, pasti, tanpa henti.

Laksana bintang yang berserak
di hamparan langit yang luas,
mereka menemukan suara
di antara barisan kata dan puisi.

Kalimat yang belum menemukan arah
laksana sepotong mimpi yang menggantung di langit bintang.

Belajar menyusun kata, merangkai makna
hingga satu kalimat menjadi cahaya.
Lalu cahaya itu menjelma cerita

Malam menjadi saksi ketika kata dirangkai menjadi bait puisi berteman milyaran bintang
yang berpendar di langit malam.

Ajarkan mereka keberanian,
agar tak takut pada kata yang belum sempurna.
Sebab dari satu kata yang sederhana,
dapat tumbuh makna yang luar biasa.

Dari kalimat yang masih terbata,
lahir mimpi yang perlahan menemukan arah.

Dan ketika mereka berani bersuara,
kata bukan lagi sekadar kata ia menjadi cahaya
yang memancar dari dalam diri.

Sapeken, 3 September 2026

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi*Omjay*https:// Wijayalabs.com

Pesan yang tersirat dalam puisi diatas
setiap anak memiliki cahaya dan potensi yang berbeda. Tugas seorang guru bukan sekadar mengajarkan kata, tetapi menemani anak menemukan keberanian untuk menyuarakan pikiran dan mimpinya. Dari kata yang sederhana, dapat tumbuh kepercayaan diri, kreativitas, dan harapan.

Malam Minggu penuh cerita😍

Jumat, 02 Oktober 2026

Jumat bercerita

Jumat Bercerita
Ketika Puisi Menjadi Jalan Belajar Anak-Anak Pesisir
Beberapa hari terakhir, seperti biasa, saya kembali melakukan pembinaan kepada murid-murid yang mengikuti kegiatan menulis puisi. Bagi sebagian anak, menulis mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi anak-anak di kepulauan tempat saya mengajar, merangkai kata menjadi sebuah puisi ternyata bukan perkara mudah.

Kendala yang kami hadapi cukup kompleks. Sebagian besar peserta didik belum terbiasa menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam kata-kata. Mereka masih belajar memahami kosakata, frasa, kalimat, bahkan tanda baca. Mereka mungkin sudah cukup akrab dengan gawai, tetapi belum tentu terbiasa menggunakan kata-kata untuk menghasilkan sebuah karya tulis.

Di sinilah saya sebagai guru mencoba mengambil langkah-langkah kecil.

Dengan waktu pembinaan yang terbatas, saya membantu mereka memahami judul yang dipilih, kemudian mengarahkan kata-kata apa saja yang dapat dikembangkan sesuai tema. Bukan untuk membuatkan karya mereka, tetapi untuk membantu mereka menemukan jalan agar mampu menuangkan gagasan dengan kemampuan sendiri.

Hal ini menjadi semakin penting karena karya tersebut akan dibukukan bersama puluhan peserta didik lainnya. Ada tanggung jawab yang harus kami jaga. Penyelenggara juga telah menetapkan bahwa karya tidak boleh menggunakan AI. Artinya, setiap puisi harus lahir dari proses berpikir, belajar, dan kreativitas anak itu sendiri.

Justru di situlah tantangannya.

Anak-anak tidak hanya belajar menulis puisi. Mereka belajar mengenal kosakata baru, memahami makna sebuah kata, menyusun kalimat, membaca, memperhatikan tanda baca, dan berani menuangkan pikiran mereka dalam bentuk tulisan.

Saya sempat berpikir, ternyata menulis bukan sesuatu yang mudah bagi anak-anak di sebuah kepulauan. Keterbatasan lingkungan belajar dan dukungan orang tua menjadi salah satu tantangan yang kami rasakan. Namun, keadaan bukan alasan untuk berhenti mencoba.

Saya percaya, pendidikan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang ia tumbuh dari sesuatu yang sederhana: satu judul, satu kata, satu kalimat, lalu berkembang menjadi sebuah karya.

Dengan jumlah peserta yang cukup banyak, pembinaan pun dilakukan secara bergilir. Ada anak yang dibimbing hari ini, sementara anak lainnya menunggu giliran. Saya harus mengatur waktu agar kegiatan tersebut tidak mengganggu pembelajaran di kelas.

Bagi saya, mengambil waktu pelajaran bukan pilihan yang tepat jika membuat kewajiban belajar mereka terganggu. Karena itu, saya berusaha memberikan pembinaan tambahan agar tugas dalam kurikulum tetap berjalan dan kegiatan menulis pun dapat terlaksana.

Saya ingin anak-anak belajar bahwa tanggung jawab bukan tentang memilih salah satu, melainkan tentang belajar mengatur waktu agar keduanya dapat berjalan seimbang.

Ada pula ingatan ikut menulis edisi pertama, perjuangan kecil yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang. Beberapa karya harus diketik secara manual. Ketika laptop mengalami kendala, saya memanfaatkan fasilitas laptop sekolah agar anak-anak tetap dapat menyelesaikan tugasnya.

Saya pun masih terus belajar. Menjadi guru pendamping bukan berarti saya telah sempurna dalam menulis. Saya juga masih mengikuti berbagai pelatihan dan terus belajar bagaimana mendampingi anak-anak menghasilkan puisi.

Bukankah seorang guru juga seorang pembelajar?

Alhamdulillah, dari proses ini saya melihat bahwa kegiatan menulis puisi tidak hanya menghasilkan karya. Lebih dari itu, anak-anak sedang belajar mencintai bahasa Indonesia.

Mungkin hari ini puisinya masih sederhana. Mungkin masih ada kata yang kurang tepat, tanda baca yang terlupa, atau kalimat yang belum tersusun sempurna. Namun, setiap kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Kepada teman-teman yang sudah berhasil menyetorkan naskah, selamat atas keberaniannya. Kepada yang masih menunggu dan belum menyelesaikan karya kami, jadi jangan menyerah semangat untuk diri. 
Setiap kata yang kalian tulis adalah satu langkah menuju kemampuan yang lebih baik.

Bagi saya, mendampingi puluhan anak dalam kegiatan ini bukan sekadar menyelesaikan sebuah tugas lomba. Ini adalah kesempatan untuk menanamkan keberanian, berani membaca, berani menulis, berani mencoba, dan berani menunjukkan karya sendiri.

Saya pun bersyukur karena sebelumnya telah memiliki beberapa karya puisi yang berhasil diterbitkan dalam solo ber-ISBN. Semoga pengalaman kecil ini menjadi jalan untuk terus menghasilkan karya-karya berikutnya, sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi anak-anak yang saya dampingi.

Sebab, literasi bukan hanya tentang menghasilkan buku.

Literasi adalah tentang menyalakan cahaya di dalam diri seseorang agar ia mampu membaca dunia, kemudian menuliskan kembali apa yang ditemukannya.

Dari kepulauan kecil ini, kami belajar bahwa keterbatasan bukan akhir dari sebuah cerita. Ia justru bisa menjadi awal dari sebuah perjuangan.
Amanat yang saya petik:
Jangan menunggu keadaan sempurna untuk mulai belajar. Dengan keterbatasan yang ada, kita tetap dapat menumbuhkan keberanian, kreativitas, dan tanggung jawab. Guru bukan hanya mengajarkan anak untuk menghasilkan karya, tetapi juga mendampingi mereka menemukan kemampuan yang mungkin selama ini belum mereka sadari.

Cukup sampai di sini cerita Jumat malam saya.
Salam literasi.
Jangan lupa, menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi (Omjay).


Kamis, 01 Oktober 2026

Dipeluk Semesta

Dipeluk Semesta
Oleh : Sri Wulandari
Halaman langit berbisik
Kau tidak bosan
Menemukan diri dalam sunyi
terlihat aneh katanya

Taman langit membentang bak lautan cahaya
Taman bintang hidup dalam ruang tanpa batas
Berselancar di antara gelap malam

Dipeluk semesta
ia mengajarkan damai di jiwa
Angin menyentuh penuh kasih
membawa harapan yang perlahan tumbuh

Ia paham ada hati yang penuh lelah
Namun memilih berjalan dalam sunyi
Bersama bintang malam yang menyalakan harapan

Hidup ini hanya persinggahan
Mengajarkan diri untuk belajar pulang
Semesta adalah rumah bagi doa-doaku

Syukur mengajarkan diri menuju jalan pulang
Dalam pelukan semesta aku berbicara
Bahwa doa adalah cahaya di jalan yang panjang

Sapeken, 1 Oktober 2026



Pesan yang tersirat:

Puisi ini mengajarkan bahwa kesunyian tidak selalu berarti kesepian. Ada kalanya seseorang justru membutuhkan ruang yang tenang untuk menemukan dirinya, memahami rasa lelah, dan mendengarkan suara hati.
Semesta melalui langit, bintang, angin, dan malam menjadi simbol bahwa kehidupan selalu menyediakan keindahan dan pengingat. Ketika hati sedang lelah, kita tidak harus selalu berlari. Kita boleh berhenti sejenak, memandang langit, menarik napas, lalu menemukan kembali harapan.

Bagian “hidup ini hanya persinggahan” menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bukan tempat untuk selamanya. Manusia sedang menjalani perjalanan, sehingga perlu belajar bersyukur, menjaga hati, berbuat baik, dan mempersiapkan jalan pulang.

Sedangkan “doa adalah cahaya di jalan” menjadi inti spiritualnya. Ketika jalan terasa gelap dan kita tidak tahu ke mana harus melangkah, doa menjadi cara untuk tetap memiliki harapan dan mendekat kepada Allah.

Secara garis besar memiliki makna:

Jangan takut pada sunyi. Di dalam sunyi, kita dapat menemukan diri. Ketika hati lelah, tetaplah berjalan dengan harapan. Nikmati kehidupan dengan syukur, karena hidup hanyalah persinggahan. Dan ketika langkah terasa gelap, jadikan doa sebagai cahaya untuk menemukan jalan pulang kepada-Nya.

Dipeluk Semesta, maknanya tidak hanya berarti dipeluk oleh keindahan alam, tetapi juga merasakan kasih Tuhan melalui seluruh ciptaan-Nya. 

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi (Omjay). https://wijayalabs.com

Rabu, 30 September 2026

ketika waktu tidak pernah cukup

Ketika Waktu Tak Pernah Cukup

Tulisan ini kutoreh dalam untaian kalimat. Berbicara tentang waktu yang seolah tidak pernah selesai, tetapi selalu terasa kurang. Mungkin begitulah cerita yang sedang kurasakan. Rasa lelah dan kantuk seperti menyelimuti tubuh, tetapi waktu terus berjalan.
Ketika pagi datang dan ada pekerjaan yang harus diselesaikan, memaksimalkan waktu menjadi tanggung jawab harian. Sebab, ketika gaji dan tunjangan belum cukup memenuhi kebutuhan, pekerjaan tambahan menjadi pilihan agar anak-anak tidak merasa kekurangan.

Sesekali aku teringat masa kecil. Uang jajan sudah dijatah. Pilihan makanan pun sederhana. Membeli makanan ringan di warung bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Namun zaman telah berubah. Kini hampir semuanya serba instan, sementara uang tetap menjadi alat tukar yang tidak bisa diabaikan. Tanpanya, banyak kebutuhan terasa lebih berat.
Di tengah keadaan itu, aku kembali pada tugas menulis. Ada sekitar lima puluh peserta yang ingin kuikutsertakan. Beberapa wali murid sudah dikonfirmasi untuk membantu anak-anak membuat puisi, tetapi sebagian akhirnya menyampaikan bahwa mereka tidak dapat melanjutkannya.

Aku memahami keadaan mereka.

Namun, semangat tetap kuusahakan tumbuh. Para peserta berasal dari kelas 4, 5, dan 6. Sebagian dari mereka sudah sering tampil dalam berbagai kegiatan. Bahkan, beberapa di antaranya kini telah lulus. Kami pernah bersama mengikuti berbagai lomba dalam kegiatan IGINOS. Dari sana aku belajar bahwa keberanian anak-anak untuk mencoba adalah sesuatu yang perlu terus dirawat.

Meski begitu, mendampingi mereka bukan perkara mudah. Kesibukan sore, kegiatan tambahan yang rutin, serta berbagai tanggung jawab membuat waktu kami tidak selalu bertemu. Mengajak mereka menyelesaikan tugas menulis bersama membutuhkan kesabaran.

Di antara lelah yang datang, harapan tetap kutanamkan. Semoga beberapa hari ke depan karya-karya mereka dapat selesai dan dikumpulkan. Bukan semata-mata untuk mengejar sebuah lomba, melainkan untuk mengajarkan kepada mereka bahwa setiap usaha memiliki nilai.

Barangkali tidak semua tulisan akan menjadi juara.

Namun, keberanian untuk menulis, mencoba, dan menyelesaikan sesuatu adalah kemenangan kecil yang patut dihargai.
Aku hanya ingin lelah ini menjadi lillah. Tidak mengharap banyak pujian, sebab aku percaya Allah melihat setiap usaha yang dilakukan dengan tulus.

Aku kembali mengingat kalimat yang sering menjadi penyemangat dalam perjalanan menulis:

“Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.”
Kalimat itu bukan sekadar ajakan untuk menulis. Bagiku, ia adalah pengingat bahwa sebuah perubahan sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Maka, meski waktu terasa tidak pernah cukup, aku akan tetap menulis.

Sebab mungkin, dari satu kalimat yang kutorehkan hari ini, akan tumbuh keberanian pada diri seorang anak untuk bermimpi esok hari
 Salam sehat penuh semangat, salam literasi

Selasa, 29 September 2026

Semesta Bercerita

Puisi tentang kerinduan
Semesta Bercerita
Oleh : Sri Wulandari 
Selasa malam tersenyum penuh damai
Ia bercerita tanpa suara
Miliaran bintang bagian aksara
Berteman cahaya menjadi bahasa

Kisah tak biasa bergema bersama rahasia-Nya
Semesta bak buku tanpa halaman
Hadirkan syukur tiap hadir cahaya
Betapa kecil diriku bersama bumiku

Menulis kisah di kanvas langit
Mengirim pesan cinta melalui kerlip bintang
Ajarkan syukur tiap cahaya menoleh
Aku hadir penuh sapaan kasih sayang
Karunia mengalir penuh sinar yang menuntun
Lentera-lentera semesta menjadi bias keabadian
Napas menjadi benang takdir di ruang tanpa batas
Merawat senyumnya bersama doa malamku

Sapeken, 29 September 2026

Berikut beberapa hal yang bisa kita petik  puisi diatas yaitu

“Semesta Bercerita” seolah menitipkan pesan bahwa setiap cahaya yang hadir adalah pengingat agar manusia tidak lupa bersyukur. Kita mungkin kecil di hadapan luasnya bumi dan semesta, tetapi setiap napas, setiap malam, dan setiap cahaya menyimpan karunia yang patut dirawat dengan kebaikan.

Untuk jiwa-jiwa baik, puisi ini berpesan
Jadilah cahaya tanpa harus menjadi bintang yang paling terang.
Hadirlah dengan kasih, tumbuhkan syukur, dan tinggalkan jejak kebaikan di mana pun berada.
Sebab semesta mungkin tidak selalu berbicara dengan suara, tetapi hati yang bening mampu membaca pesannya.

jangan hanya mengagumi cahaya semesta tetapi jadilah bagian dari cahaya itu.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.
https://:wijayalabs.com


KEHILANGAN CAHAYA BESTI

KEHILANGAN Karya : Sri Wulandari Suara menggema bak melodi Mengalun syahdu di relung sanubari Perlahan sunyi bak nyala padam Berganti hening...

STATEGI MENANGKAL HOAKS