Senin, 24 Agustus 2026

Kejutan Piala di Tengah Kesibukan Menulis

Hari ke-8:
Kejutan Piala di Tengah Kesibukan Menulis

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Swt. Atas nikmat sehat yang masih diberikan, saya kembali bisa menulis secara rutin. Tak terasa, hari ini sudah memasuki hari ke-8.

Tema yang ingin saya angkat kali ini adalah seputar kegiatan literasi. Sebagai seorang guru, dunia literasi tentu sangat dekat dengan keseharian saya. Menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga tentang merekam pengalaman, berbagi cerita, dan menyimpan jejak perjalanan.

Namun, tulisan hari ini justru berawal dari sebuah kejutan kecil yang tidak saya duga.

Telepon dari Petugas Pos

Pagi tadi, ketika sedang berada di luar rumah, telepon saya berdering.

“Assalamualaikum, Bu. Sampean di mana?” tanya petugas pos.

Saya spontan menjawab, “Wah, ada paket, ya, Pak?”

“Iya, Bu,” jawab beliau.

Karena saat itu saya masih berada di jalan, saya menjawab singkat, “Tunggu sebentar, ya, Pak. Saya masih di luar.”

Kebetulan saya sedang berbelanja konsumsi untuk teman-teman yang bekerja hari itu dalam persiapan kegiatan karnaval dan gerak jalan.

Cuaca begitu terik. Namun, semangat tetap membakar rasa. Setelah semua urusan konsumsi selesai, akhirnya saya pun pulang.

“Paket COD, Bu!”

Sesampainya di rumah, baru sekitar setengah jam saya beristirahat, telepon kembali berdering.

Kring... kring... kring...

Saya mengangkat telepon.

Ternyata petugas pos kembali mengabarkan bahwa paket saya sudah tiba.

Tak lama kemudian, paket pun mendarat di tangan.

“Lomba COD, ya, Pak?” tanya saya memastikan.

“Iya, Bu,” jawab petugas pos.

Saya langsung berpikir, Waduh, berapa ini harganya?

Dengan penuh percaya diri, saya hanya membawa uang Rp16.000,00.

Namun, setelah dihitung...

“Bu, totalnya Rp31.500,00.”

Saya pun sedikit terkejut.

“Lho, kok besar? Uangnya tidak cukup ini, Pak,” kata saya sambil tersenyum.

Rasa penasaran pun semakin besar. Sebenarnya paket apa yang datang?

Ternyata Sebuah Piala!

Begitu melihat paket tersebut, saya segera membukanya.

Dan...
MasyaAllah!

Ternyata di dalamnya ada sebuah piala apresiasi dari Tim KYM (Komunitas Yuk Menulis).

Hati saya langsung berdebar. Dengan penuh rasa penasaran, kotak itu saya buka perlahan. Momen unboxing tersebut pun saya abadikan dalam sebuah video.

Rasanya sederhana, tetapi bagi saya sangat berarti.

Mendapatkan sebuah piala dari perjalanan menulis adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru yang sedang belajar dan terus berusaha konsisten menulis.

Saya pun berkata dalam hati, “Nah, dapat piala begini saja sudah membuat Bu Guru bangga.”

Alhamdulillah, tulisan yang saya ikutsertakan berhasil lolos seleksi. Apresiasi ini menjadi penyemangat bagi saya untuk terus menulis dan belajar, dengan dukungan dari Komunitas Yuk Menulis (KYM) dan Pak Guru Pedia.

Menulis, Menyimpan Jejak, dan Terus Bertumbuh

Bagi saya, piala ini bukan sekadar benda penghargaan.

Ia menjadi pengingat bahwa setiap tulisan yang kita lahirkan dengan sungguh-sungguh akan meninggalkan jejak. Mungkin tulisan kita sederhana, tetapi bisa saja suatu hari menjadi kenangan yang berharga.

Kini saya masih menunggu kejutan berikutnya, yaitu buku yang akan menyusul.

Semoga perjalanan kecil ini menjadi langkah panjang untuk terus mencintai literasi.

Karena saya percaya, menulis tidak harus menunggu sempurna. Yang terpenting adalah berani memulai dan mau konsisten setiap hari.
Hari ke-8 selesai.

Besok, semoga masih ada cerita baru yang bisa saya tuliskan.

Salam literasi.

Minggu, 23 Agustus 2026

Cerita Reflektif

 Berbagi Cerita 


Hari Ketujuh Menulis Kembali

Hari ini adalah hari ke-7 perjalananku menulis di blog yang telah lama kutinggalkan. Banyak kisah kecil yang terlewat, tetapi hati kecilku memiliki alasan untuk kembali.

Blog pribadiku terakhir aktif pada 2022. Jeda yang cukup panjang justru menghantarkanku pada perjalanan baru: belajar menulis dan menghasilkan dua karya puisi yang sangat sederhana. Bagiku, keduanya adalah langkah awal untuk bangkit dan mempelajari sesuatu yang benar-benar baru.

Betapa tidak, aku mulai memahami bagaimana berpuisi dengan baik dan benar, mengenal berbagai jenis puisi, serta belajar terus-menerus. Bahkan, beberapa buku perdana lahir dari komunitas menulis PGRI asuhan Omjay.

Aku kembali teringat kalimat sakti beliau, “Menulislah setiap hari, buktikan apa yang akan terjadi.”

Walau tidak selalu aktif di media sosial, Kompasiana, maupun blog pribadi, semangat berkaryaku tetap menyala melalui buku solo dan buku antologi.

Kini, aku pun ingin memiliki kalimat sakti beliau aku tambahkan menjadi.

“Belajar menulis setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Kau akan tampak berbeda dari sebelumnya.”



Sabtu, 22 Agustus 2026

Puisi_cinta semesta

Puisi

Cinta Semesta
Oleh: Sri Wulandari

C inta cahaya harapan di benang takdir
I  ndah dalam tenunan pejalan sunyi
N apas langit memberi ruang pertemuan
T atkala ombak rindu menenun waktu
A ku terbang di antara bintang-bintang malam


S epi bukan berarti sendiri
E ntah kau sadar atau tidak
M usim hidup membawa langkah pulang
E mbun pagi menemani jejak waktu
S impul takdir temukan rumah jiwaku
T itik temu mengikat benang takdir
A kan Jejak waktu melukis harapano

R indu abadi menemani sepi
A ku terfikir dunia penuh rahasia
Y ang menghampiri jiwa-jiwa tulus dengan pasang kasih
A ku hidup bersama rahasia semesta

Sapeken, 22 Agustus 2026

Jumat, 21 Agustus 2026

karya Bajo menuju bali

Puisi


Karya Bajo menuju Bali

Nginta, ningkolo, kita bekerja
Jolor membawa hasil ke laut
Pare' hasil menjadi karya
Dari tangan Bajo untuk semua

Ingat atau wattu didikit
Jamaah bekerja dengan tekun
Ingat atau wattu didiki'
Karya dibuat untuk masa depan


Dahako garumu, tetap semangat
Pampahe karya dengan tangan
Baha pacce menjadi kekuatan
Ellau itu dibunan gampang

Misa aha mirek gai nia Adak
Bo gampang makai mesin
Dibuat menjadi tas beke songkok
Diboe ka Bali, dipadagangan ka turis

Sri Wulandari
Sapeken, 21 Agustus 2026



Langit


Puisi

Langit
Oleh: Sri Wulandari

Di antara siang dan malam
Gelap memeluk terang berpijar
Bintang rembulan dan cakrawala
Setia bernaung dalam pelukan angkasa

Langit hadir laksana kanvas semesta
Siang dan malam menjadi poros putarnya
Matahari melukis helaian cahaya
Bintang menoreh sunyi pada beludru malam

Kala senja menyapu semburat jingga
Fajar perlahan membuka tirai harapan
Samudra angkasa menjadi pelabuhan waktu
Tempat setiap musim belajar pulang
Sebab langit tak sekadar bentang biru

Ia adalah saksi yang tak pernah bersuara
Menyimpan doa yang melangit
Mengajarkan bahwa terang dan gelap
bukanlah pertentangan
Melainkan dua wajah kehidupan
yang saling menyempurnakan

Sapeken, 20 Agustus 2026

Rabu, 19 Agustus 2026

cerita reflektif

Semangat Kemerdekaan di Tengah Perubahan
               
Tanggal 17 Agustus menjadi awal dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan. Upacara bendera dilaksanakan dengan khidmat, ditemani cuaca yang cerah dan panas yang cukup menyengat.
Beberapa guru, bahkan kepala sekolah dari kepulauan sebelah, turut hadir dan ikut melaksanakan kegiatan tahunan ini.

Kebersamaan seperti ini selalu menghadirkan rasa tersendiri. Meski sederhana, semangat untuk memperingati kemerdekaan tetap terasa.
Upacara bendera akhirnya selesai dengan khidmat dan berlangsung cukup cepat. Setelah itu, kami sibuk membeli konsumsi untuk rekan-rekan serta makanan untuk mengisi perut yang mulai lapar. Makan bersama pun menjadi bagian kecil yang menyenangkan setelah rangkaian upacara selesai.

Malam Selasa, cerita pun dimulai.
Ya, kegiatan pentas seni tahunan kembali digelar. Kali ini diikuti oleh kelompok TK dan kelompok SD. Dua regu yang menjadi perwakilan SD 2 sudah tampil dengan penuh percaya diri. Melihat mereka berani tampil di hadapan banyak orang membuat saya ikut merasa bangga.

Walaupun kegiatan tahunan kali ini bisa dikatakan tidak semeriah dua tahun sebelumnya, tetap ada kebahagiaan yang terasa.
Biasanya, saya bersama kawan-kawan ikut terlibat dalam kegiatan bazar. Kami berkolaborasi dengan guru-guru SD 1, SD 2, SD 4, dan SD 5, bersama para ibu PKK serta komunitas lainnya. Saat itu suasananya cukup meriah. Banyak kegiatan, banyak kebersamaan, dan tentu saja banyak cerita yang tercipta.
Namun, tidak semua tahun harus berjalan dengan cara yang sama.

Kita perlu belajar menyesuaikan diri dengan perubahan dan keadaan yang berbeda. Yang terpenting, perubahan itu tidak membuat kita kehilangan semangat ’45—semangat untuk terus berkarya, menjaga kebersamaan, dan merayakan kemerdekaan dengan cara yang kita mampu.

Karena pada akhirnya, kemeriahan bukanlah satu-satunya ukuran. Yang lebih penting adalah semangat untuk tetap bersama dan menghargai setiap proses yang kita jalani.

Catatan Harian #LombaBlogMenulisSetiapHari
17–18 Agustus 2026#H-3

Selasa, 18 Agustus 2026

Puisi 2026

Memeluk Takdir
Oleh : Sri Wulandari
.                           Sumber AI

Kususuri lorong sepi dalam hati
Mencari jawab yang tak pernah kumengerti
Kau hadir bersama jejak cerita perjalananku
Wahai takdir, bisakah aku memelukmu

Banyak yang telah kulalui
cerita yang selalu memaksaku dewasa
Sampai berpikir, mengapa selalu berulang
Tak mengerti makna sejati yang terselip di dalamnya

Tahun kemarin dan tahun ini tentang kehilangan
Memohon kepada takdir agar waktu tak memanggilnya pulang
Namun, suratan takdir tak bisa ditolak
Kini sendiri, tanpa dapat menatapnya lagi
Hanya pusara tempatku mengenangnya

Sapeken, 18 Agustus 2026

                          Sumber AI
Puisi# memeluktakdir#lombamenulisdalamblog

Cerita Reflektif

Cerita Reflektif

“Rumah Blog yang Kembali Kuhuni”



Bismillah, Menulis Lagi dengan Versi Sederhanaku
.                     
Tanggal 15 Agustus, akhirnya bisa mengikuti kegiatan Zoom. Senang rasanya. Akhirnya bisa berada di ruangan beliau lagi, melihat beliau sudah sembuh dan kembali aktif. Puji syukur rasanya masih bisa melihat beliau dengan canda dan kerendahan hatinya. Bagi saya, beliau adalah orang baik, seperti filosofi padi: semakin berisi, semakin merunduk.
Melihat postingan beliau, awalnya berkata, “Wow, hadiahnya...” Makin keren saja sponsor dan para donatur yang pastinya orang-orang baik hati.

Melihat lomba itu, akhirnya saya tersenyum kembali. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah belajar di sini. Dengan lomba yang sederhana, pastinya disertai beliau-beliau, para sahabat, dan narasumber di kelas pelatihan yang ikut menyemarakkan. Walaupun nyali terasa ciut, saya tetap ikut lomba. Meski akhirnya hanya terbayar dengan sebuah sertifikat, rasa suka dan gembira tetap terasa kala itu.

Kali ini, melihat tulisan beliau yang memang aktif sebagai blogger dan sahabat literasi, yang pernah hadir di beberapa event, lalu melihat postingannya, saya kembali tersenyum.

Jika berbicara tentang lomba, mungkin saya akan berhenti, merasa tidak mampu melangkah seperti beliau. Bisakah  menulis lagi? bisik hati.
Blog pun masih gratisan. Bahkan sempat saya pulihkan dengan setelan yang sama seperti beberapa tahun lalu. Tidak ada yang menarik sama sekali.
Lalu, siapa lagi yang akan menghargai tulisanmu sendiri sebelum kamu belajar mencintai tulisanmu sendiri? Begitu bisik hati.
Akhirnya, di hari Kemerdekaan ke-81 ini, hati kembali berbisik, “Ayo, menulislah.”
Walaupun tulisanmu sederhana, setidaknya ada jejak yang kamu tinggalkan. Walaupun mungkin hanya kamu sendiri yang membacanya.
Berbicara bersama diri sendiri memang rasanya lucu. Namun, di situlah uniknya. Bertanya kepada diri sendiri, kemudian menjawabnya sendiri.

Namun, inilah awal untuk bangkit.
Rumah blog saya yang sudah lama tidak terawat ingin kembali saya huni dan tinggali. Walaupun penuh keterbatasan, inilah proses awal saya untuk menulis lagi.
Bismillah, menulis lagi dengan versi sederhanaku.

Karena mungkin, sebuah tulisan tidak harus sempurna untuk menjadi berarti. Kadang, ia hanya perlu ditulis agar menjadi jejak bahwa kita pernah berjuang untuk bangkit.

Kala hati mulai terketuk,
kutulis seuntai kalimat penyemangat.
Ingin bangkit dari tidur, bukan dari kasur,
melainkan dari tempat
yang membuat saya mampu berbicara melalui tulisan.

Kala Hati Mulai Terketuk
Oleh : Sri Wulandari

17 Agustus 2026 menjadi awal yang baik,
di hari ulang tahun kemerdekaan ke-81.
Mengajarkan arti kehilangan,
sekaligus membuka awal sebuah kisah.

Bersatu, merajut asa
dalam selaksa cerita.
Berdaulat, bersemayam di dada,
bertenun dengan ketulusan jiwa.

Rakyat sejahtera,
menjadi harapan seluruh manusia.
Indonesia maju,
menjadi impian
demi negeri yang makmur dan berjaya.

Hari ini aku menulis,
bukan sekadar merangkai kata,
tetapi menyalakan kembali semangat
yang sempat tertidur di dalam jiwa.

Sapeken, 17 Agustus 2026

                        

Selasa, 02 Juli 2024

trik sulap penulis pemula

               LAUNCHING BUKU DAN TALK SHOW BERSAMA PAK KADISDIK


                           https://swulandarigawaikucoretankugmld21.blogspot.com

 Beberapa minggu kemaren, tepatnya tanggal 30 mei 2024 resmi dilaksanakaannya launching buku bersama kadisdik dan penerbitan buku solo ke-4, bersama media guru jalan dharma wangsa 7/14, surabaya. Belajar menulis pada tahun 2024 mengajak peserta  didik yang ingin belajar menulis hal sederhana, buku berjudul  Trik Sulap penulis Pemula dengan  naskah yang kami kumpulkan terhitung sederhana namun hal ini akan membuat mereka merasa mudah dalam menulis, sesuai standar kemampuan mereka, hal utama yang saya tekankan kepada mereka adalah menulis itu mudah, menghasilkan karya dan membukukannya perlu diniatkan dalam diri. Alhamdulillah saat  acara  Sarasehan Pendidikan launching buku dan Talk show bersama Pak Kadisdik”Agus Dwi Saputra, S.Sos., M.Si”kepala Dinas Pendidikan Sumenep , di GEDUNG KI HAJAR DEWANTARA SUMENEP. Sukses mengikuti launching tersebut, saya sampai ke kota sumenep tepat  jam 08.00 wib melakukan perjalanan 18 jam perjalanan cukup dikata melelahkan, namun semangat 45, membuat rasa lelah hilang begitu saja, acara telah di mulai dengan lancar, harapannya saya menghadiri acara tersebut mampu memberikan gambaran kepada peserta didik, buku tersebut telah tahap proses cetak dan saat acara lepas pisah peserta didik di minggu  kemaren mendapatkan penghargaan dari kepada sekolah sdn Sapeken II, Moh.Juri S.Pd.,SD.

Sinopsis pada  buku tersebut, Menulis merupakan kegiatan yang biasa dikerjakan sehari-hari oleh pendidik maupun peserta didik. Namun, sebagai guru yang mengajar di daerah kepulauan, saya menemukan kenyataan jika anak didik saya masih kurang ketertarikannya dalam membaca dan menulis.

Pengaruh kuat penggunaan gadget untuk sekadar bermain dan bersenang-senang dan lingkungan sekitar yang kurang mendukung, membuat saya harus mencari cara sekreatif mungkin untuk menumbuhkan minat membaca dan menulis pada anak didik saya.

                                         Dokpri. Penyerahan sertifikat kepala sekolah sdn Sapeken II

Salah satu cara yang saya pakai untuk mengatasi permasalahan di atas yaitu dengan menggunakan metode trik sulap penulis pemula. Idenya sederhana. Saya memandu para siswa untuk menulis satu tema yang sama dengan format tulisan yang hampir mirip. Cara ini lumayan efektif untuk merangsang semangat dan kreatifitas para siswa dalam menuangkan ide. Mereka sedikit demi sedikit mulai bisa berbagi kisah dalam bentuk tulisan. berbagi kisah dalam bentuk tulisan.

Hasil tulisan para siswa kemudian saya kumpulkan dan jadilah buku sederhana ini.  Beragam rasa muncul dari tiap tulisan. Ada cerita seru kegiatan harian siswa baik di sekolah maupun di rumah, curhatan siswa tentang guru, teman, dan keluarga mereka, harapan para siswa tentang berbagai hal, dan cita-cita yang ingin diwujudka siswa jika sudah dewasa nanti. Semua terekam dengan indah di buku ini. Sebagai penulis pemula, belajar meningkatkan kemampuan dengan cara menulis bersama, merupakan salah satu cara efektif menuju gerbang impian dan kesuksesan menjadi penulis peprofesional.                              

                                     https://swulandarigawaikucoretankugmld21.blogspot.com


 

Minggu, 17 September 2023

MERDEKA BELAJAR, MERDEKA MENGAJAR ALA GURU SD

Merdeka Belajar Ala Guru SD

Merdeka Belajar menjadi salah satu gebrakan yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi yaitu Nadiem  Makarim. Merupakan langkah yang tepat yang dilakukan sebagai wujud evaluasi  secara mendalam  dengan melihat kondisi sekarang  yang dimulai dengan adanya pandemic covid-19 dengan perlunya  perubahan dalam belajar dan mengajar.

Merdeka  Belajar merupakan wujud dari perubahan sistem pendidikan yang di desain dengan kemajuan dan sesuai tantangan zaman di era digital 4.0, dan tujuan ini  memang sangat mulia menurut perspektif penulis diman tujuan  dari merdeka mengajar demi menggali potensi dalam diri baik pendidik maupun peserta didik dan tujuannya semata mata meningkatkan  kualitas potensi pembelajaran yang disesuaikan dengan keadaan sekolahnya. Dengan berjalannya  konsep mengajar Ki Hajar Dewantara sejatinya pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia, namun tetap menularkan nilai etika yang baik kepada semua peserta didik, yaitu terikat aturan etika, yang telah diajarkan dalam ajaran Al-Quran, misalnya selain mendidik tetap berfokus untuk memperbaiki tingkah laku serta kesopanan peserta didik kita. Jika diartikan sebaliknya memerdekakaan peseta didik sehingga mereka loss control  bertindak semaunya, nilai kesopanan kepada guru pun tidak ada, dan dalam berahlak baik pun tidak dimiliki peserta didik kita, pastinya sebagai pendidik kita perlu memberikan teguran –teguran kecil  sesuai dengan kondisi yang terjadi. Jika akhirnya  perlu tindakan lebih  sebaiknya kita melakukan rapat, dan memberi  informasi kepada wali peserta didik ,sehingga komunikasi dan kolaborasi tercipta dengan baik dan lebih mudah mewujudkan  tugas dan tujuan kita sebagai tercapai dalam  mencetak generasi dan penerus bangsa yang berkualitas dan berahlak mulia sebagai pelajar pancasila. Mengingat guru sebagai  Pengajar, fasilitator,  pembimbing serta menjadi motivator untuk generasi penerus bangsa ini.

Penulis banyak belajar akan kebutuhan  pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimilki banyak guru dewasa ini, yaitu dengan berbagai pelatihan diacara zoom dan group penunjang lainnya, salah satu ontoh PMM dan KBMN PB PGRI. Penulis  menyadari banyak kekurangan yang harus saya pelajari. Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar yang diterapkan penulis masih sangat sederhana. Hal-hal kecil dilakukan didalam kelas  yaitu melakukan kegiatan MPLK untuk peserta didik baru naik kelas, seperti biasa memberi salam saat masuk  mengucapkan doa  doa ayat suci  alquran, agar tercipta imtaq seorang peserta didik pembelajaran aklak, menanyakan kabar dengan gaya  ice breaking dengan tujuan untuk menyenangkan mereka, gaya belajar demikian mungkin hal yang sudah biasa saat ini,  praktik baik P5 yang kami praktekkan hari sabtu kemarin wujud dari perubahan keil, membuat hiasan bahan stik ie ream, memberi nilai dengan memakai stempel lucu, menyanyikan lagu P5, ice breaking, disela sela pembelajaran, serta kuis wajib dilakukan untuk menambah daya ingat peserta didik terhadap numerasi dan mampu berfikir kritis sedangkan pada literasi memberikan pertanyaan seputar materi yang telah disampaikan, serta berkolaborasi bersama guru serta wali murid serta melakukan pembinaan terhadap peserta didik yang masih perlu pembinaan untuk yang belum mampu membaca.



                              Dokpri:Praktek Baik peserta didik kelas 4 SDN Sapeken II

Kemerdekaan bagi penulis, saat diri anda berjuang untuk berani melawan rasa takut dalam diri dan gali potensi dalam diri, jangan menyerah, jangan malu, lawan tanpa rasa ragu. Sejatinya dirimulah pemenang, kenali dirimu maka kamu akan melihat sehebat apa dirimu sebenarnya.


Kamis, 15 September 2022

Antara stasiun ketapang- gubeng dan lempuyangan bersama mimpi, cita dan cinta

kamis, 15 September 

!5 September adalah hari istimewa , bersama komunitas lagerunal cakrawala guru nasional, Perjalanan kuliah emang sangat berwarna sedihnya, indahnya  bahkan semuanya bercampur menjadi satu ibaratnya gado-gado dan alhamdulillah masa mudaku tidak sia-sia.  Pertemuanku dengan pendidikan di kota jogjakarta menjadi sebuah cerita indah, mengenyam pendidikan sarjana sungguh membuat perjalanan ini jauh tak terasa, namun terbelit mimpi untuk menuntut ilmu dan merubah masa depan menjadi lebih baik dan indah.

Perjalanan naik kapal dari kepulauan sapeken menuju banyuwangi memang mirip seperti perjalanan menuju bali, para mahasiswa dari tempat kami memang paling suka melewati jalur banyuwangi, baik mahasiswa yang akan menuju kota surabaya, kota malang,kota  solo, kota bandung , kota bogor bahkan  Ibu kota jakarta, semangat kuat untuk meraih mimpi itulah yang ditanamkan.

Perjalanan sekolahku begitu jauh menggunakan kereta Sri Tanjung dari stasiun banyuwangi kereta berangkat jam  06.30 pagi, menuju  stasiun kecil maupun stasiun besar dan akhirnya  sampai di stasiun lempuyangan sekitar jam 22.00 sampai jam 23.00, perjalanan ini memang melelahkan, pernah ingat tidak fasilitas kereta api sebelum  mengalami pembenahan seperti sekarang ini. Jika perjalanannya telah terfasilitasi dengan nyaman dengan harga tiket yang ditawarkan  lebih mahal , sesuai fasilitas dan kenyamanan serta keamanan para penumpang, buat yang suka duduk lama cocok kereta digunakan sebagai transportasi, dan sekarang layak buat kalian gunakan buat bersantai bahkan menikmati suasana hutan dan sawah yang menawan, cukup indah bukan, bersama ciptaannya.

 Stasiun lempuyangan  juga dikenal dengan nama stasiun banyuwangi baru, nah buat para pelancong seperti turis luar negeri, turis domestik stasiun ini cocok buat transitan dekat dengan Pelabuhan Feri ketapang,  jarak inipun berguna  untuk memudahkan para pelancong berangkat  dengan menggunakan  kapal feri menuju  kota  bali kota penuh pesona, sudah ada yang kesini belum?

Sebenarnya  banyak cerita indah dengan kereta bertemu sang pujaan hatipun terjadi disini, next ajalah ceritanya bagian ke-2, salam literasi sahabat lagerunal.

Kejutan Piala di Tengah Kesibukan Menulis

Hari ke-8: Kejutan Piala di Tengah Kesibukan Menulis Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Swt. Atas nikmat sehat yang mas...

STATEGI MENANGKAL HOAKS