Selasa, 20 Oktober 2026

HARI SANTRI DI RUANG KELAS

HARI SANTRI DI RUANG KELAS

Menanamkan Iman, Mengenang Perjuangan

Karya: Sri Wulandari
Sapeken, 20 Oktober 2026

Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan yang ditandai dengan upacara atau kegiatan seremonial. Di balik peringatan ini, terdapat sejarah perjuangan, nilai keagamaan, dan semangat cinta Tanah Air yang perlu diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, mengenalkan makna Hari Santri kepada peserta didik sejak dini merupakan bagian penting dari pendidikan karakter.


Berdasarkan Surat Edaran Nomor 41 Tahun 2026 tentang Memperingati Hari Santri Nasional, Pemerintah Kabupaten Sumenep menetapkan pelaksanaan peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026. Sementara itu, kegiatan mengenakan pakaian yang telah ditentukan dalam surat edaran dilaksanakan mulai 19 hingga 22 Oktober 2026, selama empat hari berturut-turut.

Di sekolah kami, SDN Sapeken 2, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Namun, peringatan Hari Santri menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik, khususnya anak-anak kelas IV yang menjadi bagian dari perjalanan mengajarku.

Seperti biasa, setelah mengikuti upacara bendera, kami kembali ke ruang kelas. Aku menyambut anak-anak dengan sapaan hangat, kemudian mengajak mereka berdoa sebelum memulai pembelajaran.

Setelah berdoa, kami melanjutkan kegiatap dengan membaca tiga surah Qul. Kebiasaan ini kami lakukan agar anak-anak terbiasa membaca dan menghafal ayat-ayat Al-Qur'an. Sebagian besar peserta didik di kelasku telah menggunakan Al-Qur'an, meskipun masih ada beberapa anak yang belajar menggunakan Iqra.


Bagiku, membiasakan anak-anak membaca ayat suci bukan sekadar rutinitas sebelum belajar. Ada harapan besar yang kutitipkan di dalamnya. Aku ingin ayat-ayat yang mereka baca hari ini melekat dalam ingatan dan menjadi bekal kehidupan mereka kelak.

Semoga kebiasaan sederhana ini terus tumbuh hingga mereka dewasa. Setelah terbiasa membaca tiga surah Qul, aku berharap mereka dapat melanjutkan hafalan dengan ayat Kursi dan surah-surah lainnya sesuai kemampuan masing-masing.

Sebagai seorang guru, aku menyadari bahwa setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda. Karena itu, mereka perlu dibimbing dengan sabar dan diberi kesempatan untuk berkembang. Pendidikan bukan hanya tentang seberapa cepat anak menguasai pelajaran, melainkan juga tentang bagaimana kebiasaan baik ditanamkan secara berkelanjutan.

Peringatan Hari Santri juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan sejarah perjuangan para santri kepada anak-anak. Aku berencana menghadirkan kegiatan kuis yang menarik agar mereka lebih bersemangat mengenal siapa itu santri, bagaimana perjuangannya, dan mengapa Hari Santri perlu diperingati.

Melalui kegiatan sederhana tersebut, aku ingin anak-anak memahami bahwa para santri dan ulama memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Semangat keagamaan, keberanian, pengorbanan, dan kecintaan kepada Tanah Air merupakan nilai-nilai luhur yang patut kita teladani.

Hari Santri mengingatkan kita bahwa pendidikan agama dan pendidikan kebangsaan dapat berjalan beriringan. Anak-anak perlu tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, menghargai perbedaan, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan bangsanya.

Ada pula perasaan haru yang menyertai perjalanan kami di kelas IV. Waktu terus berjalan, dan suatu saat nanti anak-anak akan naik ke kelas V. Kebersamaan yang kami jalani hari ini akan menjadi bagian dari kenangan perjalanan pendidikan mereka.


Aku ingin setiap pertemuan meninggalkan sesuatu yang bermakna. Bukan hanya pengetahuan dari buku pelajaran, melainkan juga kebiasaan baik, nilai keimanan, dan semangat untuk terus belajar.

Bagiku, memperingati Hari Santri bukan semata-mata tentang mengenakan pakaian tertentu atau mengikuti kegiatan selama beberapa hari. Makna yang lebih dalam adalah bagaimana kita meneruskan semangat perjuangan para pendahulu melalui pendidikan, keteladanan, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dari ruang kelas sederhana di sekolah pesisir ini, aku belajar bahwa menanamkan nilai-nilai luhur tidak harus menunggu kegiatan besar. Semuanya dapat dimulai dari doa bersama, lantunan ayat suci, sapaan seorang guru, dan percakapan sederhana tentang sejarah perjuangan bangsa.


Hari Santri boleh diperingati selama beberapa hari, tetapi semangatnya semestinya hidup sepanjang tahun. Mengenang perjuangan adalah cara kita menghargai masa lalu, sedangkan menanamkan nilai-nilainya kepada anak-anak adalah cara kita menyiapkan masa depan Indonesia.


Pesan yang ingin kusampaikan melalui tulisan ini:

Hari Santri perlu diperingati agar generasi muda mengenal sejarah perjuangan para santri dan ulama, menghargai jasa para pendahulu, serta menumbuhkan kecintaan kepada agama dan Tanah Air. Di sekolah, peringatan ini dapat menjadi sarana pendidikan karakter melalui kebiasaan baik, pembelajaran sejarah, dan keteladanan guru.

Sebab, pendidikan yang bermakna bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menumbuhkan iman, membentuk akhlak, dan menyiapkan generasi yang mampu membawa kebaikan bagi bangsa.

Salam literasi dari sekolah pesisir.

Sri Wulandari


Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi *OMJAY* https://wija

yalabs.com

Senin, 19 Oktober 2026

REFLEKSI DIRI_PELUKAN YANG KUTITIPKAN DALAM DOA

PELUKAN YANG KUTITIPKAN DALAM DOA

Refleksi Diri
Karya: Sri Wulandari

Ada kehilangan yang tidak selesai hanya karena waktu terus berjalan. Hari berganti, pekerjaan tetap menunggu, dan kehidupan harus diteruskan. Namun, di antara kesibukan itu, ada satu ruang dalam hati yang tetap menyimpan nama seseorang Ibu.
Sejak Ibu pergi, aku belajar bahwa kehilangan bukan sekadar tentang seseorang yang tidak lagi dapat kita temui. Kehilangan juga tentang hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa, tetapi kini menjadi sesuatu yang sangat ingin kuulangi.

Aku merindukan kesempatan untuk duduk di sampingnya. Aku ingin merawatnya dengan lebih sabar, mendengarkan keluhannya tanpa tergesa-gesa, dan memenuhi keinginannya selama aku masih mampu. Keinginan Ibu untuk pergi ke Tanah Suci pun masih tersimpan dalam ingatanku. Ketika sakit datang, rencana itu belum sempat terwujud. Aku hanya dapat mengirimkan sebuah foto sebagai ungkapan kasih yang tidak sepenuhnya mampu menggantikan keinginannya.
Dari sana, aku mulai memahami bahwa niat baik saja terkadang tidak cukup. Kasih sayang juga membutuhkan waktu, perhatian, dan tindakan. Kita mungkin merasa masih memiliki hari esok, padahal tidak pernah benar-benar mengetahui berapa banyak waktu yang tersisa bersama seseorang.

Mimpi-mimpi tentang Ibu datang silih berganti. Ada pertemuan yang membuatku bahagia, ada pula perpisahan yang membuatku terbangun dengan air mata. Dalam salah satu mimpi, aku ingin membawanya pergi sebentar, tetapi waktu berkunjung telah berakhir. Aku tidak berhasil mengajaknya keluar.

Aku tidak tahu apa arti mimpi itu. Aku tidak ingin menafsirkannya terlalu jauh. Namun, setiap kali mengingatnya, aku menyadari betapa besar keinginanku untuk kembali melakukan hal-hal yang dahulu masih mungkin kulakukan.

Mungkin yang kurindukan bukan hanya kehadiran Ibu, melainkan juga kesempatan untuk memperbaiki diriku sendiri.
Aku pernah merasa belum cukup sabar ketika merawatnya. Penyesalan itu kadang muncul tanpa diminta. Seandainya waktu dapat diputar kembali, tentu ada banyak hal yang ingin aku ubah. Akan tetapi, hidup tidak memberi kesempatan untuk mengulang masa lalu sesuka hati.

Aku hanya dapat belajar dari apa yang telah terjadi.
Ketika akhirnya aku menziarahi makam Ibu dan melihat pusaranya perlu dirapikan, aku berusaha melakukan sesuatu yang masih bisa kulakukan. Aku memesan pasir dan mengajak beberapa murid membantu membawanya. Kami merapikan makam itu bersama-sama.
Pekerjaan sederhana tersebut tidak mengembalikan Ibu. Namun, saat itu aku merasa telah menunaikan sesuatu yang lama mengganjal di hati. Aku pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang, meskipun kerinduan tetap tinggal.

Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa cinta tidak selalu dapat diwujudkan dalam bentuk yang kita inginkan. Ada hal-hal yang dahulu bisa dilakukan secara langsung, tetapi setelah seseorang berpulang, hanya dapat diteruskan melalui doa, kenangan, dan kebaikan.

Aku juga mulai memahami bahwa penyesalan tidak seharusnya membuatku terus menghukum diri sendiri. Aku memang memiliki kekurangan. Ada sikap yang mungkin kurang tepat, ada kesabaran yang belum sempurna, dan ada keinginan yang belum sempat kupenuhi. Namun, aku tidak dapat mengubah semuanya dengan terus menyalahkan diri.

Yang masih bisa aku lakukan adalah memohon ampun kepada Allah, mendoakan Ibu, dan memperbaiki sikapku kepada orang-orang yang masih berada di dekatku.
Kini, aku ingin belajar lebih sabar kepada keluarga, lebih sungguh-sungguh mendengarkan orang lain, dan tidak menunda kebaikan hanya karena merasa masih ada waktu. Aku tidak ingin menunggu kehilangan berikutnya untuk menyadari betapa berharganya sebuah kehadiran.

Barangkali itulah pelajaran paling sunyi yang kuterima dari kepergian Ibu. 
Kasih sayang perlu diungkapkan ketika kesempatan masih ada.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti rinduku akan terasa lebih ringan. Mungkin aku hanya akan belajar menjalani hari-hari dengan membawa kenangan itu secara lebih tenang. Aku akan tetap mengingat Ibu, tetapi aku juga harus melanjutkan hidup dan menjaga kebaikan yang pernah tumbuh dalam diriku.

Jika suatu malam kami kembali bertemu dalam mimpi, aku ingin menyapanya tanpa tergesa-gesa. Aku ingin mengatakan bahwa aku masih merindukannya, bahwa aku berterima kasih atas segala yang pernah diberikannya, dan bahwa aku sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Namun, selama pertemuan itu belum datang, aku akan menitipkan pelukan melalui doa.

Untuk Ibu, semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya. Semoga segala kebaikan yang pernah Ibu tanamkan terus tumbuh melalui langkah-langkah kecil yang kulakukan.

Dan untuk diriku sendiri, aku ingin mengingat satu hal, masa lalu memang tidak dapat dibuka kembali, tetapi hari ini masih memberi kesempatan untuk berbuat baik.
Sebab, ketika pelukan tak lagi dapat kusampaikan, kasih sayang masih dapat kuteruskan melalui doa dan kebaikan.


Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi**OMJAY** https://Wijayalabs.com

Minggu, 18 Oktober 2026

Ketika ilmu lebih berharga dari pada kekuasaan

Ketika Ilmu Lebih Berharga daripada Kekuasaan

Menelusuri Hikmah Kisah Asif bin Barkhiya pada Masa Nabi Sulaiman

Oleh: Sri Wulandari

Ada kisah dalam Al-Qur'an yang mengajak manusia memandang ilmu dari sudut yang berbeda. Bukan sekadar pengetahuan untuk menjawab pertanyaan, bukan pula kemampuan untuk menunjukkan kehebatan diri, melainkan ilmu yang menuntun manusia mengenali keterbatasannya di hadapan kebesaran Allah.
Kisah itu hadir dalam peristiwa pemindahan singgasana Ratu Balqis pada masa Nabi Sulaiman.

Dalam Surah An-Naml ayat 38–40, Nabi Sulaiman bertanya kepada para pembesarnya tentang siapa yang mampu mendatangkan singgasana Ratu Balqis sebelum kedatangannya. Seorang jin yang kuat menawarkan kemampuannya untuk membawa singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Namun, seseorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab menyatakan sanggup mendatangkannya sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip.

Atas izin Allah, singgasana itu pun telah berada di hadapan Nabi Sulaiman.

Sosok yang disebut dalam ayat tersebut dikenal dalam sejumlah kitab tafsir sebagai Asif bin Barkhiya. Akan tetapi, Al-Qur'an sendiri tidak menyebutkan namanya secara langsung. Yang ditonjolkan justru ilmu yang dimilikinya.

Di sinilah renungan itu bermula.

Mengapa Al-Qur'an menonjolkan ilmu, bukan nama dan kemasyhuran orang tersebut? Bukankah manusia sering kali lebih tertarik mengingat siapa yang melakukan sesuatu daripada memahami pelajaran di balik peristiwa itu?

Mungkin kita perlu berhenti sejenak untuk melihatnya lebih dalam. Dalam kehidupan, manusia kerap mengukur kehebatan melalui jabatan, kekayaan, kekuatan, dan pengakuan. Padahal, semua itu tidak selalu menunjukkan kedalaman pemahaman seseorang. Ada orang yang memiliki kedudukan tinggi, tetapi belum tentu mampu merendahkan hatinya. Ada pula orang yang memiliki pengetahuan luas, tetapi belum tentu menggunakannya untuk kebaikan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa ilmu bukanlah alasan untuk meninggikan diri. Ilmu seharusnya menjadi jalan untuk mengenali batas kemampuan manusia dan memahami betapa luasnya kuasa Allah.

Hal itu semakin jelas ketika Nabi Sulaiman melihat singgasana tersebut telah berada di hadapannya. Beliau tidak menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk menyombongkan kerajaan atau kekuasaannya. Sebaliknya, beliau berkata:

"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya." (QS. An-Naml: 40)

Betapa dalam makna perkataan tersebut. Sesuatu yang luar biasa tidak selalu menjadi alasan untuk berbangga diri. Ia juga dapat menjadi ujian: apakah manusia semakin dekat kepada Allah atau justru merasa bahwa segala sesuatu terjadi semata-mata karena kehebatannya sendiri?

Dari sinilah kita dapat memahami hubungan antara ilmu, iman, dan rasa syukur. Ilmu membantu manusia memahami, iman menuntun arah langkahnya, sedangkan syukur menjaga hatinya agar tidak dikuasai kesombongan.
Sebagian ulama mengaitkan kisah Asif dengan Ismullah al-A'zham, yakni Nama Allah Yang Paling Agung, yang disebut dalam sejumlah hadis tentang doa. Namun, identitas pasti orang tersebut dan nama Allah yang digunakannya tidak dinyatakan secara tegas dalam ayat tersebut. Karena itu, kita tidak perlu mengubah bagian yang belum pasti menjadi sebuah kepastian. Justru sikap jujur terhadap keterbatasan pengetahuan merupakan bagian dari adab dalam mencari ilmu.

Lalu, apa makna kisah ini bagi kehidupan kita hari ini?

Sebagai seorang pendidik, saya melihat bahwa ilmu yang berharga bukan hanya ilmu yang membuat seseorang mampu menjawab soal atau meraih penghargaan. Ilmu juga perlu menumbuhkan kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan kerendahan hati. Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan menjadi pintar. Mereka juga perlu dibimbing agar memahami untuk apa kepintaran itu digunakan.

Sebab, kecerdasan tanpa tanggung jawab dapat kehilangan arah. Prestasi tanpa rasa syukur dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang disertai akhlak dapat menjadi cahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

Kita mungkin tidak memiliki kerajaan seperti Nabi Sulaiman. Kita pun tidak mengetahui seluruh rahasia yang terkandung dalam kisah Asif bin Barkhiya. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan menggunakan pengetahuan demi kebaikan.

Pada akhirnya, kebesaran manusia tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak hal yang mampu dikuasainya, tetapi juga oleh bagaimana ia bersikap setelah memperoleh pengetahuan dan keberhasilan.

Sebab, ilmu yang sejati bukan hanya membuat manusia semakin banyak mengetahui. Ilmu juga mengajarkannya menyadari betapa banyak hal yang belum ia ketahui.

Dan ketika pengetahuan itu membuat hati semakin rendah di hadapan Allah, barangkali di situlah salah satu makna terdalam dari sebuah ilmu: bukan untuk membuat manusia merasa paling hebat, melainkan untuk membimbingnya semakin mengenal kebesaran Tuhan.
Penutup

Ketika Ilmu Menuntun Hati Kembali kepada Allah

Pada akhirnya, kisah Asif bin Barkhiya mengajak kita memahami bahwa tidak semua kehebatan harus disertai kemasyhuran. Ada ilmu yang tidak mencari pujian, ada pengabdian yang tidak menuntut pengakuan, dan ada hati yang semakin mengenal kebesaran Allah justru semakin menyadari keterbatasan dirinya.

Singgasana Ratu Balqis mungkin menjadi bagian paling menakjubkan dari kisah ini. Namun, bagi saya, pelajaran yang paling berharga terletak pada cara kita memandang ilmu dan karunia. Sebab, sehebat apa pun kemampuan manusia, tetap ada batas yang tidak dapat dilampauinya. Dan setinggi apa pun pengetahuan yang diraihnya, selalu ada ilmu Allah yang jauh lebih luas daripada apa yang sanggup dipahaminya.

Sebagai manusia, kita tidak harus menjadi sosok luar biasa untuk memberikan makna bagi kehidupan. Kita hanya perlu belajar dengan sungguh-sungguh, menggunakan ilmu untuk kebaikan, menjaga hati dari kesombongan, dan mensyukuri setiap kesempatan yang Allah berikan.

Barangkali, kita tidak akan pernah mengetahui seluruh rahasia yang tersimpan di balik kisah Asif bin Barkhiya. Namun, kita dapat membawa pulang satu pelajaran penting: jangan biarkan ilmu membuat kita merasa paling tinggi, tetapi biarkan ilmu menuntun kita untuk semakin rendah hati.

Sebab, ilmu yang sejati bukan hanya menerangi pikiran, melainkan juga membimbing hati agar mengenali jalan kebenaran.

Dan ketika kelak segala pencapaian tak lagi disebutkan, penghargaan tak lagi dikenang, serta nama kita perlahan dilupakan, semoga kebaikan yang lahir dari ilmu tetap hidup dalam diri orang lain.

Sebab, kemuliaan ilmu bukan terletak pada seberapa hebat seseorang terlihat di hadapan manusia, melainkan pada seberapa besar ilmu itu membawanya kepada kebaikan dan mendekatkannya kepada Allah.

Semoga kita menjadi manusia yang tidak pernah berhenti belajar, tidak lelah menebar manfaat, dan tidak lupa bersyukur atas setiap ilmu yang dititipkan-Nya.

Penulis Sri Wulandari

Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi*Omjay*

Mengagumi

MENGAGUMI
Karya: Sri Wulandari

Mengintip di tirai jendela
Embusan lembut menyapa senyumku
Namamu sejukkan lerung jiwaku
Gelora kasih tak pernah mati
Ada rindu dalam senyummu
Gemerlap cahaya pelangi malam
Ukiran rindu bergantung membelenggu
Memahat kenangan abadi
Indah terukir nyata dalam jiwa

Sapeken, 17 Oktober 2026

MAKNA TERSIRAT PUISI “MENGAGUMI”
Puisi Mengagumi menggambarkan perasaan kagum terhadap seseorang yang meninggalkan kesan mendalam di dalam hati. Kekaguman itu tidak selalu harus diungkapkan melalui kata-kata. Terkadang, cukup dengan mengingat senyumnya, menyebut namanya dalam hati, atau menyimpan kenangan tentang kehadirannya.
1. Mengintip di tirai jendela
Menggambarkan seseorang yang diam-diam memperhatikan dari kejauhan. Tirai jendela menjadi simbol batas antara keinginan untuk mendekat dan keberanian untuk mengungkapkan perasaan.
2. Embusan lembut menyapa senyumku
Melambangkan kehadiran seseorang yang mampu menghadirkan kebahagiaan sederhana. Bahkan tanpa percakapan panjang, bayangan tentang dirinya dapat membuat hati terasa hangat.
3. Namamu sejukkan lerung jiwaku
Nama seseorang menjadi sumber ketenangan. Di tengah pikiran yang riuh, mengingatnya seolah menghadirkan kesejukan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
4. Gelora kasih tak pernah mati
Menggambarkan perasaan kagum yang tetap hidup meskipun waktu terus berjalan. Ada perasaan yang tidak mudah hilang karena telah meninggalkan jejak mendalam di dalam hati.
5. Ada rindu dalam senyummu
Senyum menjadi bahasa tanpa suara. Di baliknya, tersimpan kerinduan dan perasaan yang mungkin tidak pernah diungkapkan secara langsung.
6. Gemerlap cahaya pelangi malam
Melambangkan harapan dan keindahan yang hadir di tengah kesunyian. Seperti pelangi yang menghiasi langit, kekaguman mampu memberikan warna pada hari-hari yang terasa biasa.
7. Ukiran rindu bergantung membelenggu
Menggambarkan kenangan yang terus melekat dalam pikiran. Rindu terasa indah, tetapi terkadang juga membuat seseorang sulit melepaskan bayangan yang telah lama tersimpan.
8. Memahat kenangan abadi
Melambangkan kenangan yang terukir kuat dalam perjalanan hidup. Waktu mungkin berlalu, tetapi pengalaman dan perasaan tertentu tetap menjadi bagian dari kisah seseorang.
9. Indah terukir nyata dalam jiwa
Menegaskan bahwa kekaguman yang mendalam tidak hanya berhenti pada pandangan mata. Perasaan itu telah menjadi bagian dari jiwa, tersimpan sebagai pengalaman batin yang bermakna.

Mengagumi bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang menghargai kehadiran seseorang yang mampu menghadirkan arti dalam kehidupan kita.

Menulislah Setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.Omjay

Jumat, 16 Oktober 2026

TERLAMBAT BUKAN BERARTI KALAH



TERLAMBAT BUKAN BERARTI KALAH


 Belajar Bersyukur di Tengah Lelah dan Perjalanan Menulis

Ada satu hal yang semakin kusadari seiring berjalannya waktu: ketika kita terlalu berfokus pada kompetisi dan keinginan untuk menang, terkadang kita justru lupa menikmati proses dan mensyukuri setiap pencapaian.

Semalam, aku terlalu lelah mengerjakan tugas. Setelah semuanya selesai, aku berniat mengunggah hasil pekerjaanku. Ponsel masih berada dalam genggaman ketika kantuk perlahan mengalahkan kesadaranku. Aku pun tertidur, ditemani nyanyian malam yang berdendang dalam kesunyian.

Entah berapa lama terlelap, aku sempat terbangun. Seolah-olah otakku masih mengingat sederet kegiatan yang belum tuntas. Aku mencoba meraba-raba ponsel sambil berpikir, apakah tugasku sudah diunggah?

Dengan mata yang masih berat, kupencet layar ponsel. Namun, tanpa kusadari, aku kembali terlelap bersama kantuk yang belum juga reda.

Ketika terbangun lagi, aku mulai kebingungan.
Waduh, mana ponselku? Apakah tugasku sudah terkirim?

Kucari dan kuperiksa ponsel itu. Ternyata, semuanya mati. Seketika, perasaan cemas mulai menghampiri. Aku teringat bahwa pekerjaanku menggunakan aplikasi SIC. 
Ada absen masuk yang harus diunggah, pelan-pelan hape diarahkan ke kabelnya, sementara aku belum yakin apakah semuanya sudah terselesaikan.

Pikiranku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Kecewa, cemas, pasrah, dan sedih bercampur menjadi satu. Dalam hati, aku hanya bisa berkata, apakah kali ini aku benar-benar gagal?

Anehnya, rasa kantukku masih belum juga hilang. Di tengah kebingungan itu, kuambil bantal dan berbaring di luar. Rambutku berantakan, sementara pikiranku masih berkelana di antara tugas-tugas yang belum tentu selesai.

Ketika tersadar kembali, hari sudah pagi.
Aku mencoba melanjutkan aktivitas kecil yang biasa kulakukan, menyiapkan barang dagangan untuk dititipkan, sebelum melaksanakan tugas negara. Ada tanggung jawab lain yang harus kuselesaikan, meskipun pikiranku masih tertuju pada tugas yang belum sempat kuunggah.

Hari ini, keterlambatan mengunggah tugas menjadi pengingat bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Tugas merevisi memang sangat menyita waktuku, ditambah laptop agak eror. Ketika ponsel mati, bukan hanya alat komunikasiku yang terhenti, tetapi juga beberapa kegiatan yang bergantung padanya.

Sesekali, aku bertanya kepada diri sendiri, apakah ini bagian dari proses menua?
Aku pun tersenyum kecil dalam hati.
Barangkali bukan semata-mata karena usia. Mungkin aku hanya sedang belajar memahami batas kemampuan diri. Ada kalanya tubuh membutuhkan istirahat, sementara pikiran masih ingin menyelesaikan banyak hal. Ada pula saatnya kita harus menerima bahwa kemampuan manusia memiliki batas, meskipun keinginan untuk terus berkarya begitu besar.

Dari kejadian sederhana itu, aku belajar bahwa keterlambatan bukan selalu tanda kekalahan. Namun, aku juga memahami bahwa tanggung jawab tetap harus dijaga. Kita perlu belajar mengatur waktu, mengenali batas diri, dan mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih baik.

Sebab, menjadi penulis bukan hanya tentang seberapa banyak karya yang berhasil diselesaikan atau berapa banyak kompetisi yang dimenangkan. Menulis juga mengajarkan kita untuk mengenali diri sendiri, memahami kehidupan, dan menerima kenyataan dengan hati yang lebih lapang.

Aku ingin terus belajar. Bukan sekadar menjadi pemenang, melainkan menjadi seseorang yang mampu menghargai setiap proses perjalanan, serta belajar konsisten itu penting.

MENGENANG SEBUAH BUKU: RINDU TAK BERUJUNG

Berbicara tentang perjalanan menulis, ingatanku kembali pada sebuah buku yang pernah kutulis beberapa waktu lalu. Buku itu lahir dari proses belajar bersama dalam kegiatan BM melalui Aula Belajar Bersama Ruang Literasi.

Judulnya Rindu Tak Berujung.

Buku tersebut telah memiliki ISBN dan memuat empat belas judul cerita. Bagiku, buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan yang kemudian menjadi sebuah karya cetak. Di dalamnya, ada jejak perjalanan, pengalaman, imajinasi, dan proses belajar yang telah kulalui.

Jika seseorang bertanya apakah kisah-kisah di dalamnya merupakan cerita nyata atau hanya imajinasi, jawabanku adalah keduanya.

Bagiku, kenyataan dan imajinasi terkadang dapat berjalan berdampingan. Kehidupan yang kita alami menyimpan begitu banyak peristiwa, perasaan, dan kenangan. Sementara itu, imajinasi memberikan ruang bagi pikiran untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang tidak selalu dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Keduanya dapat saling melengkapi, menghadirkan cerita yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna kehidupan.

Judul Rindu Tak Berujung sendiri menyimpan pertanyaan tentang kehilangan, harapan, dan pencarian cinta sejati di tengah perjalanan hidup.

Ada kenangan yang tak mudah memudar. Ada harapan yang tetap tumbuh meskipun keadaan berubah. Ada pula kerinduan yang membawa seseorang pada pencarian makna, bahkan ketika jawaban yang diharapkan belum juga ditemukan.

Seperti yang tergambar pada sampul buku tersebut, seorang perempuan berhijab merah muda hadir di antara rangkaian bunga. Senyumnya menyimpan kelembutan, sementara tatapan matanya seolah mengajak pembaca memasuki sebuah perjalanan yang belum sepenuhnya terungkap.

Bagi pembaca, sampul itu mungkin hanya sebuah ilustrasi. Namun, bagiku, ia menjadi pintu masuk untuk mengenal kisah-kisah yang tersembunyi di balik judulnya.

Empat belas judul di dalam buku itu menjadi bagian dari perjalanan kreatifku. Setiap cerita memiliki ruangnya sendiri, dengan pengalaman, imajinasi, dan pesan yang hendak disampaikan.

Aku menyadari bahwa sebuah karya tidak harus sepenuhnya lahir dari pengalaman pribadi untuk dapat menyentuh hati pembaca. Imajinasi pun dapat menyampaikan kebenaran tentang perasaan manusia. Sebaliknya, pengalaman nyata dapat diolah menjadi cerita yang membuka ruang bagi pembaca untuk membayangkan sesuatu yang lebih luas.

Pada akhirnya, kenyataan dan imajinasi bukanlah dua hal yang harus selalu dipertentangkan. Keduanya dapat bertemu dalam tulisan, lalu menghadirkan makna yang berbeda bagi setiap orang.

Kini, ketika kembali mengingat perjalanan buku Rindu Tak Berujung, aku merasa bahwa setiap karya memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh dan menemukan pembacanya.

Tidak semua proses berlangsung mudah. Tidak semua usaha langsung membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Namun, setiap langkah tetap memiliki arti selama kita bersedia belajar dan terus memperbaiki diri.

Aku pun kembali pada pemikiran awal: jangan sampai keinginan untuk menang membuat kita lupa bersyukur.

Kompetisi memang dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan, tetapi perjalanan menulis jauh lebih luas daripada sekadar perlombaan. Ada pengalaman yang memperkaya pikiran, kegagalan yang mengajarkan ketekunan, dan karya yang menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha.

Terlambat bukan berarti kalah. Tidak menang bukan berarti tidak berkembang. Dan sebuah karya tidak kehilangan maknanya hanya karena belum mendapatkan penghargaan.

Selama masih ada kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki langkah.

Sebab, pada akhirnya, perjalanan menulis bukan hanya tentang mencapai garis akhir, melainkan tentang menemukan makna di sepanjang jalan yang kita lalui.

Sri Wulandari berfokus pada kompetisi dan keinginan untuk menang, terkadang kita justru lupa menikmati proses dan mensyukuri setiap pencapaian.

Semalam, aku terlalu lelah mengerjakan tugas. Setelah semuanya selesai, aku berniat mengunggah hasil pekerjaanku. Ponsel masih berada dalam genggaman ketika kantuk perlahan mengalahkan kesadaranku. Aku pun tertidur, ditemani nyanyian malam yang berdendang dalam kesunyian.

Entah berapa lama terlelap, aku sempat terbangun. Seolah-olah otakku masih mengingat sederet kegiatan yang belum tuntas. Aku mencoba meraba-raba ponsel sambil berpikir, apakah tugasku sudah diunggah?

Dengan mata yang masih berat, kupencet layar ponsel. Namun, tanpa kusadari, aku kembali terlelap bersama kantuk yang belum juga reda.

Ketika terbangun lagi, aku mulai kebingungan.

Waduh, mana ponselku? Apakah tugasku sudah terkirim?

Kucari dan kuperiksa ponsel itu. Ternyata, semuanya mati. Seketika, perasaan cemas mulai menghampiri. Aku teringat bahwa pekerjaanku menggunakan aplikasi SIC. Ada tugas yang harus diunggah, sementara aku belum yakin apakah semuanya sudah terselesaikan.

Pikiranku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Kecewa, cemas, pasrah, dan sedih bercampur menjadi satu. Dalam hati, aku hanya bisa berkata, apakah kali ini aku benar-benar gagal?

Anehnya, rasa kantukku masih belum juga hilang. Di tengah kebingungan itu, kuambil bantal dan berbaring di luar. Rambutku berantakan, sementara pikiranku masih berkelana di antara tugas-tugas yang belum tentu selesai.

Ketika tersadar kembali, hari sudah siang.

Aku mencoba melanjutkan aktivitas kecil yang biasa kulakukan, menyiapkan barang dagangan untuk dititipkan. Ada tanggung jawab lain yang harus kuselesaikan, meskipun pikiranku masih tertuju pada tugas yang belum sempat kuunggah.

Hari itu, keterlambatan mengunggah tugas menjadi pengingat bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Ketika ponsel mati, bukan hanya alat komunikasiku yang terhenti, tetapi juga beberapa kegiatan yang bergantung padanya.

Sesekali, aku bertanya kepada diri sendiri, apakah ini bagian dari proses menua?

Aku pun tersenyum kecil dalam hati.

Barangkali bukan semata-mata karena usia. Mungkin aku hanya sedang belajar memahami batas kemampuan diri. Ada kalanya tubuh membutuhkan istirahat, sementara pikiran masih ingin menyelesaikan banyak hal. Ada pula saatnya kita harus menerima bahwa kemampuan manusia memiliki batas, meskipun keinginan untuk terus berkarya begitu besar.

Dari kejadian sederhana itu, aku belajar bahwa keterlambatan bukan selalu tanda kekalahan. Namun, aku juga memahami bahwa tanggung jawab tetap harus dijaga. Kita perlu belajar mengatur waktu, mengenali batas diri, dan mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih baik.

Sebab, menjadi penulis bukan hanya tentang seberapa banyak karya yang berhasil diselesaikan atau berapa banyak kompetisi yang dimenangkan. Menulis juga mengajarkan kita untuk mengenali diri sendiri, memahami kehidupan, dan menerima kenyataan dengan hati yang lebih lapang.

Aku ingin terus belajar, terus menerus, ingin menghidupkan blog gratisan ini, bukan sekadar menjadi pemenang, melainkan menjadi seseorang yang mampu menghargai setiap proses perjalanan.

MENGENANG SEBUAH BUKU: RINDU TAK BERUJUNG

Berbicara tentang perjalanan menulis, ingatanku kembali pada sebuah buku yang pernah kutulis beberapa waktu lalu. Buku itu lahir dari proses belajar bersama dalam kegiatan BM melalui Aula Belajar Bersama Ruang Literasi.

Judulnya Rindu Tak Berujung.

Buku tersebut telah memiliki ISBN dan memuat empat belas judul cerita. Bagiku, buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan yang kemudian menjadi sebuah karya cetak. Di dalamnya, ada jejak perjalanan, pengalaman, imajinasi, dan proses belajar yang telah kulalui.

Jika seseorang bertanya apakah kisah-kisah di dalamnya merupakan cerita nyata atau hanya imajinasi, jawabanku adalah keduanya.

Bagiku, kenyataan dan imajinasi terkadang dapat berjalan berdampingan. Kehidupan yang kita alami menyimpan begitu banyak peristiwa, perasaan, dan kenangan. Sementara itu, imajinasi memberikan ruang bagi pikiran untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang tidak selalu dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Keduanya dapat saling melengkapi, menghadirkan cerita yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna kehidupan.

Judul Rindu Tak Berujung sendiri menyimpan pertanyaan tentang kehilangan, harapan, dan pencarian cinta sejati di tengah perjalanan hidup.

Ada kenangan yang tak mudah memudar. Ada harapan yang tetap tumbuh meskipun keadaan berubah. Ada pula kerinduan yang membawa seseorang pada pencarian makna, bahkan ketika jawaban yang diharapkan belum juga ditemukan.

Seperti yang tergambar pada sampul buku tersebut, seorang perempuan berhijab merah muda hadir di antara rangkaian bunga. Senyumnya menyimpan kelembutan, sementara tatapan matanya seolah mengajak pembaca memasuki sebuah perjalanan yang belum sepenuhnya terungkap.
Bagi pembaca, sampul itu mungkin hanya sebuah ilustrasi. Namun, bagiku, ia menjadi pintu masuk untuk mengenal kisah-kisah yang tersembunyi di balik judulnya.

Empat belas judul di dalam buku itu menjadi bagian dari perjalanan kreatifku. Setiap cerita memiliki ruangnya sendiri, dengan pengalaman, imajinasi, dan pesan yang hendak disampaikan.

Aku menyadari bahwa sebuah karya tidak harus sepenuhnya lahir dari pengalaman pribadi untuk dapat menyentuh hati pembaca. Imajinasi pun dapat menyampaikan kebenaran tentang perasaan manusia. Sebaliknya, pengalaman nyata dapat diolah menjadi cerita yang membuka ruang bagi pembaca untuk membayangkan sesuatu yang lebih luas.

Pada akhirnya, kenyataan dan imajinasi bukanlah dua hal yang harus selalu dipertentangkan. Keduanya dapat bertemu dalam tulisan, lalu menghadirkan makna yang berbeda bagi setiap orang.

Kini, ketika kembali mengingat perjalanan buku Rindu Tak Berujung, aku merasa bahwa setiap karya memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh dan menemukan pembacanya.

Tidak semua proses berlangsung mudah. Tidak semua usaha langsung membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Namun, setiap langkah tetap memiliki arti selama kita bersedia belajar dan terus memperbaiki diri.

Aku pun kembali pada pemikiran awal: jangan sampai keinginan untuk menang membuat kita lupa bersyukur.

Kompetisi memang dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan, tetapi perjalanan menulis jauh lebih luas daripada sekadar perlombaan. Ada pengalaman yang memperkaya pikiran, kegagalan yang mengajarkan ketekunan, dan karya yang menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha.

Terlambat bukan berarti kalah. Tidak menang bukan berarti tidak berkembang. Dan sebuah karya tidak kehilangan maknanya hanya karena belum mendapatkan penghargaan.

Selama masih ada kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki langkah.

Sebab, pada akhirnya, perjalanan menulis bukan hanya tentang mencapai garis akhir, melainkan tentang menemukan makna di sepanjang jalan yang kita lalui.
Kalimat sakti selalu menemani tulisan ini"menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi"OMJAY. https://wijayalabs.com

PUISI _ SEJENAK

Sejenak

Karya: Sri Wulandari

Sejenak hati letih mengingat masalah,
sejenak terlintas pesan tentang pelaporan.

Langkahku terhenti tatkala melihat senyumnya, makin kupandang, makin terang cahayanya.

Ciptaan-Mu begitu indah, ya Robbi.
Bolehkah ia selamanya bersamaku

Memandang cahaya-cahaya yang Kau titipkan kepadanya,
sungguh menakjubkan dunia ciptaan-Mu.

Tuhan, jika boleh meminta,
bolehkah cahaya bintang-Mu
selalu menemani hati yang hampa ini,
memberi penyembuhan tanpa belajar berharap?

Sungguh, ciptaan-Mu begitu sempurna,
begitu indah dan berharga.
Tujuh bintang bergerak mengitari parade semesta,
syukur atas nikmat yang Kau beri,
Ilahi Robbi.

Sapeken, 16 Oktober 2026

Menangkap pesan yang lembut:

*Terkadang, di tengah kesibukan dan kekosongan hati, kita menemukan ketenangan melalui sesuatu yang sederhana, bahkan melalui cahaya yang mengingatkan kita untuk bersyukur.

Makna yang tersirat pada puisi saya 
Sejenak berhenti dari masalah: kesibukan dan tanggung jawab terkadang membuat hati lelah.

Senyuman dan cahaya: ada sesuatu yang mengingatkan penyair pada keindahan dan kebesaran Allah.

Hati yang hampa: sebuah pengakuan jujur tentang kebutuhan akan ketenangan, tanpa menggantungkan seluruh harapan pada sesuatu yang belum pasti.

Tujuh bintang dan parade semesta: gambaran tentang keteraturan dan keajaiban alam yang menumbuhkan rasa syukur.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi ya OMJAY. https://wijayalabs.com

Rabu, 14 Oktober 2026

ANDE-ANDE LUMUT


Ande-Ande Lumut
Oleh : Sri Wulandari

 
Di desa sunyi kau sembunyi
pemuda tampan berseri
Ande-Ande Lumut nama tersamar
Adipati Anom sang pangeran gemilang

Seberang jembatan datang tiga dara
menyulam harap menjemput cinta
mengajukan lamaran penuh maksud
namun hanya suci kau pilih teguh


Sungai membentang bak gerbang takdir
Yuyu Kangkang tawarkan sihir
dua jelita jatuh terlena
namun sang suci tak tergoda
Klenting Kuning berdiri tegak
tak bermahkota tubuhnya dekil
namun hatinya terang bersinar
di sanalah kau temukan kasih

Dewi Candrakirana dan sang pangeran
bersama dalam janji suci
kehormatan jadi benteng hati
setia berdua bahagia abadi

Sapeken, 14 Oktober 20



Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi. Omjay****https://wijayalabs.com

Puisi ini merangkum cerita rakyat Jawa Timur yang terkenal, yaitu Ande-Ande Lumut (penyamaran dari Pangeran Adipati Anom atau Panji Asmarabangun) dan Klenting Kuning (penyamaran dari Dewi Candrakirana).

• Bait 1: Menggambarkan pangeran yang bersembunyi di sebuah desa terpencil (Desa Dadapan) menggunakan nama samaran Ande-Ande Lumut.

• Bait 2 & 3: Menceritakan kedatangan para wanita (Klenting Merah, Klenting Hijau, Klenting Biru) yang ingin melamarnya. Untuk menyeberang sungai, mereka menggunakan jasa Yuyu Kangkang (kepiting raksasa) dan tergiur oleh tawarannya, sehingga mereka kehilangan "kesucian" mereka (melanggar norma demi kemudahan).

• Bait 4 & 5: Menyoroti Klenting Kuning yang datang dengan tubuh dekil dan bau karena strategi dari ibu angkatnya. Namun, karena dia menolak tawaran Yuyu Kangkang dan menjaga kehormatannya, Ande-Ande Lumut memilihnya. Identitas asli keduanya pun terungkap, dan mereka hidup bahagia.
 Salam literasi 

Selasa, 13 Oktober 2026

BERTAHAN ATAU PERGI

BERTAHAN ATAU PERGI?

Tips dan Trik Menghadapi Lingkungan Toxic Tanpa Kehilangan Jati Diri

Pernahkah kamu berada di lingkungan yang membuat pikiran terasa penuh, hati tidak tenang, dan langkah seolah kehilangan arah?

Kita sering mendengar istilah toxic ketika membicarakan hubungan antarmanusia. Istilah ini mengingatkan kita pada keadaan yang tidak sehat, ketika interaksi yang terus berulang justru menghadirkan tekanan, ketidaknyamanan, bahkan membuat seseorang merasa sulit menjadi dirinya sendiri.

Lingkungan seperti ini bisa hadir di mana saja. Mulai dari lingkungan terdekat, pertemanan, tempat kerja, hingga kehidupan bermasyarakat.

Pernahkah kamu merasa sudah berusaha melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi tetap saja ada yang dipersoalkan? Ingin menyampaikan pendapat, tetapi takut disalahartikan? Atau ingin mengekspresikan gagasan, tetapi justru merasa tertekan oleh penilaian orang lain?

Jika pernah merasakannya, kamu tidak sendirian.

Berada dalam lingkungan yang tidak sehat bisa membuat pikiran terbebani, perasaan gelisah, dan semangat perlahan menurun. Kita mungkin tetap menjalankan rutinitas seperti biasa, tersenyum ketika bertemu orang lain, bahkan terlihat baik-baik saja. Padahal, ada banyak hal yang sedang kita pertimbangkan di dalam diri.

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap?

Apakah kita harus pergi, bertahan, atau belajar menghadapinya dengan cara yang berbeda?

1. Memahami Lingkungan Toxic Sebelum Mengambil Keputusan

Sebelum memutuskan untuk pergi atau bertahan, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tidak semua perbedaan pendapat merupakan perilaku toxic. Kritik tidak selalu berarti kebencian, begitu pula ketidaksetujuan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang ingin menjatuhkan kita.

Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang memiliki cara berpikir, kebiasaan, dan sudut pandang yang berbeda. Namun, ketika interaksi yang berulang dipenuhi penghinaan, manipulasi, intimidasi, atau perlakuan tidak adil, kita perlu menyadari bahwa ada persoalan yang harus ditangani.

Jangan terburu-buru menyimpulkan, tetapi jangan pula terus-menerus mengabaikan apa yang kita alami.

Belajarlah membedakan antara kritik yang membangun dan perlakuan yang merendahkan. Dari sanalah kita bisa menentukan langkah dengan lebih bijaksana.
2. Bertahan atau Pergi, Keduanya Memiliki Konsekuensi

Ketika menghadapi lingkungan kerja yang tidak nyaman, pilihan kita terkadang tidak sesederhana membalikkan telapak tangan.

Sebagian orang mungkin memilih pergi, mencari pekerjaan baru, dan memulai kehidupan di lingkungan yang berbeda. Pilihan ini bisa menjadi jalan keluar ketika keadaan tidak lagi sehat dan kesempatan lain memungkinkan.

Namun, ada pula yang memilih bertahan.

Bisa jadi karena pekerjaan tersebut merupakan sumber penghidupan utama. Bisa juga karena sudah memiliki status kepegawaian tetap, tanggung jawab pelayanan, atau amanah yang tidak mudah ditinggalkan.

Sebagai contoh, seseorang yang telah lama mengabdi dalam suatu instansi pemerintahan mungkin perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Begitu pula pekerja di perusahaan swasta yang harus memikirkan kebutuhan hidup, keluarga, dan ketersediaan pekerjaan pengganti.

Karena itu, kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa orang yang bertahan berarti lemah atau orang yang pergi berarti kalah.

Setiap orang memiliki keadaan, pertimbangan, dan kemampuan yang berbeda.

Pergi bukan selalu tanda menyerah, sedangkan bertahan bukan selalu tanda keberanian. Keduanya membutuhkan pertimbangan yang matang.

Yang terpenting, jangan mengambil keputusan hanya karena emosi sesaat. Pertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan, kebutuhan, tanggung jawab, dan kesejahteraan diri sendiri.

3. Jika Memilih Bertahan, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bertahan bukan berarti membiarkan diri terus-menerus menerima perlakuan yang tidak pantas.

Jika kita belum bisa meninggalkan lingkungan tersebut, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, belajarlah mengendalikan respons.

Kita tidak selalu bisa mengatur perkataan dan perilaku orang lain. Namun, kita bisa belajar memilih cara meresponsnya.

Tidak semua perkataan harus dibalas. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Terkadang, menghentikan percakapan yang tidak produktif jauh lebih bijaksana daripada terus mempertahankannya.

Kedua, tetapkan batasan yang sehat.

Kita boleh bersikap ramah tanpa harus menyetujui semua hal. Kita boleh membantu tanpa harus mengorbankan seluruh waktu dan tenaga.

Sampaikan ketidaknyamanan dengan bahasa yang sopan dan tegas. Jika percakapan mulai mengarah pada penghinaan, kita berhak menghentikannya dengan cara yang aman dan profesional.

Ketiga, jangan sibuk membuktikan diri kepada semua orang.

Dalam lingkungan yang kurang sehat, terkadang kita merasa harus terus menunjukkan bahwa kita mampu, bekerja dengan baik, dan tidak seperti yang dituduhkan.

Padahal, menghabiskan energi untuk meyakinkan setiap orang bisa membuat kita kehilangan fokus terhadap tujuan utama.

Lakukan tanggung jawab sebaik mungkin. Evaluasi diri ketika menerima kritik yang masuk akal, tetapi jangan menjadikan setiap penilaian orang lain sebagai ukuran harga diri.

Keempat, tetap profesional dan berpegang pada fakta.

Terutama di tempat kerja, usahakan komunikasi tetap jelas dan berkaitan dengan tanggung jawab. Hindari terlibat dalam gosip, menyebarkan prasangka, atau membalas perlakuan buruk dengan tindakan serupa.

Jika terjadi intimidasi atau perlakuan tidak adil yang berulang, catat kejadian secara faktual dan mintalah bantuan kepada pihak yang tepat.

Kelima, bangun dukungan yang sehat.

Jangan merasa harus menghadapi semuanya sendirian. Temukan orang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita dan membantu mempertimbangkan pilihan.

Kita juga perlu menyediakan waktu untuk beristirahat, menulis, berdoa sesuai keyakinan, atau melakukan kegiatan yang membantu menenangkan pikiran.

Menjaga diri bukanlah bentuk keegoisan. Kita pun membutuhkan ruang untuk memulihkan tenaga dan semangat.

4. Jangan Terjebak dalam Informasi yang Terlalu Banyak

Saat menghadapi persoalan, kita sering mencari jawaban melalui internet, mesin pencari, media sosial, bahkan berbagai aplikasi kecerdasan buatan.

Beragam informasi menawarkan cara menghadapi lingkungan toxic. Ada yang menyarankan untuk menjauh, bersikap cuek, membangun batasan, atau segera meninggalkan lingkungan yang tidak sehat.

Semua itu dapat menjadi bahan pertimbangan. Namun, tidak setiap saran cocok diterapkan dalam semua keadaan.

Saran untuk segera pergi mungkin terasa mudah bagi seseorang yang memiliki banyak pilihan pekerjaan. Namun, bagi orang yang menggantungkan hidup pada satu pekerjaan, keputusan tersebut membutuhkan perencanaan yang lebih matang.

Begitu pula dengan anjuran untuk bersikap cuek. Mengabaikan provokasi mungkin membantu dalam situasi tertentu, tetapi tidak selalu menyelesaikan masalah yang melibatkan ketidakadilan atau penyalahgunaan wewenang.

Karena itu, informasi yang kita dapatkan sebaiknya tidak langsung dijadikan keputusan mutlak.

Gunakan informasi sebagai bahan pertimbangan, bukan sebagai pengganti kebijaksanaan dalam menilai keadaan sendiri.

Tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang masih bisa diperbaiki? Apa risiko jika aku bertahan? Apa yang perlu kusiapkan jika memilih pergi?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah kita belajar mengambil keputusan berdasarkan kenyataan, bukan semata-mata mengikuti pendapat orang lain.

5. Tidak Semua Orang Akan Menyukai Kita

Ada satu hal yang perlu kita pahami dalam kehidupan: apa pun yang kita lakukan, tidak semua orang akan menyukainya.

Ketika kita berbicara, mungkin ada yang tidak setuju. Ketika kita diam, mungkin ada yang menganggap kita tidak peduli. Ketika kita berusaha membantu, mungkin ada yang salah memahami niat kita.

Namun, bukan berarti setiap orang yang tidak menyukai kita sedang bersikap toxic.

Perbedaan selera, pendapat, dan prinsip merupakan bagian dari kehidupan bersama. Kita perlu belajar menerima perbedaan sekaligus mengenali kapan sebuah perlakuan telah melampaui batas yang wajar. Apalagi ujaran kebencian yang mendapatkan balasan alam dan Allah

Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari siapa yang salah hingga lupa mengevaluasi diri sendiri.

Jika ada kritik yang benar, terimalah sebagai pembelajaran. Jika terjadi kesalahpahaman, cobalah berkomunikasi. Namun, jika kita terus-menerus menghadapi perlakuan merendahkan atau intimidasi, jangan takut mencari bantuan dan mengambil langkah perlindungan.

Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan mana yang perlu diperbaiki, mana yang perlu diterima, dan mana yang harus ditindaklanjuti.

6. Ketika Cahaya Berada di Tengah Kegelapan

Pernahkah kita membayangkan sebuah cahaya yang berusaha menerangi ruangan gelap?

Cahaya itu tidak selalu dapat membuat seluruh ruangan menjadi terang dalam sekejap. Ada bagian yang masih tertutup, ada sudut yang belum tersentuh, dan ada pula penghalang yang membuat sinarnya tidak menjangkau setiap tempat.

Begitu pula ketika seseorang berusaha membawa sikap positif ke dalam lingkungan yang dipenuhi prasangka dan konflik.

Niat baik tidak selalu langsung diterima. Usaha memperbaiki keadaan tidak selalu mendapatkan dukungan. Bahkan, perbedaan cara pandang terkadang membuat dua pihak terus berbenturan.

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa persoalannya tidak selalu sesederhana cahaya positif melawan kegelapan negatif. Setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan alasan yang berbieda.

Karena itu, menghadapi lingkungan yang tidak sehat tidak cukup hanya dengan merasa bahwa diri kita benar. Kita juga perlu bersedia mengevaluasi sikap, mendengarkan penjelasan, dan mencari jalan keluar yang adil.

Cahaya tidak perlu memadamkan cahaya lain untuk membuktikan keberadaannya.

Demikian pula kita. Tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk menunjukkan kemampuan. Tidak perlu membalas keburukan untuk membuktikan bahwa kita kuat.

Tetaplah menjadi pribadi yang memiliki prinsip, tetapi jangan menutup diri dari perbaikan.

Jika keadaan masih bisa diperbaiki, mulailah dari komunikasi yang sehat. Jika masalah membutuhkan pihak ketiga, carilah penengah yang adil. Jika lingkungan tetap membahayakan meskipun berbagai upaya telah dilakukan, pertimbangkan jalan keluar yang lebih aman.

Sebab, menjaga cahaya dalam diri bukan berarti kita harus terus berdiri di tempat yang sama, apa pun risikonya.

7. Kapan Kita Harus Berhenti Bertahan?

Ada kalanya kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah aku masih bertahan karena keadaan memang membutuhkan waktu untuk diperbaiki, atau karena aku merasa bersalah jika memilih pergi?

Pertanyaan ini penting, sebab terkadang kita terlalu lama bertahan hanya karena sudah menginvestasikan banyak waktu, tenaga, dan perasaan.

Padahal, masa lalu tidak harus menjadi alasan untuk terus menjalani keadaan yang merugikan.

Jika lingkungan terus menghadirkan intimidasi, ancaman, penghinaan, atau perlakuan tidak adil, jangan hanya mengandalkan kesabaran. Mintalah dukungan, cari bantuan yang sesuai, dan pertimbangkan pilihan yang tersedia.

Apabila keputusan untuk pergi belum memungkinkan, susunlah rencana secara bertahap. Persiapkan kebutuhan, cari informasi tentang alternatif yang realistis, dan bangun dukungan yang dapat membantu kita melewati perubahan.

Tidak semua jalan keluar harus dilakukan hari ini. Namun, kita tetap boleh mulai menyiapkannya.

Kesabaran bukan berarti menerima segala perlakuan tanpa batas. Keberanian bukan berarti mengambil risiko tanpa perhitungan. Dan keikhlasan bukan berarti mengabaikan kebutuhan untuk melindungi diri.

Kita bisa tetap bertanggung jawab sekaligus mengakui bahwa diri kita juga membutuhkan lingkungan yang sehat.

Penutup: Bertahanlah dengan Bijaksana, Bukan dengan Mengorbankan Diri

Pada akhirnya, menghadapi lingkungan toxic bukan hanya tentang bagaimana kita melawan orang lain, melainkan bagaimana kita mengambil sikap tanpa kehilangan jati diri.

Kita tidak selalu bisa mengubah cara berpikir seseorang. Kita juga tidak bisa menjamin bahwa setiap lingkungan akan menerima kehadiran kita dengan baik.

Namun, kita masih bisa belajar mengendalikan respons, menetapkan batasan, memperbaiki komunikasi, dan memilih langkah yang sesuai dengan keadaan.

Jika masih ada ruang untuk memperbaiki hubungan, berusahalah dengan bijaksana. Jika perlu menyuarakan ketidakadilan, lakukan dengan cara yang tepat. Jika membutuhkan pertolongan, jangan merasa malu untuk memintanya.

Dan jika suatu hari kita harus pergi, jangan buru-buru menganggap diri sendiri gagal.

Sebab, kehidupan bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat bertahan dalam keadaan sulit. Kehidupan juga mengajarkan kita untuk mengenali batas kemampuan, menghargai diri sendiri, dan memahami kapan sebuah perjuangan perlu dilanjutkan dengan cara yang berbeda.

Seperti cahaya yang tetap bersinar tanpa harus membakar dirinya sendiri, kita pun dapat berusaha membawa kebaikan tanpa kehilangan ketenangan dan martabat.

Bertahanlah jika masih ada jalan untuk memperbaiki keadaan. Beranilah bersuara ketika menghadapi ketidakadilan. Dan jangan takut memilih jalan lain ketika keselamatan, kesejahteraan, serta masa depan membutuhkan keputusan yang berbeda.
Karena terkadang, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mengubah semua orang, melainkan ketika kita mampu melewati keadaan yang sulit dengan tetap menjaga nilai-nilai kebaikan dalam diri.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi, kalimat sakti Omjay, dan bisa dikunjungi di https:// wijayalabs.com

BAHAGIA ITU SEDERHANA

BAHAGIA ITU SEDERHANA

Bahagia itu sederhana
saat hadirnya membawa warna
saat tatapnya menyapa jiwa
saat kasihnya terasa nyata

Saat peduli hadir tanpa diminta
saat senyumnya merekah penuh makna
saat sapanya menyentuh rasa
saat godanya mengundang tawa

Saat langkahnya menuju arahku
saat kedip matanya mencuri perhatianku
saat senyumnya merekah di hadapanku
saat diam-diam matanya menatapku

Saat tak sependapat, tetapi tetap menyapa
saat diam menyimpan rasa yang tak terbaca
saat hadirnya menjadi teman cerita
saat doa terucap tanpa perlu kata

Bahagia itu sederhana
menyebut namanya dalam doa
dan menikmati hidangan bersama tanpa rupa
merangkai kenangan dalam kebersahajaan

Sapeken, 12 Oktober 2026

Kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar; terkadang, kebersamaan sederhana sudah cukup untuk meninggalkan kenangan.

Semesta penuh rahasia bagi hati yang ingin kembali pulang dalam pelukannya, tak berharap bahagia  dengan gemerlap  kekayaan dunia, hanya  ingin hidup  untuknya dan bersama dia surga selamanya.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi. Kalimat sakti Omjay, https://wijayalabs.con. 

Minggu, 11 Oktober 2026

Tentang perjalanan serta Ujiannya

MALAM MINGGU BERCERITA

Tentang Perjalanan, Ujian, dan Keberanian untuk Melanjutkan

Aku menulis kisah ini bukan untuk menunjukkan bahwa diriku adalah sosok yang kuat, apalagi merasa paling mampu dalam menggerakkan literasi. Tulisan ini hanyalah bagian dari ikhtiarku untuk melanjutkan perjalanan menulis sekaligus mendokumentasikan pengalaman-pengalaman sederhana yang menyimpan makna.

Bagiku, setiap proses memiliki ceritanya sendiri. Ada perjalanan yang terasa lapang, ada pula yang mengharuskan kita berhenti sejenak untuk mengumpulkan keberanian sebelum kembali melangkah.
Seperti kisah tahun lalu perjalanan literasi sampai kekota malang, lalu untuk melanjutkan tujuan dari selempang yang dianugerahkan kita butuh pengimbasan kesekolah setempat. Dari kesekian rencana, pengimbasan terhadap SDN SAPEKEN V kami lakukan.,,mungkin ada beberapa hal sempat diabadikan agar terlihat ada data  aksi, dalam mengikuti Literacy Innovation Golden Award.



LIGA IGINOS  sendiri saya tidak bisa kunjungi terlambatnya kapal, teman berangkat duluan menjadi cerita manis yang tidak hilang dari ingatan.
Dan Berjalannya waktu rasa lelah tidak menyurutkan diri untuk berhenti.  Beberapa pekan bulan yang telah berlalu selalu mengikuti kegiatan yang  membantu anak-anak dan cerita ini berlanjut dengan tawaran pegiat literasi  pak guru Pedia bersama KYM.

Aku pernah merasakan kebahagiaan ketika berhasil menyelesaikan buku antologi puisi bersama 50 peserta didik dalam jilid pertama. Proses itu bukan tanpa kesulitan. Ada keterbatasan keadaan, ada tantangan dalam membimbing anak-anak merangkai kata, dan ada usaha yang harus terus dijaga agar naskah mereka dapat tersusun menjadi sebuah buku.

Meski demikian, perlahan-lahan semuanya menemukan jalan. Dengan segala keterbatasan yang ada, buku itu akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Ada rasa syukur yang tumbuh, bukan semata-mata karena sebuah buku berhasil diterbitkan, melainkan karena anak-anak telah memperoleh pengalaman berharga: belajar menulis, menyampaikan gagasan, dan percaya bahwa kata-kata sederhana mereka layak menjadi bagian dari sebuah karya.

Pengalaman itu membuatku percaya bahwa kesungguhan, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar dapat mengantarkan kita melewati berbagai kesulitan.

Namun, ternyata tidak semua perjalanan berjalan dengan cara yang sama.

Ketika mengikuti proses penulisan buku bersama Menteri Pendidikan, Bupati, Kepala Dinas Pendidikan, serta tim pegiat literasi di Sumenep, aku kembali dihadapkan pada perjalanan yang berbeda. Kali ini, proses menyelesaikan tulisan terasa jauh lebih berat daripada yang kubayangkan.

Berbagai hambatan datang silih berganti. Waktu seakan-akan mengajakku berhenti, seolah berbisik bahwa aku tidak akan sanggup menyelesaikannya. Halangan demi halangan muncul ketika aku justru sedang berusaha menjaga tulisan agar tetap berjalan menuju garis akhir.

Aku yang biasanya dapat menyelesaikan tulisan dengan lebih leluasa, kali ini harus berhadapan dengan banyak hal yang menguras pikiran dan perasaan.

Ada saat ketika aku mulai bertanya kepada diri sendiri, Apakah ada kesalahan besar yang telah kulakukan? Mengapa kali ini begitu sulit? Mengapa jalan yang biasanya dapat kutempuh perlahan-lahan terasa seperti tembok tinggi yang menghalangi langkahku?

Pertanyaan-pertanyaan itu hadir tanpa selalu menemukan jawaban.

Sebagai guru pesisir yang terus belajar menghidupkan literasi di tengah keterbatasan, aku menyadari bahwa kemampuan menulis saja terkadang tidak cukup untuk membuat setiap proses berjalan mudah. Ada keadaan yang tidak dapat kita kendalikan, ada waktu yang terus bergerak, dan ada tuntutan yang harus diselesaikan ketika tenaga serta pikiran terasa semakin terbatas.

Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang perlahan kusadari: kesulitan bukanlah bukti bahwa aku tidak mampu. Kegagalan menyelesaikan sesuatu dengan sempurna pun bukan satu-satunya kemungkinan yang harus kutakuti.

Aku hanya perlu terus berusaha, melakukan yang terbaik sesuai kemampuanku, dan menerima bahwa tidak setiap karya dapat lahir melalui proses yang ideal.

Hingga akhirnya, ketika batas waktu hampir habis, naskah itu berhasil kukirimkan.

Ada kelegaan setelahnya, tetapi ada pula rasa yang tertinggal. Aku belum sepenuhnya puas dengan hasil yang kukirimkan. Masih ada bagian dari diriku yang berharap dapat memberikan lebih banyak, memperbaiki lebih banyak, dan menyelesaikan semuanya dengan keadaan yang lebih baik.

Namun, waktu telah membawa proses itu sampai pada batasnya. Aku pun belajar menerima bahwa terkadang keberanian bukan hanya tentang menghasilkan karya yang sempurna, melainkan juga tentang menyelesaikan tanggung jawab di tengah keadaan yang tidak sempurna.

Malam Minggu ini, ketika kembali merangkai cerita, aku mencoba memandang perjalanan itu dengan hati yang lebih lapang.

Aku tidak ingin terus-menerus menyalahkan diri sendiri hanya karena sebuah proses terasa lebih sulit daripada sebelumnya. Aku juga tidak ingin mengukur kemampuanku hanya berdasarkan seberapa mudah aku menyelesaikan sebuah tulisan.

Sebab, setiap perjalanan memiliki ujian yang berbeda. Buku antologi puisi bersama 50 peserta didik mengajarkanku tentang kesabaran dalam mendampingi anak-anak. Sementara itu, pengalaman menyelesaikan naskah bersama para tokoh pendidikan dan pegiat literasi mengajarkanku tentang keteguhan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Keduanya menyimpan pelajaran yang tidak sama, tetapi sama-sama berharga.

Kini, aku memahami bahwa perjalanan literasi bukan hanya tentang buku yang berhasil diterbitkan, tulisan yang selesai tepat waktu, atau nama yang tercantum di antara para penulis. Lebih dari itu, perjalanan ini juga tentang bagaimana aku mengenali keterbatasan diri, belajar menerima proses, dan menemukan kembali alasan mengapa aku memilih untuk menulis.

Aku menulis bukan karena setiap hari terasa mudah. Aku menulis karena selalu ada pengalaman yang layak dikenang, ada pelajaran yang ingin kubagikan, dan ada harapan yang ingin kutitipkan kepada anak-anak didikku.

Jika suatu hari nanti aku kembali menghadapi jalan yang terjal, aku ingin mengingat malam ini: malam ketika aku belajar bahwa berhenti sejenak untuk mengatur langkah tidak sama dengan menyerah, dan merasa lelah tidak berarti kehilangan kemampuan.

Bisikan untuk berhenti pernah hadir, tetapi aku memilih untuk tidak membiarkannya menjadi akhir dari perjalanan.

Aku melanjutkan langkah, meski perlahan. Aku menyelesaikan tanggung jawab, meski dengan perasaan yang belum sepenuhnya lega. Dan aku belajar bahwa menerima hasil yang belum sempurna bukan berarti berhenti memperbaiki diri.

Sebagai guru pesisir, aku mungkin masih memiliki banyak kekurangan. Masih banyak hal yang perlu kupelajari, masih banyak kata yang harus kurangkai, dan masih banyak pengalaman yang ingin kubagikan. Namun, selama masih ada kemauan untuk belajar, aku percaya selalu ada ruang untuk bertumbuh.

Malam Minggu Bercerita kali ini bukan tentang keberhasilan semata, melainkan tentang keberanian untuk tetap melanjutkan perjalanan ketika hati mulai meragukan kemampuan diri sendiri.

Sebab, tidak semua perjuangan harus berakhir dengan rasa puas. Ada kalanya sebuah perjalanan justru meninggalkan pelajaran yang baru kita pahami setelah melewatinya.

Dan jika kelak aku kembali menulis cerita tentang literasi, aku ingin mengingat satu hal: aku pernah berada di persimpangan antara berhenti dan melanjutkan, tetapi pada akhirnya aku memilih untuk terus belajar, terus bertumbuh, dan tetap menyalakan cahaya kecil melalui kata-kata.

Sebab, selama masih ada harapan, perjalanan belum benar-benar usai. Sebagai penutup tulisan ini, kalimat sakti Omjay tetap setia menemani tulisan kami, Menulislah Setiap Hari Dan Buktikan Yang terjadi_OMJAY. https://wijayalabs.com
 

RINDU MALAM_LAGU

RINDU MALAM


[Verse]
Kala senja turun, namamu tinggal gema
Di ruang yang dulu hangat, kini sepi tak bernyawa
Kau temani aku pulih dari retak yang lama
Lalu menghilang perlahan, tanpa jejak, tanpa suara

[Bridge]
Aku masih menunggu di tepi sepi
Menggenggam kenangan yang tak lagi kembali

[Chorus]
Kembalilah sekejap, biar hatiku tak jatuh lagi
Aku masih menyimpan namamu di paling sunyi
Kau yang menuntunku bangkit dari semua yang perih ini
Pergi tanpa kabar, membuat cintaku sepi tak terhenti

[Verse]
Setiap pagi kupanggil bayangmu dalam diam
Rindu ini tumbuh liar, mengisi seluruh malam
Kau pernah jadi rumah saat dunia terasa kelam
Kini aku belajar kuat, meski hatiku tenggelam

[Bridge]
Andai saja kau sempat mengucap selamat tinggal
Mungkin luka ini tak sedalam yang kutahan

[Chorus]
Kembalilah sekejap, biar hatiku tak jatuh lagi
Aku masih menyimpan namamu di paling sunyi
Kau yang menuntunku bangkit dari semua yang perih ini
Pergi tanpa kabar, membuat cintaku sepi tak terhenti

[Outro]
Jika takdir tak bisa memulangkanmu lagi
Biarlah rinduku bernyanyi di antara luka yang abadi

 Lirik lagu penuh rasa rindu.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi. Kalimat sakti Omjay.https://wijayalabs.com

HARI SANTRI DI RUANG KELAS

HARI SANTRI DI RUANG KELAS Menanamkan Iman, Mengenang Perjuangan Karya: Sri Wulandari Sapeken, 20 Oktober 2026 Hari Santri bukan sekadar...

STATEGI MENANGKAL HOAKS