Jumat, 28 Agustus 2026

puisi

Salam Waras

Saat senyum tak lagi mudah terbit,
saat langkah terasa berat menahan nyeri,
ada kewarasan yang kadang dianggap biasa,
padahal hati sedang sibuk bertarung
dengan riuh ego di dalam diri.

Jika pada ujung perjalanan ini
aku sempat kehilangan arah,
jemputlah aku dengan kasihmu.
Bukan untuk menyelamatkan seluruh duniaku,
cukup genggam tangan ini
agar aku kembali menemukan jalan pulang.

Dalam raga yang tak selalu baik-baik saja,
ada ribuan kali aku belajar bertahan.
Jujur, berkali-kali harapan terasa redup,
namun selalu ada satu cahaya
yang membuatku memilih untuk melangkah lagi.

Jika masih ada ruang untuk menerima,
terimalah aku bersama segala kurangku.
Tak perlu melihatku sebagai seseorang
yang harus selalu kuat dan sempurna.
Cukup pandang aku sebagai manusia
yang sedang belajar berdamai
dengan luka dan perjalanan.

Ragaku mungkin tak lagi utuh seperti dahulu,
jejak waktu telah meninggalkan banyak cerita.
Namun, adakah hati yang sudi menerima
tanpa bertanya mengapa aku begini?

Aku percaya,
akan ada seseorang yang datang membawa cinta,
meletakkan tangan dengan lembut di pundakku,
lalu berkata,

"Pulanglah...
di sini kau tak perlu menjadi siapa-siapa."

Mungkin kalimat sederhana itu
adalah rumah yang selama ini kucari.
Aku masih menunggu
bukan pada kesempurnaan,
melainkan pada sebuah penerimaan.

Sebab hidup bukan selalu tentang
berapa kali kita jatuh,
melainkan tentang keberanian
untuk kembali mengenali diri
di antara panjangnya perjalanan.

Barangkali selama ini
aku hanya seorang pelakon
yang belajar memainkan peran dengan jujur,
menapaki garis hidup
yang kadang lurus, kadang berliku.
Sisa usia adalah rahasia waktu.
Entah masih panjang atau sebentar,
aku ingin menjalaninya
dengan hati yang lebih lapang,
dengan langkah yang tetap percaya
bahwa selalu ada alasan
untuk menyalakan cahaya.

Salam waras
Sapeken, 27 Agustus 2026

Kamis, 27 Agustus 2026

Semangat Gerak Jalan SD 2 Sapeken


Lomba Gerak Jalan


Lomba gerak jalan merupakan momen tahunan yang selalu dinantikan masyarakat dan berbagai instansi sekolah. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda rutin yang menghadirkan semangat, kebersamaan, dan persaingan sehat.

Selama beberapa tahun, SD 2 selalu berhasil meraih peringkat pertama atau kedua, baik putra maupun putri. Namun, tahun ini kejuaraan yang biasanya menjadi milik sekolah kami harus bergilir ke sekolah lain.

Bagi saya, ini bukan semata-mata perkara menang atau kalah. Kekalahan justru menjadi bahan evaluasi untuk melihat bagian mana yang perlu diperbaiki, terutama dalam proses latihan dan persiapan.

Mempertahankan prestasi tentu bukan perkara mudah. Ada beban dan tanggung jawab untuk mengolah kemampuan agar mampu bersaing. Namun, kita perlu memahami bahwa kemenangan tidak selamanya menjadi milik kita. Semua berotasi, seperti bumi yang terus berputar pada porosnya.

Ada hikmah yang dapat dipetik: tidak ada yang kekal di dunia ini. Semua bergulir sesuai dengan usaha dan perjuangan. Karena itu, mari berbenah, berlatih, dan kembali berjuang untuk meraih prestasi bersama.

Salam sehat dan penuh semangat.
Salam merdeka. 
Catatan Harian_ tulisan H_11

  

Tak Bernama_ Puisi Romansa


Tak Bernama
Oleh: Sri Wulandari



Di balik tirai awan
kau sembunyikan sepasang tanya
Tatapanmu memilih sembunyi
sementara mataku tak lelah mencari
Aku menatapmu kau membalas

Lagi-lagi semesta mempertemukan kita
Entah hadiah atau ujian bagi hati
Kau singgah sekejap lalu menjelma rindu

Kusapa hadirmu penuh haru
Balasanmu meruntuhkan segala ragu
Indahmu menjelma anugerah
tetaplah tinggal selamanya


Kadang kau menjelma teka-teki
Janji pertemuan sering tertunda
Sesibuk itukah dirimu
hingga rindu akrab dengan waktu

Aku setia menanti hadirmu
Kadang kau menghilang
kadang muncul membawa tawa
Gemar bermain dengan rindu
lalu berlari meninggalkan debar di dada

Bagiku kau adalah utuh yang kucari
Istimewa penjaga bahagia
Cahaya yang tak lekang oleh waktu

Meski tanpa nama
Hatiku selalu tahu ke mana pulang
Sebab tak semua cinta perlu disebut namanya
Cukup dirasakan hadirnya

Sapeken, 26 Agustusi 2026

Selasa, 25 Agustus 2026

Menyalakan Mimpi dari Tangan-Tangan Kecil

Menyalakan Mimpi dari Tangan-Tangan Kecil
Menjadi guru bukan hanya tentang mengajarkan pelajaran di dalam kelas. Ada hal-hal lain yang jauh lebih berarti: melihat anak-anak tumbuh, menemukan keberanian, lalu perlahan berani bermimpi.

Semua bermula ketika beberapa grup WhatsApp membahas ajakan mengikuti lomba menulis bersama Bapak Menteri. Saat membaca informasi itu, pikiran saya langsung melayang. Muncul satu pertanyaan sederhana dalam hati, “Mungkinkah saya menulis bersama siswa-siswa saya?”

Bukan hal yang mudah, tentu saja.

Jumlah siswa yang cukup banyak, kondisi sosial yang beragam, serta kemampuan mereka yang berbeda-beda sempat membuat saya ragu. Apalagi sebagian besar anak-anak masih sangat awal mengenal dunia puisi. Ada yang baru belajar menulis puisi sederhana, ada yang pernah mengikuti lomba kecil, dan ada pula yang masih malu menuangkan isi pikirannya ke dalam tulisan.

Namun, justru di situlah saya menemukan alasan untuk memulai.

Saya ingin mengenalkan kepada mereka bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mengejar nilai akademik. Sekolah juga menjadi ruang untuk menemukan potensi, menumbuhkan keberanian, dan belajar mempercayai mimpi.

Anak-anak kelas 4, 5, dan 6 memang masih belajar memahami banyak hal. Mereka mungkin belum mampu menghasilkan tulisan yang sempurna. Namun saya percaya, keberanian untuk mencoba jauh lebih penting daripada kesempurnaan di awal perjalanan.

Dari mereka pula saya belajar bahwa tugas seorang guru bukan sekadar mengajar. Kadang, guru hanya perlu menjadi seseorang yang menyalakan api kecil agar anak-anak berani melangkah.

Perjalanannya tentu tidak mudah. Menggerakkan semangat anak-anak membutuhkan tenaga, waktu, dan kesabaran. Keterbatasan yang saya miliki sebagai seorang guru pun sering menjadi tantangan tersendiri. Namun perlahan, sesuatu yang awalnya hanya berupa harapan kecil mulai tumbuh.

Alhamdulillah, beberapa rekan guru ikut mendukung dan terlibat dalam proses penulisan buku tersebut. Semangat yang semula hanya datang dari beberapa anak, akhirnya tumbuh menjadi semangat bersama.

Hingga akhirnya, karya-karya mereka berhasil disusun menjadi sebuah buku antologi bertema kerukunan dan persahabatan.

Bagi sebagian orang, mungkin buku itu hanyalah sebuah buku sederhana. Namun bagi saya, buku tersebut menyimpan cerita yang jauh lebih besar.

Di dalamnya ada keberanian anak-anak yang belajar percaya pada dirinya sendiri. Ada kesabaran guru yang mendampingi. Ada dukungan dari rekan-rekan yang ikut berjalan bersama. Dan ada mimpi-mimpi kecil yang untuk pertama kalinya berani dituangkan dalam bentuk karya.

Saya berharap suatu hari nanti, ketika mereka telah dewasa, anak-anak itu akan membuka kembali buku tersebut dan tersenyum. Mereka akan mengenang bahwa pernah ada masa ketika mereka menulis sebuah karya bersama guru dan teman-temannya.

Mungkin hari ini tulisan mereka masih sederhana. Mungkin kata-kata yang mereka pilih belum sempurna. Tetapi siapa yang tahu perjalanan mereka kelak?

Bisa jadi, dari tangan-tangan kecil yang dahulu masih ragu untuk menulis, akan lahir penulis-penulis hebat di masa depan.

Bagi saya, buku ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru inilah awal.

Awal untuk terus berkreasi.
Awal untuk berani mencoba.
Awal untuk percaya bahwa setiap anak memiliki potensi yang layak diberi ruang.

Semoga buku sederhana ini menjadi jejak kecil yang mengantarkan mereka pada mimpi-mimpi yang lebih tinggi.

Sebab terkadang, seorang guru tidak perlu melakukan sesuatu yang besar untuk mengubah masa depan seorang anak.

Cukup dengan percaya kepada mereka, memberi kesempatan, dan berkata, “Kamu bisa.”

Senin, 24 Agustus 2026

Kejutan Piala di Tengah Kesibukan Menulis

Hari ke-8:
Kejutan Piala di Tengah Kesibukan Menulis

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Swt. Atas nikmat sehat yang masih diberikan, saya kembali bisa menulis secara rutin. Tak terasa, hari ini sudah memasuki hari ke-8.

Tema yang ingin saya angkat kali ini adalah seputar kegiatan literasi. Sebagai seorang guru, dunia literasi tentu sangat dekat dengan keseharian saya. Menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga tentang merekam pengalaman, berbagi cerita, dan menyimpan jejak perjalanan.

Namun, tulisan hari ini justru berawal dari sebuah kejutan kecil yang tidak saya duga.

Telepon dari Petugas Pos

Pagi tadi, ketika sedang berada di luar rumah, telepon saya berdering.

“Assalamualaikum, Bu. Sampean di mana?” tanya petugas pos.

Saya spontan menjawab, “Wah, ada paket, ya, Pak?”

“Iya, Bu,” jawab beliau.

Karena saat itu saya masih berada di jalan, saya menjawab singkat, “Tunggu sebentar, ya, Pak. Saya masih di luar.”

Kebetulan saya sedang berbelanja konsumsi untuk teman-teman yang bekerja hari itu dalam persiapan kegiatan karnaval dan gerak jalan.

Cuaca begitu terik. Namun, semangat tetap membakar rasa. Setelah semua urusan konsumsi selesai, akhirnya saya pun pulang.

“Paket COD, Bu!”

Sesampainya di rumah, baru sekitar setengah jam saya beristirahat, telepon kembali berdering.

Kring... kring... kring...

Saya mengangkat telepon.

Ternyata petugas pos kembali mengabarkan bahwa paket saya sudah tiba.

Tak lama kemudian, paket pun mendarat di tangan.

“Lomba COD, ya, Pak?” tanya saya memastikan.

“Iya, Bu,” jawab petugas pos.

Saya langsung berpikir, Waduh, berapa ini harganya?

Dengan penuh percaya diri, saya hanya membawa uang Rp16.000,00.

Namun, setelah dihitung...

“Bu, totalnya Rp31.500,00.”

Saya pun sedikit terkejut.

“Lho, kok besar? Uangnya tidak cukup ini, Pak,” kata saya sambil tersenyum.

Rasa penasaran pun semakin besar. Sebenarnya paket apa yang datang?

Ternyata Sebuah Piala!

Begitu melihat paket tersebut, saya segera membukanya.

Dan...
MasyaAllah!

Ternyata di dalamnya ada sebuah piala apresiasi dari Tim KYM (Komunitas Yuk Menulis).

Hati saya langsung berdebar. Dengan penuh rasa penasaran, kotak itu saya buka perlahan. Momen unboxing tersebut pun saya abadikan dalam sebuah video.

Rasanya sederhana, tetapi bagi saya sangat berarti.

Mendapatkan sebuah piala dari perjalanan menulis adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru yang sedang belajar dan terus berusaha konsisten menulis.

Saya pun berkata dalam hati, “Nah, dapat piala begini saja sudah membuat Bu Guru bangga.”

Alhamdulillah, tulisan yang saya ikutsertakan berhasil lolos seleksi. Apresiasi ini menjadi penyemangat bagi saya untuk terus menulis dan belajar, dengan dukungan dari Komunitas Yuk Menulis (KYM) dan Pak Guru Pedia.

Menulis, Menyimpan Jejak, dan Terus Bertumbuh

Bagi saya, piala ini bukan sekadar benda penghargaan.

Ia menjadi pengingat bahwa setiap tulisan yang kita lahirkan dengan sungguh-sungguh akan meninggalkan jejak. Mungkin tulisan kita sederhana, tetapi bisa saja suatu hari menjadi kenangan yang berharga.

Kini saya masih menunggu kejutan berikutnya, yaitu buku yang akan menyusul.

Semoga perjalanan kecil ini menjadi langkah panjang untuk terus mencintai literasi.

Karena saya percaya, menulis tidak harus menunggu sempurna. Yang terpenting adalah berani memulai dan mau konsisten setiap hari.
Hari ke-8 selesai.

Besok, semoga masih ada cerita baru yang bisa saya tuliskan.

Salam literasi.

Minggu, 23 Agustus 2026

Cerita Reflektif

 Berbagi Cerita 


Hari Ketujuh Menulis Kembali

Hari ini adalah hari ke-7 perjalananku menulis di blog yang telah lama kutinggalkan. Banyak kisah kecil yang terlewat, tetapi hati kecilku memiliki alasan untuk kembali.

Blog pribadiku terakhir aktif pada 2022. Jeda yang cukup panjang justru menghantarkanku pada perjalanan baru: belajar menulis dan menghasilkan dua karya puisi yang sangat sederhana. Bagiku, keduanya adalah langkah awal untuk bangkit dan mempelajari sesuatu yang benar-benar baru.

Betapa tidak, aku mulai memahami bagaimana berpuisi dengan baik dan benar, mengenal berbagai jenis puisi, serta belajar terus-menerus. Bahkan, beberapa buku perdana lahir dari komunitas menulis PGRI asuhan Omjay.

Aku kembali teringat kalimat sakti beliau, “Menulislah setiap hari, buktikan apa yang akan terjadi.”

Walau tidak selalu aktif di media sosial, Kompasiana, maupun blog pribadi, semangat berkaryaku tetap menyala melalui buku solo dan buku antologi.

Kini, aku pun ingin memiliki kalimat sakti beliau aku tambahkan menjadi.

“Belajar menulis setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Kau akan tampak berbeda dari sebelumnya.”



Sabtu, 22 Agustus 2026

Puisi_cinta semesta

Puisi

Cinta Semesta
Oleh: Sri Wulandari

C inta cahaya harapan di benang takdir
I  ndah dalam tenunan pejalan sunyi
N apas langit memberi ruang pertemuan
T atkala ombak rindu menenun waktu
A ku terbang di antara bintang-bintang malam


S epi bukan berarti sendiri
E ntah kau sadar atau tidak
M usim hidup membawa langkah pulang
E mbun pagi menemani jejak waktu
S impul takdir temukan rumah jiwaku
T itik temu mengikat benang takdir
A kan Jejak waktu melukis harapano

R indu abadi menemani sepi
A ku terfikir dunia penuh rahasia
Y ang menghampiri jiwa-jiwa tulus dengan pasang kasih
A ku hidup bersama rahasia semesta

Sapeken, 22 Agustus 2026

Jumat, 21 Agustus 2026

karya Bajo menuju bali

Puisi


Karya Bajo menuju Bali

Nginta, ningkolo, kita bekerja
Jolor membawa hasil ke laut
Pare' hasil menjadi karya
Dari tangan Bajo untuk semua

Ingat atau wattu didikit
Jamaah bekerja dengan tekun
Ingat atau wattu didiki'
Karya dibuat untuk masa depan


Dahako garumu, tetap semangat
Pampahe karya dengan tangan
Baha pacce menjadi kekuatan
Ellau itu dibunan gampang

Misa aha mirek gai nia Adak
Bo gampang makai mesin
Dibuat menjadi tas beke songkok
Diboe ka Bali, dipadagangan ka turis

Sri Wulandari
Sapeken, 21 Agustus 2026



Langit


Puisi

Langit
Oleh: Sri Wulandari

Di antara siang dan malam
Gelap memeluk terang berpijar
Bintang rembulan dan cakrawala
Setia bernaung dalam pelukan angkasa

Langit hadir laksana kanvas semesta
Siang dan malam menjadi poros putarnya
Matahari melukis helaian cahaya
Bintang menoreh sunyi pada beludru malam

Kala senja menyapu semburat jingga
Fajar perlahan membuka tirai harapan
Samudra angkasa menjadi pelabuhan waktu
Tempat setiap musim belajar pulang
Sebab langit tak sekadar bentang biru

Ia adalah saksi yang tak pernah bersuara
Menyimpan doa yang melangit
Mengajarkan bahwa terang dan gelap
bukanlah pertentangan
Melainkan dua wajah kehidupan
yang saling menyempurnakan

Sapeken, 20 Agustus 2026

Rabu, 19 Agustus 2026

cerita reflektif

Semangat Kemerdekaan di Tengah Perubahan
               
Tanggal 17 Agustus menjadi awal dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan. Upacara bendera dilaksanakan dengan khidmat, ditemani cuaca yang cerah dan panas yang cukup menyengat.
Beberapa guru, bahkan kepala sekolah dari kepulauan sebelah, turut hadir dan ikut melaksanakan kegiatan tahunan ini.

Kebersamaan seperti ini selalu menghadirkan rasa tersendiri. Meski sederhana, semangat untuk memperingati kemerdekaan tetap terasa.
Upacara bendera akhirnya selesai dengan khidmat dan berlangsung cukup cepat. Setelah itu, kami sibuk membeli konsumsi untuk rekan-rekan serta makanan untuk mengisi perut yang mulai lapar. Makan bersama pun menjadi bagian kecil yang menyenangkan setelah rangkaian upacara selesai.

Malam Selasa, cerita pun dimulai.
Ya, kegiatan pentas seni tahunan kembali digelar. Kali ini diikuti oleh kelompok TK dan kelompok SD. Dua regu yang menjadi perwakilan SD 2 sudah tampil dengan penuh percaya diri. Melihat mereka berani tampil di hadapan banyak orang membuat saya ikut merasa bangga.

Walaupun kegiatan tahunan kali ini bisa dikatakan tidak semeriah dua tahun sebelumnya, tetap ada kebahagiaan yang terasa.
Biasanya, saya bersama kawan-kawan ikut terlibat dalam kegiatan bazar. Kami berkolaborasi dengan guru-guru SD 1, SD 2, SD 4, dan SD 5, bersama para ibu PKK serta komunitas lainnya. Saat itu suasananya cukup meriah. Banyak kegiatan, banyak kebersamaan, dan tentu saja banyak cerita yang tercipta.
Namun, tidak semua tahun harus berjalan dengan cara yang sama.

Kita perlu belajar menyesuaikan diri dengan perubahan dan keadaan yang berbeda. Yang terpenting, perubahan itu tidak membuat kita kehilangan semangat ’45—semangat untuk terus berkarya, menjaga kebersamaan, dan merayakan kemerdekaan dengan cara yang kita mampu.

Karena pada akhirnya, kemeriahan bukanlah satu-satunya ukuran. Yang lebih penting adalah semangat untuk tetap bersama dan menghargai setiap proses yang kita jalani.

Catatan Harian #LombaBlogMenulisSetiapHari
17–18 Agustus 2026#H-3

Selasa, 18 Agustus 2026

Puisi 2026

Memeluk Takdir
Oleh : Sri Wulandari
.                           Sumber AI

Kususuri lorong sepi dalam hati
Mencari jawab yang tak pernah kumengerti
Kau hadir bersama jejak cerita perjalananku
Wahai takdir, bisakah aku memelukmu

Banyak yang telah kulalui
cerita yang selalu memaksaku dewasa
Sampai berpikir, mengapa selalu berulang
Tak mengerti makna sejati yang terselip di dalamnya

Tahun kemarin dan tahun ini tentang kehilangan
Memohon kepada takdir agar waktu tak memanggilnya pulang
Namun, suratan takdir tak bisa ditolak
Kini sendiri, tanpa dapat menatapnya lagi
Hanya pusara tempatku mengenangnya

Sapeken, 18 Agustus 2026

                          Sumber AI
Puisi# memeluktakdir#lombamenulisdalamblog

puisi

Salam Waras Saat senyum tak lagi mudah terbit, saat langkah terasa berat menahan nyeri, ada kewarasan yang kadang dianggap biasa...

STATEGI MENANGKAL HOAKS