Jumat, 23 Oktober 2026

SAAT FITNAH MENGHUJAM DADA

SAAT FITNAH MENGHUJAM DADA

Oleh: Sri Wulandari

Ketika Tempat Mencari Nafkah Berubah Menjadi Ruang yang Melukai

Para sahabat pembaca, pernahkah kalian merasakan bagaimana rasanya ketika fitnah menghujam dada?

Ketika nama baik dipertaruhkan, ketulusan disalahartikan, dan perkataan orang lain perlahan mengusik ketenangan hati. Rasanya mungkin campur aduk, seperti menikmati rasa nano-nano: ada kecewa, marah, sedih, bingung, bahkan terkadang muncul pertanyaan, "Apa salahku hingga harus mengalami semua ini?"

Di tengah dunia yang serba instan, ketika informasi menyebar begitu cepat dan media sosial terkadang menjadi panggung penghakiman, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kebenaran tidak selalu mendapatkan tempat pertama. Ada kalanya fitnah lebih dahulu dipercaya, sedangkan klarifikasi justru datang belakangan.

Lebih menyakitkan lagi ketika semua itu terjadi di tempat kita mencari nafkah, mengabdi, berkarya, dan membangun jenjang karier.

Bayangkan jika keadaan tersebut berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Bagaimana seseorang harus bertahan ketika tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh justru menjadi sumber tekanan batin?

Lantas, apakah kita harus terus bertahan dalam diam? Membalas perlakuan buruk dengan perlakuan yang sama? Atau meninggalkan semuanya tanpa memikirkan masa depan?

Mari kita kupas bersama. Sebab, menghadapi fitnah bukan hanya tentang membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan juga tentang menjaga martabat, kesehatan psikologis, dan masa depan kita.

1. Jangan Biarkan Fitnah Menentukan Nilai Dirimu

Hal pertama yang perlu kita pahami adalah bahwa penilaian orang lain tidak selalu mencerminkan siapa diri kita sebenarnya.

Ketika seseorang menyebarkan cerita yang tidak benar tentang kita, jangan terburu-buru menganggap seluruh perjuangan kita menjadi sia-sia.

Kita tidak bisa mengendalikan setiap perkataan orang, tetapi kita masih bisa mengendalikan cara meresponsnya.

Tetaplah mengevaluasi diri dengan jujur. Jika memang ada kesalahan, perbaikilah. Namun, jika tuduhan itu tidak benar, kita tidak harus mengakui sesuatu yang tidak pernah kita lakukan hanya demi menyenangkan orang lain.

Ingatlah, introspeksi adalah bentuk kedewasaan, sedangkan menyalahkan diri atas semua perlakuan buruk orang lain bukanlah kewajiban.

2. Jangan Terjebak dalam Permainan Lingkungan Toxic

Lingkungan kerja yang tidak sehat dapat ditandai dengan kebiasaan merendahkan, menyebarkan gosip, mengucilkan seseorang, melakukan intimidasi, atau memperlakukan orang secara tidak adil.

Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa setiap perbedaan pendapat merupakan tindakan toxic.

Amatilah pola perilakunya, bukan hanya satu kejadian.

Jika perlakuan buruk terus berulang, jangan ikut terlibat dalam lingkaran gosip. Hindari membalas fitnah dengan fitnah. Jangan pula menjadikan media sosial sebagai tempat meluapkan kemarahan yang justru dapat memperburuk keadaan, namun justru kadang itu terjadi pada beberapa jiwa yang memang berbeda.

Bersikap tenang bukan berarti kita lemah. Diam sesaat untuk berpikir justru dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih tepat.

Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan untuk membuktikan bahwa kita memiliki harga diri.

3. Kumpulkan Fakta, Bukan Sekadar Menyimpan Luka

Ketika fitnah mulai memengaruhi pekerjaan dan nama baik, kita membutuhkan lebih dari sekadar kesabaran.

Kita membutuhkan bukti dan langkah yang terukur.

Catat kejadian yang relevan, seperti waktu, tempat, pihak yang terlibat, perkataan atau tindakan yang terjadi, serta dampaknya terhadap pekerjaan. Simpan pesan atau dokumen yang diperoleh secara sah dan relevan dengan persoalan tersebut.

Pisahkan fakta dari dugaan. Hindari menyebarkan informasi pribadi orang lain atau mengambil dokumen yang tidak berhak kita akses.

Jika persoalan mulai mengganggu pekerjaan, sampaikan keberatan melalui jalur yang tepat, seperti atasan yang dapat dipercaya, bagian sumber daya manusia, perwakilan pekerja, atau pihak berwenang sesuai dengan masalahnya, namun itu sulit bukan apalagi disesuaikan terhadap lingkup yang tidak sesuai.

Sampaikan persoalan berdasarkan kejadian yang dapat dijelaskan, bukan semata-mata berdasarkan kemarahan.

Dengan demikian, kita tidak hanya melindungi diri, tetapi juga memberi kesempatan kepada pihak yang berwenang untuk menilai persoalan secara objektif, kembali lagi belum tentu bisa membuat semua berubah , bahkan bisa lebih besar lagi, mereka mampu  menyusun pola  halus dalam menumbangkan orang-orang yang mereka anggap ancaman atau yang tidak bisa diajak  bersama dalam sesuatu lebih besar.

4. Jagalah Kesehatan Mental dan Psikologismu

Sahabat pembaca, ada satu hal yang sering kita lupakan ketika terlalu sibuk mempertahankan pekerjaan dan nama baik: diri kita sendiri.

Kita berusaha terlihat kuat di hadapan orang lain. Kita tetap tersenyum ketika bekerja. Kita berusaha menjalankan tanggung jawab sebaik mungkin, meskipun pikiran masih dipenuhi persoalan yang belum selesai.

Namun, apakah kita pernah bertanya kepada diri sendiri, "Sampai kapan aku harus memendam semuanya seorang diri?"

Tekanan yang berlangsung lama dapat memengaruhi tidur, konsentrasi, suasana hati, hubungan dengan keluarga, dan kemampuan menikmati kehidupan sehari-hari.

Karena itu, jangan abaikan perubahan yang terjadi pada dirimu.

Berikan waktu untuk beristirahat. Pertahankan hubungan dengan orang-orang yang membuatmu merasa aman. Ceritakan persoalan kepada seseorang yang dapat dipercaya tanpa harus membuka masalah pribadi kepada semua orang.

Jika tekanan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk mencari bantuan psikolog atau tenaga profesional yang sesuai.

Meminta bantuan bukan tanda kegagalan. Justru, itu merupakan salah satu bentuk keberanian untuk menjaga diri.

Pekerjaan memang penting, tetapi kesehatan dan kehidupanmu jauh lebih luas daripada jabatan yang sedang kamu perjuangkan.

5. Bertahanlah dengan Strategi, Bukan dengan Mengorbankan Diri

Ada orang yang memilih bertahan karena tanggung jawab terhadap keluarga. Ada yang masih ingin menyelesaikan pengabdian. Ada pula yang sedang memperjuangkan jenjang karier dan belum memiliki pilihan pekerjaan lain.

Semua pertimbangan tersebut layak dihormati.

Namun, bertahan tidak berarti kita harus menerima segala perlakuan tanpa batas.

Mulailah menyusun langkah yang realistis.

Pertama, tetapkan batas profesional. Jalankan tugas sesuai tanggung jawab, hindari konflik yang tidak perlu, dan gunakan komunikasi yang jelas serta sopan.

Kedua, cari dukungan yang aman. Temukan rekan kerja, mentor, atau pihak yang dapat membantu menilai persoalan secara objektif.

Ketiga, perkuat kemampuan dan rekam jejak profesional. Simpan hasil pekerjaan, pencapaian, sertifikat, serta dokumen karier yang memang boleh kamu miliki.

Keempat, bangun pilihan. Pelajari peluang kerja lain, tingkatkan keterampilan, dan susun perencanaan keuangan sesuai kemampuan.

Dengan memiliki pilihan, kita tidak lagi merasa bahwa satu-satunya jalan adalah bertahan dalam keadaan yang menyakitkan.

Jika lingkungan kerja terus membahayakan kesejahteraanmu dan tidak menunjukkan perbaikan, mempertimbangkan mutasi, mencari tempat kerja lain, atau mengajukan pengaduan resmi bukanlah bentuk kekalahan.

Terkadang, keberanian bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang mengetahui kapan kita perlu mengambil jalan yang berbeda.

6. Jangan Membalas Fitnah dengan Fitnah

Ketika merasa diperlakukan tidak adil, keinginan untuk membalas mungkin muncul. Kita ingin orang lain mengetahui kebenaran. Kita ingin nama baik kembali pulih.

Namun, berhati-hatilah.

Jangan sampai usaha membela diri justru menjerumuskan kita ke dalam persoalan baru.

Sampaikan klarifikasi secara proporsional kepada pihak yang berkepentingan. Gunakan bahasa yang tenang dan bukti yang relevan. Hindari menyebut nama, menyebarkan tuduhan yang belum terverifikasi, atau membuka persoalan pribadi seseorang di ruang publik.

Kita berhak membela diri, tetapi pembelaan diri tetap perlu dilakukan secara bertanggung jawab.

Tidak semua persoalan harus diselesaikan di hadapan penonton. Sebagian masalah lebih tepat diselesaikan melalui dialog, mediasi, atau mekanisme pengaduan yang tersedia.

Jangan biarkan perilaku buruk orang lain mengubah kita menjadi pribadi yang juga menyakiti orang lain.

7. Jika Sudah Bertahun-Tahun, Apakah Kita Masih Harus Bertahan?

Inilah pertanyaan yang mungkin paling berat.

Bagaimana jika fitnah tidak berhenti? Bagaimana jika setiap hari kita harus memasuki ruangan yang sama dengan orang-orang yang membuat kita merasa tertekan? Bagaimana jika pekerjaan yang dahulu menjadi sumber kebanggaan kini justru menimbulkan kecemasan?

Jawabannya tidak selalu sama bagi setiap orang.

Jika masih ada ruang untuk memperbaiki keadaan, kita dapat mencoba komunikasi yang terarah, mediasi, atau pengaduan melalui prosedur yang berlaku.

Namun, jika berbagai upaya tidak membuahkan hasil, kita perlu mengevaluasi kembali biaya yang harus dibayar untuk tetap bertahan.

Apakah kondisi ini mulai mengganggu kesehatan? Apakah hubungan keluarga ikut terdampak? Apakah kesempatan berkembang semakin tertutup? Apakah ada alternatif yang lebih aman dan realistis?

Jangan mengambil keputusan besar hanya ketika emosi sedang memuncak. Susun pilihan, pertimbangkan konsekuensinya, dan mintalah pendapat dari orang yang dapat dipercaya.

Jika belum memungkinkan untuk pergi, buatlah rencana bertahap. Jika tersedia kesempatan untuk berpindah ke lingkungan yang lebih sehat, pertimbangkan dengan matang.

Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk langsung meninggalkan pekerjaannya. Karena itu, kita tidak boleh menghakimi seseorang yang masih bertahan, sebagaimana kita juga tidak boleh merendahkan seseorang yang akhirnya memilih pergi.

Setiap orang memiliki keadaan, tanggung jawab, dan batas kemampuan yang berbeda.

Yang terpenting, jangan sampai keinginan mempertahankan karier membuat kita mengabaikan kebutuhan untuk hidup dengan aman dan bermartabat.

8. Pelajaran Terbesar: Kita Tidak Bisa Mengendalikan Semua Orang

Pada akhirnya, hidup mengajarkan kita bahwa tidak semua orang akan memahami niat baik kita.

Ada yang melihat perjuangan kita sebagai inspirasi. Ada pula yang salah memahami langkah kita. Bahkan, terkadang orang yang bekerja bersama kita belum tentu mengenal seluruh cerita di balik perjuangan tersebut.

Namun, kita tidak harus menghabiskan seluruh energi untuk mengubah pandangan setiap orang.

Fokuslah pada hal-hal yang masih dapat kita kendalikan: integritas, kualitas pekerjaan, cara berkomunikasi, batas pribadi, serta keputusan yang kita ambil untuk masa depan.

Biarkan fakta berbicara melalui proses yang tepat. Biarkan waktu membantu kita menilai keadaan dengan lebih jernih.

Dan yang tidak kalah penting, tetaplah membuka diri untuk mengevaluasi kemungkinan bahwa kita pun memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki.

Sebab, menjadi korban perlakuan tidak adil tidak berarti kita berhenti belajar. Sebaliknya, pengalaman pahit dapat menjadi kesempatan untuk membangun keteguhan, kebijaksanaan, dan empati yang lebih besar.

PENUTUP: JANGAN KEHILANGAN DIRI DEMI MEMPERTAHANKAN TEMPAT

Sahabat pembaca yang saya hormati,

Jika hari ini kamu sedang menghadapi fitnah, jangan terburu-buru menyerah. Namun, jangan pula memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat.

Kamu berhak membela nama baikmu. Kamu berhak mendapatkan perlakuan yang adil. Kamu berhak bekerja dalam lingkungan yang menghormati martabat manusia.

Tetaplah menjadi pribadi yang berintegritas, tetapi belajarlah menetapkan batas. Tetaplah bertanggung jawab, tetapi jangan abaikan kesehatan diri. Tetaplah berusaha, tetapi jangan menutup mata terhadap pilihan lain yang mungkin lebih baik.

Sebab, hidup bukan hanya tentang berapa lama kita mampu bertahan di suatu tempat. Hidup juga tentang bagaimana kita menjaga nilai-nilai kemanusiaan selama menjalani perjalanan tersebut.

Jangan biarkan fitnah merampas keyakinanmu. Jangan biarkan lingkungan yang tidak sehat menentukan seluruh masa depanmu. Dan jangan mengukur keberhasilan hanya dari seberapa lama kamu sanggup bertahan dalam penderitaan.

Adakalanya kita perlu bertahan untuk memperjuangkan perubahan. Adakalanya kita perlu berbicara untuk menegakkan keadilan. Dan adakalanya kita perlu melangkah pergi demi membuka ruang bagi kehidupan yang lebih sehat.

Semoga kita semua diberikan kejernihan pikiran untuk membedakan kapan harus bersabar, kapan harus bersuara, dan kapan harus mengambil langkah baru.

Karena pada akhirnya, menjaga martabat bukan berarti memenangkan semua pertarungan, melainkan mampu menjalani hidup tanpa kehilangan integritas, harapan, dan kepedulian terhadap diri sendiri.

Salam bijak untuk kita semua.

Sri Wulandari

Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi* Omjay*

Kamis, 22 Oktober 2026

BERHENTI ATAU MENGEJAR



BERHENTI ATAU MENGEJAR
Karya: Sri Wulandari

Haruskah aku berhenti,
atau terus mengejar mimpi
yang memanggil dari seberang samudra,
sementara di dermaga hatiku,
ada cinta yang tak ingin kutinggalkan?

Aku menyusuri gelombang,
meski gentar menatap birunya kedalaman.
Ombak berulang kali menguji keberanian,
sedangkan jiwaku masih bertanya,
sanggupkah aku berlayar
tanpa kehilangan arah pulang?

Tuhan,
bolehkah sekali saja aku menawar takdir?
Aku melangkah dengan pikiran yang riuh,
namun tujuan masih samar di kejauhan.
Aku mengejar sesuatu yang bahkan kutakuti,
menantang badai yang tak pernah kupinta,
hanya agar suatu hari
aku dapat membuktikan bahwa aku mampu.

Namun, untuk apa segala pencapaian
jika senyum bintang-bintang malamku meredup?
Untuk apa jauh melintasi lautan
jika hangatnya rumah hanya tinggal kenangan?

Anak-anakku,
kalian adalah cahaya yang menuntunku pulang.
Keluargaku,
kalian adalah pelabuhan tempat lelahku bersandar.
Bagaimana mungkin aku mengejar matahari
jika harus membiarkan cahaya rumahku
kehilangan hangatnya?

Tuhan, Engkau mendengar doa yang kupanjatkan.
Ketika kuminta sebuah pilihan,
jawaban itu datang sebagai jalan
yang perlahan membuka gerbang harapan.
Di sanalah perjalanan panjang bermula,
perjalanan yang selama puluhan tahun
menyalakan bara di relung hati.

Kini aku mengerti,
tak semua badai harus ditaklukkan,
tak semua mimpi harus dikejar dengan berlari.
Ada saatnya kita perlu berhenti,
menimbang arah, mendengarkan hati,
lalu kembali melangkah dengan keyakinan.

Sebab mimpi bukan sekadar tempat tujuan,
bukan pula piala untuk dibanggakan.
Mimpi adalah perjalanan menemukan arti,
tentang keberanian menjaga harapan
tanpa kehilangan alasan untuk pulang.

Maka, Tuhan,
jika kelak kakiku lelah menembus gelombang, ingatkan aku pada cahaya di dermaga.
Biarkan aku tetap mengejar mimpi,
tetapi jangan biarkan aku lupa
siapa yang selama ini menjadi alasan
mengapa aku ingin sampai.

Sapeken, 21 Oktober 2026

 Makna yang tersirat dalam puisi

1. Samudra dan gelombang
Melambangkan perjuangan mengejar mimpi yang penuh ketidakpastian, ketakutan, dan tantangan.

2. Badai yang tak pernah kauinginkan
Menggambarkan keadaan sulit yang sebenarnya tidak ingin kauhadapi, tetapi harus kaujalani demi sebuah tujuan.

3. Bintang-bintang malam
Menjadi metafora anak-anak dan keluarga yang menerangi hidupmu. Mereka bukan penghalang mimpi, melainkan alasan terpenting di balik setiap langkahmu.

4. Bara yang menyala selama puluhan tahun
Melambangkan perjuangan panjang, kesabaran, dan harapan yang tetap hidup meskipun berkali-kali diuji oleh keadaan.

5. Pelabuhan dan jalan pulang
Mengandung pesan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang pergi, tetapi juga tentang bagaimana ia tetap menjaga cinta dan tidak melupakan tempatnya berlabuh.

Kekuatan justru sepenuhnya terjawab: haruskah berhenti demi yang terkasih, atau terus mengejar mimpi yang telah lama diperjuangkan?

Tidak harus memilih antara mencintai keluarga dan memiliki cita-cita. Tantangannya adalah menemukan cara agar keduanya tetap mendapat tempat dalam perjalanan hidupmu.

Sebab, mimpi yang indah bukan hanya mimpi yang berhasil kita raih, melainkan mimpi yang kita perjuangkan tanpa kehilangan hal-hal yang paling kita cintai.

Menulislah Setiap hari buktikan yang akan terjadi.manta Omjay.



Selasa, 20 Oktober 2026

HARI SANTRI DI RUANG KELAS

HARI SANTRI DI RUANG KELAS

Menanamkan Iman, Mengenang Perjuangan

Karya: Sri Wulandari
Sapeken, 20 Oktober 2026

Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan yang ditandai dengan upacara atau kegiatan seremonial. Di balik peringatan ini, terdapat sejarah perjuangan, nilai keagamaan, dan semangat cinta Tanah Air yang perlu diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, mengenalkan makna Hari Santri kepada peserta didik sejak dini merupakan bagian penting dari pendidikan karakter.


Berdasarkan Surat Edaran Nomor 41 Tahun 2026 tentang Memperingati Hari Santri Nasional, Pemerintah Kabupaten Sumenep menetapkan pelaksanaan peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026. Sementara itu, kegiatan mengenakan pakaian yang telah ditentukan dalam surat edaran dilaksanakan mulai 19 hingga 22 Oktober 2026, selama empat hari berturut-turut.

Di sekolah kami, SDN Sapeken 2, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Namun, peringatan Hari Santri menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik, khususnya anak-anak kelas IV yang menjadi bagian dari perjalanan mengajarku.

Seperti biasa, setelah mengikuti upacara bendera, kami kembali ke ruang kelas. Aku menyambut anak-anak dengan sapaan hangat, kemudian mengajak mereka berdoa sebelum memulai pembelajaran.

Setelah berdoa, kami melanjutkan kegiatap dengan membaca tiga surah Qul. Kebiasaan ini kami lakukan agar anak-anak terbiasa membaca dan menghafal ayat-ayat Al-Qur'an. Sebagian besar peserta didik di kelasku telah menggunakan Al-Qur'an, meskipun masih ada beberapa anak yang belajar menggunakan Iqra.


Bagiku, membiasakan anak-anak membaca ayat suci bukan sekadar rutinitas sebelum belajar. Ada harapan besar yang kutitipkan di dalamnya. Aku ingin ayat-ayat yang mereka baca hari ini melekat dalam ingatan dan menjadi bekal kehidupan mereka kelak.

Semoga kebiasaan sederhana ini terus tumbuh hingga mereka dewasa. Setelah terbiasa membaca tiga surah Qul, aku berharap mereka dapat melanjutkan hafalan dengan ayat Kursi dan surah-surah lainnya sesuai kemampuan masing-masing.

Sebagai seorang guru, aku menyadari bahwa setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda. Karena itu, mereka perlu dibimbing dengan sabar dan diberi kesempatan untuk berkembang. Pendidikan bukan hanya tentang seberapa cepat anak menguasai pelajaran, melainkan juga tentang bagaimana kebiasaan baik ditanamkan secara berkelanjutan.

Peringatan Hari Santri juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan sejarah perjuangan para santri kepada anak-anak. Aku berencana menghadirkan kegiatan kuis yang menarik agar mereka lebih bersemangat mengenal siapa itu santri, bagaimana perjuangannya, dan mengapa Hari Santri perlu diperingati.

Melalui kegiatan sederhana tersebut, aku ingin anak-anak memahami bahwa para santri dan ulama memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Semangat keagamaan, keberanian, pengorbanan, dan kecintaan kepada Tanah Air merupakan nilai-nilai luhur yang patut kita teladani.

Hari Santri mengingatkan kita bahwa pendidikan agama dan pendidikan kebangsaan dapat berjalan beriringan. Anak-anak perlu tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, menghargai perbedaan, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan bangsanya.

Ada pula perasaan haru yang menyertai perjalanan kami di kelas IV. Waktu terus berjalan, dan suatu saat nanti anak-anak akan naik ke kelas V. Kebersamaan yang kami jalani hari ini akan menjadi bagian dari kenangan perjalanan pendidikan mereka.


Aku ingin setiap pertemuan meninggalkan sesuatu yang bermakna. Bukan hanya pengetahuan dari buku pelajaran, melainkan juga kebiasaan baik, nilai keimanan, dan semangat untuk terus belajar.

Bagiku, memperingati Hari Santri bukan semata-mata tentang mengenakan pakaian tertentu atau mengikuti kegiatan selama beberapa hari. Makna yang lebih dalam adalah bagaimana kita meneruskan semangat perjuangan para pendahulu melalui pendidikan, keteladanan, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dari ruang kelas sederhana di sekolah pesisir ini, aku belajar bahwa menanamkan nilai-nilai luhur tidak harus menunggu kegiatan besar. Semuanya dapat dimulai dari doa bersama, lantunan ayat suci, sapaan seorang guru, dan percakapan sederhana tentang sejarah perjuangan bangsa.


Hari Santri boleh diperingati selama beberapa hari, tetapi semangatnya semestinya hidup sepanjang tahun. Mengenang perjuangan adalah cara kita menghargai masa lalu, sedangkan menanamkan nilai-nilainya kepada anak-anak adalah cara kita menyiapkan masa depan Indonesia.


Pesan yang ingin kusampaikan melalui tulisan ini:

Hari Santri perlu diperingati agar generasi muda mengenal sejarah perjuangan para santri dan ulama, menghargai jasa para pendahulu, serta menumbuhkan kecintaan kepada agama dan Tanah Air. Di sekolah, peringatan ini dapat menjadi sarana pendidikan karakter melalui kebiasaan baik, pembelajaran sejarah, dan keteladanan guru.

Sebab, pendidikan yang bermakna bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menumbuhkan iman, membentuk akhlak, dan menyiapkan generasi yang mampu membawa kebaikan bagi bangsa.

Salam literasi dari sekolah pesisir.

Sri Wulandari


Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi *OMJAY* https://wija

yalabs.com

Senin, 19 Oktober 2026

REFLEKSI DIRI_PELUKAN YANG KUTITIPKAN DALAM DOA

PELUKAN YANG KUTITIPKAN DALAM DOA

Refleksi Diri
Karya: Sri Wulandari

Ada kehilangan yang tidak selesai hanya karena waktu terus berjalan. Hari berganti, pekerjaan tetap menunggu, dan kehidupan harus diteruskan. Namun, di antara kesibukan itu, ada satu ruang dalam hati yang tetap menyimpan nama seseorang Ibu.
Sejak Ibu pergi, aku belajar bahwa kehilangan bukan sekadar tentang seseorang yang tidak lagi dapat kita temui. Kehilangan juga tentang hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa, tetapi kini menjadi sesuatu yang sangat ingin kuulangi.

Aku merindukan kesempatan untuk duduk di sampingnya. Aku ingin merawatnya dengan lebih sabar, mendengarkan keluhannya tanpa tergesa-gesa, dan memenuhi keinginannya selama aku masih mampu. Keinginan Ibu untuk pergi ke Tanah Suci pun masih tersimpan dalam ingatanku. Ketika sakit datang, rencana itu belum sempat terwujud. Aku hanya dapat mengirimkan sebuah foto sebagai ungkapan kasih yang tidak sepenuhnya mampu menggantikan keinginannya.
Dari sana, aku mulai memahami bahwa niat baik saja terkadang tidak cukup. Kasih sayang juga membutuhkan waktu, perhatian, dan tindakan. Kita mungkin merasa masih memiliki hari esok, padahal tidak pernah benar-benar mengetahui berapa banyak waktu yang tersisa bersama seseorang.

Mimpi-mimpi tentang Ibu datang silih berganti. Ada pertemuan yang membuatku bahagia, ada pula perpisahan yang membuatku terbangun dengan air mata. Dalam salah satu mimpi, aku ingin membawanya pergi sebentar, tetapi waktu berkunjung telah berakhir. Aku tidak berhasil mengajaknya keluar.

Aku tidak tahu apa arti mimpi itu. Aku tidak ingin menafsirkannya terlalu jauh. Namun, setiap kali mengingatnya, aku menyadari betapa besar keinginanku untuk kembali melakukan hal-hal yang dahulu masih mungkin kulakukan.

Mungkin yang kurindukan bukan hanya kehadiran Ibu, melainkan juga kesempatan untuk memperbaiki diriku sendiri.
Aku pernah merasa belum cukup sabar ketika merawatnya. Penyesalan itu kadang muncul tanpa diminta. Seandainya waktu dapat diputar kembali, tentu ada banyak hal yang ingin aku ubah. Akan tetapi, hidup tidak memberi kesempatan untuk mengulang masa lalu sesuka hati.

Aku hanya dapat belajar dari apa yang telah terjadi.
Ketika akhirnya aku menziarahi makam Ibu dan melihat pusaranya perlu dirapikan, aku berusaha melakukan sesuatu yang masih bisa kulakukan. Aku memesan pasir dan mengajak beberapa murid membantu membawanya. Kami merapikan makam itu bersama-sama.
Pekerjaan sederhana tersebut tidak mengembalikan Ibu. Namun, saat itu aku merasa telah menunaikan sesuatu yang lama mengganjal di hati. Aku pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang, meskipun kerinduan tetap tinggal.

Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa cinta tidak selalu dapat diwujudkan dalam bentuk yang kita inginkan. Ada hal-hal yang dahulu bisa dilakukan secara langsung, tetapi setelah seseorang berpulang, hanya dapat diteruskan melalui doa, kenangan, dan kebaikan.

Aku juga mulai memahami bahwa penyesalan tidak seharusnya membuatku terus menghukum diri sendiri. Aku memang memiliki kekurangan. Ada sikap yang mungkin kurang tepat, ada kesabaran yang belum sempurna, dan ada keinginan yang belum sempat kupenuhi. Namun, aku tidak dapat mengubah semuanya dengan terus menyalahkan diri.

Yang masih bisa aku lakukan adalah memohon ampun kepada Allah, mendoakan Ibu, dan memperbaiki sikapku kepada orang-orang yang masih berada di dekatku.
Kini, aku ingin belajar lebih sabar kepada keluarga, lebih sungguh-sungguh mendengarkan orang lain, dan tidak menunda kebaikan hanya karena merasa masih ada waktu. Aku tidak ingin menunggu kehilangan berikutnya untuk menyadari betapa berharganya sebuah kehadiran.

Barangkali itulah pelajaran paling sunyi yang kuterima dari kepergian Ibu. 
Kasih sayang perlu diungkapkan ketika kesempatan masih ada.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti rinduku akan terasa lebih ringan. Mungkin aku hanya akan belajar menjalani hari-hari dengan membawa kenangan itu secara lebih tenang. Aku akan tetap mengingat Ibu, tetapi aku juga harus melanjutkan hidup dan menjaga kebaikan yang pernah tumbuh dalam diriku.

Jika suatu malam kami kembali bertemu dalam mimpi, aku ingin menyapanya tanpa tergesa-gesa. Aku ingin mengatakan bahwa aku masih merindukannya, bahwa aku berterima kasih atas segala yang pernah diberikannya, dan bahwa aku sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Namun, selama pertemuan itu belum datang, aku akan menitipkan pelukan melalui doa.

Untuk Ibu, semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya. Semoga segala kebaikan yang pernah Ibu tanamkan terus tumbuh melalui langkah-langkah kecil yang kulakukan.

Dan untuk diriku sendiri, aku ingin mengingat satu hal, masa lalu memang tidak dapat dibuka kembali, tetapi hari ini masih memberi kesempatan untuk berbuat baik.
Sebab, ketika pelukan tak lagi dapat kusampaikan, kasih sayang masih dapat kuteruskan melalui doa dan kebaikan.


Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi**OMJAY** https://Wijayalabs.com

Minggu, 18 Oktober 2026

Ketika ilmu lebih berharga dari pada kekuasaan

Ketika Ilmu Lebih Berharga daripada Kekuasaan

Menelusuri Hikmah Kisah Asif bin Barkhiya pada Masa Nabi Sulaiman

Oleh: Sri Wulandari

Ada kisah dalam Al-Qur'an yang mengajak manusia memandang ilmu dari sudut yang berbeda. Bukan sekadar pengetahuan untuk menjawab pertanyaan, bukan pula kemampuan untuk menunjukkan kehebatan diri, melainkan ilmu yang menuntun manusia mengenali keterbatasannya di hadapan kebesaran Allah.
Kisah itu hadir dalam peristiwa pemindahan singgasana Ratu Balqis pada masa Nabi Sulaiman.

Dalam Surah An-Naml ayat 38–40, Nabi Sulaiman bertanya kepada para pembesarnya tentang siapa yang mampu mendatangkan singgasana Ratu Balqis sebelum kedatangannya. Seorang jin yang kuat menawarkan kemampuannya untuk membawa singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Namun, seseorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab menyatakan sanggup mendatangkannya sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip.

Atas izin Allah, singgasana itu pun telah berada di hadapan Nabi Sulaiman.

Sosok yang disebut dalam ayat tersebut dikenal dalam sejumlah kitab tafsir sebagai Asif bin Barkhiya. Akan tetapi, Al-Qur'an sendiri tidak menyebutkan namanya secara langsung. Yang ditonjolkan justru ilmu yang dimilikinya.

Di sinilah renungan itu bermula.

Mengapa Al-Qur'an menonjolkan ilmu, bukan nama dan kemasyhuran orang tersebut? Bukankah manusia sering kali lebih tertarik mengingat siapa yang melakukan sesuatu daripada memahami pelajaran di balik peristiwa itu?

Mungkin kita perlu berhenti sejenak untuk melihatnya lebih dalam. Dalam kehidupan, manusia kerap mengukur kehebatan melalui jabatan, kekayaan, kekuatan, dan pengakuan. Padahal, semua itu tidak selalu menunjukkan kedalaman pemahaman seseorang. Ada orang yang memiliki kedudukan tinggi, tetapi belum tentu mampu merendahkan hatinya. Ada pula orang yang memiliki pengetahuan luas, tetapi belum tentu menggunakannya untuk kebaikan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa ilmu bukanlah alasan untuk meninggikan diri. Ilmu seharusnya menjadi jalan untuk mengenali batas kemampuan manusia dan memahami betapa luasnya kuasa Allah.

Hal itu semakin jelas ketika Nabi Sulaiman melihat singgasana tersebut telah berada di hadapannya. Beliau tidak menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk menyombongkan kerajaan atau kekuasaannya. Sebaliknya, beliau berkata:

"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya." (QS. An-Naml: 40)

Betapa dalam makna perkataan tersebut. Sesuatu yang luar biasa tidak selalu menjadi alasan untuk berbangga diri. Ia juga dapat menjadi ujian: apakah manusia semakin dekat kepada Allah atau justru merasa bahwa segala sesuatu terjadi semata-mata karena kehebatannya sendiri?

Dari sinilah kita dapat memahami hubungan antara ilmu, iman, dan rasa syukur. Ilmu membantu manusia memahami, iman menuntun arah langkahnya, sedangkan syukur menjaga hatinya agar tidak dikuasai kesombongan.
Sebagian ulama mengaitkan kisah Asif dengan Ismullah al-A'zham, yakni Nama Allah Yang Paling Agung, yang disebut dalam sejumlah hadis tentang doa. Namun, identitas pasti orang tersebut dan nama Allah yang digunakannya tidak dinyatakan secara tegas dalam ayat tersebut. Karena itu, kita tidak perlu mengubah bagian yang belum pasti menjadi sebuah kepastian. Justru sikap jujur terhadap keterbatasan pengetahuan merupakan bagian dari adab dalam mencari ilmu.

Lalu, apa makna kisah ini bagi kehidupan kita hari ini?

Sebagai seorang pendidik, saya melihat bahwa ilmu yang berharga bukan hanya ilmu yang membuat seseorang mampu menjawab soal atau meraih penghargaan. Ilmu juga perlu menumbuhkan kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan kerendahan hati. Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan menjadi pintar. Mereka juga perlu dibimbing agar memahami untuk apa kepintaran itu digunakan.

Sebab, kecerdasan tanpa tanggung jawab dapat kehilangan arah. Prestasi tanpa rasa syukur dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang disertai akhlak dapat menjadi cahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

Kita mungkin tidak memiliki kerajaan seperti Nabi Sulaiman. Kita pun tidak mengetahui seluruh rahasia yang terkandung dalam kisah Asif bin Barkhiya. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan menggunakan pengetahuan demi kebaikan.

Pada akhirnya, kebesaran manusia tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak hal yang mampu dikuasainya, tetapi juga oleh bagaimana ia bersikap setelah memperoleh pengetahuan dan keberhasilan.

Sebab, ilmu yang sejati bukan hanya membuat manusia semakin banyak mengetahui. Ilmu juga mengajarkannya menyadari betapa banyak hal yang belum ia ketahui.

Dan ketika pengetahuan itu membuat hati semakin rendah di hadapan Allah, barangkali di situlah salah satu makna terdalam dari sebuah ilmu: bukan untuk membuat manusia merasa paling hebat, melainkan untuk membimbingnya semakin mengenal kebesaran Tuhan.
Penutup

Ketika Ilmu Menuntun Hati Kembali kepada Allah

Pada akhirnya, kisah Asif bin Barkhiya mengajak kita memahami bahwa tidak semua kehebatan harus disertai kemasyhuran. Ada ilmu yang tidak mencari pujian, ada pengabdian yang tidak menuntut pengakuan, dan ada hati yang semakin mengenal kebesaran Allah justru semakin menyadari keterbatasan dirinya.

Singgasana Ratu Balqis mungkin menjadi bagian paling menakjubkan dari kisah ini. Namun, bagi saya, pelajaran yang paling berharga terletak pada cara kita memandang ilmu dan karunia. Sebab, sehebat apa pun kemampuan manusia, tetap ada batas yang tidak dapat dilampauinya. Dan setinggi apa pun pengetahuan yang diraihnya, selalu ada ilmu Allah yang jauh lebih luas daripada apa yang sanggup dipahaminya.

Sebagai manusia, kita tidak harus menjadi sosok luar biasa untuk memberikan makna bagi kehidupan. Kita hanya perlu belajar dengan sungguh-sungguh, menggunakan ilmu untuk kebaikan, menjaga hati dari kesombongan, dan mensyukuri setiap kesempatan yang Allah berikan.

Barangkali, kita tidak akan pernah mengetahui seluruh rahasia yang tersimpan di balik kisah Asif bin Barkhiya. Namun, kita dapat membawa pulang satu pelajaran penting: jangan biarkan ilmu membuat kita merasa paling tinggi, tetapi biarkan ilmu menuntun kita untuk semakin rendah hati.

Sebab, ilmu yang sejati bukan hanya menerangi pikiran, melainkan juga membimbing hati agar mengenali jalan kebenaran.

Dan ketika kelak segala pencapaian tak lagi disebutkan, penghargaan tak lagi dikenang, serta nama kita perlahan dilupakan, semoga kebaikan yang lahir dari ilmu tetap hidup dalam diri orang lain.

Sebab, kemuliaan ilmu bukan terletak pada seberapa hebat seseorang terlihat di hadapan manusia, melainkan pada seberapa besar ilmu itu membawanya kepada kebaikan dan mendekatkannya kepada Allah.

Semoga kita menjadi manusia yang tidak pernah berhenti belajar, tidak lelah menebar manfaat, dan tidak lupa bersyukur atas setiap ilmu yang dititipkan-Nya.

Penulis Sri Wulandari

Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi*Omjay*

Mengagumi

MENGAGUMI
Karya: Sri Wulandari

Mengintip di tirai jendela
Embusan lembut menyapa senyumku
Namamu sejukkan lerung jiwaku
Gelora kasih tak pernah mati
Ada rindu dalam senyummu
Gemerlap cahaya pelangi malam
Ukiran rindu bergantung membelenggu
Memahat kenangan abadi
Indah terukir nyata dalam jiwa

Sapeken, 17 Oktober 2026

MAKNA TERSIRAT PUISI “MENGAGUMI”
Puisi Mengagumi menggambarkan perasaan kagum terhadap seseorang yang meninggalkan kesan mendalam di dalam hati. Kekaguman itu tidak selalu harus diungkapkan melalui kata-kata. Terkadang, cukup dengan mengingat senyumnya, menyebut namanya dalam hati, atau menyimpan kenangan tentang kehadirannya.
1. Mengintip di tirai jendela
Menggambarkan seseorang yang diam-diam memperhatikan dari kejauhan. Tirai jendela menjadi simbol batas antara keinginan untuk mendekat dan keberanian untuk mengungkapkan perasaan.
2. Embusan lembut menyapa senyumku
Melambangkan kehadiran seseorang yang mampu menghadirkan kebahagiaan sederhana. Bahkan tanpa percakapan panjang, bayangan tentang dirinya dapat membuat hati terasa hangat.
3. Namamu sejukkan lerung jiwaku
Nama seseorang menjadi sumber ketenangan. Di tengah pikiran yang riuh, mengingatnya seolah menghadirkan kesejukan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
4. Gelora kasih tak pernah mati
Menggambarkan perasaan kagum yang tetap hidup meskipun waktu terus berjalan. Ada perasaan yang tidak mudah hilang karena telah meninggalkan jejak mendalam di dalam hati.
5. Ada rindu dalam senyummu
Senyum menjadi bahasa tanpa suara. Di baliknya, tersimpan kerinduan dan perasaan yang mungkin tidak pernah diungkapkan secara langsung.
6. Gemerlap cahaya pelangi malam
Melambangkan harapan dan keindahan yang hadir di tengah kesunyian. Seperti pelangi yang menghiasi langit, kekaguman mampu memberikan warna pada hari-hari yang terasa biasa.
7. Ukiran rindu bergantung membelenggu
Menggambarkan kenangan yang terus melekat dalam pikiran. Rindu terasa indah, tetapi terkadang juga membuat seseorang sulit melepaskan bayangan yang telah lama tersimpan.
8. Memahat kenangan abadi
Melambangkan kenangan yang terukir kuat dalam perjalanan hidup. Waktu mungkin berlalu, tetapi pengalaman dan perasaan tertentu tetap menjadi bagian dari kisah seseorang.
9. Indah terukir nyata dalam jiwa
Menegaskan bahwa kekaguman yang mendalam tidak hanya berhenti pada pandangan mata. Perasaan itu telah menjadi bagian dari jiwa, tersimpan sebagai pengalaman batin yang bermakna.

Mengagumi bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang menghargai kehadiran seseorang yang mampu menghadirkan arti dalam kehidupan kita.

Menulislah Setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.Omjay

Jumat, 16 Oktober 2026

TERLAMBAT BUKAN BERARTI KALAH



TERLAMBAT BUKAN BERARTI KALAH


 Belajar Bersyukur di Tengah Lelah dan Perjalanan Menulis

Ada satu hal yang semakin kusadari seiring berjalannya waktu: ketika kita terlalu berfokus pada kompetisi dan keinginan untuk menang, terkadang kita justru lupa menikmati proses dan mensyukuri setiap pencapaian.

Semalam, aku terlalu lelah mengerjakan tugas. Setelah semuanya selesai, aku berniat mengunggah hasil pekerjaanku. Ponsel masih berada dalam genggaman ketika kantuk perlahan mengalahkan kesadaranku. Aku pun tertidur, ditemani nyanyian malam yang berdendang dalam kesunyian.

Entah berapa lama terlelap, aku sempat terbangun. Seolah-olah otakku masih mengingat sederet kegiatan yang belum tuntas. Aku mencoba meraba-raba ponsel sambil berpikir, apakah tugasku sudah diunggah?

Dengan mata yang masih berat, kupencet layar ponsel. Namun, tanpa kusadari, aku kembali terlelap bersama kantuk yang belum juga reda.

Ketika terbangun lagi, aku mulai kebingungan.
Waduh, mana ponselku? Apakah tugasku sudah terkirim?

Kucari dan kuperiksa ponsel itu. Ternyata, semuanya mati. Seketika, perasaan cemas mulai menghampiri. Aku teringat bahwa pekerjaanku menggunakan aplikasi SIC. 
Ada absen masuk yang harus diunggah, pelan-pelan hape diarahkan ke kabelnya, sementara aku belum yakin apakah semuanya sudah terselesaikan.

Pikiranku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Kecewa, cemas, pasrah, dan sedih bercampur menjadi satu. Dalam hati, aku hanya bisa berkata, apakah kali ini aku benar-benar gagal?

Anehnya, rasa kantukku masih belum juga hilang. Di tengah kebingungan itu, kuambil bantal dan berbaring di luar. Rambutku berantakan, sementara pikiranku masih berkelana di antara tugas-tugas yang belum tentu selesai.

Ketika tersadar kembali, hari sudah pagi.
Aku mencoba melanjutkan aktivitas kecil yang biasa kulakukan, menyiapkan barang dagangan untuk dititipkan, sebelum melaksanakan tugas negara. Ada tanggung jawab lain yang harus kuselesaikan, meskipun pikiranku masih tertuju pada tugas yang belum sempat kuunggah.

Hari ini, keterlambatan mengunggah tugas menjadi pengingat bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Tugas merevisi memang sangat menyita waktuku, ditambah laptop agak eror. Ketika ponsel mati, bukan hanya alat komunikasiku yang terhenti, tetapi juga beberapa kegiatan yang bergantung padanya.

Sesekali, aku bertanya kepada diri sendiri, apakah ini bagian dari proses menua?
Aku pun tersenyum kecil dalam hati.
Barangkali bukan semata-mata karena usia. Mungkin aku hanya sedang belajar memahami batas kemampuan diri. Ada kalanya tubuh membutuhkan istirahat, sementara pikiran masih ingin menyelesaikan banyak hal. Ada pula saatnya kita harus menerima bahwa kemampuan manusia memiliki batas, meskipun keinginan untuk terus berkarya begitu besar.

Dari kejadian sederhana itu, aku belajar bahwa keterlambatan bukan selalu tanda kekalahan. Namun, aku juga memahami bahwa tanggung jawab tetap harus dijaga. Kita perlu belajar mengatur waktu, mengenali batas diri, dan mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih baik.

Sebab, menjadi penulis bukan hanya tentang seberapa banyak karya yang berhasil diselesaikan atau berapa banyak kompetisi yang dimenangkan. Menulis juga mengajarkan kita untuk mengenali diri sendiri, memahami kehidupan, dan menerima kenyataan dengan hati yang lebih lapang.

Aku ingin terus belajar. Bukan sekadar menjadi pemenang, melainkan menjadi seseorang yang mampu menghargai setiap proses perjalanan, serta belajar konsisten itu penting.

MENGENANG SEBUAH BUKU: RINDU TAK BERUJUNG

Berbicara tentang perjalanan menulis, ingatanku kembali pada sebuah buku yang pernah kutulis beberapa waktu lalu. Buku itu lahir dari proses belajar bersama dalam kegiatan BM melalui Aula Belajar Bersama Ruang Literasi.

Judulnya Rindu Tak Berujung.

Buku tersebut telah memiliki ISBN dan memuat empat belas judul cerita. Bagiku, buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan yang kemudian menjadi sebuah karya cetak. Di dalamnya, ada jejak perjalanan, pengalaman, imajinasi, dan proses belajar yang telah kulalui.

Jika seseorang bertanya apakah kisah-kisah di dalamnya merupakan cerita nyata atau hanya imajinasi, jawabanku adalah keduanya.

Bagiku, kenyataan dan imajinasi terkadang dapat berjalan berdampingan. Kehidupan yang kita alami menyimpan begitu banyak peristiwa, perasaan, dan kenangan. Sementara itu, imajinasi memberikan ruang bagi pikiran untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang tidak selalu dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Keduanya dapat saling melengkapi, menghadirkan cerita yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna kehidupan.

Judul Rindu Tak Berujung sendiri menyimpan pertanyaan tentang kehilangan, harapan, dan pencarian cinta sejati di tengah perjalanan hidup.

Ada kenangan yang tak mudah memudar. Ada harapan yang tetap tumbuh meskipun keadaan berubah. Ada pula kerinduan yang membawa seseorang pada pencarian makna, bahkan ketika jawaban yang diharapkan belum juga ditemukan.

Seperti yang tergambar pada sampul buku tersebut, seorang perempuan berhijab merah muda hadir di antara rangkaian bunga. Senyumnya menyimpan kelembutan, sementara tatapan matanya seolah mengajak pembaca memasuki sebuah perjalanan yang belum sepenuhnya terungkap.

Bagi pembaca, sampul itu mungkin hanya sebuah ilustrasi. Namun, bagiku, ia menjadi pintu masuk untuk mengenal kisah-kisah yang tersembunyi di balik judulnya.

Empat belas judul di dalam buku itu menjadi bagian dari perjalanan kreatifku. Setiap cerita memiliki ruangnya sendiri, dengan pengalaman, imajinasi, dan pesan yang hendak disampaikan.

Aku menyadari bahwa sebuah karya tidak harus sepenuhnya lahir dari pengalaman pribadi untuk dapat menyentuh hati pembaca. Imajinasi pun dapat menyampaikan kebenaran tentang perasaan manusia. Sebaliknya, pengalaman nyata dapat diolah menjadi cerita yang membuka ruang bagi pembaca untuk membayangkan sesuatu yang lebih luas.

Pada akhirnya, kenyataan dan imajinasi bukanlah dua hal yang harus selalu dipertentangkan. Keduanya dapat bertemu dalam tulisan, lalu menghadirkan makna yang berbeda bagi setiap orang.

Kini, ketika kembali mengingat perjalanan buku Rindu Tak Berujung, aku merasa bahwa setiap karya memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh dan menemukan pembacanya.

Tidak semua proses berlangsung mudah. Tidak semua usaha langsung membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Namun, setiap langkah tetap memiliki arti selama kita bersedia belajar dan terus memperbaiki diri.

Aku pun kembali pada pemikiran awal: jangan sampai keinginan untuk menang membuat kita lupa bersyukur.

Kompetisi memang dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan, tetapi perjalanan menulis jauh lebih luas daripada sekadar perlombaan. Ada pengalaman yang memperkaya pikiran, kegagalan yang mengajarkan ketekunan, dan karya yang menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha.

Terlambat bukan berarti kalah. Tidak menang bukan berarti tidak berkembang. Dan sebuah karya tidak kehilangan maknanya hanya karena belum mendapatkan penghargaan.

Selama masih ada kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki langkah.

Sebab, pada akhirnya, perjalanan menulis bukan hanya tentang mencapai garis akhir, melainkan tentang menemukan makna di sepanjang jalan yang kita lalui.

Sri Wulandari berfokus pada kompetisi dan keinginan untuk menang, terkadang kita justru lupa menikmati proses dan mensyukuri setiap pencapaian.

Semalam, aku terlalu lelah mengerjakan tugas. Setelah semuanya selesai, aku berniat mengunggah hasil pekerjaanku. Ponsel masih berada dalam genggaman ketika kantuk perlahan mengalahkan kesadaranku. Aku pun tertidur, ditemani nyanyian malam yang berdendang dalam kesunyian.

Entah berapa lama terlelap, aku sempat terbangun. Seolah-olah otakku masih mengingat sederet kegiatan yang belum tuntas. Aku mencoba meraba-raba ponsel sambil berpikir, apakah tugasku sudah diunggah?

Dengan mata yang masih berat, kupencet layar ponsel. Namun, tanpa kusadari, aku kembali terlelap bersama kantuk yang belum juga reda.

Ketika terbangun lagi, aku mulai kebingungan.

Waduh, mana ponselku? Apakah tugasku sudah terkirim?

Kucari dan kuperiksa ponsel itu. Ternyata, semuanya mati. Seketika, perasaan cemas mulai menghampiri. Aku teringat bahwa pekerjaanku menggunakan aplikasi SIC. Ada tugas yang harus diunggah, sementara aku belum yakin apakah semuanya sudah terselesaikan.

Pikiranku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Kecewa, cemas, pasrah, dan sedih bercampur menjadi satu. Dalam hati, aku hanya bisa berkata, apakah kali ini aku benar-benar gagal?

Anehnya, rasa kantukku masih belum juga hilang. Di tengah kebingungan itu, kuambil bantal dan berbaring di luar. Rambutku berantakan, sementara pikiranku masih berkelana di antara tugas-tugas yang belum tentu selesai.

Ketika tersadar kembali, hari sudah siang.

Aku mencoba melanjutkan aktivitas kecil yang biasa kulakukan, menyiapkan barang dagangan untuk dititipkan. Ada tanggung jawab lain yang harus kuselesaikan, meskipun pikiranku masih tertuju pada tugas yang belum sempat kuunggah.

Hari itu, keterlambatan mengunggah tugas menjadi pengingat bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Ketika ponsel mati, bukan hanya alat komunikasiku yang terhenti, tetapi juga beberapa kegiatan yang bergantung padanya.

Sesekali, aku bertanya kepada diri sendiri, apakah ini bagian dari proses menua?

Aku pun tersenyum kecil dalam hati.

Barangkali bukan semata-mata karena usia. Mungkin aku hanya sedang belajar memahami batas kemampuan diri. Ada kalanya tubuh membutuhkan istirahat, sementara pikiran masih ingin menyelesaikan banyak hal. Ada pula saatnya kita harus menerima bahwa kemampuan manusia memiliki batas, meskipun keinginan untuk terus berkarya begitu besar.

Dari kejadian sederhana itu, aku belajar bahwa keterlambatan bukan selalu tanda kekalahan. Namun, aku juga memahami bahwa tanggung jawab tetap harus dijaga. Kita perlu belajar mengatur waktu, mengenali batas diri, dan mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih baik.

Sebab, menjadi penulis bukan hanya tentang seberapa banyak karya yang berhasil diselesaikan atau berapa banyak kompetisi yang dimenangkan. Menulis juga mengajarkan kita untuk mengenali diri sendiri, memahami kehidupan, dan menerima kenyataan dengan hati yang lebih lapang.

Aku ingin terus belajar, terus menerus, ingin menghidupkan blog gratisan ini, bukan sekadar menjadi pemenang, melainkan menjadi seseorang yang mampu menghargai setiap proses perjalanan.

MENGENANG SEBUAH BUKU: RINDU TAK BERUJUNG

Berbicara tentang perjalanan menulis, ingatanku kembali pada sebuah buku yang pernah kutulis beberapa waktu lalu. Buku itu lahir dari proses belajar bersama dalam kegiatan BM melalui Aula Belajar Bersama Ruang Literasi.

Judulnya Rindu Tak Berujung.

Buku tersebut telah memiliki ISBN dan memuat empat belas judul cerita. Bagiku, buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan yang kemudian menjadi sebuah karya cetak. Di dalamnya, ada jejak perjalanan, pengalaman, imajinasi, dan proses belajar yang telah kulalui.

Jika seseorang bertanya apakah kisah-kisah di dalamnya merupakan cerita nyata atau hanya imajinasi, jawabanku adalah keduanya.

Bagiku, kenyataan dan imajinasi terkadang dapat berjalan berdampingan. Kehidupan yang kita alami menyimpan begitu banyak peristiwa, perasaan, dan kenangan. Sementara itu, imajinasi memberikan ruang bagi pikiran untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang tidak selalu dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Keduanya dapat saling melengkapi, menghadirkan cerita yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna kehidupan.

Judul Rindu Tak Berujung sendiri menyimpan pertanyaan tentang kehilangan, harapan, dan pencarian cinta sejati di tengah perjalanan hidup.

Ada kenangan yang tak mudah memudar. Ada harapan yang tetap tumbuh meskipun keadaan berubah. Ada pula kerinduan yang membawa seseorang pada pencarian makna, bahkan ketika jawaban yang diharapkan belum juga ditemukan.

Seperti yang tergambar pada sampul buku tersebut, seorang perempuan berhijab merah muda hadir di antara rangkaian bunga. Senyumnya menyimpan kelembutan, sementara tatapan matanya seolah mengajak pembaca memasuki sebuah perjalanan yang belum sepenuhnya terungkap.
Bagi pembaca, sampul itu mungkin hanya sebuah ilustrasi. Namun, bagiku, ia menjadi pintu masuk untuk mengenal kisah-kisah yang tersembunyi di balik judulnya.

Empat belas judul di dalam buku itu menjadi bagian dari perjalanan kreatifku. Setiap cerita memiliki ruangnya sendiri, dengan pengalaman, imajinasi, dan pesan yang hendak disampaikan.

Aku menyadari bahwa sebuah karya tidak harus sepenuhnya lahir dari pengalaman pribadi untuk dapat menyentuh hati pembaca. Imajinasi pun dapat menyampaikan kebenaran tentang perasaan manusia. Sebaliknya, pengalaman nyata dapat diolah menjadi cerita yang membuka ruang bagi pembaca untuk membayangkan sesuatu yang lebih luas.

Pada akhirnya, kenyataan dan imajinasi bukanlah dua hal yang harus selalu dipertentangkan. Keduanya dapat bertemu dalam tulisan, lalu menghadirkan makna yang berbeda bagi setiap orang.

Kini, ketika kembali mengingat perjalanan buku Rindu Tak Berujung, aku merasa bahwa setiap karya memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh dan menemukan pembacanya.

Tidak semua proses berlangsung mudah. Tidak semua usaha langsung membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Namun, setiap langkah tetap memiliki arti selama kita bersedia belajar dan terus memperbaiki diri.

Aku pun kembali pada pemikiran awal: jangan sampai keinginan untuk menang membuat kita lupa bersyukur.

Kompetisi memang dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan, tetapi perjalanan menulis jauh lebih luas daripada sekadar perlombaan. Ada pengalaman yang memperkaya pikiran, kegagalan yang mengajarkan ketekunan, dan karya yang menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha.

Terlambat bukan berarti kalah. Tidak menang bukan berarti tidak berkembang. Dan sebuah karya tidak kehilangan maknanya hanya karena belum mendapatkan penghargaan.

Selama masih ada kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki langkah.

Sebab, pada akhirnya, perjalanan menulis bukan hanya tentang mencapai garis akhir, melainkan tentang menemukan makna di sepanjang jalan yang kita lalui.
Kalimat sakti selalu menemani tulisan ini"menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi"OMJAY. https://wijayalabs.com

PUISI _ SEJENAK

Sejenak

Karya: Sri Wulandari

Sejenak hati letih mengingat masalah,
sejenak terlintas pesan tentang pelaporan.

Langkahku terhenti tatkala melihat senyumnya, makin kupandang, makin terang cahayanya.

Ciptaan-Mu begitu indah, ya Robbi.
Bolehkah ia selamanya bersamaku

Memandang cahaya-cahaya yang Kau titipkan kepadanya,
sungguh menakjubkan dunia ciptaan-Mu.

Tuhan, jika boleh meminta,
bolehkah cahaya bintang-Mu
selalu menemani hati yang hampa ini,
memberi penyembuhan tanpa belajar berharap?

Sungguh, ciptaan-Mu begitu sempurna,
begitu indah dan berharga.
Tujuh bintang bergerak mengitari parade semesta,
syukur atas nikmat yang Kau beri,
Ilahi Robbi.

Sapeken, 16 Oktober 2026

Menangkap pesan yang lembut:

*Terkadang, di tengah kesibukan dan kekosongan hati, kita menemukan ketenangan melalui sesuatu yang sederhana, bahkan melalui cahaya yang mengingatkan kita untuk bersyukur.

Makna yang tersirat pada puisi saya 
Sejenak berhenti dari masalah: kesibukan dan tanggung jawab terkadang membuat hati lelah.

Senyuman dan cahaya: ada sesuatu yang mengingatkan penyair pada keindahan dan kebesaran Allah.

Hati yang hampa: sebuah pengakuan jujur tentang kebutuhan akan ketenangan, tanpa menggantungkan seluruh harapan pada sesuatu yang belum pasti.

Tujuh bintang dan parade semesta: gambaran tentang keteraturan dan keajaiban alam yang menumbuhkan rasa syukur.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi ya OMJAY. https://wijayalabs.com

Rabu, 14 Oktober 2026

ANDE-ANDE LUMUT


Ande-Ande Lumut
Oleh : Sri Wulandari

 
Di desa sunyi kau sembunyi
pemuda tampan berseri
Ande-Ande Lumut nama tersamar
Adipati Anom sang pangeran gemilang

Seberang jembatan datang tiga dara
menyulam harap menjemput cinta
mengajukan lamaran penuh maksud
namun hanya suci kau pilih teguh


Sungai membentang bak gerbang takdir
Yuyu Kangkang tawarkan sihir
dua jelita jatuh terlena
namun sang suci tak tergoda
Klenting Kuning berdiri tegak
tak bermahkota tubuhnya dekil
namun hatinya terang bersinar
di sanalah kau temukan kasih

Dewi Candrakirana dan sang pangeran
bersama dalam janji suci
kehormatan jadi benteng hati
setia berdua bahagia abadi

Sapeken, 14 Oktober 20



Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi. Omjay****https://wijayalabs.com

Puisi ini merangkum cerita rakyat Jawa Timur yang terkenal, yaitu Ande-Ande Lumut (penyamaran dari Pangeran Adipati Anom atau Panji Asmarabangun) dan Klenting Kuning (penyamaran dari Dewi Candrakirana).

• Bait 1: Menggambarkan pangeran yang bersembunyi di sebuah desa terpencil (Desa Dadapan) menggunakan nama samaran Ande-Ande Lumut.

• Bait 2 & 3: Menceritakan kedatangan para wanita (Klenting Merah, Klenting Hijau, Klenting Biru) yang ingin melamarnya. Untuk menyeberang sungai, mereka menggunakan jasa Yuyu Kangkang (kepiting raksasa) dan tergiur oleh tawarannya, sehingga mereka kehilangan "kesucian" mereka (melanggar norma demi kemudahan).

• Bait 4 & 5: Menyoroti Klenting Kuning yang datang dengan tubuh dekil dan bau karena strategi dari ibu angkatnya. Namun, karena dia menolak tawaran Yuyu Kangkang dan menjaga kehormatannya, Ande-Ande Lumut memilihnya. Identitas asli keduanya pun terungkap, dan mereka hidup bahagia.
 Salam literasi 

Selasa, 13 Oktober 2026

BERTAHAN ATAU PERGI

BERTAHAN ATAU PERGI?

Tips dan Trik Menghadapi Lingkungan Toxic Tanpa Kehilangan Jati Diri

Pernahkah kamu berada di lingkungan yang membuat pikiran terasa penuh, hati tidak tenang, dan langkah seolah kehilangan arah?

Kita sering mendengar istilah toxic ketika membicarakan hubungan antarmanusia. Istilah ini mengingatkan kita pada keadaan yang tidak sehat, ketika interaksi yang terus berulang justru menghadirkan tekanan, ketidaknyamanan, bahkan membuat seseorang merasa sulit menjadi dirinya sendiri.

Lingkungan seperti ini bisa hadir di mana saja. Mulai dari lingkungan terdekat, pertemanan, tempat kerja, hingga kehidupan bermasyarakat.

Pernahkah kamu merasa sudah berusaha melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi tetap saja ada yang dipersoalkan? Ingin menyampaikan pendapat, tetapi takut disalahartikan? Atau ingin mengekspresikan gagasan, tetapi justru merasa tertekan oleh penilaian orang lain?

Jika pernah merasakannya, kamu tidak sendirian.

Berada dalam lingkungan yang tidak sehat bisa membuat pikiran terbebani, perasaan gelisah, dan semangat perlahan menurun. Kita mungkin tetap menjalankan rutinitas seperti biasa, tersenyum ketika bertemu orang lain, bahkan terlihat baik-baik saja. Padahal, ada banyak hal yang sedang kita pertimbangkan di dalam diri.

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap?

Apakah kita harus pergi, bertahan, atau belajar menghadapinya dengan cara yang berbeda?

1. Memahami Lingkungan Toxic Sebelum Mengambil Keputusan

Sebelum memutuskan untuk pergi atau bertahan, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tidak semua perbedaan pendapat merupakan perilaku toxic. Kritik tidak selalu berarti kebencian, begitu pula ketidaksetujuan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang ingin menjatuhkan kita.

Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang memiliki cara berpikir, kebiasaan, dan sudut pandang yang berbeda. Namun, ketika interaksi yang berulang dipenuhi penghinaan, manipulasi, intimidasi, atau perlakuan tidak adil, kita perlu menyadari bahwa ada persoalan yang harus ditangani.

Jangan terburu-buru menyimpulkan, tetapi jangan pula terus-menerus mengabaikan apa yang kita alami.

Belajarlah membedakan antara kritik yang membangun dan perlakuan yang merendahkan. Dari sanalah kita bisa menentukan langkah dengan lebih bijaksana.
2. Bertahan atau Pergi, Keduanya Memiliki Konsekuensi

Ketika menghadapi lingkungan kerja yang tidak nyaman, pilihan kita terkadang tidak sesederhana membalikkan telapak tangan.

Sebagian orang mungkin memilih pergi, mencari pekerjaan baru, dan memulai kehidupan di lingkungan yang berbeda. Pilihan ini bisa menjadi jalan keluar ketika keadaan tidak lagi sehat dan kesempatan lain memungkinkan.

Namun, ada pula yang memilih bertahan.

Bisa jadi karena pekerjaan tersebut merupakan sumber penghidupan utama. Bisa juga karena sudah memiliki status kepegawaian tetap, tanggung jawab pelayanan, atau amanah yang tidak mudah ditinggalkan.

Sebagai contoh, seseorang yang telah lama mengabdi dalam suatu instansi pemerintahan mungkin perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Begitu pula pekerja di perusahaan swasta yang harus memikirkan kebutuhan hidup, keluarga, dan ketersediaan pekerjaan pengganti.

Karena itu, kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa orang yang bertahan berarti lemah atau orang yang pergi berarti kalah.

Setiap orang memiliki keadaan, pertimbangan, dan kemampuan yang berbeda.

Pergi bukan selalu tanda menyerah, sedangkan bertahan bukan selalu tanda keberanian. Keduanya membutuhkan pertimbangan yang matang.

Yang terpenting, jangan mengambil keputusan hanya karena emosi sesaat. Pertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan, kebutuhan, tanggung jawab, dan kesejahteraan diri sendiri.

3. Jika Memilih Bertahan, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bertahan bukan berarti membiarkan diri terus-menerus menerima perlakuan yang tidak pantas.

Jika kita belum bisa meninggalkan lingkungan tersebut, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, belajarlah mengendalikan respons.

Kita tidak selalu bisa mengatur perkataan dan perilaku orang lain. Namun, kita bisa belajar memilih cara meresponsnya.

Tidak semua perkataan harus dibalas. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Terkadang, menghentikan percakapan yang tidak produktif jauh lebih bijaksana daripada terus mempertahankannya.

Kedua, tetapkan batasan yang sehat.

Kita boleh bersikap ramah tanpa harus menyetujui semua hal. Kita boleh membantu tanpa harus mengorbankan seluruh waktu dan tenaga.

Sampaikan ketidaknyamanan dengan bahasa yang sopan dan tegas. Jika percakapan mulai mengarah pada penghinaan, kita berhak menghentikannya dengan cara yang aman dan profesional.

Ketiga, jangan sibuk membuktikan diri kepada semua orang.

Dalam lingkungan yang kurang sehat, terkadang kita merasa harus terus menunjukkan bahwa kita mampu, bekerja dengan baik, dan tidak seperti yang dituduhkan.

Padahal, menghabiskan energi untuk meyakinkan setiap orang bisa membuat kita kehilangan fokus terhadap tujuan utama.

Lakukan tanggung jawab sebaik mungkin. Evaluasi diri ketika menerima kritik yang masuk akal, tetapi jangan menjadikan setiap penilaian orang lain sebagai ukuran harga diri.

Keempat, tetap profesional dan berpegang pada fakta.

Terutama di tempat kerja, usahakan komunikasi tetap jelas dan berkaitan dengan tanggung jawab. Hindari terlibat dalam gosip, menyebarkan prasangka, atau membalas perlakuan buruk dengan tindakan serupa.

Jika terjadi intimidasi atau perlakuan tidak adil yang berulang, catat kejadian secara faktual dan mintalah bantuan kepada pihak yang tepat.

Kelima, bangun dukungan yang sehat.

Jangan merasa harus menghadapi semuanya sendirian. Temukan orang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita dan membantu mempertimbangkan pilihan.

Kita juga perlu menyediakan waktu untuk beristirahat, menulis, berdoa sesuai keyakinan, atau melakukan kegiatan yang membantu menenangkan pikiran.

Menjaga diri bukanlah bentuk keegoisan. Kita pun membutuhkan ruang untuk memulihkan tenaga dan semangat.

4. Jangan Terjebak dalam Informasi yang Terlalu Banyak

Saat menghadapi persoalan, kita sering mencari jawaban melalui internet, mesin pencari, media sosial, bahkan berbagai aplikasi kecerdasan buatan.

Beragam informasi menawarkan cara menghadapi lingkungan toxic. Ada yang menyarankan untuk menjauh, bersikap cuek, membangun batasan, atau segera meninggalkan lingkungan yang tidak sehat.

Semua itu dapat menjadi bahan pertimbangan. Namun, tidak setiap saran cocok diterapkan dalam semua keadaan.

Saran untuk segera pergi mungkin terasa mudah bagi seseorang yang memiliki banyak pilihan pekerjaan. Namun, bagi orang yang menggantungkan hidup pada satu pekerjaan, keputusan tersebut membutuhkan perencanaan yang lebih matang.

Begitu pula dengan anjuran untuk bersikap cuek. Mengabaikan provokasi mungkin membantu dalam situasi tertentu, tetapi tidak selalu menyelesaikan masalah yang melibatkan ketidakadilan atau penyalahgunaan wewenang.

Karena itu, informasi yang kita dapatkan sebaiknya tidak langsung dijadikan keputusan mutlak.

Gunakan informasi sebagai bahan pertimbangan, bukan sebagai pengganti kebijaksanaan dalam menilai keadaan sendiri.

Tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang masih bisa diperbaiki? Apa risiko jika aku bertahan? Apa yang perlu kusiapkan jika memilih pergi?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah kita belajar mengambil keputusan berdasarkan kenyataan, bukan semata-mata mengikuti pendapat orang lain.

5. Tidak Semua Orang Akan Menyukai Kita

Ada satu hal yang perlu kita pahami dalam kehidupan: apa pun yang kita lakukan, tidak semua orang akan menyukainya.

Ketika kita berbicara, mungkin ada yang tidak setuju. Ketika kita diam, mungkin ada yang menganggap kita tidak peduli. Ketika kita berusaha membantu, mungkin ada yang salah memahami niat kita.

Namun, bukan berarti setiap orang yang tidak menyukai kita sedang bersikap toxic.

Perbedaan selera, pendapat, dan prinsip merupakan bagian dari kehidupan bersama. Kita perlu belajar menerima perbedaan sekaligus mengenali kapan sebuah perlakuan telah melampaui batas yang wajar. Apalagi ujaran kebencian yang mendapatkan balasan alam dan Allah

Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari siapa yang salah hingga lupa mengevaluasi diri sendiri.

Jika ada kritik yang benar, terimalah sebagai pembelajaran. Jika terjadi kesalahpahaman, cobalah berkomunikasi. Namun, jika kita terus-menerus menghadapi perlakuan merendahkan atau intimidasi, jangan takut mencari bantuan dan mengambil langkah perlindungan.

Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan mana yang perlu diperbaiki, mana yang perlu diterima, dan mana yang harus ditindaklanjuti.

6. Ketika Cahaya Berada di Tengah Kegelapan

Pernahkah kita membayangkan sebuah cahaya yang berusaha menerangi ruangan gelap?

Cahaya itu tidak selalu dapat membuat seluruh ruangan menjadi terang dalam sekejap. Ada bagian yang masih tertutup, ada sudut yang belum tersentuh, dan ada pula penghalang yang membuat sinarnya tidak menjangkau setiap tempat.

Begitu pula ketika seseorang berusaha membawa sikap positif ke dalam lingkungan yang dipenuhi prasangka dan konflik.

Niat baik tidak selalu langsung diterima. Usaha memperbaiki keadaan tidak selalu mendapatkan dukungan. Bahkan, perbedaan cara pandang terkadang membuat dua pihak terus berbenturan.

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa persoalannya tidak selalu sesederhana cahaya positif melawan kegelapan negatif. Setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan alasan yang berbieda.

Karena itu, menghadapi lingkungan yang tidak sehat tidak cukup hanya dengan merasa bahwa diri kita benar. Kita juga perlu bersedia mengevaluasi sikap, mendengarkan penjelasan, dan mencari jalan keluar yang adil.

Cahaya tidak perlu memadamkan cahaya lain untuk membuktikan keberadaannya.

Demikian pula kita. Tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk menunjukkan kemampuan. Tidak perlu membalas keburukan untuk membuktikan bahwa kita kuat.

Tetaplah menjadi pribadi yang memiliki prinsip, tetapi jangan menutup diri dari perbaikan.

Jika keadaan masih bisa diperbaiki, mulailah dari komunikasi yang sehat. Jika masalah membutuhkan pihak ketiga, carilah penengah yang adil. Jika lingkungan tetap membahayakan meskipun berbagai upaya telah dilakukan, pertimbangkan jalan keluar yang lebih aman.

Sebab, menjaga cahaya dalam diri bukan berarti kita harus terus berdiri di tempat yang sama, apa pun risikonya.

7. Kapan Kita Harus Berhenti Bertahan?

Ada kalanya kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah aku masih bertahan karena keadaan memang membutuhkan waktu untuk diperbaiki, atau karena aku merasa bersalah jika memilih pergi?

Pertanyaan ini penting, sebab terkadang kita terlalu lama bertahan hanya karena sudah menginvestasikan banyak waktu, tenaga, dan perasaan.

Padahal, masa lalu tidak harus menjadi alasan untuk terus menjalani keadaan yang merugikan.

Jika lingkungan terus menghadirkan intimidasi, ancaman, penghinaan, atau perlakuan tidak adil, jangan hanya mengandalkan kesabaran. Mintalah dukungan, cari bantuan yang sesuai, dan pertimbangkan pilihan yang tersedia.

Apabila keputusan untuk pergi belum memungkinkan, susunlah rencana secara bertahap. Persiapkan kebutuhan, cari informasi tentang alternatif yang realistis, dan bangun dukungan yang dapat membantu kita melewati perubahan.

Tidak semua jalan keluar harus dilakukan hari ini. Namun, kita tetap boleh mulai menyiapkannya.

Kesabaran bukan berarti menerima segala perlakuan tanpa batas. Keberanian bukan berarti mengambil risiko tanpa perhitungan. Dan keikhlasan bukan berarti mengabaikan kebutuhan untuk melindungi diri.

Kita bisa tetap bertanggung jawab sekaligus mengakui bahwa diri kita juga membutuhkan lingkungan yang sehat.

Penutup: Bertahanlah dengan Bijaksana, Bukan dengan Mengorbankan Diri

Pada akhirnya, menghadapi lingkungan toxic bukan hanya tentang bagaimana kita melawan orang lain, melainkan bagaimana kita mengambil sikap tanpa kehilangan jati diri.

Kita tidak selalu bisa mengubah cara berpikir seseorang. Kita juga tidak bisa menjamin bahwa setiap lingkungan akan menerima kehadiran kita dengan baik.

Namun, kita masih bisa belajar mengendalikan respons, menetapkan batasan, memperbaiki komunikasi, dan memilih langkah yang sesuai dengan keadaan.

Jika masih ada ruang untuk memperbaiki hubungan, berusahalah dengan bijaksana. Jika perlu menyuarakan ketidakadilan, lakukan dengan cara yang tepat. Jika membutuhkan pertolongan, jangan merasa malu untuk memintanya.

Dan jika suatu hari kita harus pergi, jangan buru-buru menganggap diri sendiri gagal.

Sebab, kehidupan bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat bertahan dalam keadaan sulit. Kehidupan juga mengajarkan kita untuk mengenali batas kemampuan, menghargai diri sendiri, dan memahami kapan sebuah perjuangan perlu dilanjutkan dengan cara yang berbeda.

Seperti cahaya yang tetap bersinar tanpa harus membakar dirinya sendiri, kita pun dapat berusaha membawa kebaikan tanpa kehilangan ketenangan dan martabat.

Bertahanlah jika masih ada jalan untuk memperbaiki keadaan. Beranilah bersuara ketika menghadapi ketidakadilan. Dan jangan takut memilih jalan lain ketika keselamatan, kesejahteraan, serta masa depan membutuhkan keputusan yang berbeda.
Karena terkadang, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mengubah semua orang, melainkan ketika kita mampu melewati keadaan yang sulit dengan tetap menjaga nilai-nilai kebaikan dalam diri.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi, kalimat sakti Omjay, dan bisa dikunjungi di https:// wijayalabs.com

SAAT FITNAH MENGHUJAM DADA

SAAT FITNAH MENGHUJAM DADA Oleh: Sri Wulandari Ketika Tempat Mencari Nafkah Berubah Menjadi Ruang yang Melukai Para sahabat pembaca, pernahk...

STATEGI MENANGKAL HOAKS