Rabu, 28 Oktober 2026

Hunter moon

HUNTER’S MOON
Ketika Langit Kehilangan Bintang

26 Oktober 2026
Malam itu, langit tampak berbeda.

Tak ada bintang yang berkedip di kejauhan. Tak ada kerlip cahaya yang biasanya menghiasi hamparan malam. Seluruh langit seakan diselimuti awan gelap yang bergerak perlahan, menyimpan rahasia yang tak mampu diterjemahkan oleh kata-kata.

Di antara gulungan awan itu, bulan purnama berusaha memperlihatkan wajahnya.

Cahayanya samar, sesekali menghilang, kemudian muncul kembali di balik tirai kelabu. Seolah-olah sang rembulan sedang berbicara kepada malam tentang sebuah perjalanan panjang yang tak selalu disertai cahaya.

Orang-orang dahulu menyebut purnama ini Hunter’s Moon, Bulan Pemburu.

Ia hadir setelah musim panen, membawa ingatan tentang manusia yang berjuang mencari persediaan makanan, menembus dinginnya malam, dan memanfaatkan cahaya bulan untuk menemukan jalan pulang.

Namun, malam ini, bukan manusia yang sedang mencari sesuatu.

Bulanlah yang seolah sedang mencari celah di antara awan.

Ia tak mampu mengusir kegelapan. Ia tak dapat memerintahkan awan untuk menyingkir. Ia hanya bersinar sejauh yang dimungkinkan oleh keadaan langit.

Dan di sanalah aku menemukan sebuah makna.

Bahwa tidak semua cahaya harus terlihat terang untuk membuktikan keberadaannya. Ada kalanya kehidupan menyelimuti kita dengan awan kecemasan, kesunyian, dan ketidakpastian. Jalan yang biasanya terang mendadak terasa asing, sementara harapan yang dahulu berkilau seakan menghilang.

Namun, seperti bulan di balik awan, bukan berarti cahaya itu telah lenyap.

                          Ia masih ada.

Hanya saja, untuk sementara waktu, pandangan kita terhalang oleh sesuatu yang belum mampu kita singkirkan.

Maka, pada malam Hunter’s Moon, aku belajar memahami satu hal: kegelapan bukan selalu akhir dari sebuah perjalanan. Terkadang, ia hanyalah bagian dari malam yang harus dilewati sebelum cahaya kembali menemukan jalannya.

Dan ketika langit kehilangan bintang-bintangnya, aku memilih untuk tetap percaya bahwa di balik awan yang paling gelap sekalipun, masih ada cahaya yang menunggu kesempatan untuk bersinar.

Sapeken, 26 Oktober 2026
 Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi *Omjay*

Selasa, 27 Oktober 2026

cerita pendek

Saat studi mereka telah selesai, ia mencari di situs internet dengan bantuan AI. Waktu 800 tahun yang lalu, banyak menceritakan tentang sejarah kerajaan di Nusantara. Seketika jari-jari Nawang mengajaknya untuk berhenti. Cukup akalnya berkata, "Sekarang, fokuskan dirimu pada hidupmu selama di dunia."

Waktu berjalan dengan kisah dan mimpi berulang-ulang. Nawang merasa terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak nyata. "Waktunya aku yang akan memegang kendali," gumamnya dalam hati.

Tiba saatnya Nawang menyelesaikan studi dan bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Saat training, ia melihat seorang laki-laki menatap dengan tatapan tajam penuh makna. Nawang tersenyum, menyapa dengan lambaian tangan. Laki-laki itu tersenyum tipis, tetapi penuh rahasia.
Hari berganti hari, tepat di sif malam Nawang bekerja. Hal ganjil pun terjadi. Saat matanya menatap langit, cahaya indah mengajaknya bercanda. Nawang pun tersenyum seperti kupu-kupu dan kunang-kunang bergerak melambat. "Masyaallah, keindahan alam itu," gumamnya dalam hati.

Sosok laki-laki bertubuh kurus, tinggi, dan tampan mendekati Nawang hingga membuyarkan lamunan gadis itu.

"Bintangnya indah, ya?"

Nawang tersenyum seolah-olah mengerti bahasa jiwa laki-laki tersebut. Cerita mereka berlanjut lebih intens seperti jiwa keduanya telah saling mengenal sejak lama. Hubungan mereka berada di fase paling dekat, yaitu sebagai pasangan kekasih. Keduanya melanjutkan hubungan ke jenjang paling serius, yaitu pernikahan.

Saat itu, Nawang berkata pada kekasihnya bahwa sakit yang diderita sudah sejak balita. Kemiskinan dan penderitaan telah dirasakan selama hidup dengan orang tua angkat serta kakak yang tidak menyukai dirinya. Dia menangis dipelukan sang kekasih.

Wajah Nawang pucat. Dia menggenggam tangan kekasihnya. "Aku sepertinya akan berpindah alam, bisakah membawaku melihat bintang-bintang yang selama ini menemaniku?"

Sang kekasih berkata, "Sudah saatnya istriku, kita pergi dengan membawa tubuhmu yang lemah ini."

Nawang pun mengiyakan dan tubuh mereka melesat seperti angin. Sesungguhnya, mereka bukan manusia biasa, tetapi pasangan sejati yang terpisah.
Nawang menguatkan diri bahwa selama menjadi manusia utuh telah memberikan pelajaran dalam batin dan fisiknya di kehidupan khayangan. Kehidupan duniawi mengajarkan kesabaran, ketangguhan, dan pengorbanan air mata. Hal tersebut membuat Nawang tahu, ia harus tetap berdiri sebagai manusia tangguh.

Hanya dengan menyelesaikan tugas akibat karma di dunia, Nawang bisa menemukan kembali arti cinta yang sesungguhnya. Arti kehidupan yang sejati walau bayang-bayang pengkhianatan mengganggu psikologisnya selama menjadi manusia yang memengaruhi siklus kehidupannya di negeri khayangan sebagai permaisuri. Dia bisa memimpin lebih baik lagi, bijaksana, dan adil sebagai permaisuri khayangan. Dia memiliki raja yang senantiasa tulus dan setia menjaga karma, kutukan yang dialami permaisurinya selama menjadi manusia. 
Menulislah Setiap hari dan buktikan yang Terjadi-**Omjay**

KARMA SANG PERMAISURI

Karma Sang Permasuri
Oleh: Sri Wulandari, S.Si.

" Nawang, gimana kabarmu?" Sarinah mendekat sambil tersenyum lebar.

"Baik," jawab Nawang dengan singkat, mencoba menyembunyikan kegundahan. "Kamu sendiri?"

"Baik juga," sahut Sarinah dengan ringan.

Percakapan mereka berlanjut dipenuhi canda dan tawa. Nawang saat itu telah beranjak remaja berusaha melupakan kekacauan di dalam batinnya. Namun, bayangan terus menghantui pikiran. Ia ingat saat pertama kali mendengar suara janggal, bayangan yang selalu menemaninya. Bayangan putih itu selalu menemaninya sejak sebelum duduk di bangku SD sampai remaja. Rasa itu selalu terbawa sampai ke bangku SMA.

Ketika sore tiba di indekos, Nawang mencoba tidur untuk mengusir lelah. Namun, bayangan seseorang melintas di kamar membuatnya kaget hingga terbangun. Ada bayangan bergerak dengan cepat, ia bangkit dan berteriak, "Keluar! Siapa gerangan itu?"

Sepanjang sejarah cerita spiritual Nawang membuatnya kehilangan kesadaran secara akal. Banyak hal mistik yang sulit dijelaskan.

Nawang juga terlahir tanpa ayah dan ibu. Hanya ibu angkat yang merawatnya karena menemukannya di tengah hutan.

Saat malam tiba, gangguan datang kembali. Pria berjubah putih itu membawanya melesat tinggi dan memperlihatkan keajaiban alam langit. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Ketakutan terus menghantui hingga membuatnya merasa selalu diawasi.

Tepat di tengah malam, setelah Nawang salat Tahajud, ia pun tertidur dengan pulas. Ia bermimpi seperti berada dalam alam sadar dan tidak sadar tubuhnya membelah menjadi dua bagian seolah-olah Nawang ingin pergi meninggalkan jasadnya yang terasa lebih ringan. Kenyataan membuatnya menolak seperti berperang dengan sosok yang menginginkan tubuhnya untuk pindah alam.
Teriakan menggema sampai tubuhnya terpental hebat. Namun, dalam batas kesadarannya, perjanjian seperti dibisikkan di telinga Nawang. Hawa panas membakar telinga, seketika gadis itu sontak terbangun. Bulir bening menetes dari pipi lalu disekanya.

Pagi itu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, pihak kampus mengajaknya ke luar kota. Senyum tipis menerpa wajah manis Nawang. Tanpa sadar ada kalimat terucap dari bibirnya dengan lirih.

"Sudah berapa kali, ya, aku ke sini?"

Tanpa disadari, ada bisikan yang menjawab, "Kamu sudah dua kali ke kota ini. 800 tahun yang lalu."

Spontan, Nawang tersentak dalam hati berkata, "Mistik lagi."

Bersambung.......

Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi*Omjay*

Minggu, 25 Oktober 2026

AKU SUKA BINTANG

AKU SUKA BINTANG

Karya: Sri Wulandari

Menyapa sahabat dari kejauhan,
Sahabat sunyi yang tak pernah bersuara.
Bintang berkedip di gugusan galaksi,
Sementara rembulan menggantung di singgasana langit.

Empat cahaya melesat membelah kesunyian
Bak cerita dongeng dari negeri kayangan
Menitipkan cerita dalam pelukan malam
Mengajak berbincang dan bercanda
Berbaring indah dalam dekapan malam
Aku suka bintang yang tak pernah lelah menebar cahaya
Aku suka karena ia menjadi teman dalam lamunan
Aku jatuh cinta pada cahayanya waktu kecil
Mencintai ciptaan-Nya adalah wujud syukur
Atas nikmat yang tertanam.

Sapeken, 25 Oktober 2025


Menulislah stiap hari dan buktikan yang terjadi*Omjay*

Bintang adalah sahabat dalam kesunyian. Meskipun jauh dan tak mampu berbicara, cahayanya menghadirkan teman bagi seseorang yang sedang berimajinasi.
Cahaya melesat melambangkan keajaiban kehidupan. Gambaran empat cahaya yang membelah malam membawa pembaca memasuki dunia fantasi yang indah, seolah-olah sedang menyaksikan dongeng dari negeri kayangan.


Kecintaan terhadap bintang menjadi jalan menuju rasa syukur. Pada bait terakhir, kekagumanmu terhadap keindahan langit tidak berhenti pada keindahan itu sendiri, tetapi mengarah pada kesadaran bahwa alam semesta merupakan ciptaan Tuhan yang patut disyukuri.

AKU INGIN MENULIS

                               Harapan
AKU INGIN MENULIS
Karya: Sri Wulandari

Saat aku berkata,
aku capek merangkai kalimat yang sempurna.
Aku lelah, tak mampu menulis apa-apa.
Aku belum sanggup menuliskan sesuatu yang bermanfaat.

Aku hanya berbisik kepada diri sendiri,
lekaslah membaik, wahai keadaan.
Sebab, sesungguhnya aku masih ingin menulis,
menuangkan kata demi kata,
merangkai makna dalam setiap aksara.

Aku ingin menulis.

Sapeken, 24 Oktober 2026


Makna tersirat: Puisi ini menggambarkan seseorang yang sedang lelah dan belum mampu menuangkan pikirannya ke dalam tulisan. Namun, di balik kelelahan itu, keinginan untuk menulis masih tetap hidup. Ada harapan sederhana agar keadaan segera membaik, sehingga jemari dan pikiran kembali mampu merangkai kata menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Sebab, terkadang bukan keinginan menulis yang hilang, melainkan diri yang sedang membutuhkan waktu untuk kembali pulih.
Menulislah Setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.

Jumat, 23 Oktober 2026

SAAT FITNAH MENGHUJAM DADA

SAAT FITNAH MENGHUJAM DADA

Oleh: Sri Wulandari

Ketika Tempat Mencari Nafkah Berubah Menjadi Ruang yang Melukai

Para sahabat pembaca, pernahkah kalian merasakan bagaimana rasanya ketika fitnah menghujam dada?

Ketika nama baik dipertaruhkan, ketulusan disalahartikan, dan perkataan orang lain perlahan mengusik ketenangan hati. Rasanya mungkin campur aduk, seperti menikmati rasa nano-nano: ada kecewa, marah, sedih, bingung, bahkan terkadang muncul pertanyaan, "Apa salahku hingga harus mengalami semua ini?"

Di tengah dunia yang serba instan, ketika informasi menyebar begitu cepat dan media sosial terkadang menjadi panggung penghakiman, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kebenaran tidak selalu mendapatkan tempat pertama. Ada kalanya fitnah lebih dahulu dipercaya, sedangkan klarifikasi justru datang belakangan.

Lebih menyakitkan lagi ketika semua itu terjadi di tempat kita mencari nafkah, mengabdi, berkarya, dan membangun jenjang karier.

Bayangkan jika keadaan tersebut berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Bagaimana seseorang harus bertahan ketika tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh justru menjadi sumber tekanan batin?

Lantas, apakah kita harus terus bertahan dalam diam? Membalas perlakuan buruk dengan perlakuan yang sama? Atau meninggalkan semuanya tanpa memikirkan masa depan?

Mari kita kupas bersama. Sebab, menghadapi fitnah bukan hanya tentang membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan juga tentang menjaga martabat, kesehatan psikologis, dan masa depan kita.

1. Jangan Biarkan Fitnah Menentukan Nilai Dirimu

Hal pertama yang perlu kita pahami adalah bahwa penilaian orang lain tidak selalu mencerminkan siapa diri kita sebenarnya.

Ketika seseorang menyebarkan cerita yang tidak benar tentang kita, jangan terburu-buru menganggap seluruh perjuangan kita menjadi sia-sia.

Kita tidak bisa mengendalikan setiap perkataan orang, tetapi kita masih bisa mengendalikan cara meresponsnya.

Tetaplah mengevaluasi diri dengan jujur. Jika memang ada kesalahan, perbaikilah. Namun, jika tuduhan itu tidak benar, kita tidak harus mengakui sesuatu yang tidak pernah kita lakukan hanya demi menyenangkan orang lain.

Ingatlah, introspeksi adalah bentuk kedewasaan, sedangkan menyalahkan diri atas semua perlakuan buruk orang lain bukanlah kewajiban.

2. Jangan Terjebak dalam Permainan Lingkungan Toxic

Lingkungan kerja yang tidak sehat dapat ditandai dengan kebiasaan merendahkan, menyebarkan gosip, mengucilkan seseorang, melakukan intimidasi, atau memperlakukan orang secara tidak adil.

Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa setiap perbedaan pendapat merupakan tindakan toxic.

Amatilah pola perilakunya, bukan hanya satu kejadian.

Jika perlakuan buruk terus berulang, jangan ikut terlibat dalam lingkaran gosip. Hindari membalas fitnah dengan fitnah. Jangan pula menjadikan media sosial sebagai tempat meluapkan kemarahan yang justru dapat memperburuk keadaan, namun justru kadang itu terjadi pada beberapa jiwa yang memang berbeda.

Bersikap tenang bukan berarti kita lemah. Diam sesaat untuk berpikir justru dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih tepat.

Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan untuk membuktikan bahwa kita memiliki harga diri.

3. Kumpulkan Fakta, Bukan Sekadar Menyimpan Luka

Ketika fitnah mulai memengaruhi pekerjaan dan nama baik, kita membutuhkan lebih dari sekadar kesabaran.

Kita membutuhkan bukti dan langkah yang terukur.

Catat kejadian yang relevan, seperti waktu, tempat, pihak yang terlibat, perkataan atau tindakan yang terjadi, serta dampaknya terhadap pekerjaan. Simpan pesan atau dokumen yang diperoleh secara sah dan relevan dengan persoalan tersebut.

Pisahkan fakta dari dugaan. Hindari menyebarkan informasi pribadi orang lain atau mengambil dokumen yang tidak berhak kita akses.

Jika persoalan mulai mengganggu pekerjaan, sampaikan keberatan melalui jalur yang tepat, seperti atasan yang dapat dipercaya, bagian sumber daya manusia, perwakilan pekerja, atau pihak berwenang sesuai dengan masalahnya, namun itu sulit bukan apalagi disesuaikan terhadap lingkup yang tidak sesuai.

Sampaikan persoalan berdasarkan kejadian yang dapat dijelaskan, bukan semata-mata berdasarkan kemarahan.

Dengan demikian, kita tidak hanya melindungi diri, tetapi juga memberi kesempatan kepada pihak yang berwenang untuk menilai persoalan secara objektif, kembali lagi belum tentu bisa membuat semua berubah , bahkan bisa lebih besar lagi, mereka mampu  menyusun pola  halus dalam menumbangkan orang-orang yang mereka anggap ancaman atau yang tidak bisa diajak  bersama dalam sesuatu lebih besar.

4. Jagalah Kesehatan Mental dan Psikologismu

Sahabat pembaca, ada satu hal yang sering kita lupakan ketika terlalu sibuk mempertahankan pekerjaan dan nama baik: diri kita sendiri.

Kita berusaha terlihat kuat di hadapan orang lain. Kita tetap tersenyum ketika bekerja. Kita berusaha menjalankan tanggung jawab sebaik mungkin, meskipun pikiran masih dipenuhi persoalan yang belum selesai.

Namun, apakah kita pernah bertanya kepada diri sendiri, "Sampai kapan aku harus memendam semuanya seorang diri?"

Tekanan yang berlangsung lama dapat memengaruhi tidur, konsentrasi, suasana hati, hubungan dengan keluarga, dan kemampuan menikmati kehidupan sehari-hari.

Karena itu, jangan abaikan perubahan yang terjadi pada dirimu.

Berikan waktu untuk beristirahat. Pertahankan hubungan dengan orang-orang yang membuatmu merasa aman. Ceritakan persoalan kepada seseorang yang dapat dipercaya tanpa harus membuka masalah pribadi kepada semua orang.

Jika tekanan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk mencari bantuan psikolog atau tenaga profesional yang sesuai.

Meminta bantuan bukan tanda kegagalan. Justru, itu merupakan salah satu bentuk keberanian untuk menjaga diri.

Pekerjaan memang penting, tetapi kesehatan dan kehidupanmu jauh lebih luas daripada jabatan yang sedang kamu perjuangkan.

5. Bertahanlah dengan Strategi, Bukan dengan Mengorbankan Diri

Ada orang yang memilih bertahan karena tanggung jawab terhadap keluarga. Ada yang masih ingin menyelesaikan pengabdian. Ada pula yang sedang memperjuangkan jenjang karier dan belum memiliki pilihan pekerjaan lain.

Semua pertimbangan tersebut layak dihormati.

Namun, bertahan tidak berarti kita harus menerima segala perlakuan tanpa batas.

Mulailah menyusun langkah yang realistis.

Pertama, tetapkan batas profesional. Jalankan tugas sesuai tanggung jawab, hindari konflik yang tidak perlu, dan gunakan komunikasi yang jelas serta sopan.

Kedua, cari dukungan yang aman. Temukan rekan kerja, mentor, atau pihak yang dapat membantu menilai persoalan secara objektif.

Ketiga, perkuat kemampuan dan rekam jejak profesional. Simpan hasil pekerjaan, pencapaian, sertifikat, serta dokumen karier yang memang boleh kamu miliki.

Keempat, bangun pilihan. Pelajari peluang kerja lain, tingkatkan keterampilan, dan susun perencanaan keuangan sesuai kemampuan.

Dengan memiliki pilihan, kita tidak lagi merasa bahwa satu-satunya jalan adalah bertahan dalam keadaan yang menyakitkan.

Jika lingkungan kerja terus membahayakan kesejahteraanmu dan tidak menunjukkan perbaikan, mempertimbangkan mutasi, mencari tempat kerja lain, atau mengajukan pengaduan resmi bukanlah bentuk kekalahan.

Terkadang, keberanian bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang mengetahui kapan kita perlu mengambil jalan yang berbeda.

6. Jangan Membalas Fitnah dengan Fitnah

Ketika merasa diperlakukan tidak adil, keinginan untuk membalas mungkin muncul. Kita ingin orang lain mengetahui kebenaran. Kita ingin nama baik kembali pulih.

Namun, berhati-hatilah.

Jangan sampai usaha membela diri justru menjerumuskan kita ke dalam persoalan baru.

Sampaikan klarifikasi secara proporsional kepada pihak yang berkepentingan. Gunakan bahasa yang tenang dan bukti yang relevan. Hindari menyebut nama, menyebarkan tuduhan yang belum terverifikasi, atau membuka persoalan pribadi seseorang di ruang publik.

Kita berhak membela diri, tetapi pembelaan diri tetap perlu dilakukan secara bertanggung jawab.

Tidak semua persoalan harus diselesaikan di hadapan penonton. Sebagian masalah lebih tepat diselesaikan melalui dialog, mediasi, atau mekanisme pengaduan yang tersedia.

Jangan biarkan perilaku buruk orang lain mengubah kita menjadi pribadi yang juga menyakiti orang lain.

7. Jika Sudah Bertahun-Tahun, Apakah Kita Masih Harus Bertahan?

Inilah pertanyaan yang mungkin paling berat.

Bagaimana jika fitnah tidak berhenti? Bagaimana jika setiap hari kita harus memasuki ruangan yang sama dengan orang-orang yang membuat kita merasa tertekan? Bagaimana jika pekerjaan yang dahulu menjadi sumber kebanggaan kini justru menimbulkan kecemasan?

Jawabannya tidak selalu sama bagi setiap orang.

Jika masih ada ruang untuk memperbaiki keadaan, kita dapat mencoba komunikasi yang terarah, mediasi, atau pengaduan melalui prosedur yang berlaku.

Namun, jika berbagai upaya tidak membuahkan hasil, kita perlu mengevaluasi kembali biaya yang harus dibayar untuk tetap bertahan.

Apakah kondisi ini mulai mengganggu kesehatan? Apakah hubungan keluarga ikut terdampak? Apakah kesempatan berkembang semakin tertutup? Apakah ada alternatif yang lebih aman dan realistis?

Jangan mengambil keputusan besar hanya ketika emosi sedang memuncak. Susun pilihan, pertimbangkan konsekuensinya, dan mintalah pendapat dari orang yang dapat dipercaya.

Jika belum memungkinkan untuk pergi, buatlah rencana bertahap. Jika tersedia kesempatan untuk berpindah ke lingkungan yang lebih sehat, pertimbangkan dengan matang.

Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk langsung meninggalkan pekerjaannya. Karena itu, kita tidak boleh menghakimi seseorang yang masih bertahan, sebagaimana kita juga tidak boleh merendahkan seseorang yang akhirnya memilih pergi.

Setiap orang memiliki keadaan, tanggung jawab, dan batas kemampuan yang berbeda.

Yang terpenting, jangan sampai keinginan mempertahankan karier membuat kita mengabaikan kebutuhan untuk hidup dengan aman dan bermartabat.

8. Pelajaran Terbesar: Kita Tidak Bisa Mengendalikan Semua Orang

Pada akhirnya, hidup mengajarkan kita bahwa tidak semua orang akan memahami niat baik kita.

Ada yang melihat perjuangan kita sebagai inspirasi. Ada pula yang salah memahami langkah kita. Bahkan, terkadang orang yang bekerja bersama kita belum tentu mengenal seluruh cerita di balik perjuangan tersebut.

Namun, kita tidak harus menghabiskan seluruh energi untuk mengubah pandangan setiap orang.

Fokuslah pada hal-hal yang masih dapat kita kendalikan: integritas, kualitas pekerjaan, cara berkomunikasi, batas pribadi, serta keputusan yang kita ambil untuk masa depan.

Biarkan fakta berbicara melalui proses yang tepat. Biarkan waktu membantu kita menilai keadaan dengan lebih jernih.

Dan yang tidak kalah penting, tetaplah membuka diri untuk mengevaluasi kemungkinan bahwa kita pun memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki.

Sebab, menjadi korban perlakuan tidak adil tidak berarti kita berhenti belajar. Sebaliknya, pengalaman pahit dapat menjadi kesempatan untuk membangun keteguhan, kebijaksanaan, dan empati yang lebih besar.

PENUTUP: JANGAN KEHILANGAN DIRI DEMI MEMPERTAHANKAN TEMPAT

Sahabat pembaca yang saya hormati,

Jika hari ini kamu sedang menghadapi fitnah, jangan terburu-buru menyerah. Namun, jangan pula memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat.

Kamu berhak membela nama baikmu. Kamu berhak mendapatkan perlakuan yang adil. Kamu berhak bekerja dalam lingkungan yang menghormati martabat manusia.

Tetaplah menjadi pribadi yang berintegritas, tetapi belajarlah menetapkan batas. Tetaplah bertanggung jawab, tetapi jangan abaikan kesehatan diri. Tetaplah berusaha, tetapi jangan menutup mata terhadap pilihan lain yang mungkin lebih baik.

Sebab, hidup bukan hanya tentang berapa lama kita mampu bertahan di suatu tempat. Hidup juga tentang bagaimana kita menjaga nilai-nilai kemanusiaan selama menjalani perjalanan tersebut.

Jangan biarkan fitnah merampas keyakinanmu. Jangan biarkan lingkungan yang tidak sehat menentukan seluruh masa depanmu. Dan jangan mengukur keberhasilan hanya dari seberapa lama kamu sanggup bertahan dalam penderitaan.

Adakalanya kita perlu bertahan untuk memperjuangkan perubahan. Adakalanya kita perlu berbicara untuk menegakkan keadilan. Dan adakalanya kita perlu melangkah pergi demi membuka ruang bagi kehidupan yang lebih sehat.

Semoga kita semua diberikan kejernihan pikiran untuk membedakan kapan harus bersabar, kapan harus bersuara, dan kapan harus mengambil langkah baru.

Karena pada akhirnya, menjaga martabat bukan berarti memenangkan semua pertarungan, melainkan mampu menjalani hidup tanpa kehilangan integritas, harapan, dan kepedulian terhadap diri sendiri.

Salam bijak untuk kita semua.

Sri Wulandari

Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi* Omjay*

Kamis, 22 Oktober 2026

BERHENTI ATAU MENGEJAR



BERHENTI ATAU MENGEJAR
Karya: Sri Wulandari

Haruskah aku berhenti,
atau terus mengejar mimpi
yang memanggil dari seberang samudra,
sementara di dermaga hatiku,
ada cinta yang tak ingin kutinggalkan?

Aku menyusuri gelombang,
meski gentar menatap birunya kedalaman.
Ombak berulang kali menguji keberanian,
sedangkan jiwaku masih bertanya,
sanggupkah aku berlayar
tanpa kehilangan arah pulang?

Tuhan,
bolehkah sekali saja aku menawar takdir?
Aku melangkah dengan pikiran yang riuh,
namun tujuan masih samar di kejauhan.
Aku mengejar sesuatu yang bahkan kutakuti,
menantang badai yang tak pernah kupinta,
hanya agar suatu hari
aku dapat membuktikan bahwa aku mampu.

Namun, untuk apa segala pencapaian
jika senyum bintang-bintang malamku meredup?
Untuk apa jauh melintasi lautan
jika hangatnya rumah hanya tinggal kenangan?

Anak-anakku,
kalian adalah cahaya yang menuntunku pulang.
Keluargaku,
kalian adalah pelabuhan tempat lelahku bersandar.
Bagaimana mungkin aku mengejar matahari
jika harus membiarkan cahaya rumahku
kehilangan hangatnya?

Tuhan, Engkau mendengar doa yang kupanjatkan.
Ketika kuminta sebuah pilihan,
jawaban itu datang sebagai jalan
yang perlahan membuka gerbang harapan.
Di sanalah perjalanan panjang bermula,
perjalanan yang selama puluhan tahun
menyalakan bara di relung hati.

Kini aku mengerti,
tak semua badai harus ditaklukkan,
tak semua mimpi harus dikejar dengan berlari.
Ada saatnya kita perlu berhenti,
menimbang arah, mendengarkan hati,
lalu kembali melangkah dengan keyakinan.

Sebab mimpi bukan sekadar tempat tujuan,
bukan pula piala untuk dibanggakan.
Mimpi adalah perjalanan menemukan arti,
tentang keberanian menjaga harapan
tanpa kehilangan alasan untuk pulang.

Maka, Tuhan,
jika kelak kakiku lelah menembus gelombang, ingatkan aku pada cahaya di dermaga.
Biarkan aku tetap mengejar mimpi,
tetapi jangan biarkan aku lupa
siapa yang selama ini menjadi alasan
mengapa aku ingin sampai.

Sapeken, 21 Oktober 2026

 Makna yang tersirat dalam puisi

1. Samudra dan gelombang
Melambangkan perjuangan mengejar mimpi yang penuh ketidakpastian, ketakutan, dan tantangan.

2. Badai yang tak pernah kauinginkan
Menggambarkan keadaan sulit yang sebenarnya tidak ingin kauhadapi, tetapi harus kaujalani demi sebuah tujuan.

3. Bintang-bintang malam
Menjadi metafora anak-anak dan keluarga yang menerangi hidupmu. Mereka bukan penghalang mimpi, melainkan alasan terpenting di balik setiap langkahmu.

4. Bara yang menyala selama puluhan tahun
Melambangkan perjuangan panjang, kesabaran, dan harapan yang tetap hidup meskipun berkali-kali diuji oleh keadaan.

5. Pelabuhan dan jalan pulang
Mengandung pesan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang pergi, tetapi juga tentang bagaimana ia tetap menjaga cinta dan tidak melupakan tempatnya berlabuh.

Kekuatan justru sepenuhnya terjawab: haruskah berhenti demi yang terkasih, atau terus mengejar mimpi yang telah lama diperjuangkan?

Tidak harus memilih antara mencintai keluarga dan memiliki cita-cita. Tantangannya adalah menemukan cara agar keduanya tetap mendapat tempat dalam perjalanan hidupmu.

Sebab, mimpi yang indah bukan hanya mimpi yang berhasil kita raih, melainkan mimpi yang kita perjuangkan tanpa kehilangan hal-hal yang paling kita cintai.

Menulislah Setiap hari buktikan yang akan terjadi.manta Omjay.



Selasa, 20 Oktober 2026

HARI SANTRI DI RUANG KELAS

HARI SANTRI DI RUANG KELAS

Menanamkan Iman, Mengenang Perjuangan

Karya: Sri Wulandari
Sapeken, 20 Oktober 2026

Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan yang ditandai dengan upacara atau kegiatan seremonial. Di balik peringatan ini, terdapat sejarah perjuangan, nilai keagamaan, dan semangat cinta Tanah Air yang perlu diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, mengenalkan makna Hari Santri kepada peserta didik sejak dini merupakan bagian penting dari pendidikan karakter.


Berdasarkan Surat Edaran Nomor 41 Tahun 2026 tentang Memperingati Hari Santri Nasional, Pemerintah Kabupaten Sumenep menetapkan pelaksanaan peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026. Sementara itu, kegiatan mengenakan pakaian yang telah ditentukan dalam surat edaran dilaksanakan mulai 19 hingga 22 Oktober 2026, selama empat hari berturut-turut.

Di sekolah kami, SDN Sapeken 2, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Namun, peringatan Hari Santri menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik, khususnya anak-anak kelas IV yang menjadi bagian dari perjalanan mengajarku.

Seperti biasa, setelah mengikuti upacara bendera, kami kembali ke ruang kelas. Aku menyambut anak-anak dengan sapaan hangat, kemudian mengajak mereka berdoa sebelum memulai pembelajaran.

Setelah berdoa, kami melanjutkan kegiatap dengan membaca tiga surah Qul. Kebiasaan ini kami lakukan agar anak-anak terbiasa membaca dan menghafal ayat-ayat Al-Qur'an. Sebagian besar peserta didik di kelasku telah menggunakan Al-Qur'an, meskipun masih ada beberapa anak yang belajar menggunakan Iqra.


Bagiku, membiasakan anak-anak membaca ayat suci bukan sekadar rutinitas sebelum belajar. Ada harapan besar yang kutitipkan di dalamnya. Aku ingin ayat-ayat yang mereka baca hari ini melekat dalam ingatan dan menjadi bekal kehidupan mereka kelak.

Semoga kebiasaan sederhana ini terus tumbuh hingga mereka dewasa. Setelah terbiasa membaca tiga surah Qul, aku berharap mereka dapat melanjutkan hafalan dengan ayat Kursi dan surah-surah lainnya sesuai kemampuan masing-masing.

Sebagai seorang guru, aku menyadari bahwa setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda. Karena itu, mereka perlu dibimbing dengan sabar dan diberi kesempatan untuk berkembang. Pendidikan bukan hanya tentang seberapa cepat anak menguasai pelajaran, melainkan juga tentang bagaimana kebiasaan baik ditanamkan secara berkelanjutan.

Peringatan Hari Santri juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan sejarah perjuangan para santri kepada anak-anak. Aku berencana menghadirkan kegiatan kuis yang menarik agar mereka lebih bersemangat mengenal siapa itu santri, bagaimana perjuangannya, dan mengapa Hari Santri perlu diperingati.

Melalui kegiatan sederhana tersebut, aku ingin anak-anak memahami bahwa para santri dan ulama memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Semangat keagamaan, keberanian, pengorbanan, dan kecintaan kepada Tanah Air merupakan nilai-nilai luhur yang patut kita teladani.

Hari Santri mengingatkan kita bahwa pendidikan agama dan pendidikan kebangsaan dapat berjalan beriringan. Anak-anak perlu tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, menghargai perbedaan, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan bangsanya.

Ada pula perasaan haru yang menyertai perjalanan kami di kelas IV. Waktu terus berjalan, dan suatu saat nanti anak-anak akan naik ke kelas V. Kebersamaan yang kami jalani hari ini akan menjadi bagian dari kenangan perjalanan pendidikan mereka.


Aku ingin setiap pertemuan meninggalkan sesuatu yang bermakna. Bukan hanya pengetahuan dari buku pelajaran, melainkan juga kebiasaan baik, nilai keimanan, dan semangat untuk terus belajar.

Bagiku, memperingati Hari Santri bukan semata-mata tentang mengenakan pakaian tertentu atau mengikuti kegiatan selama beberapa hari. Makna yang lebih dalam adalah bagaimana kita meneruskan semangat perjuangan para pendahulu melalui pendidikan, keteladanan, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dari ruang kelas sederhana di sekolah pesisir ini, aku belajar bahwa menanamkan nilai-nilai luhur tidak harus menunggu kegiatan besar. Semuanya dapat dimulai dari doa bersama, lantunan ayat suci, sapaan seorang guru, dan percakapan sederhana tentang sejarah perjuangan bangsa.


Hari Santri boleh diperingati selama beberapa hari, tetapi semangatnya semestinya hidup sepanjang tahun. Mengenang perjuangan adalah cara kita menghargai masa lalu, sedangkan menanamkan nilai-nilainya kepada anak-anak adalah cara kita menyiapkan masa depan Indonesia.


Pesan yang ingin kusampaikan melalui tulisan ini:

Hari Santri perlu diperingati agar generasi muda mengenal sejarah perjuangan para santri dan ulama, menghargai jasa para pendahulu, serta menumbuhkan kecintaan kepada agama dan Tanah Air. Di sekolah, peringatan ini dapat menjadi sarana pendidikan karakter melalui kebiasaan baik, pembelajaran sejarah, dan keteladanan guru.

Sebab, pendidikan yang bermakna bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menumbuhkan iman, membentuk akhlak, dan menyiapkan generasi yang mampu membawa kebaikan bagi bangsa.

Salam literasi dari sekolah pesisir.

Sri Wulandari


Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi *OMJAY* https://wija

yalabs.com

Senin, 19 Oktober 2026

REFLEKSI DIRI_PELUKAN YANG KUTITIPKAN DALAM DOA

PELUKAN YANG KUTITIPKAN DALAM DOA

Refleksi Diri
Karya: Sri Wulandari

Ada kehilangan yang tidak selesai hanya karena waktu terus berjalan. Hari berganti, pekerjaan tetap menunggu, dan kehidupan harus diteruskan. Namun, di antara kesibukan itu, ada satu ruang dalam hati yang tetap menyimpan nama seseorang Ibu.
Sejak Ibu pergi, aku belajar bahwa kehilangan bukan sekadar tentang seseorang yang tidak lagi dapat kita temui. Kehilangan juga tentang hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa, tetapi kini menjadi sesuatu yang sangat ingin kuulangi.

Aku merindukan kesempatan untuk duduk di sampingnya. Aku ingin merawatnya dengan lebih sabar, mendengarkan keluhannya tanpa tergesa-gesa, dan memenuhi keinginannya selama aku masih mampu. Keinginan Ibu untuk pergi ke Tanah Suci pun masih tersimpan dalam ingatanku. Ketika sakit datang, rencana itu belum sempat terwujud. Aku hanya dapat mengirimkan sebuah foto sebagai ungkapan kasih yang tidak sepenuhnya mampu menggantikan keinginannya.
Dari sana, aku mulai memahami bahwa niat baik saja terkadang tidak cukup. Kasih sayang juga membutuhkan waktu, perhatian, dan tindakan. Kita mungkin merasa masih memiliki hari esok, padahal tidak pernah benar-benar mengetahui berapa banyak waktu yang tersisa bersama seseorang.

Mimpi-mimpi tentang Ibu datang silih berganti. Ada pertemuan yang membuatku bahagia, ada pula perpisahan yang membuatku terbangun dengan air mata. Dalam salah satu mimpi, aku ingin membawanya pergi sebentar, tetapi waktu berkunjung telah berakhir. Aku tidak berhasil mengajaknya keluar.

Aku tidak tahu apa arti mimpi itu. Aku tidak ingin menafsirkannya terlalu jauh. Namun, setiap kali mengingatnya, aku menyadari betapa besar keinginanku untuk kembali melakukan hal-hal yang dahulu masih mungkin kulakukan.

Mungkin yang kurindukan bukan hanya kehadiran Ibu, melainkan juga kesempatan untuk memperbaiki diriku sendiri.
Aku pernah merasa belum cukup sabar ketika merawatnya. Penyesalan itu kadang muncul tanpa diminta. Seandainya waktu dapat diputar kembali, tentu ada banyak hal yang ingin aku ubah. Akan tetapi, hidup tidak memberi kesempatan untuk mengulang masa lalu sesuka hati.

Aku hanya dapat belajar dari apa yang telah terjadi.
Ketika akhirnya aku menziarahi makam Ibu dan melihat pusaranya perlu dirapikan, aku berusaha melakukan sesuatu yang masih bisa kulakukan. Aku memesan pasir dan mengajak beberapa murid membantu membawanya. Kami merapikan makam itu bersama-sama.
Pekerjaan sederhana tersebut tidak mengembalikan Ibu. Namun, saat itu aku merasa telah menunaikan sesuatu yang lama mengganjal di hati. Aku pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang, meskipun kerinduan tetap tinggal.

Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa cinta tidak selalu dapat diwujudkan dalam bentuk yang kita inginkan. Ada hal-hal yang dahulu bisa dilakukan secara langsung, tetapi setelah seseorang berpulang, hanya dapat diteruskan melalui doa, kenangan, dan kebaikan.

Aku juga mulai memahami bahwa penyesalan tidak seharusnya membuatku terus menghukum diri sendiri. Aku memang memiliki kekurangan. Ada sikap yang mungkin kurang tepat, ada kesabaran yang belum sempurna, dan ada keinginan yang belum sempat kupenuhi. Namun, aku tidak dapat mengubah semuanya dengan terus menyalahkan diri.

Yang masih bisa aku lakukan adalah memohon ampun kepada Allah, mendoakan Ibu, dan memperbaiki sikapku kepada orang-orang yang masih berada di dekatku.
Kini, aku ingin belajar lebih sabar kepada keluarga, lebih sungguh-sungguh mendengarkan orang lain, dan tidak menunda kebaikan hanya karena merasa masih ada waktu. Aku tidak ingin menunggu kehilangan berikutnya untuk menyadari betapa berharganya sebuah kehadiran.

Barangkali itulah pelajaran paling sunyi yang kuterima dari kepergian Ibu. 
Kasih sayang perlu diungkapkan ketika kesempatan masih ada.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti rinduku akan terasa lebih ringan. Mungkin aku hanya akan belajar menjalani hari-hari dengan membawa kenangan itu secara lebih tenang. Aku akan tetap mengingat Ibu, tetapi aku juga harus melanjutkan hidup dan menjaga kebaikan yang pernah tumbuh dalam diriku.

Jika suatu malam kami kembali bertemu dalam mimpi, aku ingin menyapanya tanpa tergesa-gesa. Aku ingin mengatakan bahwa aku masih merindukannya, bahwa aku berterima kasih atas segala yang pernah diberikannya, dan bahwa aku sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Namun, selama pertemuan itu belum datang, aku akan menitipkan pelukan melalui doa.

Untuk Ibu, semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya. Semoga segala kebaikan yang pernah Ibu tanamkan terus tumbuh melalui langkah-langkah kecil yang kulakukan.

Dan untuk diriku sendiri, aku ingin mengingat satu hal, masa lalu memang tidak dapat dibuka kembali, tetapi hari ini masih memberi kesempatan untuk berbuat baik.
Sebab, ketika pelukan tak lagi dapat kusampaikan, kasih sayang masih dapat kuteruskan melalui doa dan kebaikan.


Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi**OMJAY** https://Wijayalabs.com

Minggu, 18 Oktober 2026

Ketika ilmu lebih berharga dari pada kekuasaan

Ketika Ilmu Lebih Berharga daripada Kekuasaan

Menelusuri Hikmah Kisah Asif bin Barkhiya pada Masa Nabi Sulaiman

Oleh: Sri Wulandari

Ada kisah dalam Al-Qur'an yang mengajak manusia memandang ilmu dari sudut yang berbeda. Bukan sekadar pengetahuan untuk menjawab pertanyaan, bukan pula kemampuan untuk menunjukkan kehebatan diri, melainkan ilmu yang menuntun manusia mengenali keterbatasannya di hadapan kebesaran Allah.
Kisah itu hadir dalam peristiwa pemindahan singgasana Ratu Balqis pada masa Nabi Sulaiman.

Dalam Surah An-Naml ayat 38–40, Nabi Sulaiman bertanya kepada para pembesarnya tentang siapa yang mampu mendatangkan singgasana Ratu Balqis sebelum kedatangannya. Seorang jin yang kuat menawarkan kemampuannya untuk membawa singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Namun, seseorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab menyatakan sanggup mendatangkannya sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip.

Atas izin Allah, singgasana itu pun telah berada di hadapan Nabi Sulaiman.

Sosok yang disebut dalam ayat tersebut dikenal dalam sejumlah kitab tafsir sebagai Asif bin Barkhiya. Akan tetapi, Al-Qur'an sendiri tidak menyebutkan namanya secara langsung. Yang ditonjolkan justru ilmu yang dimilikinya.

Di sinilah renungan itu bermula.

Mengapa Al-Qur'an menonjolkan ilmu, bukan nama dan kemasyhuran orang tersebut? Bukankah manusia sering kali lebih tertarik mengingat siapa yang melakukan sesuatu daripada memahami pelajaran di balik peristiwa itu?

Mungkin kita perlu berhenti sejenak untuk melihatnya lebih dalam. Dalam kehidupan, manusia kerap mengukur kehebatan melalui jabatan, kekayaan, kekuatan, dan pengakuan. Padahal, semua itu tidak selalu menunjukkan kedalaman pemahaman seseorang. Ada orang yang memiliki kedudukan tinggi, tetapi belum tentu mampu merendahkan hatinya. Ada pula orang yang memiliki pengetahuan luas, tetapi belum tentu menggunakannya untuk kebaikan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa ilmu bukanlah alasan untuk meninggikan diri. Ilmu seharusnya menjadi jalan untuk mengenali batas kemampuan manusia dan memahami betapa luasnya kuasa Allah.

Hal itu semakin jelas ketika Nabi Sulaiman melihat singgasana tersebut telah berada di hadapannya. Beliau tidak menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk menyombongkan kerajaan atau kekuasaannya. Sebaliknya, beliau berkata:

"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya." (QS. An-Naml: 40)

Betapa dalam makna perkataan tersebut. Sesuatu yang luar biasa tidak selalu menjadi alasan untuk berbangga diri. Ia juga dapat menjadi ujian: apakah manusia semakin dekat kepada Allah atau justru merasa bahwa segala sesuatu terjadi semata-mata karena kehebatannya sendiri?

Dari sinilah kita dapat memahami hubungan antara ilmu, iman, dan rasa syukur. Ilmu membantu manusia memahami, iman menuntun arah langkahnya, sedangkan syukur menjaga hatinya agar tidak dikuasai kesombongan.
Sebagian ulama mengaitkan kisah Asif dengan Ismullah al-A'zham, yakni Nama Allah Yang Paling Agung, yang disebut dalam sejumlah hadis tentang doa. Namun, identitas pasti orang tersebut dan nama Allah yang digunakannya tidak dinyatakan secara tegas dalam ayat tersebut. Karena itu, kita tidak perlu mengubah bagian yang belum pasti menjadi sebuah kepastian. Justru sikap jujur terhadap keterbatasan pengetahuan merupakan bagian dari adab dalam mencari ilmu.

Lalu, apa makna kisah ini bagi kehidupan kita hari ini?

Sebagai seorang pendidik, saya melihat bahwa ilmu yang berharga bukan hanya ilmu yang membuat seseorang mampu menjawab soal atau meraih penghargaan. Ilmu juga perlu menumbuhkan kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan kerendahan hati. Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan menjadi pintar. Mereka juga perlu dibimbing agar memahami untuk apa kepintaran itu digunakan.

Sebab, kecerdasan tanpa tanggung jawab dapat kehilangan arah. Prestasi tanpa rasa syukur dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang disertai akhlak dapat menjadi cahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

Kita mungkin tidak memiliki kerajaan seperti Nabi Sulaiman. Kita pun tidak mengetahui seluruh rahasia yang terkandung dalam kisah Asif bin Barkhiya. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan menggunakan pengetahuan demi kebaikan.

Pada akhirnya, kebesaran manusia tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak hal yang mampu dikuasainya, tetapi juga oleh bagaimana ia bersikap setelah memperoleh pengetahuan dan keberhasilan.

Sebab, ilmu yang sejati bukan hanya membuat manusia semakin banyak mengetahui. Ilmu juga mengajarkannya menyadari betapa banyak hal yang belum ia ketahui.

Dan ketika pengetahuan itu membuat hati semakin rendah di hadapan Allah, barangkali di situlah salah satu makna terdalam dari sebuah ilmu: bukan untuk membuat manusia merasa paling hebat, melainkan untuk membimbingnya semakin mengenal kebesaran Tuhan.
Penutup

Ketika Ilmu Menuntun Hati Kembali kepada Allah

Pada akhirnya, kisah Asif bin Barkhiya mengajak kita memahami bahwa tidak semua kehebatan harus disertai kemasyhuran. Ada ilmu yang tidak mencari pujian, ada pengabdian yang tidak menuntut pengakuan, dan ada hati yang semakin mengenal kebesaran Allah justru semakin menyadari keterbatasan dirinya.

Singgasana Ratu Balqis mungkin menjadi bagian paling menakjubkan dari kisah ini. Namun, bagi saya, pelajaran yang paling berharga terletak pada cara kita memandang ilmu dan karunia. Sebab, sehebat apa pun kemampuan manusia, tetap ada batas yang tidak dapat dilampauinya. Dan setinggi apa pun pengetahuan yang diraihnya, selalu ada ilmu Allah yang jauh lebih luas daripada apa yang sanggup dipahaminya.

Sebagai manusia, kita tidak harus menjadi sosok luar biasa untuk memberikan makna bagi kehidupan. Kita hanya perlu belajar dengan sungguh-sungguh, menggunakan ilmu untuk kebaikan, menjaga hati dari kesombongan, dan mensyukuri setiap kesempatan yang Allah berikan.

Barangkali, kita tidak akan pernah mengetahui seluruh rahasia yang tersimpan di balik kisah Asif bin Barkhiya. Namun, kita dapat membawa pulang satu pelajaran penting: jangan biarkan ilmu membuat kita merasa paling tinggi, tetapi biarkan ilmu menuntun kita untuk semakin rendah hati.

Sebab, ilmu yang sejati bukan hanya menerangi pikiran, melainkan juga membimbing hati agar mengenali jalan kebenaran.

Dan ketika kelak segala pencapaian tak lagi disebutkan, penghargaan tak lagi dikenang, serta nama kita perlahan dilupakan, semoga kebaikan yang lahir dari ilmu tetap hidup dalam diri orang lain.

Sebab, kemuliaan ilmu bukan terletak pada seberapa hebat seseorang terlihat di hadapan manusia, melainkan pada seberapa besar ilmu itu membawanya kepada kebaikan dan mendekatkannya kepada Allah.

Semoga kita menjadi manusia yang tidak pernah berhenti belajar, tidak lelah menebar manfaat, dan tidak lupa bersyukur atas setiap ilmu yang dititipkan-Nya.

Penulis Sri Wulandari

Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi*Omjay*

Mengagumi

MENGAGUMI
Karya: Sri Wulandari

Mengintip di tirai jendela
Embusan lembut menyapa senyumku
Namamu sejukkan lerung jiwaku
Gelora kasih tak pernah mati
Ada rindu dalam senyummu
Gemerlap cahaya pelangi malam
Ukiran rindu bergantung membelenggu
Memahat kenangan abadi
Indah terukir nyata dalam jiwa

Sapeken, 17 Oktober 2026

MAKNA TERSIRAT PUISI “MENGAGUMI”
Puisi Mengagumi menggambarkan perasaan kagum terhadap seseorang yang meninggalkan kesan mendalam di dalam hati. Kekaguman itu tidak selalu harus diungkapkan melalui kata-kata. Terkadang, cukup dengan mengingat senyumnya, menyebut namanya dalam hati, atau menyimpan kenangan tentang kehadirannya.
1. Mengintip di tirai jendela
Menggambarkan seseorang yang diam-diam memperhatikan dari kejauhan. Tirai jendela menjadi simbol batas antara keinginan untuk mendekat dan keberanian untuk mengungkapkan perasaan.
2. Embusan lembut menyapa senyumku
Melambangkan kehadiran seseorang yang mampu menghadirkan kebahagiaan sederhana. Bahkan tanpa percakapan panjang, bayangan tentang dirinya dapat membuat hati terasa hangat.
3. Namamu sejukkan lerung jiwaku
Nama seseorang menjadi sumber ketenangan. Di tengah pikiran yang riuh, mengingatnya seolah menghadirkan kesejukan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
4. Gelora kasih tak pernah mati
Menggambarkan perasaan kagum yang tetap hidup meskipun waktu terus berjalan. Ada perasaan yang tidak mudah hilang karena telah meninggalkan jejak mendalam di dalam hati.
5. Ada rindu dalam senyummu
Senyum menjadi bahasa tanpa suara. Di baliknya, tersimpan kerinduan dan perasaan yang mungkin tidak pernah diungkapkan secara langsung.
6. Gemerlap cahaya pelangi malam
Melambangkan harapan dan keindahan yang hadir di tengah kesunyian. Seperti pelangi yang menghiasi langit, kekaguman mampu memberikan warna pada hari-hari yang terasa biasa.
7. Ukiran rindu bergantung membelenggu
Menggambarkan kenangan yang terus melekat dalam pikiran. Rindu terasa indah, tetapi terkadang juga membuat seseorang sulit melepaskan bayangan yang telah lama tersimpan.
8. Memahat kenangan abadi
Melambangkan kenangan yang terukir kuat dalam perjalanan hidup. Waktu mungkin berlalu, tetapi pengalaman dan perasaan tertentu tetap menjadi bagian dari kisah seseorang.
9. Indah terukir nyata dalam jiwa
Menegaskan bahwa kekaguman yang mendalam tidak hanya berhenti pada pandangan mata. Perasaan itu telah menjadi bagian dari jiwa, tersimpan sebagai pengalaman batin yang bermakna.

Mengagumi bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang menghargai kehadiran seseorang yang mampu menghadirkan arti dalam kehidupan kita.

Menulislah Setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.Omjay

Hunter moon

HUNTER’S MOON Ketika Langit Kehilangan Bintang 26 Oktober 2026 Malam itu, langit tampak berbeda. Tak ada bintang yang berkedip d...

STATEGI MENANGKAL HOAKS