Senin, 21 September 2026

Puisi_IBU

Ibu
Oleh: Sri Wulandari


Ibu ....
Engkau pelita yang menerangi gulita
Pejuang gigih dalam derita
Demi asap dapur yang tetap menyala
Kau perjuangkan tiap rupiah
Menjemput rezeki menantang lelah

Ibu ....
Di telapak kakimu surga berteduh
Doamu mengalir bagai sungai tanpa muara
Samudra kasih kau hamparkan luas
Bagi kami, anak-anak yang sering lupa
Namun kelembutanmu tetap memeluk jiwa

Ibu ....
Di usia senja tuturmu bergoyang oleh waktu
Namun kami yang dahulu kau dekap mesra
Kini berbalik seakan lupa
Menatapmu dengan amarah dan kecewa
Padahal kasihmu tak pernah sirna

Sapeken, 21 September 2026

Amanat yang tersirat yaitu

“Engkau pelita yang menerangi gulita”
Ibu digambarkan sebagai cahaya yang memberi arah ketika kehidupan berada dalam kesulitan.
“Demi asap dapur yang tetap menyala”
Menggambarkan perjuangan ibu memenuhi kebutuhan keluarga, meskipun harus menghadapi kelelahan dan kesulitan.

“Di telapak kakimu surga berteduh”
Mengandung penghormatan yang sangat dalam kepada seorang ibu. Sosok ibu ditempatkan sebagai manusia yang penuh pengorbanan dan kasih.

“Doamu mengalir bagai sungai tanpa muara”
Doa seorang ibu digambarkan tidak pernah berhenti dan tidak mengenal batas.
“Bagi kami, anak-anak yang sering lupa”
Ini menjadi titik refleksi: seorang anak terkadang baru menyadari pengorbanan ibu setelah waktu berjalan.

“Padahal kasihmu tak pernah sirna”
Inilah salah satu inti emosional puisi. Sikap anak dapat berubah, usia ibu dapat menua, tetapi kasih seorang ibu tetap a
*Amanat yang terkandung*

Puisi ini menyampaikan pesan agar anak tidak melupakan perjuangan, doa, pengorbanan, dan kasih sayang seorang ibu. Waktu akan membawa seorang ibu menuju usia senja, tetapi kasihnya kepada anak tidak ikut menua.
Karena itu, selama ibu masih ada, hargailah, lembutlah dalam bertutur, dengarkan nasihatnya, dan jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa besar arti kehadirannya.
Ada satu pesan yang terasa sangat kuat dari puisi ini:
Jangan sampai kita baru memahami cahaya seorang ibu setelah rumah kehidupan kita kehilangan pelitanya.

 AMANAT YANG KETIK PETIK

Awalnya kita melihat perjuangan ibu, kemudian merasakan kasihnya, lalu pada bait terakhir kita dihadapkan pada sebuah teguran untuk diri sendiri. Jadi, puisi ini bukan hanya puisi tentang ibu, tetapi juga puisi perenungan seorang anak tentang waktu dan penyesalan.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.http://Wijayalabs.comhttp://Wijayalabs.com

Minggu, 20 September 2026

Minggu bercerita


Minggu Bercerita
Oleh : Sri Wulandari

Minggu datang membawa cerita
Secerah warna langit membuka pagi
Aku menjalankan titah menunaikan tugas diamanahkan negeri
Meski sesekali hati ingin berhenti
dan berbicara kepada sunyi

Di antara yang tampak dan yang tak kasatmata
Aku belajar bahwa hidup tak selalu membutuhkan suara
Ada yang terasa hadir meski tak pernah terlihat
Ada yang hidup dalam ingatan meski telah lama berlalu

Maka hari ini aku belajar bersyukur
bukan karena semua cerita indah
melainkan dari setiap rahasia semesta
Allah mengajarkanku membaca makna.

Dulu aku adalah suara yang paling keras
Ketika luka mengetuk dada
Aku berteriak kepada keadaan
Mempertanyakan mengapa
air mata harus jatuh di wajah seorang ibu

Aku mengerti hidup sebuah naskah
Tapi manusia bukan penulis tunggalnya
Ada tangan Yang Maha Mengetahui
Menyusun pertemuan perpisahan air mata dan keheningan
dengan rahasia yang tak selalu mampu kita baca.

Namun ada satu cerita
Kala rasa setiap kali datang
Masih membuat dada bergetar
Darah tergores belati tipuan

Dialah tokoh pernah membuat seorang ibu menangis
Darah meninggi senyum berubah menjadi air mata
Luka meninggalkan jejak tak mudah dihapus waktu
Bukan karena aku belum ikhlas karena dia berani menghujamku

Aku hanya belajar memahami
bahwa ikhlas bukan berarti
mengatakan kesalahan sebagai kebenaran.
Memaafkan bukan berarti
membiarkan luka kembali
menjadi pintu bagi kesalahan yang sama.
Dunia mengajarkanku:
tidak semua orang berjalan
dengan pandangan yang sama.
Ada yang tak menyadari salahnya,
ada yang mencari celah
untuk kembali masuk
ke ruang yang pernah dirusaknya.

Lalu, haruskah aku membalas?

Tidak.

Biarlah waktu menjadi saksi.
Biarlah setiap langkah
menemui bayangannya sendiri.
Sebab hukum kehidupan
tak selalu datang dengan suara keras;
kadang ia hadir perlahan,
seperti gema yang kembali
kepada sumber suaranya.

Allah memang Maha Pengampun.

Tetapi jangan jadikan ampunan-Nya
sebagai tameng untuk mengulang kesalahan.
Pertobatan bukan sekadar kata
untuk membela diri,
melainkan keberanian
untuk mengakui, memperbaiki,
dan tidak kembali menyakiti
Namun apakah mampu jika kau memohon ampun padaku

Hari Minggu pun terus berjalan.

Aku kembali tersenyum,
meski pernah menangis.
Aku kembali bercerita,
meski pernah kehilangan kata.

Kini aku memilih diam bukan karena kalah
Melainkan karena percaya 
Bahwa keadilan tidak membutuhkan suaraku

Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengan mahluk itu
Semoga hatiku telah cukup luas
Untuk tidak membalas luka dengan luka

Sebab aku tidak ingin
menjadi tokoh antagonis
dalam cerita orang lain.

Aku ingin menjadi manusia yang pernah terluka
Memilih belajar dari luka pernah menangis
Namun tetap syukur dan pernah dikhianati
Namun tak kehilangan kepercayaan kepada Allah

Minggu bercerita pun usai
Yang tampak akan berlalu
Yang tak tampak akan tetap jadi makna didalamnya

Dan aku akhirnya mengerti
Tiidak semua cerita harus kita menangkan
Ada cerita yang cukup kita serahkan
Kepada Sang Pemilik cinta seluruh cerita
Karena sejati Allah tak menciptakan musuh 
Karena itu pertanyaan Allah kepada kita
Dia menciptakan manusia
Dengan hati pilihan dan jalan masing-masing

Lalu kehidupan mempertemukan kita
Dengan mereka yang melukai
Bukan selalu untuk menjadi lawan
Tapi mungkin untuk menjadi cermin

Sebab boleh jadi pertanyaan Allah bukanlah
Siapa yang telah menyakitimu
Melainkan Setelah kau disakiti
Akan menjadi manusia seperti apa
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi. https://Wijayalabs.com

Sabtu, 19 September 2026

Puisi_Malam


Malam
Oleh: Sri Wulandari


Gelap malam menyapa kalbu
Membawa bisikan rasa tentangmu
Aku terpaku di antara bintang-bintang
Menyaksikan kisah dua insan
yang pernah bertemu dalam pandang

Gelap malam menenun kerinduan
ditemani cahaya bintang dan rembulan
Di balik sunyi yang perlahan membiru
Sang Pencipta menyingkap kebesaran-Nya
Ajarkan hati mengenal syukur atas segala indah ciptaan-Nya

Malam memantulkan cahaya
Melintas lembut di wajah kekasihnya
Meneduhkan jiwa yang lama mencari
seakan membisikkan sebuah tanda
Bahwa ia telah ada meski tak selalu nyata di hadapan mata
Di kerajaan bintang yang bertebaran di awan
Malam bersahabat dengan rembulan
Di sana kutemukan wajah kekasih
yang penuh cahaya kerinduan
Menari bersama sunyi
dalam melodi keanggunan

Dan aku belajar dari malam
Gelap bukanlah akhir dari perjalanan
sebab selalu ada cahaya yang Tuhan titipkan
Rindu bukan sekadar rasa yang menggetarkan
Melainkan jalan bagi hati untuk mengenal cinta
Menghargai pertemuan menundukkan jiwa dalam syukur kepada Sang Pencipta

Sapeken, 19 September 2026

Pesan yang kita petik dari puisi ini, ketika malam membawa kerinduan, jangan hanya melihat gelapnya. Pandanglah bintang dan rembulan sebagai tanda bahwa Tuhan selalu menghadirkan cahaya. Cinta membuat hati merasa, tetapi syukur membuat hati memahami maknanya.

Ruh amanat puisinya paling kuat
di balik gelap ada cahaya, di balik rindu ada makna, dan di balik keindahan semesta ada kebesaran Sang Pencipta. 

Menulislah Setiap Hari Dan Buktikan Yang Akan Terjadi. https://Wijayalabs.com









puisi berjudul pagi

PAGI
Oleh: Sri Wulandari

Pagiku diiringi doa
Menunggu sang cahaya
Mengharap bintang kejora
Menemani senyum penuh makna

Laut saksi sang surya
Menampakkan keindahan cahaya
Sang bintang memudar
Meredup tertelan awan berpijar
Kubuka dengan senyuman
Berganti bersama harapan
Menjemput rezeki dengan impian
Bekerja demi sesuap makan

Berpeluh menetes di mata dan badan
Bercucuran penuh kelelahan
Apa daya dunia bukan di genggaman
Pelakon seperti cerita pewayangan

Sapeken, 18 September 2026


Refleksi Keseluruhan

Pagi bukan sekadar puisi tentang pagi.
sebuah puisi tentang manusia yang bangun setiap hari dan kembali bernegosiasi dengan kehidupan.
Pagi mengajarkan bahwa setiap hari adalah awal baru.

Bintang kejora mengajarkan bahwa harapan dapat hadir bahkan sebelum terang sempurna.
Laut mengajarkan keluasan dan ketabahan.
Keringat mengajarkan bahwa rezeki membutuhkan ikhtiar.

Wayang mengajarkan bahwa manusia tidak menggenggam seluruh alur cerita.
Tetapi selama cahaya masih datang dan napas masih diberi, peran itu masih layak dimainkan.
Dan kalimat refleksi yang paling cocok sebagai inti tulisan ini adalah

Aku mungkin tidak mampu menggenggam seluruh dunia, tetapi aku masih bisa menggenggam doa, menjemput rezeki dengan ikhtiar, dan menjaga cahaya harapan agar tetap menyala di dalam diri.”

Tentang bagaimana seseorang memilih untuk tetap berjalan meski mengetahui bahwa hidup tidak selalu berada dalam genggamannya.
Selalu bersama kalimat sakti ini berbunyi
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.

Jumat, 18 September 2026

Artikel Reflektif

Artikel reflektif 

Pagi itu, 17 September 2026, aktivitas di sekolah berjalan seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang membuat hari itu terasa berbeda. Kami mengenakan pakaian khas Jogja sebagai bagian dari kegiatan dan dokumentasi sekolah.
Di sela rutinitas pagi, kami mengabadikan beberapa momen bersama guru dan murid. Dokumentasi itu bukan sekadar foto bersama. Ada sebuah cerita besar di baliknya: tentang buku, karya, keberanian menulis, dan mimpi anak-anak yang mulai tumbuh.
Beberapa waktu sebelumnya, buku karya mereka telah sampai dari penerbit. Buku tersebut merupakan hasil dari kegiatan menulis yang mereka ikuti bersama KYM. Komunitas Yuk Menulis. Pada awalnya, mungkin bagi sebagian anak, memiliki buku yang memuat nama dan karya sendiri hanyalah sebuah angan-angan.
Namun, hari itu angan-angan tersebut berubah menjadi kenyataan.
Ketika buku dibagikan, wajah anak-anak memancarkan rasa kaget sekaligus bahagia. Binar mata mereka seolah berkata, “Ternyata aku bisa memiliki buku yang di dalamnya ada tulisanku sendiri.”
Saya melihat sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar buku.
Ada rasa percaya diri yang mulai tumbuh. Ada kebanggaan terhadap karya sendiri. Ada motivasi untuk kembali mencoba.
Bagi seorang guru, momen seperti ini sangat berarti. Sebab, pendidikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah buku sederhana mampu membuka pintu mimpi seorang anak.
Saya pun mengajak mereka untuk tidak berhenti sampai di sini.
“Ayo, kita ikut menulis lagi. Kita berkarya untuk kedua kalinya bersama Bapak Bupati dan Kadis, berkolaborasi bersama tim KYM.”
Ajakan itu saya sampaikan bukan semata-mata untuk mengejar sebuah penghargaan. Lebih dari itu, saya ingin anak-anak merasakan kembali prosesnya: membaca, berpikir, menulis, berkarya, dan berani menunjukkan hasil karyanya kepada dunia.
Hari itu, kamera memang mengabadikan guru dan murid dalam sebuah foto. Namun, sesungguhnya yang sedang kami abadikan jauh lebih besar dari pada sebuah gambar.
Kami sedang mengabadikan sebuah proses tumbuhnya mimpi.
Dari selembar tulisan menjadi sebuah buku.
Dari sebuah buku menjadi rasa percaya diri.
Dari rasa percaya diri lahirlah keberanian untuk berkarya kembali.
Semoga kegiatan menulis sesi kedua dapat berjalan maksimal dan menjadi ruang bagi anak-anak untuk terus menumbuhkan kreativitas serta kecintaan terhadap literasi.
Sebab, mungkin hari ini mereka hanya memegang sebuah buku.
Tetapi siapa tahu, suatu hari nanti mereka akan menjadi penulis yang menginspirasi banyak orang.
Dan saya percaya, setiap mimpi besar sering kali berawal dari satu langkah kecil: berani menulis.


Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.https:// wijayalabs.com

Rabu, 16 September 2026

Semangat Literasi dari Ujung Kepulauan

Semangat Literasi dari Ujung Kepulauan

Menjadi guru bukan sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Ada begitu banyak proses yang harus dilalui, terutama ketika kita ingin menumbuhkan budaya literasi pada peserta didik.

Bagi saya, kesempatan menjadi salah satu kandidat Guru Aktif Literasi Nasional (GAL) dalam rangkaian apresiasi IGINOS menjadi sebuah pengalaman yang sangat berarti. Sebuah penghargaan mungkin hanya terlihat sebagai hasil akhir, tetapi di baliknya ada proses panjang yang tidak selalu terlihat.

Saya masih mengingat bagaimana saya mendampingi anak-anak menyelesaikan berbagai tugas. Mulai dari melatih mereka membuat puisi, membuat video, hingga menyelesaikan tugas-tugas lainnya dengan tenggat waktu yang harus dipenuhi.

Sebagai guru kelas, semua itu tentu menyita waktu dan tenaga. Namun, ketika satu demi satu tugas akhirnya selesai, ada rasa lega yang sulit digambarkan.

Dalam hati saya bergumam,

"Ternyata saya bisa."

Bukan karena saya merasa paling hebat, tetapi karena saya menyadari bahwa sebuah pencapaian sering kali lahir dari keberanian untuk terus mencoba, meskipun prosesnya melelahkan.

Sembilan Nama dari Sumenep

Saya pernah mengetahui bahwa terdapat sembilan kandidat GAL dan GIL IGINOS dari perwakilan Sumenep yang masuk dalam apresiasi tersebut. Saya pun berusaha mencari informasi dan laman yang memuat daftar para kandidat itu. Namun, hingga kini saya belum menemukan kembali situs yang memuat daftar tersebut secara lengkap.

Yang membuat saya terharu, dalam pemberitaan Madura Post tentang penghargaan literasi nasional, Agus Dwi Saputra, yang saat itu menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, secara khusus menceritakan perjuangan guru-guru dari wilayah kepulauan.

Beliau menyampaikan bahwa beberapa guru rela menempuh perjalanan jauh, menggunakan perahu, bahkan berpindah pulau demi menghadiri acara secara langsung. Menurut beliau, kehadiran para guru tersebut menjadi bukti bahwa semangat literasi tidak mengenal batas jarak maupun medan.

Mendengar kisah itu, saya merasa perjuangan kecil yang saya lakukan ternyata memiliki makna yang lebih besar.

Mengejar Kapal, Mengejar Kesempatan

Ada satu cerita yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan.

Saat itu saya hendak menghadiri acara tersebut. Barang-barang saya sudah lebih dahulu berada di kapal penumpang Sabuk Nusantara 51. Karena hari Jumat, saya sempat kembali kerumah sebentar. Namun, ketika kembali ke pelabuhan, kapal ternyata sudah meninggalkan saya.

Panik? Tentu.

Resah? Apalagi.

Barang sudah berada di kapal, sementara saya masih tertinggal di daratan.

Namun, ternyata masih ada jalan.

Saya menemukan kapal yang melayani lintasan Sapeken–Kangean. Di dalamnya ada camat dan beberapa petugas lainnya. Saya pun ikut menumpang. Perjalanan dilanjutkan dengan harapan dapat mengejar Sabuk Nusantara 51 yang akan transit di Kepulauan Kangean.

Gelombang saat itu cukup besar. Tetapi semangat untuk menghadiri acara membuat saya terus berusaha.

Rasanya seperti sedang melakukan "kejar-kejaran" dengan kapal.

Sebuah pengalaman sederhana, tetapi menjadi kenangan yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan saya.

Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil menyusul kapal tersebut. Tiket yang sudah saya beli dari Sapeken masih berada di tangan. Ada rasa lega yang luar biasa ketika akhirnya saya bisa melanjutkan perjalanan.

Saat itu saya menyadari satu hal:

Kadang-kadang, perjalanan menuju sebuah kesempatan tidak kalah penting daripada penghargaan yang kita terima di akhir perjalanan.

Literasi Tidak Mengenal Jarak

Kisah perjalanan tersebut membuat saya semakin memahami makna literasi.

Literasi bukan hanya tentang membaca buku. Literasi juga tentang keberanian untuk belajar, mencoba, berkarya, dan berbagi. Bahkan perjalanan seorang guru dari pulau kecil menuju sebuah acara nasional pun dapat menjadi bagian dari cerita literasi.


Artikel Madura Post yang saya baca seolah mengabadikan perjuangan itu. Agus Dwi Saputra menyampaikan bahwa kehadiran guru-guru dari kepulauan menjadi bukti bahwa semangat literasi tidak mengenal batas jarak dan medan.

Kalimat tersebut terasa begitu dekat dengan perjalanan saya.

Saya berasal dari wilayah kepulauan. Untuk mencapai suatu tempat, terkadang bukan hanya membutuhkan kendaraan, tetapi juga keberanian menghadapi laut, waktu perjalanan, perubahan jadwal kapal, bahkan ketidakpastian di perjalanan.

Namun, semua itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkarya.

Senyum di Balik Lelah
Ketika perjuangan itu akhirnya mendapat apresiasi, saya tersenyum.

Bukan semata-mata karena sebuah gelar atau penghargaan, melainkan karena semua proses yang telah dilalui bersama peserta didik ternyata memiliki arti.

Saya teringat tugas-tugas yang dikerjakan anak-anak, puisi yang mereka tulis, video yang mereka buat, serta waktu yang kami curahkan bersama.

Di situlah saya memahami bahwa penghargaan sesungguhnya bukan hanya sebuah nama yang tercantum dalam daftar penerima apresiasi.

Penghargaan juga bisa berupa senyum seorang anak ketika berhasil menyelesaikan tugasnya.

Bisa berupa keberanian seorang peserta didik membaca puisinya.

Bisa berupa guru yang tetap mencoba meskipun lelah.

Dan bisa pula berupa sebuah perjalanan panjang dari pulau kecil untuk menghadiri sebuah kegiatan literasi.

Dari kepulauan, kami belajar bahwa jarak boleh jauh, tetapi semangat tidak boleh kalah.

Jika literasi adalah cahaya, maka biarlah cahaya itu terus menyala dari sekolah-sekolah kecil di pulau-pulau, menjangkau anak-anak, guru, dan siapa saja yang percaya bahwa membaca, menulis, dan berkarya mampu membuka jalan menuju masa depan.

Saya mungkin hanya seorang guru dari sebuah pulau kecil.

Namun hari itu saya belajar:
mimpi tidak pernah mengenal batas geografis.
Dan perjalanan mengejar kapal itu akhirnya bukan hanya tentang mengejar Sabuk Nusantara 51.

Saya sedang mengejar sebuah kesempatan.
Kesempatan untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa dari ujung kepulauan pun, seorang guru bisa terus melangkah, berkarya, dan belajar bagaimana bisa menjadi bagian kecil dari cahaya literasi. 
Saya menulis hanya mengabadikan momen yang tidak pernah ditulis, bukan pamer namun sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. 

Terimkasih Omjay kalimat saktinya menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.

Selasa, 15 September 2026

Esai reflektif bernuansa puitis.

Aku Bersama 15 September
Oleh: Sri Wulandari
Ada hari-hari yang datang dengan riuh: ucapan, tawa, kejutan, dan doa yang bersahutan. Namun, ada pula hari yang datang begitu hening. Hanya kita, hati, dan ingatan yang saling berhadapan.

Bagiku, 15 September bukan sekadar angka yang bertambah dalam usia. Ia seperti sebuah pintu yang membawaku menoleh ke belakang—melihat jejak yang telah kutinggalkan, luka yang pernah kupeluk, perjuangan yang telah kulewati, serta orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan.

Di usia yang kembali bertambah ini, aku tidak sedang menghitung berapa banyak yang telah kucapai. Aku justru bertanya kepada diri sendiri: sudahkah aku menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin?

Pertanyaan itu ternyata tidak mudah dijawab.

Maka, pagi ini, kutuliskan percakapanku dengan diri sendiri dalam bait-bait sederhana.

Aku Bersama 15 September

Kala terjaga dalam sunyi yang suci
Ada resah berbisik di dasar hati
“Apakah gerangan yang ingin kau sampaikan
Wahai hati dan jiwa yang tak pandai membaca, namun selalu mampu merasa?”

Tanpa sadar, seulas senyum merekah
di antara retakan jiwa
Kembali kuingat perjalanan di dunia fana
Tentang seorang malaikat tak bersayap
Yang menjadi jembatan bagi kisah dan saksi hidupku
Wahai angin,sejenak aku tersadar
Tak ada sorak-sorai
Tak ada tepuk tangan
Bahkan ucapan yang menunggu di beranda

Lalu, apakah semua itu yang kau cari,
wahai perasaan
Tidak bisiknya
Hanya saja, waktu perlahan memendek
Tak perlu semuanya hadir, sebab kesunyian pun menjadi teman sejati

Wahai raga, tetaplah sehat
Masih banyak tanggung jawab yang harus kutunaikan
Wahai jiwa, tetaplah setia mengiringi langkah dalam irama yang sama.
Sebab waktu tak selalu berjalan beriringan

Akan tiba masanya
Raga kembali kepada tanah
Sementara perjalanan terus berlanjut
Menuju rahasia yang belum kita ketahui

Namun hari ini, bolehkah kalian tetap menemaniku
Wahai saudara-saudara kehidupan
Aku menulis bukan sekadar merayakan usia
Aku menulis untuk mengenang jejak perjalanan yang pernah membawa begitu banyak pertanyaan

Aku telah berusaha
Menjadi versi terbaik dari diriku
Namun, ketika bercermin pada perjalanan
Jawabannya masih saja terasa kurang

Dan hari ini, di hadapan 15 September
Aku mengaku pada diriku sendiri
Aku sedih bukan karena usia bertambah
Melainkan semakin kusadari waktu tak pernah benar-benar tinggal

Maka, sebelum lembar ini kembali menjadi kenangan
izinkan aku mengucap syukur
Atas setiap napas yang masih dititipkan

Jika esok masih diberi kesempatan
Aku ingin melangkah lagi
Bukan untuk menjadi sempurna
Melainkan menjadi lebih baik  dari pada diriku yang kemarin

Sapeken,15 September 2026

                     Sebuah Doa untuk Diri

Mungkin begitulah ulang tahun seharusnya dimaknai. Bukan hanya tentang siapa yang mengingat tanggal lahir kita, berapa banyak ucapan yang datang, atau seberapa meriah sebuah perayaan.

Ada kalanya ulang tahun menjadi ruang paling jujur untuk berbicara dengan diri sendiri.

Di sana kita boleh mengakui lelah. Boleh merasa sedih. Boleh menengok kegagalan tanpa harus membencinya. Sebab setiap perjalanan, bahkan yang penuh luka, selalu membawa sesuatu yang layak dipelajari.

Hari ini aku tidak meminta kehidupan berjalan tanpa masalah. Aku hanya memohon agar diberi hati yang cukup luas untuk menerima, jiwa yang cukup kuat untuk bertahan, dan langkah yang tetap mau bergerak ketika jalan terasa panjang.

Untuk 15 September yang kembali datang,
aku titipkan satu doa:

Semoga sisa perjalanan ini tidak hanya panjang, tetapi juga penuh makna.

Semoga aku tetap sehat untuk menunaikan tanggung jawab, tetap rendah hati ketika mendapat kesempatan, tetap kuat ketika kehilangan, dan tetap bersyukur atas hal-hal kecil yang sering luput dari pandangan.

Sebab pada akhirnya, usia bukan hanya tentang seberapa lama kita tinggal di dunia, melainkan tentang seberapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan di sepanjang perjalanan.

Dan hari ini, aku masih di sini.
Bersama 15 September.
Bersama doa.
Bersama harapan.
Dan bersama diriku sendiri.

15 September 2026
Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.
https://wijayalabs.com

puisi Aku


Aku
Oleh: Sri Wulandari

Aku ....
Tercipta atas kehendak-Nya
Dititip pencipta kepada makhluk pilihannya
Rangkaian bentuk yang dibentuk
Terbentuk dari pertemuan gamet
Terbentuk dari segumpal darah
Berasal dari tanah dan akan
Kembali menjadi tanah

Aku ....
Terlahir menjadi bayi yang suci
Dibesarkan menjadi balita berubah menjadi anak
Dilatih dibimbing menjadi remaja sampai tumbuh dewasa
Dilindungi malaikat di dunia
Hingga dewasa dilepas juga
Pahitnya dunia serta sandiwaranya
Membuat skenario indah masing-masing cerita

Waktu berjalan tanpa henti
Hingga ada masa nanti kita dimintai pertanggungjawaban
Hidup seperti apa kau pilih
Jika ditanya? Aku memilih prinsip sendiri
Aku hidup dari kerasnya dunia
Biarlah kauhina bahkan kaubenci
Aku akan hidup lurus seperti ini
Walau takada yang menyukai dan hidup sendiri

Sapeken, 14 September 2026

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi. Kalimat sakti Omjay. Https://Wijayalabs.con

Minggu, 13 September 2026

Dia Perempuan, Tampak Seperti Aku

Dia Perempuan, Tampak Seperti Aku

Gambar amatir ini di buat oleh  Founder AIS Muhammad Asqalani Eneste, dan menggambarkan sosok seperti ibu.

Aku menatap sebuah gambar cukup lama.
Seorang perempuan berjilbab berdiri seperti pohon. Kakinya menjelma akar yang mencengkeram bumi. Tubuhnya menjadi batang yang tumbuh tegak. Di bagian perutnya terdapat dua sarang burung. Kepalanya dikelilingi bintang, sementara sepasang mata menatap dengan tenang. Di tengah wajahnya tumbuh sekuntum bunga.
Aneh.
Semakin lama kupandangi, semakin aku merasa perempuan itu seperti sedang menatapku kembali.

Dia perempuan, tampak seperti aku.
Barangkali bukan wajahnya yang membuatku merasa demikian. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rupa.
Kaki yang berubah menjadi akar mengingatkanku bahwa setiap manusia memiliki tempat untuk berpijak. Ada masa lalu yang tidak mungkin dihapus, pengalaman yang pernah menyakitkan, juga perjalanan panjang yang membuat kita menjadi lebih kuat.

Akar tidak pernah sibuk menunjukkan dirinya. Ia bekerja dalam diam, menopang pohon agar tetap berdiri.
Bukankah hidupku juga demikian?
Banyak hal yang kulalui tidak selalu diketahui orang lain. Ada perjuangan yang hanya menjadi percakapan antara aku dan Tuhan. Ada lelah yang kusimpan sendiri. Ada doa-doa yang hanya kutitipkan kepada langit.
Kemudian mataku berhenti pada bagian kepala.
Bintang-bintang mengelilinginya.
Aku tersenyum.
Mungkin itulah mimpi.
Sesederhana apa pun kehidupan seseorang, selalu ada bintang yang ingin diraihnya. Bintang itu bisa berupa cita-cita, harapan, atau sekadar keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin.
Namun, gambar itu mengajarkanku satu hal: bermimpi tidak berarti harus meninggalkan bumi.
Kita boleh menatap langit setinggi-tingginya, tetapi tetap harus memiliki akar.
Sebab tanpa akar, pohon akan mudah tumbang.
Tanpa pijakan, mimpi pun bisa kehilangan arah.


Lalu aku melihat dua sarang burung di bagian perut perempuan itu.
Sarang adalah tempat pulang.
Burung boleh terbang sejauh apa pun, tetapi selalu membutuhkan tempat untuk kembali. Aku pun menyadari, mungkin selama ini hidup bukan hanya tentang seberapa jauh aku mampu melangkah. Ada nilai yang lebih besar: apakah kehadiranku bisa menjadi tempat yang nyaman bagi orang lain?
Menjadi rumah bagi keluarga.
Menjadi ruang aman bagi anak-anak.
Menjadi seseorang yang kehadirannya membawa sedikit ketenangan.
Dan bunga yang tumbuh di wajahnya membuatku kembali berpikir.
Bunga tidak memaksa dirinya untuk mekar. Ia tumbuh sesuai waktunya.

Mungkin manusia pun begitu.
Tidak semua hal harus terjadi hari ini. Tidak semua impian harus segera terwujud. Ada saat untuk tumbuh, ada saat untuk menunggu, dan ada saat untuk mekar.
Aku kembali menatap perempuan dalam gambar itu.
Kini aku tahu mengapa ia terasa begitu dekat.
Dia bukan sekadar perempuan dalam sebuah gambar.
Dia adalah aku yang sedang belajar menerima perjalanan hidup.
Aku yang berusaha tetap berakar meski pernah diterpa angin.
Aku yang masih menyimpan bintang meski langit tak selalu cerah.
Aku yang belajar menjadi tempat pulang bagi orang lain.
Aku yang terus menanam harapan meski belum tahu kapan akan memetik hasilnya.
Aku kemudian memandang bulan yang berada di antara jemari.

Bulan itu tampak dekat, seolah dapat kuraih.
Namun sesungguhnya ia tetap berada jauh di langit.
Mungkin begitulah harapan.
Ia tidak selalu harus segera kita miliki. Kadang cukup kita pandang, kita percaya, lalu kita terus berjalan mendekatinya.
Aku tersenyum.
Kini aku tidak lagi bertanya mengapa perempuan itu tampak seperti aku.
Sebab jawabannya sudah kutemukan.
Dia perempuan, tampak seperti aku, karena sesungguhnya aku sedang melihat diriku sendiri—seorang perempuan yang masih belajar berakar pada bumi, menumbuhkan kehidupan di dalam diri, memandang dunia dengan mata yang jernih, dan tetap berani menggantungkan mimpi setinggi bintang.

Sapeken, 13 September 2026

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi kalimat sakti beliau,

Sabtu, 12 September 2026

Catatan Harian Reflektif Seorang Guru

Catatan Harian Reflektif Seorang Guru

Cerita setiap hari Sabtu, sebagai staf pengajar di sebuah sekolah negeri, selalu ada cerita kecil yang menjadi pembelajaran.

Sabtu kali ini, beberapa kegiatan lomba harus kami tunda karena anak-anak TK dari sebuah yayasan sedang melaksanakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad saw. Agar tidak saling mengganggu, kami memilih kegiatan sederhana: menggambar.

Biasanya aku menentukan tema. Namun, kali ini kuberi mereka kebebasan.

“Anak-anak, silakan gambar apa saja yang kalian sukai. Ekspresikan ide kalian.”

“Kalau gambar laba-laba boleh, Bu?”

“Boleh.”

“Spider-Man?”

“Boleh.”

“Kalau es krim?”

Aku tersenyum. “Boleh juga.”

Setelah selesai, aku melihat beberapa gambar yang hampir sama. Ada jaring laba-laba, Spider-Man, bahkan tulisan yang bernuansa cinta.

“Kenapa gambarnya hampir sama?”

“Dari TikTok, Bu. Lagi tren.”

Aku tersenyum sambil berpikir. Ternyata dunia anak-anak sekarang memang berbeda. Mereka tumbuh di tengah gawai, media sosial, dan berbagai tren yang bergerak begitu cepat.

Sebagai guru, aku belajar untuk tidak langsung menghakimi. Aku mengikuti alur mereka terlebih dahulu, bertanya, mendengarkan, lalu memberikan pemahaman.

Aku katakan kepada mereka,

“Boleh mengenal perasaan, tetapi belum waktunya menjadikan kata-kata seperti itu sebagai kebiasaan. Kalian masih punya banyak hal indah untuk dipelajari. Kejar cita-cita, rajin membaca, berkarya, dan gunakan kata-kata untuk hal-hal yang mendidik.”
Bagiku, mendidik bukan hanya mengatakan boleh atau tidak boleh. Anak perlu diberi alasan, diarahkan, dan dibimbing dengan bahasa yang mereka pahami.


Ikuti dunia mereka untuk memahami, tetapi jangan biarkan mereka kehilangan arah.

Dari kegiatan menggambar yang sederhana, aku kembali belajar bahwa menjadi guru berarti harus terus belajar. Zaman berubah, cara berpikir anak berubah, maka cara kita mendampingi mereka pun perlu berkembang.

Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga teman belajar, pembimbing, dan penjaga arah bagi tumbuh kembang anak.

Semoga setiap langkah kecil dalam mendidik menjadi kebaikan dan bernilai pahala.

Seperti pesan sakti Om Jay:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”
Https://wijayalabs.com
Maka aku akan terus menulis, karena setiap pengalaman selalu menyimpan pelajaran.

Salam literasi.

Jumat, 11 September 2026

Cerpen Fantasi Mitologi Keturunan Darah Biru

Lanjutan cerita darah biru

Kencang menerobos jendela. Api lampu bergoyang, hampir padam.
Sarinah mengangkat wajah. Udara terasa dingin 
menyapa wajah dan rambutnya yang anggun, lebih dingin dari biasanya. 
“Ibu, apakah pintu belum ditutup rapat?” tanyanya, tetapi tak ada jawaban.
Saat itulah ia mendengar suara pelan, tetapi jelas memanggil namanya. “Sarinah ...."
Ia menoleh ke sekeliling, tetapi hanya ada bayangan dinding dan tikar tua di lantai. “Siapa itu?” tanyanya dengan 
suara bergetar, penuh cemas.
“Pewaris terakhir ... darah biru ...” Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat, seperti berbisik tepat di telinganya. 
Sarinah berdiri, tubuhnya gemetar, ketakutan menghiasi suasana malam itu. Ia menggigil ketakutan, tiba-tiba tangan hangat menyentuh pundaknya.
"Sarinah ada apa, Nak?" Ibunya cemas melihat wajah pucat gadisnya itu. Sarinah memeluk erat tubuh paruh baya itu.
***
Keesokan harinya, Sarinah menemui Pak Sudoyo
tetua desa yang dikenal bijaksana. Dengan hati-hati, ia menceritakan kejadian aneh yang dialaminya.
Pak Sudoyo mengangguk perlahan, lalu berkata, “Sudah waktunya, Sarinah. Kau adalah pewaris kekuatan leluhur. Darah biru mengalir dalam dirimu,” ujarnya seraya meyakinkan gadis itu.

Menulislah Setiap Hari Buktikan yang akan terjadi"https://wijayalabs.com"

Puisi_IBU

Ibu Oleh: Sri Wulandari Ibu .... Engkau pelita yang menerangi gulita Pejuang gigih dalam derita Demi asap dapur yang tetap menyala Kau perju...

STATEGI MENANGKAL HOAKS