Jumat, 18 September 2026

Artikel Reflektif

Artikel reflektif 

Pagi itu, 17 September 2026, aktivitas di sekolah berjalan seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang membuat hari itu terasa berbeda. Kami mengenakan pakaian khas Jogja sebagai bagian dari kegiatan dan dokumentasi sekolah.
Di sela rutinitas pagi, kami mengabadikan beberapa momen bersama guru dan murid. Dokumentasi itu bukan sekadar foto bersama. Ada sebuah cerita besar di baliknya: tentang buku, karya, keberanian menulis, dan mimpi anak-anak yang mulai tumbuh.
Beberapa waktu sebelumnya, buku karya mereka telah sampai dari penerbit. Buku tersebut merupakan hasil dari kegiatan menulis yang mereka ikuti bersama KYM. Komunitas Yuk Menulis. Pada awalnya, mungkin bagi sebagian anak, memiliki buku yang memuat nama dan karya sendiri hanyalah sebuah angan-angan.
Namun, hari itu angan-angan tersebut berubah menjadi kenyataan.
Ketika buku dibagikan, wajah anak-anak memancarkan rasa kaget sekaligus bahagia. Binar mata mereka seolah berkata, “Ternyata aku bisa memiliki buku yang di dalamnya ada tulisanku sendiri.”
Saya melihat sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar buku.
Ada rasa percaya diri yang mulai tumbuh. Ada kebanggaan terhadap karya sendiri. Ada motivasi untuk kembali mencoba.
Bagi seorang guru, momen seperti ini sangat berarti. Sebab, pendidikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah buku sederhana mampu membuka pintu mimpi seorang anak.
Saya pun mengajak mereka untuk tidak berhenti sampai di sini.
“Ayo, kita ikut menulis lagi. Kita berkarya untuk kedua kalinya bersama Bapak Bupati dan Kadis, berkolaborasi bersama tim KYM.”
Ajakan itu saya sampaikan bukan semata-mata untuk mengejar sebuah penghargaan. Lebih dari itu, saya ingin anak-anak merasakan kembali prosesnya: membaca, berpikir, menulis, berkarya, dan berani menunjukkan hasil karyanya kepada dunia.
Hari itu, kamera memang mengabadikan guru dan murid dalam sebuah foto. Namun, sesungguhnya yang sedang kami abadikan jauh lebih besar dari pada sebuah gambar.
Kami sedang mengabadikan sebuah proses tumbuhnya mimpi.
Dari selembar tulisan menjadi sebuah buku.
Dari sebuah buku menjadi rasa percaya diri.
Dari rasa percaya diri lahirlah keberanian untuk berkarya kembali.
Semoga kegiatan menulis sesi kedua dapat berjalan maksimal dan menjadi ruang bagi anak-anak untuk terus menumbuhkan kreativitas serta kecintaan terhadap literasi.
Sebab, mungkin hari ini mereka hanya memegang sebuah buku.
Tetapi siapa tahu, suatu hari nanti mereka akan menjadi penulis yang menginspirasi banyak orang.
Dan saya percaya, setiap mimpi besar sering kali berawal dari satu langkah kecil: berani menulis.


Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.https:// wijayalabs.com

Rabu, 16 September 2026

Semangat Literasi dari Ujung Kepulauan

Semangat Literasi dari Ujung Kepulauan

Menjadi guru bukan sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Ada begitu banyak proses yang harus dilalui, terutama ketika kita ingin menumbuhkan budaya literasi pada peserta didik.

Bagi saya, kesempatan menjadi salah satu kandidat Guru Aktif Literasi Nasional (GAL) dalam rangkaian apresiasi IGINOS menjadi sebuah pengalaman yang sangat berarti. Sebuah penghargaan mungkin hanya terlihat sebagai hasil akhir, tetapi di baliknya ada proses panjang yang tidak selalu terlihat.

Saya masih mengingat bagaimana saya mendampingi anak-anak menyelesaikan berbagai tugas. Mulai dari melatih mereka membuat puisi, membuat video, hingga menyelesaikan tugas-tugas lainnya dengan tenggat waktu yang harus dipenuhi.

Sebagai guru kelas, semua itu tentu menyita waktu dan tenaga. Namun, ketika satu demi satu tugas akhirnya selesai, ada rasa lega yang sulit digambarkan.

Dalam hati saya bergumam,

"Ternyata saya bisa."

Bukan karena saya merasa paling hebat, tetapi karena saya menyadari bahwa sebuah pencapaian sering kali lahir dari keberanian untuk terus mencoba, meskipun prosesnya melelahkan.

Sembilan Nama dari Sumenep

Saya pernah mengetahui bahwa terdapat sembilan kandidat GAL dan GIL IGINOS dari perwakilan Sumenep yang masuk dalam apresiasi tersebut. Saya pun berusaha mencari informasi dan laman yang memuat daftar para kandidat itu. Namun, hingga kini saya belum menemukan kembali situs yang memuat daftar tersebut secara lengkap.

Yang membuat saya terharu, dalam pemberitaan Madura Post tentang penghargaan literasi nasional, Agus Dwi Saputra, yang saat itu menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, secara khusus menceritakan perjuangan guru-guru dari wilayah kepulauan.

Beliau menyampaikan bahwa beberapa guru rela menempuh perjalanan jauh, menggunakan perahu, bahkan berpindah pulau demi menghadiri acara secara langsung. Menurut beliau, kehadiran para guru tersebut menjadi bukti bahwa semangat literasi tidak mengenal batas jarak maupun medan.

Mendengar kisah itu, saya merasa perjuangan kecil yang saya lakukan ternyata memiliki makna yang lebih besar.

Mengejar Kapal, Mengejar Kesempatan

Ada satu cerita yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan.

Saat itu saya hendak menghadiri acara tersebut. Barang-barang saya sudah lebih dahulu berada di kapal penumpang Sabuk Nusantara 51. Karena hari Jumat, saya sempat kembali kerumah sebentar. Namun, ketika kembali ke pelabuhan, kapal ternyata sudah meninggalkan saya.

Panik? Tentu.

Resah? Apalagi.

Barang sudah berada di kapal, sementara saya masih tertinggal di daratan.

Namun, ternyata masih ada jalan.

Saya menemukan kapal yang melayani lintasan Sapeken–Kangean. Di dalamnya ada camat dan beberapa petugas lainnya. Saya pun ikut menumpang. Perjalanan dilanjutkan dengan harapan dapat mengejar Sabuk Nusantara 51 yang akan transit di Kepulauan Kangean.

Gelombang saat itu cukup besar. Tetapi semangat untuk menghadiri acara membuat saya terus berusaha.

Rasanya seperti sedang melakukan "kejar-kejaran" dengan kapal.

Sebuah pengalaman sederhana, tetapi menjadi kenangan yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan saya.

Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil menyusul kapal tersebut. Tiket yang sudah saya beli dari Sapeken masih berada di tangan. Ada rasa lega yang luar biasa ketika akhirnya saya bisa melanjutkan perjalanan.

Saat itu saya menyadari satu hal:

Kadang-kadang, perjalanan menuju sebuah kesempatan tidak kalah penting daripada penghargaan yang kita terima di akhir perjalanan.

Literasi Tidak Mengenal Jarak

Kisah perjalanan tersebut membuat saya semakin memahami makna literasi.

Literasi bukan hanya tentang membaca buku. Literasi juga tentang keberanian untuk belajar, mencoba, berkarya, dan berbagi. Bahkan perjalanan seorang guru dari pulau kecil menuju sebuah acara nasional pun dapat menjadi bagian dari cerita literasi.


Artikel Madura Post yang saya baca seolah mengabadikan perjuangan itu. Agus Dwi Saputra menyampaikan bahwa kehadiran guru-guru dari kepulauan menjadi bukti bahwa semangat literasi tidak mengenal batas jarak dan medan.

Kalimat tersebut terasa begitu dekat dengan perjalanan saya.

Saya berasal dari wilayah kepulauan. Untuk mencapai suatu tempat, terkadang bukan hanya membutuhkan kendaraan, tetapi juga keberanian menghadapi laut, waktu perjalanan, perubahan jadwal kapal, bahkan ketidakpastian di perjalanan.

Namun, semua itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkarya.

Senyum di Balik Lelah
Ketika perjuangan itu akhirnya mendapat apresiasi, saya tersenyum.

Bukan semata-mata karena sebuah gelar atau penghargaan, melainkan karena semua proses yang telah dilalui bersama peserta didik ternyata memiliki arti.

Saya teringat tugas-tugas yang dikerjakan anak-anak, puisi yang mereka tulis, video yang mereka buat, serta waktu yang kami curahkan bersama.

Di situlah saya memahami bahwa penghargaan sesungguhnya bukan hanya sebuah nama yang tercantum dalam daftar penerima apresiasi.

Penghargaan juga bisa berupa senyum seorang anak ketika berhasil menyelesaikan tugasnya.

Bisa berupa keberanian seorang peserta didik membaca puisinya.

Bisa berupa guru yang tetap mencoba meskipun lelah.

Dan bisa pula berupa sebuah perjalanan panjang dari pulau kecil untuk menghadiri sebuah kegiatan literasi.

Dari kepulauan, kami belajar bahwa jarak boleh jauh, tetapi semangat tidak boleh kalah.

Jika literasi adalah cahaya, maka biarlah cahaya itu terus menyala dari sekolah-sekolah kecil di pulau-pulau, menjangkau anak-anak, guru, dan siapa saja yang percaya bahwa membaca, menulis, dan berkarya mampu membuka jalan menuju masa depan.

Saya mungkin hanya seorang guru dari sebuah pulau kecil.

Namun hari itu saya belajar:
mimpi tidak pernah mengenal batas geografis.
Dan perjalanan mengejar kapal itu akhirnya bukan hanya tentang mengejar Sabuk Nusantara 51.

Saya sedang mengejar sebuah kesempatan.
Kesempatan untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa dari ujung kepulauan pun, seorang guru bisa terus melangkah, berkarya, dan belajar bagaimana bisa menjadi bagian kecil dari cahaya literasi. 
Saya menulis hanya mengabadikan momen yang tidak pernah ditulis, bukan pamer namun sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. 

Terimkasih Omjay kalimat saktinya menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.

Selasa, 15 September 2026

Esai reflektif bernuansa puitis.

Aku Bersama 15 September
Oleh: Sri Wulandari
Ada hari-hari yang datang dengan riuh: ucapan, tawa, kejutan, dan doa yang bersahutan. Namun, ada pula hari yang datang begitu hening. Hanya kita, hati, dan ingatan yang saling berhadapan.

Bagiku, 15 September bukan sekadar angka yang bertambah dalam usia. Ia seperti sebuah pintu yang membawaku menoleh ke belakang—melihat jejak yang telah kutinggalkan, luka yang pernah kupeluk, perjuangan yang telah kulewati, serta orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan.

Di usia yang kembali bertambah ini, aku tidak sedang menghitung berapa banyak yang telah kucapai. Aku justru bertanya kepada diri sendiri: sudahkah aku menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin?

Pertanyaan itu ternyata tidak mudah dijawab.

Maka, pagi ini, kutuliskan percakapanku dengan diri sendiri dalam bait-bait sederhana.

Aku Bersama 15 September

Kala terjaga dalam sunyi yang suci
Ada resah berbisik di dasar hati
“Apakah gerangan yang ingin kau sampaikan
Wahai hati dan jiwa yang tak pandai membaca, namun selalu mampu merasa?”

Tanpa sadar, seulas senyum merekah
di antara retakan jiwa
Kembali kuingat perjalanan di dunia fana
Tentang seorang malaikat tak bersayap
Yang menjadi jembatan bagi kisah dan saksi hidupku
Wahai angin,sejenak aku tersadar
Tak ada sorak-sorai
Tak ada tepuk tangan
Bahkan ucapan yang menunggu di beranda

Lalu, apakah semua itu yang kau cari,
wahai perasaan
Tidak bisiknya
Hanya saja, waktu perlahan memendek
Tak perlu semuanya hadir, sebab kesunyian pun menjadi teman sejati

Wahai raga, tetaplah sehat
Masih banyak tanggung jawab yang harus kutunaikan
Wahai jiwa, tetaplah setia mengiringi langkah dalam irama yang sama.
Sebab waktu tak selalu berjalan beriringan

Akan tiba masanya
Raga kembali kepada tanah
Sementara perjalanan terus berlanjut
Menuju rahasia yang belum kita ketahui

Namun hari ini, bolehkah kalian tetap menemaniku
Wahai saudara-saudara kehidupan
Aku menulis bukan sekadar merayakan usia
Aku menulis untuk mengenang jejak perjalanan yang pernah membawa begitu banyak pertanyaan

Aku telah berusaha
Menjadi versi terbaik dari diriku
Namun, ketika bercermin pada perjalanan
Jawabannya masih saja terasa kurang

Dan hari ini, di hadapan 15 September
Aku mengaku pada diriku sendiri
Aku sedih bukan karena usia bertambah
Melainkan semakin kusadari waktu tak pernah benar-benar tinggal

Maka, sebelum lembar ini kembali menjadi kenangan
izinkan aku mengucap syukur
Atas setiap napas yang masih dititipkan

Jika esok masih diberi kesempatan
Aku ingin melangkah lagi
Bukan untuk menjadi sempurna
Melainkan menjadi lebih baik  dari pada diriku yang kemarin

Sapeken,15 September 2026

                     Sebuah Doa untuk Diri

Mungkin begitulah ulang tahun seharusnya dimaknai. Bukan hanya tentang siapa yang mengingat tanggal lahir kita, berapa banyak ucapan yang datang, atau seberapa meriah sebuah perayaan.

Ada kalanya ulang tahun menjadi ruang paling jujur untuk berbicara dengan diri sendiri.

Di sana kita boleh mengakui lelah. Boleh merasa sedih. Boleh menengok kegagalan tanpa harus membencinya. Sebab setiap perjalanan, bahkan yang penuh luka, selalu membawa sesuatu yang layak dipelajari.

Hari ini aku tidak meminta kehidupan berjalan tanpa masalah. Aku hanya memohon agar diberi hati yang cukup luas untuk menerima, jiwa yang cukup kuat untuk bertahan, dan langkah yang tetap mau bergerak ketika jalan terasa panjang.

Untuk 15 September yang kembali datang,
aku titipkan satu doa:

Semoga sisa perjalanan ini tidak hanya panjang, tetapi juga penuh makna.

Semoga aku tetap sehat untuk menunaikan tanggung jawab, tetap rendah hati ketika mendapat kesempatan, tetap kuat ketika kehilangan, dan tetap bersyukur atas hal-hal kecil yang sering luput dari pandangan.

Sebab pada akhirnya, usia bukan hanya tentang seberapa lama kita tinggal di dunia, melainkan tentang seberapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan di sepanjang perjalanan.

Dan hari ini, aku masih di sini.
Bersama 15 September.
Bersama doa.
Bersama harapan.
Dan bersama diriku sendiri.

15 September 2026
Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi.
https://wijayalabs.com

puisi Aku


Aku
Oleh: Sri Wulandari

Aku ....
Tercipta atas kehendak-Nya
Dititip pencipta kepada makhluk pilihannya
Rangkaian bentuk yang dibentuk
Terbentuk dari pertemuan gamet
Terbentuk dari segumpal darah
Berasal dari tanah dan akan
Kembali menjadi tanah

Aku ....
Terlahir menjadi bayi yang suci
Dibesarkan menjadi balita berubah menjadi anak
Dilatih dibimbing menjadi remaja sampai tumbuh dewasa
Dilindungi malaikat di dunia
Hingga dewasa dilepas juga
Pahitnya dunia serta sandiwaranya
Membuat skenario indah masing-masing cerita

Waktu berjalan tanpa henti
Hingga ada masa nanti kita dimintai pertanggungjawaban
Hidup seperti apa kau pilih
Jika ditanya? Aku memilih prinsip sendiri
Aku hidup dari kerasnya dunia
Biarlah kauhina bahkan kaubenci
Aku akan hidup lurus seperti ini
Walau takada yang menyukai dan hidup sendiri

Sapeken, 14 September 2026

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi. Kalimat sakti Omjay. Https://Wijayalabs.con

Minggu, 13 September 2026

Dia Perempuan, Tampak Seperti Aku

Dia Perempuan, Tampak Seperti Aku

Gambar amatir ini di buat oleh  Founder AIS Muhammad Asqalani Eneste, dan menggambarkan sosok seperti ibu.

Aku menatap sebuah gambar cukup lama.
Seorang perempuan berjilbab berdiri seperti pohon. Kakinya menjelma akar yang mencengkeram bumi. Tubuhnya menjadi batang yang tumbuh tegak. Di bagian perutnya terdapat dua sarang burung. Kepalanya dikelilingi bintang, sementara sepasang mata menatap dengan tenang. Di tengah wajahnya tumbuh sekuntum bunga.
Aneh.
Semakin lama kupandangi, semakin aku merasa perempuan itu seperti sedang menatapku kembali.

Dia perempuan, tampak seperti aku.
Barangkali bukan wajahnya yang membuatku merasa demikian. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rupa.
Kaki yang berubah menjadi akar mengingatkanku bahwa setiap manusia memiliki tempat untuk berpijak. Ada masa lalu yang tidak mungkin dihapus, pengalaman yang pernah menyakitkan, juga perjalanan panjang yang membuat kita menjadi lebih kuat.

Akar tidak pernah sibuk menunjukkan dirinya. Ia bekerja dalam diam, menopang pohon agar tetap berdiri.
Bukankah hidupku juga demikian?
Banyak hal yang kulalui tidak selalu diketahui orang lain. Ada perjuangan yang hanya menjadi percakapan antara aku dan Tuhan. Ada lelah yang kusimpan sendiri. Ada doa-doa yang hanya kutitipkan kepada langit.
Kemudian mataku berhenti pada bagian kepala.
Bintang-bintang mengelilinginya.
Aku tersenyum.
Mungkin itulah mimpi.
Sesederhana apa pun kehidupan seseorang, selalu ada bintang yang ingin diraihnya. Bintang itu bisa berupa cita-cita, harapan, atau sekadar keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin.
Namun, gambar itu mengajarkanku satu hal: bermimpi tidak berarti harus meninggalkan bumi.
Kita boleh menatap langit setinggi-tingginya, tetapi tetap harus memiliki akar.
Sebab tanpa akar, pohon akan mudah tumbang.
Tanpa pijakan, mimpi pun bisa kehilangan arah.


Lalu aku melihat dua sarang burung di bagian perut perempuan itu.
Sarang adalah tempat pulang.
Burung boleh terbang sejauh apa pun, tetapi selalu membutuhkan tempat untuk kembali. Aku pun menyadari, mungkin selama ini hidup bukan hanya tentang seberapa jauh aku mampu melangkah. Ada nilai yang lebih besar: apakah kehadiranku bisa menjadi tempat yang nyaman bagi orang lain?
Menjadi rumah bagi keluarga.
Menjadi ruang aman bagi anak-anak.
Menjadi seseorang yang kehadirannya membawa sedikit ketenangan.
Dan bunga yang tumbuh di wajahnya membuatku kembali berpikir.
Bunga tidak memaksa dirinya untuk mekar. Ia tumbuh sesuai waktunya.

Mungkin manusia pun begitu.
Tidak semua hal harus terjadi hari ini. Tidak semua impian harus segera terwujud. Ada saat untuk tumbuh, ada saat untuk menunggu, dan ada saat untuk mekar.
Aku kembali menatap perempuan dalam gambar itu.
Kini aku tahu mengapa ia terasa begitu dekat.
Dia bukan sekadar perempuan dalam sebuah gambar.
Dia adalah aku yang sedang belajar menerima perjalanan hidup.
Aku yang berusaha tetap berakar meski pernah diterpa angin.
Aku yang masih menyimpan bintang meski langit tak selalu cerah.
Aku yang belajar menjadi tempat pulang bagi orang lain.
Aku yang terus menanam harapan meski belum tahu kapan akan memetik hasilnya.
Aku kemudian memandang bulan yang berada di antara jemari.

Bulan itu tampak dekat, seolah dapat kuraih.
Namun sesungguhnya ia tetap berada jauh di langit.
Mungkin begitulah harapan.
Ia tidak selalu harus segera kita miliki. Kadang cukup kita pandang, kita percaya, lalu kita terus berjalan mendekatinya.
Aku tersenyum.
Kini aku tidak lagi bertanya mengapa perempuan itu tampak seperti aku.
Sebab jawabannya sudah kutemukan.
Dia perempuan, tampak seperti aku, karena sesungguhnya aku sedang melihat diriku sendiri—seorang perempuan yang masih belajar berakar pada bumi, menumbuhkan kehidupan di dalam diri, memandang dunia dengan mata yang jernih, dan tetap berani menggantungkan mimpi setinggi bintang.

Sapeken, 13 September 2026

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi kalimat sakti beliau,

Sabtu, 12 September 2026

Catatan Harian Reflektif Seorang Guru

Catatan Harian Reflektif Seorang Guru

Cerita setiap hari Sabtu, sebagai staf pengajar di sebuah sekolah negeri, selalu ada cerita kecil yang menjadi pembelajaran.

Sabtu kali ini, beberapa kegiatan lomba harus kami tunda karena anak-anak TK dari sebuah yayasan sedang melaksanakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad saw. Agar tidak saling mengganggu, kami memilih kegiatan sederhana: menggambar.

Biasanya aku menentukan tema. Namun, kali ini kuberi mereka kebebasan.

“Anak-anak, silakan gambar apa saja yang kalian sukai. Ekspresikan ide kalian.”

“Kalau gambar laba-laba boleh, Bu?”

“Boleh.”

“Spider-Man?”

“Boleh.”

“Kalau es krim?”

Aku tersenyum. “Boleh juga.”

Setelah selesai, aku melihat beberapa gambar yang hampir sama. Ada jaring laba-laba, Spider-Man, bahkan tulisan yang bernuansa cinta.

“Kenapa gambarnya hampir sama?”

“Dari TikTok, Bu. Lagi tren.”

Aku tersenyum sambil berpikir. Ternyata dunia anak-anak sekarang memang berbeda. Mereka tumbuh di tengah gawai, media sosial, dan berbagai tren yang bergerak begitu cepat.

Sebagai guru, aku belajar untuk tidak langsung menghakimi. Aku mengikuti alur mereka terlebih dahulu, bertanya, mendengarkan, lalu memberikan pemahaman.

Aku katakan kepada mereka,

“Boleh mengenal perasaan, tetapi belum waktunya menjadikan kata-kata seperti itu sebagai kebiasaan. Kalian masih punya banyak hal indah untuk dipelajari. Kejar cita-cita, rajin membaca, berkarya, dan gunakan kata-kata untuk hal-hal yang mendidik.”
Bagiku, mendidik bukan hanya mengatakan boleh atau tidak boleh. Anak perlu diberi alasan, diarahkan, dan dibimbing dengan bahasa yang mereka pahami.


Ikuti dunia mereka untuk memahami, tetapi jangan biarkan mereka kehilangan arah.

Dari kegiatan menggambar yang sederhana, aku kembali belajar bahwa menjadi guru berarti harus terus belajar. Zaman berubah, cara berpikir anak berubah, maka cara kita mendampingi mereka pun perlu berkembang.

Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga teman belajar, pembimbing, dan penjaga arah bagi tumbuh kembang anak.

Semoga setiap langkah kecil dalam mendidik menjadi kebaikan dan bernilai pahala.

Seperti pesan sakti Om Jay:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”
Https://wijayalabs.com
Maka aku akan terus menulis, karena setiap pengalaman selalu menyimpan pelajaran.

Salam literasi.

Jumat, 11 September 2026

Cerpen Fantasi Mitologi Keturunan Darah Biru

Lanjutan cerita darah biru

Kencang menerobos jendela. Api lampu bergoyang, hampir padam.
Sarinah mengangkat wajah. Udara terasa dingin 
menyapa wajah dan rambutnya yang anggun, lebih dingin dari biasanya. 
“Ibu, apakah pintu belum ditutup rapat?” tanyanya, tetapi tak ada jawaban.
Saat itulah ia mendengar suara pelan, tetapi jelas memanggil namanya. “Sarinah ...."
Ia menoleh ke sekeliling, tetapi hanya ada bayangan dinding dan tikar tua di lantai. “Siapa itu?” tanyanya dengan 
suara bergetar, penuh cemas.
“Pewaris terakhir ... darah biru ...” Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat, seperti berbisik tepat di telinganya. 
Sarinah berdiri, tubuhnya gemetar, ketakutan menghiasi suasana malam itu. Ia menggigil ketakutan, tiba-tiba tangan hangat menyentuh pundaknya.
"Sarinah ada apa, Nak?" Ibunya cemas melihat wajah pucat gadisnya itu. Sarinah memeluk erat tubuh paruh baya itu.
***
Keesokan harinya, Sarinah menemui Pak Sudoyo
tetua desa yang dikenal bijaksana. Dengan hati-hati, ia menceritakan kejadian aneh yang dialaminya.
Pak Sudoyo mengangguk perlahan, lalu berkata, “Sudah waktunya, Sarinah. Kau adalah pewaris kekuatan leluhur. Darah biru mengalir dalam dirimu,” ujarnya seraya meyakinkan gadis itu.

Menulislah Setiap Hari Buktikan yang akan terjadi"https://wijayalabs.com"

Cerpen fantasi mitologi Darah Biru part 1 Bersambung

Keturunan 
Darah Biru 

Di sebuah desa terpencil bernama Pasem. Sarinah 
menjalani hidup sederhana sebagai putri seorang petani. Meski 
kerap dianggap berbeda karena wajahnya yang terlampau 
anggun dan sikapnya yang tenang, gadis ini tidak pernah merasa 
istimewa.

Sarinah percaya bahwa ia hanyalah gadis biasa yang ditakdirkan untuk menjalani hidup tanpa banyak perubahan. Ia  suka membantu orang tuanya di sawah, jika pekerjaan dirasa 
cukup. Dia berpamitan pulang seperti hari-hari biasanya.
Memasak dan mencuci pakaian orang tuanya. Siang itu 
sangat cerah, senyum manis terpancar indah penuh bahagia. 
Baju siap dijemur dan di beberapa helai baju terbungkus tangan 
manisnya. Ia melihat sosok bayangan berkelebat dan melintas 
di belakang tubuh gadis itu.
Sarinah berkata "Siapa itu?" tegasnya menyapa 
bayangan. Hening tidak ada jawaban.
"Kenapa sih, saat aku sendiri bayangan itu seolah-olah 
mengejarku," gumannya dalam hati. Seperti kegiatan harian, 
Sarinah selalu diawasi oleh sosok tak terlihat.
Saat malam tiba, Sarinah menghidupkan lampu sumbunya dan lelah membawa pada tidur lelap, disaat itu sosok 
berbaju putih berkata.
"Aku akan membawamu berkeliling." Seketika sarinah 
melesat tinggi melintasi awan-awan putih, banyak orang yang dilihatnya, di dalam tembok besi. Ya, seperti tahanan ia pun 
bertanya pada sosok berjubah putih.
Dari kejauhan Sarinah melihat, kubah masjid. Ia 
menunjuk , seraya mengisyaratkan, tetapi sosok bayangan putih 
ini berkata, "Waktunya pulang." 
Seketika sarinah terperanjat dari tempat tidurnya. 
Mimpi yang membuat ketakutan, hal ini pun ditutup rapat dari 
orang tuanya.
Kejadian-kejadian aneh menyelimuti hari-hari.

Sarinah sampai beranjak dewasa. Saat tertidur pulas, ia juga mengalami 
hal aneh di mana tubuhnya terbagi menjadi dua. Ya, tubuhnya 
mengambang di atas badannya, setengah mati ia pun berteriak. 
Seperti magnet yang saling tarik menarik.
Sarinah menolak tubuhnya terpisah, ketika itu tubuhnya melayang agak tinggi semakin terasa ringan rasa tubuhnya. Saat 
ruh itu ingin meninggalkan raga, dengan teriakan dan penolakan 
tubuh yang melayang tadi jatuh begitu saja. 
"Aku gak mau!" teriaknya dalam mimpi. Seketika itu tubuhnya terjatuh ke tubuh lainnya.
Sarinah belum sempat terbangun dalam mimpi, Tiba-tiba tubuhnya tidak bergerak, di telinga bagian kiri seolah ada 
mantra yang dibisikkan rasanya panas, bisikan itu nyata, dan 
terasa.

Terbangun dan gugup menghiasi wajah anggunnya dan 
mental Sarinah benar-benar di uji. Hari berganti hari, bulan 
berganti bulan tahun berganti tahun semua hal dirasakan selalu. 
Suatu malam hujan turun begitu deras, membasahi jalan 
tanah di sekitar rumah Sarinah. Di bawah cahaya redup lampu 
minyak, ia terduduk di sudut ruangan sambil menjahit bajunya 
yang sobek, karena besok ia berjualan di pasar. Tiba-tiba, angin ...........bersambung

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi, https:// wijayalabs.com

Rabu, 09 September 2026

Cerita Reflektif (sebuah paket,sebuah buku,perjalanan panjang sebuah karya)


Sebuah Paket, Sebuah Buku, dan Perjalanan Panjang Sebuah Karya

Kemarin saya mendapatkan telepon. Seseorang mengabarkan bahwa ada paket buku yang telah sampai di wilayah Kabupaten Sumenep. Ia memberikan kode resi, tetapi hanya menyebutkan beberapa angka di bagian belakangnya.

Saat itu kondisi ponsel saya sedang bermasalah. Paket data bahkan sudah minus. Karena itu, saya baru membaca pesan dan melihat begitu banyak panggilan pada malam hari.
Dalam hati saya bertanya-tanya, “Saya pesan apa, ya? Perasaan saya tidak sedang membuka akun belanja dan tidak merasa memesan barang apa pun.”
Saya mulai curiga.
“Jangan-jangan ini hoaks?”
Namun, beberapa saat kemudian masuk telepon dari pihak J&T Cargo yang sudah terverifikasi. Mereka mengonfirmasi bahwa ada barang atas nama saya yang harus diambil di kantor Sumenep. Mereka juga menyampaikan kode resi dan meminta agar barang tersebut segera diambil karena jika tidak, paket akan dikembalikan kepada pengirim.
Saya semakin bingung.
“Barang apa, ya? Saya merasa tidak pernah memesan barang.”
Tak lama kemudian, ada telepon lagi dari nomor yang berbeda.
“Bu, ini ada paket berisi alat tulis dan beberapa barang lainnya.”
Saya menjawab, “Lho, saya tidak pernah merasa memesan barang itu, 
Mbak Ini sebenarnya paket apa?”tanyanya
Saya pun mulai mengingat-ingat.
Dan tiba-tiba…
Ya Allah! Saya baru sadar.
Ternyata paket itu adalah buku yang berkaitan dengan program menulis bersama Pak Menteri Pendidikan. Buku yang di dalamnya terdapat karya para guru dan murid yang selama ini saya perjuangkan agar bisa mengikuti lomba tersebut.

Buku itu akhirnya terbit.

Di balik sebuah buku yang tampak sederhana, ternyata ada perjalanan yang tidak sederhana.
Ada banyak usaha, waktu, tenaga, dan bahkan air mata yang menyertainya.
Laptop saya sampai mengalami kerusakan total. Saat itu saya sedang terburu-buru menyelesaikan pekerjaan. Laptop dalam keadaan menyala selama lebih dari dua minggu. Karena takut mengisi daya ketika kondisinya masih menyala, saya membiarkannya begitu saja. Entah karena korsleting atau penyebab lainnya, akhirnya laptop tersebut rusak.
Untungnya, kerusakan itu terjadi setelah saya berhasil mengirimkan file yang diperlukan.
Tetap saja, sedihnya luar biasa.
Laptop itu harus diperbaiki ke Kota Sumenep. Sementara saya tinggal di wilayah kepulauan. Untuk membawa sebuah laptop ke kota bukanlah perkara sederhana. 

Ada perjalanan menggunakan kapal yang bisa memakan waktu sehari semalam, kemudian harus mencari penginapan, menunggu proses perbaikan, dan setelah semuanya selesai masih harus kembali lagi.
Waktu, tenaga, biaya, semuanya harus dipertimbangkan.
Belum lagi tangan saya yang beberapa waktu lalu terasa kram karena terlalu lama mengetik. Namun, saya tetap memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Saya hanya berusaha menguatkan hati.
“Bismillah. Semoga Allah memberikan kemudahan.”
Perjuangan itu pun tidak berhenti pada urusan teknis.
Mengajak beberapa rekan untuk ikut dalam kegiatan literasi ternyata tidak mudah. Ada yang masih ragu, ada yang belum siap, ada juga yang bilang kenapa harus beli, saya jawab ibu tidak ingin tulisannya dimiliki sendiri, ada yang bilang hanya sebuah lomba atas nama biasa sudah begitu Bu, aduh ribet mau menjadi penyair bukannya tidak bisa, ada yang bilang aku sibuk bukannya menolak, kalimat pahit manis campur seperti gado-gado,tetapi ada pula beberapa rekan yang justru dengan antusias mengatakan ingin ikut.

Di situlah letak kebahagiaannya.
Saya tidak berjuang sendirian.
Ada murid-murid yang ikut berproses. Ada rekan-rekan yang mau belajar. Ada semangat untuk menghasilkan sesuatu bersama.
Dan akhirnya, buku itu benar-benar terbit.
Sebuah karya yang mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja, tetapi bagi kami memiliki cerita yang panjang.

Setelah mengetahui paket tersebut ternyata buku, persoalan berikutnya adalah bagaimana mengambilnya dari Sumenep.
Beberapa kali saya menghubungi dan kurir yang saya pesen, sudah saya telpon agar mengambil barang tersebut yang berada di kantor J&T Cargo, tetapi ternyata kantornya tutup, mungkin kepagian.

Saya sempat bingung lagi. Namun, alhamdulillah, akhirnya ada solusi.
Pihak J&T Cargo dengan baik hati memberikan informasi dan membantu mengarahkan agar paket tersebut dapat diteruskan melalui kurir. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya paket bisa diambil dan dioper ke pihak pos dengan biaya tertentu, Alhamdulillah.

Akhirnya buku itu akan sampai juga
Jadi ingat saat terima buku pertama lomba khusus guru,
Saat memegang paket tersebut, saya kembali teringat pada semua proses yang sudah dilewati.
Ternyata menghasilkan sebuah karya tidak selalu tentang menulis dan selesai.
Kadang ada laptop yang rusak.
Ada tangan yang pegal dan kram.
Ada perjalanan panjang.
Ada penolakan seolah bagai cambuk dibadan.
Ada biaya yang harus dikeluarkan.
Ada kebingungan.
Ada rasa lelah.
Ada keraguan.
Tetapi di antara semua itu, ada satu hal yang membuat saya bahagia:

saya dan murid-murid telah berjuang bersama.
Dan hari ini, perjuangan itu memiliki bukti.
Sebuah buku, pengalaman ini kembali mengingatkan saya pada sebuah kalimat motivasi dari Omjay yang selama ini selalu terngiang di kepala saya:

“Menulislah setiap hari dan lihat apa yang terjadi.”htpps://wijayalabs.com

Dulu saya benar-benar belajar dari nol.
Saya tidak langsung pandai menulis. Saya belajar sedikit demi sedikit. Berlatih, mencoba, salah, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Bahkan tulisan-tulisan saya mungkin masih sederhana.
Namun, saya percaya bahwa tulisan sederhana sekalipun tetap memiliki nilai ketika kita mau mendokumentasikan kehidupan.

Sebab, siapa tahu suatu hari nanti kita membuka kembali blog yang sudah lama kita tinggalkan.
Kita membaca tulisan dari tahun 2023, 2024, 2025, hingga hari ini.
Kita akan menemukan jejak perjalanan diri sendiri.
Selama beberapa tahun itu, saya memang sempat meninggalkan dunia blog. Bukan karena berhenti menulis. Saya hanya berpindah bidang dan merambah berbagai kegiatan lain di  rumah  literasi.
Ternyata, kehidupan memang membawa kita ke banyak arah.
Dan melalui program lomba menulis ini, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk menuangkan berbagai ide dan pengalaman yang sempat tersimpan dalam perjalanan hidup saya beberapa tahun terakhir.
Kini saya semakin percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya untuk dinilai orang lain.

Menulis juga tentang menyimpan kenangan, mendokumentasikan perjuangan, dan meninggalkan jejak perjalanan.
Terima kasih, Omjay.

Kalimat-kalimat motivasi yang dulu mungkin terasa sederhana, ternyata perlahan membawa saya berjalan jauh.
Dari belajar menulis dari nol, berlatih dan terus berlatih, hingga akhirnya bisa menghasilkan karya bersama murid-murid.
Saya sadar, perjalanan ini masih panjang.
Tetapi hari ini saya bahagia.
Sebab saya telah belajar satu hal:
Tidak ada usaha yang sia-sia ketika kita mau belajar, mau berusaha, dan tidak mudah menyerah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu memberikan kemudahan di setiap kesulitan, menguatkan langkah dalam setiap perjuangan, dan mempertemukan kita dengan orang-orang baik yang selalu mengingatkan untuk terus belajar dan berkarya.


Salam Menulis , salam literasi

Air Mata Kerinduan

Mata Air Kerinduan
Oleh: Sri Wulandari

Ibu, jejak sunyi kupeluk sendiri
Kala mengenang embun jiwamu dalam hidupku
Mantra sucimu menjadi jubah pelindungku
Bening jatuh dari sesal yang tak lunas oleh waktu

Ibu, kini kucari jejakmu
di lorong sepi ingatanku
Menunggu hadirmu dalam simfoni mimpi
Sekadar ingin melihat
lalu memelukmu kembali

Tak ada lagi pelukan
tak ada tegurmu kala marah
Sepi menatap ruang kosong penuh arti
Pelita yang dulu menyala untuk kami
kini padam
namun cahayanya tinggal
di dinding ingatan
Suaramu tak lagi terdengar
tetapi kasihmu tak pernah benar-benar pergi
Ia mengalir diam-diam
seperti mata air
kutemukan dalam setiap doa untukmu

Sapeken, 8 September 2026


Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi *https://wijayalabs.com


Selasa, 08 September 2026

Lagundi daun sederhana yang kaya manfaat

Lagundi, Daun Sederhana yang Kaya Manfaat

Di balik kesederhanaannya, daun lagundi menyimpan kisah tentang kearifan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman di sekitar. Sejak dahulu, lagundi dikenal sebagai salah satu tanaman yang digunakan dalam pengobatan tradisional.

Daun lagundi dipercaya memiliki berbagai manfaat, terutama untuk membantu meredakan batuk dan keluhan pada saluran pernapasan. Tanaman ini juga mengandung senyawa alami yang memiliki aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi. Karena itu, lagundi menjadi salah satu tanaman yang menarik untuk terus dipelajari.
Namun, pemanfaatan tanaman herbal tetap perlu dilakukan dengan bijak. Tidak semua manfaat yang dipercaya secara tradisional telah terbukti melalui penelitian klinis.

Bagi saya, lagundi bukan sekadar daun. Ia adalah pengingat bahwa alam menyimpan banyak pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Merawat tanaman berarti turut menjaga warisan kehidupan.

Puisi tentang lagundi

Lagundi
Oleh: Sri Wulandari

Vitex trifolia namamu
Daunmu pahit
namun menyembuhkan
Hidupmu menemani hari-hariku
tumbuh di pesisir rumahku
gelombang datang menghantammu

Hatiku selalu pilu
menatap daun dan buahmu mulai layu
Bermanfaat meski rapuh
rapuhmu menghidupi

Lagundi
Tak sekuat waru
Tak setegar bakau
Tak setinggi nyiur yang melambai

Akarmu tetap mencengkeram pasir
Meski ombak berulang kali menyapa
Kau memilih bertahan
hingga musim berganti

Awan putih menjadi saksi
tak semua yang rapuh mudah menyerah
Sebab kekuatan tak selalu lahir
dari batang yang kokoh

Kadang hidup
cukup seperti lagundi
Tetap tumbuh
Tetap memberi
Meski tak selalu mampu melawan ombak

Sapeken, 7 September 2026

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang akan terjadi. https:// wijayalabs.com

Artikel Reflektif

Artikel reflektif  Pagi itu, 17 September 2026, aktivitas di sekolah berjalan seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang membuat har...

STATEGI MENANGKAL HOAKS