Cerita Reflektif
“Rumah Blog yang Kembali Kuhuni”
Bismillah, Menulis Lagi dengan Versi Sederhanaku
Tanggal 15 Agustus, akhirnya bisa mengikuti kegiatan Zoom. Senang rasanya. Akhirnya bisa berada di ruangan beliau lagi, melihat beliau sudah sembuh dan kembali aktif. Puji syukur rasanya masih bisa melihat beliau dengan canda dan kerendahan hatinya. Bagi saya, beliau adalah orang baik, seperti filosofi padi: semakin berisi, semakin merunduk.
Melihat postingan beliau, awalnya berkata, “Wow, hadiahnya...” Makin keren saja sponsor dan para donatur yang pastinya orang-orang baik hati.
Melihat lomba itu, akhirnya saya tersenyum kembali. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah belajar di sini. Dengan lomba yang sederhana, pastinya disertai beliau-beliau, para sahabat, dan narasumber di kelas pelatihan yang ikut menyemarakkan. Walaupun nyali terasa ciut, saya tetap ikut lomba. Meski akhirnya hanya terbayar dengan sebuah sertifikat, rasa suka dan gembira tetap terasa kala itu.
Kali ini, melihat tulisan beliau yang memang aktif sebagai blogger dan sahabat literasi, yang pernah hadir di beberapa event, lalu melihat postingannya, saya kembali tersenyum.
Jika berbicara tentang lomba, mungkin saya akan berhenti, merasa tidak mampu melangkah seperti beliau. Bisakah menulis lagi? bisik hati.
Blog pun masih gratisan. Bahkan sempat saya pulihkan dengan setelan yang sama seperti beberapa tahun lalu. Tidak ada yang menarik sama sekali.
Lalu, siapa lagi yang akan menghargai tulisanmu sendiri sebelum kamu belajar mencintai tulisanmu sendiri? Begitu bisik hati.
Akhirnya, di hari Kemerdekaan ke-81 ini, hati kembali berbisik, “Ayo, menulislah.”
Walaupun tulisanmu sederhana, setidaknya ada jejak yang kamu tinggalkan. Walaupun mungkin hanya kamu sendiri yang membacanya.
Berbicara bersama diri sendiri memang rasanya lucu. Namun, di situlah uniknya. Bertanya kepada diri sendiri, kemudian menjawabnya sendiri.
Namun, inilah awal untuk bangkit.
Rumah blog saya yang sudah lama tidak terawat ingin kembali saya huni dan tinggali. Walaupun penuh keterbatasan, inilah proses awal saya untuk menulis lagi.
Bismillah, menulis lagi dengan versi sederhanaku.
Karena mungkin, sebuah tulisan tidak harus sempurna untuk menjadi berarti. Kadang, ia hanya perlu ditulis agar menjadi jejak bahwa kita pernah berjuang untuk bangkit.
Kala hati mulai terketuk,
kutulis seuntai kalimat penyemangat.
Ingin bangkit dari tidur, bukan dari kasur,
melainkan dari tempat
yang membuat saya mampu berbicara melalui tulisan.
Kala Hati Mulai Terketuk
Oleh : Sri Wulandari
17 Agustus 2026 menjadi awal yang baik,
di hari ulang tahun kemerdekaan ke-81.
Mengajarkan arti kehilangan,
sekaligus membuka awal sebuah kisah.
Bersatu, merajut asa
dalam selaksa cerita.
Berdaulat, bersemayam di dada,
bertenun dengan ketulusan jiwa.
Rakyat sejahtera,
menjadi harapan seluruh manusia.
Indonesia maju,
menjadi impian
demi negeri yang makmur dan berjaya.
Hari ini aku menulis,
bukan sekadar merangkai kata,
tetapi menyalakan kembali semangat
yang sempat tertidur di dalam jiwa.
Sapeken, 17 Agustus 2026