Saat senyum tak lagi mudah terbit,
saat langkah terasa berat menahan nyeri,
ada kewarasan yang kadang dianggap biasa,
padahal hati sedang sibuk bertarung
dengan riuh ego di dalam diri.
Jika pada ujung perjalanan ini
aku sempat kehilangan arah,
jemputlah aku dengan kasihmu.
Bukan untuk menyelamatkan seluruh duniaku,
cukup genggam tangan ini
agar aku kembali menemukan jalan pulang.
Dalam raga yang tak selalu baik-baik saja,
ada ribuan kali aku belajar bertahan.
Jujur, berkali-kali harapan terasa redup,
namun selalu ada satu cahaya
yang membuatku memilih untuk melangkah lagi.
Jika masih ada ruang untuk menerima,
terimalah aku bersama segala kurangku.
Tak perlu melihatku sebagai seseorang
yang harus selalu kuat dan sempurna.
Cukup pandang aku sebagai manusia
yang sedang belajar berdamai
dengan luka dan perjalanan.
Ragaku mungkin tak lagi utuh seperti dahulu,
jejak waktu telah meninggalkan banyak cerita.
Namun, adakah hati yang sudi menerima
tanpa bertanya mengapa aku begini?
Aku percaya,
akan ada seseorang yang datang membawa cinta,
meletakkan tangan dengan lembut di pundakku,
lalu berkata,
"Pulanglah...
di sini kau tak perlu menjadi siapa-siapa."
Mungkin kalimat sederhana itu
adalah rumah yang selama ini kucari.
Aku masih menunggu
bukan pada kesempurnaan,
melainkan pada sebuah penerimaan.
Sebab hidup bukan selalu tentang
berapa kali kita jatuh,
melainkan tentang keberanian
untuk kembali mengenali diri
di antara panjangnya perjalanan.
Barangkali selama ini
aku hanya seorang pelakon
yang belajar memainkan peran dengan jujur,
menapaki garis hidup
yang kadang lurus, kadang berliku.
Sisa usia adalah rahasia waktu.
Entah masih panjang atau sebentar,
aku ingin menjalaninya
dengan hati yang lebih lapang,
dengan langkah yang tetap percaya
bahwa selalu ada alasan
untuk menyalakan cahaya.
Salam waras
Sapeken, 27 Agustus 2026