Pawai Budaya dan Jejak Semangat Menulis
Oleh: Sri Wulandari
Hari ini, 1 September 2026. Rangkaian kegiatan Agustusan telah berakhir. Namun, suasananya masih terasa dalam ingatan, terutama setelah kemeriahan puncak kegiatan ditutup pada 31 Agustus dengan karnaval umum atau yang lebih dikenal sebagai pawai budaya.
Pawai budaya menjadi salah satu kegiatan yang selalu dinanti masyarakat. Beberapa tahun sebelumnya, setiap RW turut berpartisipasi dengan menampilkan berbagai kostum yang menarik dan beragam. Pemandangan itu seolah menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat yang haus akan kemeriahan setelah berbagai kesibukan sehari-hari.
Tidak hanya masyarakat, beberapa instansi juga ikut ambil bagian. Aku pun selalu berusaha ikut memeriahkan kegiatan tersebut bersama beberapa rekan dari sekolah dasar lainnya. Instansi pendidikan seperti SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 1 juga turut berpartisipasi. Bahkan, beberapa perwakilan dari kepulauan di sekitar kami ikut hadir untuk menyemarakkan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Namun, ada sesuatu yang berbeda pada tahun ini.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya instansi SD turut memeriahkan pawai budaya, tahun ini kami tidak ikut serta. Meski demikian, kemeriahan tetap terasa karena instansi SMP dan SMA masih berpartisipasi dalam pawai tersebut.
Aku sendiri memilih mengenakan pakaian bernuansa Jogja. Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika mengenakannya. Seolah pakaian itu membawa kembali ingatan tentang sebuah kota yang pernah menjadi bagian dari cerita hidupku—kota kesayangan yang menyimpan banyak kenangan.
Mungkin bagi sebagian orang, pawai budaya hanyalah sebuah kegiatan tahunan. Namun bagiku, setiap kegiatan selalu menyimpan cerita. Ada kebersamaan, ada kenangan, ada rasa bangga menjadi bagian dari masyarakat, dan ada pula kesempatan untuk belajar melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Kini rangkaian HUT RI ke-81 telah selesai. Kemeriahan Agustus perlahan berganti dengan rutinitas seperti biasa. Akan tetapi, semangat yang tertinggal dari seluruh rangkaian kegiatan ini semoga tidak ikut berakhir.
Begitu pula dengan semangat menulis.
Tulisan ini mungkin masih sederhana dalam penyampaian. Kalimat-kalimatnya mungkin belum sempurna. Namun, ada satu niat yang selalu ingin kutanamkan dalam hati: terus menulis dan terus belajar.
Semoga aku selalu istiqamah menjalani kebiasaan ini. Sebab menulis bukan hanya tentang menghasilkan sebuah tulisan, tetapi juga tentang mengabadikan peristiwa, menyimpan kenangan, dan membuktikan bahwa setiap pengalaman memiliki cerita yang layak untuk dibagikan.
Dan aku akan terus mengingat kalimat sakti dari Omjay:
“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” https://wijayalabs.com
Karena mungkin hari ini tulisanku sederhana, tetapi siapa tahu, dari tulisan sederhana inilah akan lahir sebuah cerita besar di kemudian hari.
Sapeken, 1 September 2026
Tulisan ke _16