Tampilkan postingan dengan label Lomba menulis dalam blog H_14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba menulis dalam blog H_14. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2026

Puisi kisah Darsim

 
KISAH DARSIM

Kalimat pilu membentur sunyi,
mengusik nurani yang lama terdiam.
Lelaki polos,
terseret riuh goda dunia
yang datang dengan wajah serupa cahaya.

Di ambang janji pernikahan,
ada rumah yang retak oleh tangan sendiri.
Air mata istri jatuh tanpa suara,
anak-anak belajar membaca pertengkaran
dari mata yang kehilangan teduh.
Ibu menyimpan luka
di balik doa yang tak pernah selesai.

Inilah paradoks keadilan dunia—
ketika kabar tentang gendam dan santet
berkelindan dalam cerita manusia,
sementara layar maya
menyusun wajah-wajah suci
di antara reruntuhan rumah tangga.

Ada doa yang salah alamat,
ada rindu yang menyeberangi batas.
Ingatan berbisik:
“Engkau telah menua,
terlalu sederhana untuk kembali dicinta.”
Lalu kesetiaan ditukar
dengan bayang-bayang semu
yang menjanjikan utopia.

Namun,
bukankah setiap hati
memiliki harga diri
yang tak semestinya dirampas?

Bertahun luka ditoreh
pada sesama perempuan.
Ketika jalan kemenangan
tak juga terbuka,
gelap pun dijadikan tempat bertanya.

Hingga lelah datang
dan kata taubat akhirnya terucap.
Tuhan,
jangan biarkan dunia
menimbang dosa dengan kebencian.
Biarkan setiap perbuatan
menemui cermin takdirnya sendiri.
Sebab keadilan bukanlah kutuk,
melainkan kebenaran
yang perlahan menemukan jalan pulang.

Sapeken, 28 Desember 2026

Puisi kisah Darsim

  KISAH DARSIM Kalimat pilu membentur sunyi, mengusik nurani yang lama terdiam. Lelaki polos, terseret riuh goda dunia yang data...

STATEGI MENANGKAL HOAKS