Minggu, 06 September 2026

Cerpen fantasi mitologis "TITISAN RATU NIRWANA"

Titisan Ratu Nirwana 
Penulis: Sri Wulandari

Premis:
Serangan Terakhir
Jin Jahat tidak pernah menyerah. Setelah berkali-kali gagal mendapatkan Sarminah, ia kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Kali ini, ia membawa pasukan makhluk kegelapan yang menyerbu desa tanpa ampun.

Satria tahu, inilah serangan terakhir. Pertempuran ini akan menentukan nasib Sarminah sekaligus keseimbangan dunia Nirwana.

Sarminah berdiri terpaku di tengah desa. Penduduk telah mengungsi. Rumah-rumah yang biasanya dipenuhi suara kehidupan kini sunyi. Hanya suara langkah pasukan kegelapan dan gelegar pertempuran yang memecah kesunyian.

Makhluk-makhluk itu bukan manusia. Tubuh mereka dipenuhi bayang hitam, bergerak liar di antara rumah-rumah penduduk.

Satria maju menghadang mereka.

“Jangan mendekat kepada Sarminah!” teriaknya.

Pertempuran pun pecah.

Di tengah kekacauan, Sarminah melihat sosok laki-laki berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya tampan, dengan hidung mancung dan sorot mata yang terasa begitu akrab.

Sarminah terdiam.

“Ndok...?”

Entah mengapa, sosok itu mengingatkannya pada seseorang dari masa kecil. Tanpa berpikir panjang, Sarminah berlari dan memeluk tubuhnya.

Tubuh itu terasa sangat dingin.

“Kamu dilindungi. Kamu tidak sendiri.”

Belum sempat Sarminah bertanya, sosok itu tiba-tiba melesat dan menghilang entah ke mana.

Sarminah berdiri terpaku. Dadanya berdebar. Ada sesuatu yang tidak dapat ia mengerti.

Tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut.

Suara-suara asing bergema di dalam pikirannya.

Sarminah melihat kilasan sebuah pertempuran di tempat yang belum pernah ia datangi. Ia melihat seorang wanita berdiri di antara cahaya, berhadapan dengan sosok gelap yang mengerikan.

Wanita itu terasa begitu dekat dengannya.

Seolah-olah mereka adalah satu jiwa.

“Tidak!” teriak Sarminah.

Tanpa sadar, suaranya berubah menjadi gema yang mengguncang udara.

“Aku tidak akan menyerah!”

Cahaya tiba-tiba memancar dari tubuhnya.

Satria menoleh. Ia terkejut melihat tubuh Sarminah diselimuti cahaya terang. Pasukan kegelapan mundur beberapa langkah, seolah tidak mampu mendekati gadis itu.

“Sekarang!” teriak Satria.

Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang dengan seluruh kekuatannya.

Pertempuran mencapai puncaknya.

Akhir Penebusan

Jauh di dimensi Nirwana, Dewi Nawang akhirnya berhadapan dengan Raja Jin.

Pertarungan mereka berlangsung sengit. Dengan bantuan bala tentara Nirwana dan kekuatan Raja Nirwana, Dewi Nawang berhasil mengalahkan Raja Jin. Namun, kemenangan itu harus dibayar dengan luka dan energi yang hampir terkuras seluruhnya.

Raja Jin akhirnya kembali disegel dalam kegelapan.

Dewi Nawang terdiam. Ia tahu, pertarungan telah berakhir, tetapi hukumannya belum selesai.

Ia masih belum dapat kembali ke tahtanya hingga masa penebusannya berakhir.

Sementara itu, di dunia manusia, Sarminah terjatuh pingsan setelah pertempuran berakhir.

Satria segera menghampirinya. Ia mengangkat tubuh Sarminah dengan hati-hati dan memastikan gadis itu masih selamat.

“Dewi Nawang telah menang,” gumam Satria sambil menatap langit.

Ia menarik napas panjang.

“Namun, tugas kita belum selesai.”

Sarminah kemudian kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Ia tidak pernah mengetahui bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah takdir besar yang menghubungkan dunia manusia dan Nirwana.

Satria tetap tinggal di desa. Dari kejauhan, ia diam-diam menjaga Sarminah.

Jin Jahat memang telah kembali disegel dalam kegelapan. Namun, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Sebagian pasukannya masih berkeliaran di bumi dan Nirwana, mengintai kesempatan untuk kembali membuka jalan menuju dunia manusia.

Di dimensi Nirwana, kehidupan belum sepenuhnya pulih.

Dewi Nawang masih menunggu.

Ia menunggu saat hukuman dan penebusannya berakhir, saat ia dapat kembali ke tahtanya dan bersatu dengan Raja Nirwana, suami yang sangat dicintainya.

Suatu hari nanti, ketika tubuh Sarminah telah terbebas dari takdir yang mengikatnya, Dewi Nawang akan kembali.

Kembali memimpin kerajaan Nirwana dengan adil dan bijaksana.

Namun, untuk saat ini, takdir masih meminta mereka menunggu.

Sapeken, 6 September  2026

Cerpen ini berkisah seperti cerpen fantasi mitologis dengan unsur supranatural dan drama penebusan.
Menariknya, cerpen ini bukan sekadar fantasi perang, karena ada unsur penantian, hukuman, pengorbanan, dan cinta antara Dewi Nawang dan Raja Nirwana. Itu bisa menjadi lapisan emosional ceritanya

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi. Https://wijayalabs.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏

Cerpen fantasi mitologis "TITISAN RATU NIRWANA"

Titisan Ratu Nirwana  Penulis: Sri Wulandari Premis: Serangan Terakhir Jin Jahat tidak pernah menyerah. Setelah berkali-kali gagal mendapatk...

STATEGI MENANGKAL HOAKS