Rabu, 09 September 2026

Cerita Reflektif (sebuah paket,sebuah buku,perjalanan panjang sebuah karya)


Sebuah Paket, Sebuah Buku, dan Perjalanan Panjang Sebuah Karya

Kemarin saya mendapatkan telepon. Seseorang mengabarkan bahwa ada paket buku yang telah sampai di wilayah Kabupaten Sumenep. Ia memberikan kode resi, tetapi hanya menyebutkan beberapa angka di bagian belakangnya.

Saat itu kondisi ponsel saya sedang bermasalah. Paket data bahkan sudah minus. Karena itu, saya baru membaca pesan dan melihat begitu banyak panggilan pada malam hari.
Dalam hati saya bertanya-tanya, “Saya pesan apa, ya? Perasaan saya tidak sedang membuka akun belanja dan tidak merasa memesan barang apa pun.”
Saya mulai curiga.
“Jangan-jangan ini hoaks?”
Namun, beberapa saat kemudian masuk telepon dari pihak J&T Cargo yang sudah terverifikasi. Mereka mengonfirmasi bahwa ada barang atas nama saya yang harus diambil di kantor Sumenep. Mereka juga menyampaikan kode resi dan meminta agar barang tersebut segera diambil karena jika tidak, paket akan dikembalikan kepada pengirim.
Saya semakin bingung.
“Barang apa, ya? Saya merasa tidak pernah memesan barang.”
Tak lama kemudian, ada telepon lagi dari nomor yang berbeda.
“Bu, ini ada paket berisi alat tulis dan beberapa barang lainnya.”
Saya menjawab, “Lho, saya tidak pernah merasa memesan barang itu, 
Mbak Ini sebenarnya paket apa?”tanyanya
Saya pun mulai mengingat-ingat.
Dan tiba-tiba…
Ya Allah! Saya baru sadar.
Ternyata paket itu adalah buku yang berkaitan dengan program menulis bersama Pak Menteri Pendidikan. Buku yang di dalamnya terdapat karya para guru dan murid yang selama ini saya perjuangkan agar bisa mengikuti lomba tersebut.

Buku itu akhirnya terbit.

Di balik sebuah buku yang tampak sederhana, ternyata ada perjalanan yang tidak sederhana.
Ada banyak usaha, waktu, tenaga, dan bahkan air mata yang menyertainya.
Laptop saya sampai mengalami kerusakan total. Saat itu saya sedang terburu-buru menyelesaikan pekerjaan. Laptop dalam keadaan menyala selama lebih dari dua minggu. Karena takut mengisi daya ketika kondisinya masih menyala, saya membiarkannya begitu saja. Entah karena korsleting atau penyebab lainnya, akhirnya laptop tersebut rusak.
Untungnya, kerusakan itu terjadi setelah saya berhasil mengirimkan file yang diperlukan.
Tetap saja, sedihnya luar biasa.
Laptop itu harus diperbaiki ke Kota Sumenep. Sementara saya tinggal di wilayah kepulauan. Untuk membawa sebuah laptop ke kota bukanlah perkara sederhana. 

Ada perjalanan menggunakan kapal yang bisa memakan waktu sehari semalam, kemudian harus mencari penginapan, menunggu proses perbaikan, dan setelah semuanya selesai masih harus kembali lagi.
Waktu, tenaga, biaya, semuanya harus dipertimbangkan.
Belum lagi tangan saya yang beberapa waktu lalu terasa kram karena terlalu lama mengetik. Namun, saya tetap memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Saya hanya berusaha menguatkan hati.
“Bismillah. Semoga Allah memberikan kemudahan.”
Perjuangan itu pun tidak berhenti pada urusan teknis.
Mengajak beberapa rekan untuk ikut dalam kegiatan literasi ternyata tidak mudah. Ada yang masih ragu, ada yang belum siap, ada juga yang bilang kenapa harus beli, saya jawab ibu tidak ingin tulisannya dimiliki sendiri, ada yang bilang hanya sebuah lomba atas nama biasa sudah begitu Bu, aduh ribet mau menjadi penyair bukannya tidak bisa, ada yang bilang aku sibuk bukannya menolak, kalimat pahit manis campur seperti gado-gado,tetapi ada pula beberapa rekan yang justru dengan antusias mengatakan ingin ikut.

Di situlah letak kebahagiaannya.
Saya tidak berjuang sendirian.
Ada murid-murid yang ikut berproses. Ada rekan-rekan yang mau belajar. Ada semangat untuk menghasilkan sesuatu bersama.
Dan akhirnya, buku itu benar-benar terbit.
Sebuah karya yang mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja, tetapi bagi kami memiliki cerita yang panjang.

Setelah mengetahui paket tersebut ternyata buku, persoalan berikutnya adalah bagaimana mengambilnya dari Sumenep.
Beberapa kali saya menghubungi dan kurir yang saya pesen, sudah saya telpon agar mengambil barang tersebut yang berada di kantor J&T Cargo, tetapi ternyata kantornya tutup, mungkin kepagian.

Saya sempat bingung lagi. Namun, alhamdulillah, akhirnya ada solusi.
Pihak J&T Cargo dengan baik hati memberikan informasi dan membantu mengarahkan agar paket tersebut dapat diteruskan melalui kurir. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya paket bisa diambil dan dioper ke pihak pos dengan biaya tertentu, Alhamdulillah.

Akhirnya buku itu akan sampai juga
Jadi ingat saat terima buku pertama lomba khusus guru,
Saat memegang paket tersebut, saya kembali teringat pada semua proses yang sudah dilewati.
Ternyata menghasilkan sebuah karya tidak selalu tentang menulis dan selesai.
Kadang ada laptop yang rusak.
Ada tangan yang pegal dan kram.
Ada perjalanan panjang.
Ada penolakan seolah bagai cambuk dibadan.
Ada biaya yang harus dikeluarkan.
Ada kebingungan.
Ada rasa lelah.
Ada keraguan.
Tetapi di antara semua itu, ada satu hal yang membuat saya bahagia:

saya dan murid-murid telah berjuang bersama.
Dan hari ini, perjuangan itu memiliki bukti.
Sebuah buku, pengalaman ini kembali mengingatkan saya pada sebuah kalimat motivasi dari Omjay yang selama ini selalu terngiang di kepala saya:

“Menulislah setiap hari dan lihat apa yang terjadi.”htpps://wijayalabs.com

Dulu saya benar-benar belajar dari nol.
Saya tidak langsung pandai menulis. Saya belajar sedikit demi sedikit. Berlatih, mencoba, salah, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Bahkan tulisan-tulisan saya mungkin masih sederhana.
Namun, saya percaya bahwa tulisan sederhana sekalipun tetap memiliki nilai ketika kita mau mendokumentasikan kehidupan.

Sebab, siapa tahu suatu hari nanti kita membuka kembali blog yang sudah lama kita tinggalkan.
Kita membaca tulisan dari tahun 2023, 2024, 2025, hingga hari ini.
Kita akan menemukan jejak perjalanan diri sendiri.
Selama beberapa tahun itu, saya memang sempat meninggalkan dunia blog. Bukan karena berhenti menulis. Saya hanya berpindah bidang dan merambah berbagai kegiatan lain di  rumah  literasi.
Ternyata, kehidupan memang membawa kita ke banyak arah.
Dan melalui program lomba menulis ini, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk menuangkan berbagai ide dan pengalaman yang sempat tersimpan dalam perjalanan hidup saya beberapa tahun terakhir.
Kini saya semakin percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya untuk dinilai orang lain.

Menulis juga tentang menyimpan kenangan, mendokumentasikan perjuangan, dan meninggalkan jejak perjalanan.
Terima kasih, Omjay.

Kalimat-kalimat motivasi yang dulu mungkin terasa sederhana, ternyata perlahan membawa saya berjalan jauh.
Dari belajar menulis dari nol, berlatih dan terus berlatih, hingga akhirnya bisa menghasilkan karya bersama murid-murid.
Saya sadar, perjalanan ini masih panjang.
Tetapi hari ini saya bahagia.
Sebab saya telah belajar satu hal:
Tidak ada usaha yang sia-sia ketika kita mau belajar, mau berusaha, dan tidak mudah menyerah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu memberikan kemudahan di setiap kesulitan, menguatkan langkah dalam setiap perjuangan, dan mempertemukan kita dengan orang-orang baik yang selalu mengingatkan untuk terus belajar dan berkarya.


Salam Menulis , salam literasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏

Cerita Reflektif (sebuah paket,sebuah buku,perjalanan panjang sebuah karya)

Sebuah Paket, Sebuah Buku, dan Perjalanan Panjang Sebuah Karya Kemarin saya mendapatkan telepon. Seseorang mengabarkan bahwa ada paket buku ...

STATEGI MENANGKAL HOAKS