Keturunan
Darah Biru
Di sebuah desa terpencil bernama Pasem. Sarinah
menjalani hidup sederhana sebagai putri seorang petani. Meski
kerap dianggap berbeda karena wajahnya yang terlampau
anggun dan sikapnya yang tenang, gadis ini tidak pernah merasa
istimewa.
Sarinah percaya bahwa ia hanyalah gadis biasa yang ditakdirkan untuk menjalani hidup tanpa banyak perubahan. Ia suka membantu orang tuanya di sawah, jika pekerjaan dirasa
cukup. Dia berpamitan pulang seperti hari-hari biasanya.
Memasak dan mencuci pakaian orang tuanya. Siang itu
sangat cerah, senyum manis terpancar indah penuh bahagia.
Baju siap dijemur dan di beberapa helai baju terbungkus tangan
manisnya. Ia melihat sosok bayangan berkelebat dan melintas
di belakang tubuh gadis itu.
Sarinah berkata "Siapa itu?" tegasnya menyapa
bayangan. Hening tidak ada jawaban.
"Kenapa sih, saat aku sendiri bayangan itu seolah-olah
mengejarku," gumannya dalam hati. Seperti kegiatan harian,
Sarinah selalu diawasi oleh sosok tak terlihat.
Saat malam tiba, Sarinah menghidupkan lampu sumbunya dan lelah membawa pada tidur lelap, disaat itu sosok
berbaju putih berkata.
"Aku akan membawamu berkeliling." Seketika sarinah
melesat tinggi melintasi awan-awan putih, banyak orang yang dilihatnya, di dalam tembok besi. Ya, seperti tahanan ia pun
bertanya pada sosok berjubah putih.
Dari kejauhan Sarinah melihat, kubah masjid. Ia
menunjuk , seraya mengisyaratkan, tetapi sosok bayangan putih
ini berkata, "Waktunya pulang."
Seketika sarinah terperanjat dari tempat tidurnya.
Mimpi yang membuat ketakutan, hal ini pun ditutup rapat dari
orang tuanya.
Kejadian-kejadian aneh menyelimuti hari-hari.
Sarinah sampai beranjak dewasa. Saat tertidur pulas, ia juga mengalami
hal aneh di mana tubuhnya terbagi menjadi dua. Ya, tubuhnya
mengambang di atas badannya, setengah mati ia pun berteriak.
Seperti magnet yang saling tarik menarik.
Sarinah menolak tubuhnya terpisah, ketika itu tubuhnya melayang agak tinggi semakin terasa ringan rasa tubuhnya. Saat
ruh itu ingin meninggalkan raga, dengan teriakan dan penolakan
tubuh yang melayang tadi jatuh begitu saja.
"Aku gak mau!" teriaknya dalam mimpi. Seketika itu tubuhnya terjatuh ke tubuh lainnya.
Sarinah belum sempat terbangun dalam mimpi, Tiba-tiba tubuhnya tidak bergerak, di telinga bagian kiri seolah ada
mantra yang dibisikkan rasanya panas, bisikan itu nyata, dan
terasa.
Terbangun dan gugup menghiasi wajah anggunnya dan
mental Sarinah benar-benar di uji. Hari berganti hari, bulan
berganti bulan tahun berganti tahun semua hal dirasakan selalu.
Suatu malam hujan turun begitu deras, membasahi jalan
tanah di sekitar rumah Sarinah. Di bawah cahaya redup lampu
minyak, ia terduduk di sudut ruangan sambil menjahit bajunya
yang sobek, karena besok ia berjualan di pasar. Tiba-tiba, angin ...........bersambung
Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi, https:// wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏