Ketika Puisi Menjadi Jalan Belajar Anak-Anak Pesisir
Beberapa hari terakhir, seperti biasa, saya kembali melakukan pembinaan kepada murid-murid yang mengikuti kegiatan menulis puisi. Bagi sebagian anak, menulis mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi anak-anak di kepulauan tempat saya mengajar, merangkai kata menjadi sebuah puisi ternyata bukan perkara mudah.
Kendala yang kami hadapi cukup kompleks. Sebagian besar peserta didik belum terbiasa menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam kata-kata. Mereka masih belajar memahami kosakata, frasa, kalimat, bahkan tanda baca. Mereka mungkin sudah cukup akrab dengan gawai, tetapi belum tentu terbiasa menggunakan kata-kata untuk menghasilkan sebuah karya tulis.
Di sinilah saya sebagai guru mencoba mengambil langkah-langkah kecil.
Dengan waktu pembinaan yang terbatas, saya membantu mereka memahami judul yang dipilih, kemudian mengarahkan kata-kata apa saja yang dapat dikembangkan sesuai tema. Bukan untuk membuatkan karya mereka, tetapi untuk membantu mereka menemukan jalan agar mampu menuangkan gagasan dengan kemampuan sendiri.
Hal ini menjadi semakin penting karena karya tersebut akan dibukukan bersama puluhan peserta didik lainnya. Ada tanggung jawab yang harus kami jaga. Penyelenggara juga telah menetapkan bahwa karya tidak boleh menggunakan AI. Artinya, setiap puisi harus lahir dari proses berpikir, belajar, dan kreativitas anak itu sendiri.
Justru di situlah tantangannya.
Anak-anak tidak hanya belajar menulis puisi. Mereka belajar mengenal kosakata baru, memahami makna sebuah kata, menyusun kalimat, membaca, memperhatikan tanda baca, dan berani menuangkan pikiran mereka dalam bentuk tulisan.
Saya sempat berpikir, ternyata menulis bukan sesuatu yang mudah bagi anak-anak di sebuah kepulauan. Keterbatasan lingkungan belajar dan dukungan orang tua menjadi salah satu tantangan yang kami rasakan. Namun, keadaan bukan alasan untuk berhenti mencoba.
Saya percaya, pendidikan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang ia tumbuh dari sesuatu yang sederhana: satu judul, satu kata, satu kalimat, lalu berkembang menjadi sebuah karya.
Dengan jumlah peserta yang cukup banyak, pembinaan pun dilakukan secara bergilir. Ada anak yang dibimbing hari ini, sementara anak lainnya menunggu giliran. Saya harus mengatur waktu agar kegiatan tersebut tidak mengganggu pembelajaran di kelas.
Bagi saya, mengambil waktu pelajaran bukan pilihan yang tepat jika membuat kewajiban belajar mereka terganggu. Karena itu, saya berusaha memberikan pembinaan tambahan agar tugas dalam kurikulum tetap berjalan dan kegiatan menulis pun dapat terlaksana.
Saya ingin anak-anak belajar bahwa tanggung jawab bukan tentang memilih salah satu, melainkan tentang belajar mengatur waktu agar keduanya dapat berjalan seimbang.
Ada pula ingatan ikut menulis edisi pertama, perjuangan kecil yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang. Beberapa karya harus diketik secara manual. Ketika laptop mengalami kendala, saya memanfaatkan fasilitas laptop sekolah agar anak-anak tetap dapat menyelesaikan tugasnya.
Saya pun masih terus belajar. Menjadi guru pendamping bukan berarti saya telah sempurna dalam menulis. Saya juga masih mengikuti berbagai pelatihan dan terus belajar bagaimana mendampingi anak-anak menghasilkan puisi.
Bukankah seorang guru juga seorang pembelajar?
Alhamdulillah, dari proses ini saya melihat bahwa kegiatan menulis puisi tidak hanya menghasilkan karya. Lebih dari itu, anak-anak sedang belajar mencintai bahasa Indonesia.
Mungkin hari ini puisinya masih sederhana. Mungkin masih ada kata yang kurang tepat, tanda baca yang terlupa, atau kalimat yang belum tersusun sempurna. Namun, setiap kesalahan adalah bagian dari proses belajar.
Kepada teman-teman yang sudah berhasil menyetorkan naskah, selamat atas keberaniannya. Kepada yang masih menunggu dan belum menyelesaikan karya kami, jadi jangan menyerah semangat untuk diri.
Setiap kata yang kalian tulis adalah satu langkah menuju kemampuan yang lebih baik.
Bagi saya, mendampingi puluhan anak dalam kegiatan ini bukan sekadar menyelesaikan sebuah tugas lomba. Ini adalah kesempatan untuk menanamkan keberanian, berani membaca, berani menulis, berani mencoba, dan berani menunjukkan karya sendiri.
Saya pun bersyukur karena sebelumnya telah memiliki beberapa karya puisi yang berhasil diterbitkan dalam solo ber-ISBN. Semoga pengalaman kecil ini menjadi jalan untuk terus menghasilkan karya-karya berikutnya, sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi anak-anak yang saya dampingi.
Sebab, literasi bukan hanya tentang menghasilkan buku.
Literasi adalah tentang menyalakan cahaya di dalam diri seseorang agar ia mampu membaca dunia, kemudian menuliskan kembali apa yang ditemukannya.
Dari kepulauan kecil ini, kami belajar bahwa keterbatasan bukan akhir dari sebuah cerita. Ia justru bisa menjadi awal dari sebuah perjuangan.
Amanat yang saya petik:
Jangan menunggu keadaan sempurna untuk mulai belajar. Dengan keterbatasan yang ada, kita tetap dapat menumbuhkan keberanian, kreativitas, dan tanggung jawab. Guru bukan hanya mengajarkan anak untuk menghasilkan karya, tetapi juga mendampingi mereka menemukan kemampuan yang mungkin selama ini belum mereka sadari.
Cukup sampai di sini cerita Jumat malam saya.
Salam literasi.
Jangan lupa, menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi (Omjay).