Tampilkan postingan dengan label lomba menulis dalam blog II. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba menulis dalam blog II. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2026

ketika waktu tidak pernah cukup

Ketika Waktu Tak Pernah Cukup

Tulisan ini kutoreh dalam untaian kalimat. Berbicara tentang waktu yang seolah tidak pernah selesai, tetapi selalu terasa kurang. Mungkin begitulah cerita yang sedang kurasakan. Rasa lelah dan kantuk seperti menyelimuti tubuh, tetapi waktu terus berjalan.
Ketika pagi datang dan ada pekerjaan yang harus diselesaikan, memaksimalkan waktu menjadi tanggung jawab harian. Sebab, ketika gaji dan tunjangan belum cukup memenuhi kebutuhan, pekerjaan tambahan menjadi pilihan agar anak-anak tidak merasa kekurangan.

Sesekali aku teringat masa kecil. Uang jajan sudah dijatah. Pilihan makanan pun sederhana. Membeli makanan ringan di warung bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Namun zaman telah berubah. Kini hampir semuanya serba instan, sementara uang tetap menjadi alat tukar yang tidak bisa diabaikan. Tanpanya, banyak kebutuhan terasa lebih berat.
Di tengah keadaan itu, aku kembali pada tugas menulis. Ada sekitar lima puluh peserta yang ingin kuikutsertakan. Beberapa wali murid sudah dikonfirmasi untuk membantu anak-anak membuat puisi, tetapi sebagian akhirnya menyampaikan bahwa mereka tidak dapat melanjutkannya.

Aku memahami keadaan mereka.

Namun, semangat tetap kuusahakan tumbuh. Para peserta berasal dari kelas 4, 5, dan 6. Sebagian dari mereka sudah sering tampil dalam berbagai kegiatan. Bahkan, beberapa di antaranya kini telah lulus. Kami pernah bersama mengikuti berbagai lomba dalam kegiatan IGINOS. Dari sana aku belajar bahwa keberanian anak-anak untuk mencoba adalah sesuatu yang perlu terus dirawat.

Meski begitu, mendampingi mereka bukan perkara mudah. Kesibukan sore, kegiatan tambahan yang rutin, serta berbagai tanggung jawab membuat waktu kami tidak selalu bertemu. Mengajak mereka menyelesaikan tugas menulis bersama membutuhkan kesabaran.

Di antara lelah yang datang, harapan tetap kutanamkan. Semoga beberapa hari ke depan karya-karya mereka dapat selesai dan dikumpulkan. Bukan semata-mata untuk mengejar sebuah lomba, melainkan untuk mengajarkan kepada mereka bahwa setiap usaha memiliki nilai.

Barangkali tidak semua tulisan akan menjadi juara.

Namun, keberanian untuk menulis, mencoba, dan menyelesaikan sesuatu adalah kemenangan kecil yang patut dihargai.
Aku hanya ingin lelah ini menjadi lillah. Tidak mengharap banyak pujian, sebab aku percaya Allah melihat setiap usaha yang dilakukan dengan tulus.

Aku kembali mengingat kalimat yang sering menjadi penyemangat dalam perjalanan menulis:

“Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.”
Kalimat itu bukan sekadar ajakan untuk menulis. Bagiku, ia adalah pengingat bahwa sebuah perubahan sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Maka, meski waktu terasa tidak pernah cukup, aku akan tetap menulis.

Sebab mungkin, dari satu kalimat yang kutorehkan hari ini, akan tumbuh keberanian pada diri seorang anak untuk bermimpi esok hari
 Salam sehat penuh semangat, salam literasi

ketika waktu tidak pernah cukup

Ketika Waktu Tak Pernah Cukup Tulisan ini kutoreh dalam untaian kalimat. Berbicara tentang waktu yang seolah tidak pernah selesai, tetapi se...

STATEGI MENANGKAL HOAKS