Oleh: Sri Wulandari
Ibu ....
Engkau pelita yang menerangi gulita
Pejuang gigih dalam derita
Demi asap dapur yang tetap menyala
Kau perjuangkan tiap rupiah
Menjemput rezeki menantang lelah
Ibu ....
Di telapak kakimu surga berteduh
Doamu mengalir bagai sungai tanpa muara
Samudra kasih kau hamparkan luas
Bagi kami, anak-anak yang sering lupa
Namun kelembutanmu tetap memeluk jiwa
Ibu ....
Di usia senja tuturmu bergoyang oleh waktu
Namun kami yang dahulu kau dekap mesra
Kini berbalik seakan lupa
Menatapmu dengan amarah dan kecewa
Padahal kasihmu tak pernah sirna
Sapeken, 21 September 2026
Amanat yang tersirat yaitu
“Engkau pelita yang menerangi gulita”
Ibu digambarkan sebagai cahaya yang memberi arah ketika kehidupan berada dalam kesulitan.
“Demi asap dapur yang tetap menyala”
Menggambarkan perjuangan ibu memenuhi kebutuhan keluarga, meskipun harus menghadapi kelelahan dan kesulitan.
“Di telapak kakimu surga berteduh”
Mengandung penghormatan yang sangat dalam kepada seorang ibu. Sosok ibu ditempatkan sebagai manusia yang penuh pengorbanan dan kasih.
“Doamu mengalir bagai sungai tanpa muara”
Doa seorang ibu digambarkan tidak pernah berhenti dan tidak mengenal batas.
“Bagi kami, anak-anak yang sering lupa”
Ini menjadi titik refleksi: seorang anak terkadang baru menyadari pengorbanan ibu setelah waktu berjalan.
“Padahal kasihmu tak pernah sirna”
Inilah salah satu inti emosional puisi. Sikap anak dapat berubah, usia ibu dapat menua, tetapi kasih seorang ibu tetap a
*Amanat yang terkandung*
Puisi ini menyampaikan pesan agar anak tidak melupakan perjuangan, doa, pengorbanan, dan kasih sayang seorang ibu. Waktu akan membawa seorang ibu menuju usia senja, tetapi kasihnya kepada anak tidak ikut menua.
Karena itu, selama ibu masih ada, hargailah, lembutlah dalam bertutur, dengarkan nasihatnya, dan jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa besar arti kehadirannya.
Ada satu pesan yang terasa sangat kuat dari puisi ini:
Jangan sampai kita baru memahami cahaya seorang ibu setelah rumah kehidupan kita kehilangan pelitanya.
AMANAT YANG KETIK PETIK
Awalnya kita melihat perjuangan ibu, kemudian merasakan kasihnya, lalu pada bait terakhir kita dihadapkan pada sebuah teguran untuk diri sendiri. Jadi, puisi ini bukan hanya puisi tentang ibu, tetapi juga puisi perenungan seorang anak tentang waktu dan penyesalan.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.http://Wijayalabs.comhttp://Wijayalabs.com