Oleh: Sri Wulandari
Pagiku diiringi doa
Menunggu sang cahaya
Mengharap bintang kejora
Menemani senyum penuh makna
Laut saksi sang surya
Menampakkan keindahan cahaya
Sang bintang memudar
Meredup tertelan awan berpijar
Kubuka dengan senyuman
Berganti bersama harapan
Menjemput rezeki dengan impian
Bekerja demi sesuap makan
Berpeluh menetes di mata dan badan
Bercucuran penuh kelelahan
Apa daya dunia bukan di genggaman
Pelakon seperti cerita pewayangan
Sapeken, 18 September 2026
Refleksi Keseluruhan
Pagi bukan sekadar puisi tentang pagi.
sebuah puisi tentang manusia yang bangun setiap hari dan kembali bernegosiasi dengan kehidupan.
Pagi mengajarkan bahwa setiap hari adalah awal baru.
Bintang kejora mengajarkan bahwa harapan dapat hadir bahkan sebelum terang sempurna.
Laut mengajarkan keluasan dan ketabahan.
Keringat mengajarkan bahwa rezeki membutuhkan ikhtiar.
Wayang mengajarkan bahwa manusia tidak menggenggam seluruh alur cerita.
Tetapi selama cahaya masih datang dan napas masih diberi, peran itu masih layak dimainkan.
Dan kalimat refleksi yang paling cocok sebagai inti tulisan ini adalah
“Aku mungkin tidak mampu menggenggam seluruh dunia, tetapi aku masih bisa menggenggam doa, menjemput rezeki dengan ikhtiar, dan menjaga cahaya harapan agar tetap menyala di dalam diri.”
Tentang bagaimana seseorang memilih untuk tetap berjalan meski mengetahui bahwa hidup tidak selalu berada dalam genggamannya.
Selalu bersama kalimat sakti ini berbunyi
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi.