Gambar amatir ini di buat oleh Founder AIS Muhammad Asqalani Eneste, dan menggambarkan sosok seperti ibu.
Aku menatap sebuah gambar cukup lama.
Seorang perempuan berjilbab berdiri seperti pohon. Kakinya menjelma akar yang mencengkeram bumi. Tubuhnya menjadi batang yang tumbuh tegak. Di bagian perutnya terdapat dua sarang burung. Kepalanya dikelilingi bintang, sementara sepasang mata menatap dengan tenang. Di tengah wajahnya tumbuh sekuntum bunga.
Aneh.
Semakin lama kupandangi, semakin aku merasa perempuan itu seperti sedang menatapku kembali.
Dia perempuan, tampak seperti aku.
Barangkali bukan wajahnya yang membuatku merasa demikian. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rupa.
Kaki yang berubah menjadi akar mengingatkanku bahwa setiap manusia memiliki tempat untuk berpijak. Ada masa lalu yang tidak mungkin dihapus, pengalaman yang pernah menyakitkan, juga perjalanan panjang yang membuat kita menjadi lebih kuat.
Akar tidak pernah sibuk menunjukkan dirinya. Ia bekerja dalam diam, menopang pohon agar tetap berdiri.
Bukankah hidupku juga demikian?
Banyak hal yang kulalui tidak selalu diketahui orang lain. Ada perjuangan yang hanya menjadi percakapan antara aku dan Tuhan. Ada lelah yang kusimpan sendiri. Ada doa-doa yang hanya kutitipkan kepada langit.
Kemudian mataku berhenti pada bagian kepala.
Bintang-bintang mengelilinginya.
Aku tersenyum.
Mungkin itulah mimpi.
Sesederhana apa pun kehidupan seseorang, selalu ada bintang yang ingin diraihnya. Bintang itu bisa berupa cita-cita, harapan, atau sekadar keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin.
Namun, gambar itu mengajarkanku satu hal: bermimpi tidak berarti harus meninggalkan bumi.
Kita boleh menatap langit setinggi-tingginya, tetapi tetap harus memiliki akar.
Sebab tanpa akar, pohon akan mudah tumbang.
Tanpa pijakan, mimpi pun bisa kehilangan arah.
Lalu aku melihat dua sarang burung di bagian perut perempuan itu.
Sarang adalah tempat pulang.
Burung boleh terbang sejauh apa pun, tetapi selalu membutuhkan tempat untuk kembali. Aku pun menyadari, mungkin selama ini hidup bukan hanya tentang seberapa jauh aku mampu melangkah. Ada nilai yang lebih besar: apakah kehadiranku bisa menjadi tempat yang nyaman bagi orang lain?
Menjadi rumah bagi keluarga.
Menjadi ruang aman bagi anak-anak.
Menjadi seseorang yang kehadirannya membawa sedikit ketenangan.
Dan bunga yang tumbuh di wajahnya membuatku kembali berpikir.
Bunga tidak memaksa dirinya untuk mekar. Ia tumbuh sesuai waktunya.
Mungkin manusia pun begitu.
Tidak semua hal harus terjadi hari ini. Tidak semua impian harus segera terwujud. Ada saat untuk tumbuh, ada saat untuk menunggu, dan ada saat untuk mekar.
Aku kembali menatap perempuan dalam gambar itu.
Kini aku tahu mengapa ia terasa begitu dekat.
Dia bukan sekadar perempuan dalam sebuah gambar.
Dia adalah aku yang sedang belajar menerima perjalanan hidup.
Aku yang berusaha tetap berakar meski pernah diterpa angin.
Aku yang masih menyimpan bintang meski langit tak selalu cerah.
Aku yang belajar menjadi tempat pulang bagi orang lain.
Aku yang terus menanam harapan meski belum tahu kapan akan memetik hasilnya.
Aku kemudian memandang bulan yang berada di antara jemari.
Bulan itu tampak dekat, seolah dapat kuraih.
Namun sesungguhnya ia tetap berada jauh di langit.
Mungkin begitulah harapan.
Ia tidak selalu harus segera kita miliki. Kadang cukup kita pandang, kita percaya, lalu kita terus berjalan mendekatinya.
Aku tersenyum.
Kini aku tidak lagi bertanya mengapa perempuan itu tampak seperti aku.
Sebab jawabannya sudah kutemukan.
Dia perempuan, tampak seperti aku, karena sesungguhnya aku sedang melihat diriku sendiri—seorang perempuan yang masih belajar berakar pada bumi, menumbuhkan kehidupan di dalam diri, memandang dunia dengan mata yang jernih, dan tetap berani menggantungkan mimpi setinggi bintang.
Sapeken, 13 September 2026
Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi kalimat sakti beliau,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏