Lanjutan cerita darah biru
Sarinah mengangkat wajah. Udara terasa dingin
menyapa wajah dan rambutnya yang anggun, lebih dingin dari biasanya.
“Ibu, apakah pintu belum ditutup rapat?” tanyanya, tetapi tak ada jawaban.
Saat itulah ia mendengar suara pelan, tetapi jelas memanggil namanya. “Sarinah ...."
Ia menoleh ke sekeliling, tetapi hanya ada bayangan dinding dan tikar tua di lantai. “Siapa itu?” tanyanya dengan
suara bergetar, penuh cemas.
“Pewaris terakhir ... darah biru ...” Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat, seperti berbisik tepat di telinganya.
Sarinah berdiri, tubuhnya gemetar, ketakutan menghiasi suasana malam itu. Ia menggigil ketakutan, tiba-tiba tangan hangat menyentuh pundaknya.
"Sarinah ada apa, Nak?" Ibunya cemas melihat wajah pucat gadisnya itu. Sarinah memeluk erat tubuh paruh baya itu.
***
Keesokan harinya, Sarinah menemui Pak Sudoyo
tetua desa yang dikenal bijaksana. Dengan hati-hati, ia menceritakan kejadian aneh yang dialaminya.
Pak Sudoyo mengangguk perlahan, lalu berkata, “Sudah waktunya, Sarinah. Kau adalah pewaris kekuatan leluhur. Darah biru mengalir dalam dirimu,” ujarnya seraya meyakinkan gadis itu.
Menulislah Setiap Hari Buktikan yang akan terjadi"https://wijayalabs.com"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏