Menjadi guru bukan sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Ada begitu banyak proses yang harus dilalui, terutama ketika kita ingin menumbuhkan budaya literasi pada peserta didik.
Bagi saya, kesempatan menjadi salah satu kandidat Guru Aktif Literasi Nasional (GAL) dalam rangkaian apresiasi IGINOS menjadi sebuah pengalaman yang sangat berarti. Sebuah penghargaan mungkin hanya terlihat sebagai hasil akhir, tetapi di baliknya ada proses panjang yang tidak selalu terlihat.
Saya masih mengingat bagaimana saya mendampingi anak-anak menyelesaikan berbagai tugas. Mulai dari melatih mereka membuat puisi, membuat video, hingga menyelesaikan tugas-tugas lainnya dengan tenggat waktu yang harus dipenuhi.
Sebagai guru kelas, semua itu tentu menyita waktu dan tenaga. Namun, ketika satu demi satu tugas akhirnya selesai, ada rasa lega yang sulit digambarkan.
Dalam hati saya bergumam,
"Ternyata saya bisa."
Bukan karena saya merasa paling hebat, tetapi karena saya menyadari bahwa sebuah pencapaian sering kali lahir dari keberanian untuk terus mencoba, meskipun prosesnya melelahkan.
Sembilan Nama dari Sumenep
Saya pernah mengetahui bahwa terdapat sembilan kandidat GAL dan GIL IGINOS dari perwakilan Sumenep yang masuk dalam apresiasi tersebut. Saya pun berusaha mencari informasi dan laman yang memuat daftar para kandidat itu. Namun, hingga kini saya belum menemukan kembali situs yang memuat daftar tersebut secara lengkap.
Yang membuat saya terharu, dalam pemberitaan Madura Post tentang penghargaan literasi nasional, Agus Dwi Saputra, yang saat itu menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, secara khusus menceritakan perjuangan guru-guru dari wilayah kepulauan.
Beliau menyampaikan bahwa beberapa guru rela menempuh perjalanan jauh, menggunakan perahu, bahkan berpindah pulau demi menghadiri acara secara langsung. Menurut beliau, kehadiran para guru tersebut menjadi bukti bahwa semangat literasi tidak mengenal batas jarak maupun medan.
Mendengar kisah itu, saya merasa perjuangan kecil yang saya lakukan ternyata memiliki makna yang lebih besar.
Mengejar Kapal, Mengejar Kesempatan
Ada satu cerita yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan.
Saat itu saya hendak menghadiri acara tersebut. Barang-barang saya sudah lebih dahulu berada di kapal penumpang Sabuk Nusantara 51. Karena hari Jumat, saya sempat kembali kerumah sebentar. Namun, ketika kembali ke pelabuhan, kapal ternyata sudah meninggalkan saya.
Panik? Tentu.
Resah? Apalagi.
Barang sudah berada di kapal, sementara saya masih tertinggal di daratan.
Namun, ternyata masih ada jalan.
Saya menemukan kapal yang melayani lintasan Sapeken–Kangean. Di dalamnya ada camat dan beberapa petugas lainnya. Saya pun ikut menumpang. Perjalanan dilanjutkan dengan harapan dapat mengejar Sabuk Nusantara 51 yang akan transit di Kepulauan Kangean.
Gelombang saat itu cukup besar. Tetapi semangat untuk menghadiri acara membuat saya terus berusaha.
Rasanya seperti sedang melakukan "kejar-kejaran" dengan kapal.
Sebuah pengalaman sederhana, tetapi menjadi kenangan yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan saya.
Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil menyusul kapal tersebut. Tiket yang sudah saya beli dari Sapeken masih berada di tangan. Ada rasa lega yang luar biasa ketika akhirnya saya bisa melanjutkan perjalanan.
Saat itu saya menyadari satu hal:
Kadang-kadang, perjalanan menuju sebuah kesempatan tidak kalah penting daripada penghargaan yang kita terima di akhir perjalanan.
Literasi Tidak Mengenal Jarak
Kisah perjalanan tersebut membuat saya semakin memahami makna literasi.
Literasi bukan hanya tentang membaca buku. Literasi juga tentang keberanian untuk belajar, mencoba, berkarya, dan berbagi. Bahkan perjalanan seorang guru dari pulau kecil menuju sebuah acara nasional pun dapat menjadi bagian dari cerita literasi.
Momen artikel https://madurapost.net/156848/prestasi-dinas-pendidikan-sumenep-agus-dwi-saputra-raih-penghargaan-literasi-nasional?page=2
Artikel Madura Post yang saya baca seolah mengabadikan perjuangan itu. Agus Dwi Saputra menyampaikan bahwa kehadiran guru-guru dari kepulauan menjadi bukti bahwa semangat literasi tidak mengenal batas jarak dan medan.
Kalimat tersebut terasa begitu dekat dengan perjalanan saya.
Saya berasal dari wilayah kepulauan. Untuk mencapai suatu tempat, terkadang bukan hanya membutuhkan kendaraan, tetapi juga keberanian menghadapi laut, waktu perjalanan, perubahan jadwal kapal, bahkan ketidakpastian di perjalanan.
Namun, semua itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkarya.
Senyum di Balik Lelah
Ketika perjuangan itu akhirnya mendapat apresiasi, saya tersenyum.
Bukan semata-mata karena sebuah gelar atau penghargaan, melainkan karena semua proses yang telah dilalui bersama peserta didik ternyata memiliki arti.
Saya teringat tugas-tugas yang dikerjakan anak-anak, puisi yang mereka tulis, video yang mereka buat, serta waktu yang kami curahkan bersama.
Di situlah saya memahami bahwa penghargaan sesungguhnya bukan hanya sebuah nama yang tercantum dalam daftar penerima apresiasi.
Penghargaan juga bisa berupa senyum seorang anak ketika berhasil menyelesaikan tugasnya.
Bisa berupa keberanian seorang peserta didik membaca puisinya.
Bisa berupa guru yang tetap mencoba meskipun lelah.
Dan bisa pula berupa sebuah perjalanan panjang dari pulau kecil untuk menghadiri sebuah kegiatan literasi.
Dari kepulauan, kami belajar bahwa jarak boleh jauh, tetapi semangat tidak boleh kalah.
Jika literasi adalah cahaya, maka biarlah cahaya itu terus menyala dari sekolah-sekolah kecil di pulau-pulau, menjangkau anak-anak, guru, dan siapa saja yang percaya bahwa membaca, menulis, dan berkarya mampu membuka jalan menuju masa depan.
Saya mungkin hanya seorang guru dari sebuah pulau kecil.
Namun hari itu saya belajar:
mimpi tidak pernah mengenal batas geografis.
Dan perjalanan mengejar kapal itu akhirnya bukan hanya tentang mengejar Sabuk Nusantara 51.
Saya sedang mengejar sebuah kesempatan.
Kesempatan untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa dari ujung kepulauan pun, seorang guru bisa terus melangkah, berkarya, dan belajar bagaimana bisa menjadi bagian kecil dari cahaya literasi.
Saya menulis hanya mengabadikan momen yang tidak pernah ditulis, bukan pamer namun sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏