Oleh: Sri Wulandari
Kilas wajahmu menari di pelataran gulita
Sang bintang menggantung di kaki cakrawala
Silhuetmu hadir di antara cahaya lembutnya
Menyapa mata dan jiwa dalam pelukan rindu
Aku terjebak dalam cahayamu yang memikat
Terangmu melambai mengisyaratkan makna
Kau bergerak seolah mengajakku memahami
Bahwa hadirmu tak pernah benar-benar pergi
Senyummu menjelma dalam bisikan angin
Tak terlihat namun begitu nyata
Kau titip salam lewat cahaya malam
Bayangmu kupeluk erat dalam doa
Kerlip gemintang kembali memanggilku
Lantunan doamu menggema di relung jiwaku
Meski raga tak saling bersua
Hadirnya bayangmu dalam doa, cukup menjadi cahaya
Sapeken, 23 September 2026
kalimat refleksi yang bisa kita petik adalah
1.“Tidak semua yang telah pergi benar-benar kehilangan jejak. Ada yang tetap hadir melalui kenangan, hidup dalam doa, dan menjelma cahaya yang menuntun langkah.”
2.“Ketika raga tak lagi dapat bersua, biarlah doa menjadi jembatan. Sebab seseorang yang pernah berarti tidak selalu hadir untuk dipeluk, tetapi dapat tetap hidup sebagai cahaya di dalam hati.”
3.“Meski raga tak saling bersua,
Hadirnya bayangmu dalam doa, cukup menjadi cahaya.”
Pesan tersirat tidak semua yang kita cintai harus hadir secara fisik untuk tetap berarti. Ada seseorang yang mungkin telah jauh, tetapi kebaikan, doa, dan hadirnya dapat menjadi cahaya yang menemani perjalanan hidup kita.
Amanat
Belajarlah menerima jarak dan tanpa kehadiran dengan lapang hati. Jangan menjadikan kerinduan sebagai luka yang terus digenggam. Jadikan sebagai doa, dan jadikan doa sebagai cahaya untuk melangkah.
“Ada bayang yang tak lagi dapat dipeluk, ada sosok yang tak lagi dapat ditemui. Namun ketika tak bernama kita titipkan dalam doa, jarak kehilangan kuasanya—sebab cinta yang tulus dapat menjelma cahaya, bahkan dari kejauhan.”
Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi. https://wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏