Sabtu, 26 September 2026

Esai reflektif tentang pengalaman seorang guru dalam kegiatan literasi( kisah inspiratif)

Esai reflektif tentang pengalaman seorang guru dalam kegiatan literasi

Ketika Tubuh Meminta Berhenti, Tanggung Jawab Tetap Mengajarkan Arti
Seperti biasa, pagi itu kujalani dengan tenang. Berangkat ke sekolah sudah menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus kulaksanakan dengan semangat 45. Meski kondisi tubuh sedang kurang enak badan, sebelum berangkat aku menyempatkan diri untuk memeriksakan keadaan.

Namun, ada tugas yang tetap harus kuselesaikan. Salah satunya mengumpulkan tugas puisi dalam rangkaian kegiatan lomba yang sedang diikuti melalui komunitas KYM, sebuah kegiatan yang melibatkan kolaborasi bersama Pak Menteri, Kepala Dinas Pendidikan, serta Pak Bupati di daerah setempat.

Sesampainya di sekolah, aku memberikan beberapa arahan kepada peserta didik kelas 6. Setelah itu, mereka mulai mengerjakan rangkaian tugas menulis. Beberapa kalimat sederhana mulai mereka susun. Harapanku, tulisan-tulisan tersebut dapat selesai dan dikumpulkan sesuai batas waktu yang telah ditentukan.

Setelah kelas 6, kegiatan berlanjut bersama kelas 4 dan 5 yang saat itu kugabung menjadi satu. Tujuannya sederhana: memberikan ruang kepada anak-anak untuk berlatih dan menuangkan kemerdekaan berpikir melalui tulisan.

Materi yang diberikan juga merupakan kelanjutan dari pelatihan sebelumnya bersama tim KYM, termasuk arahan dari Ali dan moderator. Beberapa kegiatan sempat kami dokumentasikan karena bagiku, dokumentasi bukan sekadar foto. Ia menjadi jejak bahwa pernah ada proses belajar, perjuangan, dan karya yang dikerjakan bersama.

Hari itu anak-anak mulai menentukan judul. Kami sengaja menetapkan judul terlebih dahulu agar mereka lebih mudah mengembangkan isi tulisan dan tidak kehilangan arah. Suasana kelas begitu hidup. Banyak pertanyaan mereka lontarkan kepadaku.

Namun, di tengah semangat mereka menulis, tubuhku tiba-tiba meminta berhenti.

Rasa mual datang begitu kuat. Aku menghentikan kegiatan sejenak. Kupikir hanya sebentar dan akan segera membaik. Aku mencoba duduk di depan papan tulis sambil memaksakan diri untuk tetap melanjutkan tulisan.

Ternyata tubuhku berkata lain.

Kepalaku mulai terasa sangat pusing. Napasku terasa sesak dan tubuhku semakin tidak stabil. Aku meminta bantuan anak-anak untuk mengambilkan air. Mereka segera memberikan air kepadaku dan aku meminumnya perlahan.

Saat itu aku baru menyadari, ternyata keadaanku tidak sedang baik-baik saja.

Seorang sahabat yang melihat kondisiku segera memberikan perhatian. Ia meminta anak-anak mengambilkan minyak angin. Tanganku, kaki, dan kepala mulai terasa tidak nyaman. Aku mengoleskan minyak tersebut, tetapi tubuhku semakin lemah hingga aku tidak mampu duduk dengan baik.

Dalam keadaan seperti itu, ada satu hal yang tiba-tiba memenuhi pikiranku: bagaimana jika aku tidak bisa kembali berdiri dan meninggalkan anak-anak?

Aku berusaha menenangkan diri. Doa dan segala pengharapan kupanjatkan. Aku hanya bisa meminta pertolongan kepada Allah agar diberi kekuatan dan keadaan ini segera berlalu.

Namun, kondisi belum juga membaik.
Aku akhirnya meminta bantuan agar bisa diantarkan pulang. Tak lama kemudian, salah satu orang tercinta datang membantu. Dengan kondisi tubuh yang masih sangat lemah dan tidak stabil, aku akhirnya meninggalkan sekolah.

Sesampainya di rumah, aku mencoba beristirahat. Ada pekerjaan lain yang sebenarnya harus kuselesaikan. Bahkan ada kegiatan dan ujian yang menanti. Namun, untuk kali ini aku harus belajar menerima bahwa tubuh juga memiliki batas.

Hari itu memberiku pelajaran sederhana.

Tanggung jawab memang harus dijalankan, tetapi tubuh juga harus didengarkan.

Aku bersyukur karena di tengah keadaan yang membuatku lemah, masih ada anak-anak yang peduli, sahabat yang tanggap, dan orang tercinta yang datang membantu. Hal-hal kecil seperti itu ternyata menjadi bentuk kasih yang begitu besar.

Malamnya, meski tubuh belum sepenuhnya pulih, pikiranku kembali kepada tulisan anak-anak.

Aku berharap tugas mereka dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan dikumpulkan pada gelombang kedua sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Mungkin hari itu aku tidak berhasil menyelesaikan semua yang kurencanakan. Namun, aku belajar bahwa sebuah perjuangan tidak selalu tentang seberapa banyak pekerjaan yang mampu kita tuntaskan.

Kadang, perjuangan adalah tentang tetap bersyukur ketika harus berhenti, menerima bantuan ketika membutuhkan, dan percaya bahwa esok masih memberi kesempatan untuk melanjutkan langkah.

Karena seorang guru bukan hanya mengajarkan anak-anak bagaimana menulis kata menjadi kalimat. Dari perjalanan itu, guru pun belajar menulis makna kehidupan melalui pengalaman yang nyata.

Dan hari itu, tubuhku mengajarkanku satu kalimat sederhana: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi. Kalimat sakti https://wijayalabs.com

1 komentar:

Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏

Esai reflektif tentang pengalaman seorang guru dalam kegiatan literasi( kisah inspiratif)

Esai reflektif tentang pengalaman seorang guru dalam kegiatan literasi Ketika Tubuh Meminta Berhenti, Tanggung Jawab Tetap Mengajarkan Arti ...

STATEGI MENANGKAL HOAKS