Minggu, 11 Oktober 2026

Tentang perjalanan serta Ujiannya

MALAM MINGGU BERCERITA

Tentang Perjalanan, Ujian, dan Keberanian untuk Melanjutkan

Aku menulis kisah ini bukan untuk menunjukkan bahwa diriku adalah sosok yang kuat, apalagi merasa paling mampu dalam menggerakkan literasi. Tulisan ini hanyalah bagian dari ikhtiarku untuk melanjutkan perjalanan menulis sekaligus mendokumentasikan pengalaman-pengalaman sederhana yang menyimpan makna.

Bagiku, setiap proses memiliki ceritanya sendiri. Ada perjalanan yang terasa lapang, ada pula yang mengharuskan kita berhenti sejenak untuk mengumpulkan keberanian sebelum kembali melangkah.
Seperti kisah tahun lalu perjalanan literasi sampai kekota malang, lalu untuk melanjutkan tujuan dari selempang yang dianugerahkan kita butuh pengimbasan kesekolah setempat. Dari kesekian rencana, pengimbasan terhadap SDN SAPEKEN V kami lakukan.,,mungkin ada beberapa hal sempat diabadikan agar terlihat ada data  aksi, dalam mengikuti Literacy Innovation Golden Award.



LIGA IGINOS  sendiri saya tidak bisa kunjungi terlambatnya kapal, teman berangkat duluan menjadi cerita manis yang tidak hilang dari ingatan.
Dan Berjalannya waktu rasa lelah tidak menyurutkan diri untuk berhenti.  Beberapa pekan bulan yang telah berlalu selalu mengikuti kegiatan yang  membantu anak-anak dan cerita ini berlanjut dengan tawaran pegiat literasi  pak guru Pedia bersama KYM.

Aku pernah merasakan kebahagiaan ketika berhasil menyelesaikan buku antologi puisi bersama 50 peserta didik dalam jilid pertama. Proses itu bukan tanpa kesulitan. Ada keterbatasan keadaan, ada tantangan dalam membimbing anak-anak merangkai kata, dan ada usaha yang harus terus dijaga agar naskah mereka dapat tersusun menjadi sebuah buku.

Meski demikian, perlahan-lahan semuanya menemukan jalan. Dengan segala keterbatasan yang ada, buku itu akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Ada rasa syukur yang tumbuh, bukan semata-mata karena sebuah buku berhasil diterbitkan, melainkan karena anak-anak telah memperoleh pengalaman berharga: belajar menulis, menyampaikan gagasan, dan percaya bahwa kata-kata sederhana mereka layak menjadi bagian dari sebuah karya.

Pengalaman itu membuatku percaya bahwa kesungguhan, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar dapat mengantarkan kita melewati berbagai kesulitan.

Namun, ternyata tidak semua perjalanan berjalan dengan cara yang sama.

Ketika mengikuti proses penulisan buku bersama Menteri Pendidikan, Bupati, Kepala Dinas Pendidikan, serta tim pegiat literasi di Sumenep, aku kembali dihadapkan pada perjalanan yang berbeda. Kali ini, proses menyelesaikan tulisan terasa jauh lebih berat daripada yang kubayangkan.

Berbagai hambatan datang silih berganti. Waktu seakan-akan mengajakku berhenti, seolah berbisik bahwa aku tidak akan sanggup menyelesaikannya. Halangan demi halangan muncul ketika aku justru sedang berusaha menjaga tulisan agar tetap berjalan menuju garis akhir.

Aku yang biasanya dapat menyelesaikan tulisan dengan lebih leluasa, kali ini harus berhadapan dengan banyak hal yang menguras pikiran dan perasaan.

Ada saat ketika aku mulai bertanya kepada diri sendiri, Apakah ada kesalahan besar yang telah kulakukan? Mengapa kali ini begitu sulit? Mengapa jalan yang biasanya dapat kutempuh perlahan-lahan terasa seperti tembok tinggi yang menghalangi langkahku?

Pertanyaan-pertanyaan itu hadir tanpa selalu menemukan jawaban.

Sebagai guru pesisir yang terus belajar menghidupkan literasi di tengah keterbatasan, aku menyadari bahwa kemampuan menulis saja terkadang tidak cukup untuk membuat setiap proses berjalan mudah. Ada keadaan yang tidak dapat kita kendalikan, ada waktu yang terus bergerak, dan ada tuntutan yang harus diselesaikan ketika tenaga serta pikiran terasa semakin terbatas.

Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang perlahan kusadari: kesulitan bukanlah bukti bahwa aku tidak mampu. Kegagalan menyelesaikan sesuatu dengan sempurna pun bukan satu-satunya kemungkinan yang harus kutakuti.

Aku hanya perlu terus berusaha, melakukan yang terbaik sesuai kemampuanku, dan menerima bahwa tidak setiap karya dapat lahir melalui proses yang ideal.

Hingga akhirnya, ketika batas waktu hampir habis, naskah itu berhasil kukirimkan.

Ada kelegaan setelahnya, tetapi ada pula rasa yang tertinggal. Aku belum sepenuhnya puas dengan hasil yang kukirimkan. Masih ada bagian dari diriku yang berharap dapat memberikan lebih banyak, memperbaiki lebih banyak, dan menyelesaikan semuanya dengan keadaan yang lebih baik.

Namun, waktu telah membawa proses itu sampai pada batasnya. Aku pun belajar menerima bahwa terkadang keberanian bukan hanya tentang menghasilkan karya yang sempurna, melainkan juga tentang menyelesaikan tanggung jawab di tengah keadaan yang tidak sempurna.

Malam Minggu ini, ketika kembali merangkai cerita, aku mencoba memandang perjalanan itu dengan hati yang lebih lapang.

Aku tidak ingin terus-menerus menyalahkan diri sendiri hanya karena sebuah proses terasa lebih sulit daripada sebelumnya. Aku juga tidak ingin mengukur kemampuanku hanya berdasarkan seberapa mudah aku menyelesaikan sebuah tulisan.

Sebab, setiap perjalanan memiliki ujian yang berbeda. Buku antologi puisi bersama 50 peserta didik mengajarkanku tentang kesabaran dalam mendampingi anak-anak. Sementara itu, pengalaman menyelesaikan naskah bersama para tokoh pendidikan dan pegiat literasi mengajarkanku tentang keteguhan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Keduanya menyimpan pelajaran yang tidak sama, tetapi sama-sama berharga.

Kini, aku memahami bahwa perjalanan literasi bukan hanya tentang buku yang berhasil diterbitkan, tulisan yang selesai tepat waktu, atau nama yang tercantum di antara para penulis. Lebih dari itu, perjalanan ini juga tentang bagaimana aku mengenali keterbatasan diri, belajar menerima proses, dan menemukan kembali alasan mengapa aku memilih untuk menulis.

Aku menulis bukan karena setiap hari terasa mudah. Aku menulis karena selalu ada pengalaman yang layak dikenang, ada pelajaran yang ingin kubagikan, dan ada harapan yang ingin kutitipkan kepada anak-anak didikku.

Jika suatu hari nanti aku kembali menghadapi jalan yang terjal, aku ingin mengingat malam ini: malam ketika aku belajar bahwa berhenti sejenak untuk mengatur langkah tidak sama dengan menyerah, dan merasa lelah tidak berarti kehilangan kemampuan.

Bisikan untuk berhenti pernah hadir, tetapi aku memilih untuk tidak membiarkannya menjadi akhir dari perjalanan.

Aku melanjutkan langkah, meski perlahan. Aku menyelesaikan tanggung jawab, meski dengan perasaan yang belum sepenuhnya lega. Dan aku belajar bahwa menerima hasil yang belum sempurna bukan berarti berhenti memperbaiki diri.

Sebagai guru pesisir, aku mungkin masih memiliki banyak kekurangan. Masih banyak hal yang perlu kupelajari, masih banyak kata yang harus kurangkai, dan masih banyak pengalaman yang ingin kubagikan. Namun, selama masih ada kemauan untuk belajar, aku percaya selalu ada ruang untuk bertumbuh.

Malam Minggu Bercerita kali ini bukan tentang keberhasilan semata, melainkan tentang keberanian untuk tetap melanjutkan perjalanan ketika hati mulai meragukan kemampuan diri sendiri.

Sebab, tidak semua perjuangan harus berakhir dengan rasa puas. Ada kalanya sebuah perjalanan justru meninggalkan pelajaran yang baru kita pahami setelah melewatinya.

Dan jika kelak aku kembali menulis cerita tentang literasi, aku ingin mengingat satu hal: aku pernah berada di persimpangan antara berhenti dan melanjutkan, tetapi pada akhirnya aku memilih untuk terus belajar, terus bertumbuh, dan tetap menyalakan cahaya kecil melalui kata-kata.

Sebab, selama masih ada harapan, perjalanan belum benar-benar usai. Sebagai penutup tulisan ini, kalimat sakti Omjay tetap setia menemani tulisan kami, Menulislah Setiap Hari Dan Buktikan Yang terjadi_OMJAY. https://wijayalabs.com
 

2 komentar:

  1. Semangat bund...setiap tulisan yg kita tulis tebtu ada sesuatu yg dpt kita kenang dan bermanfaat u orang lain..
    Salam literasi

    BalasHapus
  2. MasyaAllah betul bunda... Slam literasi ya,,

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏

BAHAGIA ITU SEDERHANA

BAHAGIA ITU SEDERHANA Bahagia itu sederhana saat hadirnya membawa warna saat tatapnya menyapa jiwa saat kasihnya terasa nyata Sa...

STATEGI MENANGKAL HOAKS