Tampilkan postingan dengan label lomba menulis dalam blog Ii. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba menulis dalam blog Ii. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Oktober 2026

setiap hari ada cerita

Setiap Hari, Ada Cerita

Malam ini aku kembali ingin bercerita.

Tentang keseharian di sekolah. Tentang hal-hal sederhana yang mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja, tetapi bagiku menyimpan begitu banyak makna.


Aku ingin mendokumentasikan setiap momen itu. Bukan karena semuanya istimewa, melainkan karena kelak, ketika waktu telah berlalu dan anak-anak telah tumbuh dengan jalan mereka masing-masing, mungkin justru hal-hal sederhana inilah yang paling ingin kuingat.

Sebagai guru di sekolah pesisir, aku bertemu dengan beragam karakter anak. Mereka memiliki dunia dan kebiasaan yang berbeda. Ada yang sulit diatur, ada yang merasa paling benar, ada pula yang baru saja mendengarkan nasihat, tetapi beberapa jam kemudian kembali mengulang hal yang sama.

Begitulah dunia anak-anak.

Suatu hari, ketika aku sedang asyik berbincang dengan beberapa rekan guru tentang berbagai hal, tiba-tiba terdengar keributan dari dalam kelas. Ada anak yang bertengkar, ada yang marah, dan tentu saja aku kembali harus menjalankan peran sebagai guru yang tegas.

Dengan spontan aku berteriak,

“Cepat pulang!”

Kupikir mereka akan segera berlari keluar. Namun, ternyata masih ada beberapa anak yang tetap berada di dalam kelas. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka.

Percakapan yang sempat terputus pun berlanjut.

Namun, ketika aku membuka pintu kelas, Masyaallah...

Aku justru mendapatkan sebuah kejutan.

Anak-anak ternyata menyiapkan sesuatu untukku. Bentuknya sederhana, seperti kipas-kipas kecil yang mereka buat entah dari mana. Aku bahkan tidak tahu mereka mendapat ide itu dari mana atau melihatnya dari media sosial yang mana.

Yang jelas, aku melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah kejutan.

Aku melihat perhatian.

Aku melihat kasih sayang.

Dan aku kembali menyadari bahwa menjadi guru tidak selalu tentang memberikan nasihat, mengajar, atau menegur ketika anak melakukan kesalahan. Kadang-kadang, seorang guru juga perlu hadir sebagai seseorang yang mau memahami dunia anak-anaknya.

Aku akui, terkadang aku bisa menjadi guru yang galak. Terutama ketika mereka sulit diatur, tidak mau mendengarkan, atau mengulangi kesalahan yang sama.

Namun, setelah semua itu, aku tetap berusaha menyapa mereka dengan ramah.

Di mana pun bertemu, ketika mereka menyapa, aku berusaha membalas sapaan itu. Ketika mereka tersenyum, aku berusaha mengembalikan senyuman mereka.

Sebab, mungkin bagi kita, sebuah sapaan hanyalah hal kecil.

Tetapi bagi seorang anak, sapaan dari gurunya bisa menjadi tanda bahwa dirinya dihargai dan diingat.

Bukankah indah jika seorang guru dan murid dapat saling menyapa ketika bertemu di jalan?

Tidak perlu selalu ada percakapan panjang. Cukup senyum, salam, dan sapaan sederhana.

Dari sanalah mungkin tumbuh rasa hormat yang tidak pernah diajarkan hanya melalui buku pelajaran.

Beberapa momen seperti inilah yang ingin terus aku dokumentasikan.

Dulu, aku tidak memiliki kebiasaan untuk menuliskan setiap kejadian. Banyak sekali cerita yang akhirnya berlalu begitu saja. Padahal, jika dikumpulkan, mungkin cerita-cerita kecil itu akan menjadi sebuah perjalanan panjang tentang pengabdianku sebagai seorang guru.

Kini, dengan kebiasaan menulis dan membuat dokumentasi setiap hari, aku mencoba menyimpan semuanya.

Hari ini mungkin hanya sebuah cerita kecil.

Besok mungkin menjadi kenangan.

Dan bertahun-tahun kemudian, bisa jadi ia menjadi bagian dari perjalanan yang sangat berharga.

Aku ingin menyimpan cerita tentang anak-anak kelas 4, 5, dan 6. Tentang canda mereka, tingkah mereka, pertengkaran kecil mereka, teguran yang pernah kuberikan, juga kejutan-kejutan sederhana yang kadang membuat hati seorang guru tersentuh.

Termasuk momen Hari Guru yang sering mereka rayakan dengan cara mereka sendiri.

Mungkin bagi mereka, apa yang dilakukan hanyalah sebuah kejutan kecil.

Namun, bagi seorang guru, perhatian kecil dari murid bisa menjadi hadiah yang tidak ternilai.

Pada akhirnya, aku belajar satu hal:

Apa pun yang kita lakukan sebagai guru, semoga semuanya kembali kepada satu tujuan—kebaikan dan masa depan anak-anak didik kita.

Mereka mungkin akan lupa sebagian pelajaran yang pernah kita sampaikan.

Mereka mungkin tidak mengingat semua nasihat yang pernah kita berikan.

Tetapi semoga mereka selalu mengingat bahwa pernah ada seorang guru yang menyapa mereka, mendengarkan mereka, menegur ketika mereka salah, tersenyum ketika mereka datang, dan percaya bahwa mereka mampu menjadi pribadi yang lebih baik.

Itulah mengapa aku ingin terus menulis.

Setiap hari ada cerita.
Setiap cerita menyimpan makna.
Dan setiap kenangan layak untuk diabadikan


Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi(omjay). https://wijayalabs.com

Menyusuri Laut Menyimpan Kenangan

Malam Selasa Bercerita Menyusuri Laut, Menyimpan Kenangan Bersama Anak-Anak Malam Selasa ini aku ingin bercerita tentang kita, aku dan anak-...

STATEGI MENANGKAL HOAKS