Minggu Bercerita
Oleh : Sri Wulandari
Minggu datang membawa cerita
Secerah warna langit membuka pagi
Aku menjalankan titah menunaikan tugas diamanahkan negeri
Meski sesekali hati ingin berhenti
dan berbicara kepada sunyi
Di antara yang tampak dan yang tak kasatmata
Aku belajar bahwa hidup tak selalu membutuhkan suara
Ada yang terasa hadir meski tak pernah terlihat
Ada yang hidup dalam ingatan meski telah lama berlalu
Maka hari ini aku belajar bersyukur
bukan karena semua cerita indah
melainkan dari setiap rahasia semesta
Allah mengajarkanku membaca makna.
Dulu aku adalah suara yang paling keras
Ketika luka mengetuk dada
Aku berteriak kepada keadaan
Mempertanyakan mengapa
air mata harus jatuh di wajah seorang ibu
Aku mengerti hidup sebuah naskah
Tapi manusia bukan penulis tunggalnya
Ada tangan Yang Maha Mengetahui
Menyusun pertemuan perpisahan air mata dan keheningan
dengan rahasia yang tak selalu mampu kita baca.
Namun ada satu cerita
Kala rasa setiap kali datang
Masih membuat dada bergetar
Darah tergores belati tipuan
Dialah tokoh pernah membuat seorang ibu menangis
Darah meninggi senyum berubah menjadi air mata
Luka meninggalkan jejak tak mudah dihapus waktu
Bukan karena aku belum ikhlas karena dia berani menghujamku
Aku hanya belajar memahami
bahwa ikhlas bukan berarti
mengatakan kesalahan sebagai kebenaran.
Memaafkan bukan berarti
membiarkan luka kembali
menjadi pintu bagi kesalahan yang sama.
Dunia mengajarkanku:
tidak semua orang berjalan
dengan pandangan yang sama.
Ada yang tak menyadari salahnya,
ada yang mencari celah
untuk kembali masuk
ke ruang yang pernah dirusaknya.
Lalu, haruskah aku membalas?
Tidak.
Biarlah waktu menjadi saksi.
Biarlah setiap langkah
menemui bayangannya sendiri.
Sebab hukum kehidupan
tak selalu datang dengan suara keras;
kadang ia hadir perlahan,
seperti gema yang kembali
kepada sumber suaranya.
Allah memang Maha Pengampun.
Tetapi jangan jadikan ampunan-Nya
sebagai tameng untuk mengulang kesalahan.
Pertobatan bukan sekadar kata
untuk membela diri,
melainkan keberanian
untuk mengakui, memperbaiki,
dan tidak kembali menyakiti
Namun apakah mampu jika kau memohon ampun padaku
Hari Minggu pun terus berjalan.
Aku kembali tersenyum,
meski pernah menangis.
Aku kembali bercerita,
meski pernah kehilangan kata.
Kini aku memilih diam bukan karena kalah
Melainkan karena percaya
Bahwa keadilan tidak membutuhkan suaraku
Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengan mahluk itu
Semoga hatiku telah cukup luas
Untuk tidak membalas luka dengan luka
Sebab aku tidak ingin
menjadi tokoh antagonis
dalam cerita orang lain.
Aku ingin menjadi manusia yang pernah terluka
Memilih belajar dari luka pernah menangis
Namun tetap syukur dan pernah dikhianati
Namun tak kehilangan kepercayaan kepada Allah
Minggu bercerita pun usai
Yang tampak akan berlalu
Yang tak tampak akan tetap jadi makna didalamnya
Dan aku akhirnya mengerti
Tiidak semua cerita harus kita menangkan
Ada cerita yang cukup kita serahkan
Kepada Sang Pemilik cinta seluruh cerita
Karena sejati Allah tak menciptakan musuh
Karena itu pertanyaan Allah kepada kita
Dia menciptakan manusia
Dengan hati pilihan dan jalan masing-masing
Lalu kehidupan mempertemukan kita
Dengan mereka yang melukai
Bukan selalu untuk menjadi lawan
Tapi mungkin untuk menjadi cermin
Sebab boleh jadi pertanyaan Allah bukanlah
Siapa yang telah menyakitimu
Melainkan Setelah kau disakiti
Akan menjadi manusia seperti apa
Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi. https://Wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏