Minggu, 18 Oktober 2026

Ketika ilmu lebih berharga dari pada kekuasaan

Ketika Ilmu Lebih Berharga daripada Kekuasaan

Menelusuri Hikmah Kisah Asif bin Barkhiya pada Masa Nabi Sulaiman

Oleh: Sri Wulandari

Ada kisah dalam Al-Qur'an yang mengajak manusia memandang ilmu dari sudut yang berbeda. Bukan sekadar pengetahuan untuk menjawab pertanyaan, bukan pula kemampuan untuk menunjukkan kehebatan diri, melainkan ilmu yang menuntun manusia mengenali keterbatasannya di hadapan kebesaran Allah.
Kisah itu hadir dalam peristiwa pemindahan singgasana Ratu Balqis pada masa Nabi Sulaiman.

Dalam Surah An-Naml ayat 38–40, Nabi Sulaiman bertanya kepada para pembesarnya tentang siapa yang mampu mendatangkan singgasana Ratu Balqis sebelum kedatangannya. Seorang jin yang kuat menawarkan kemampuannya untuk membawa singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Namun, seseorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab menyatakan sanggup mendatangkannya sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip.

Atas izin Allah, singgasana itu pun telah berada di hadapan Nabi Sulaiman.

Sosok yang disebut dalam ayat tersebut dikenal dalam sejumlah kitab tafsir sebagai Asif bin Barkhiya. Akan tetapi, Al-Qur'an sendiri tidak menyebutkan namanya secara langsung. Yang ditonjolkan justru ilmu yang dimilikinya.

Di sinilah renungan itu bermula.

Mengapa Al-Qur'an menonjolkan ilmu, bukan nama dan kemasyhuran orang tersebut? Bukankah manusia sering kali lebih tertarik mengingat siapa yang melakukan sesuatu daripada memahami pelajaran di balik peristiwa itu?

Mungkin kita perlu berhenti sejenak untuk melihatnya lebih dalam. Dalam kehidupan, manusia kerap mengukur kehebatan melalui jabatan, kekayaan, kekuatan, dan pengakuan. Padahal, semua itu tidak selalu menunjukkan kedalaman pemahaman seseorang. Ada orang yang memiliki kedudukan tinggi, tetapi belum tentu mampu merendahkan hatinya. Ada pula orang yang memiliki pengetahuan luas, tetapi belum tentu menggunakannya untuk kebaikan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa ilmu bukanlah alasan untuk meninggikan diri. Ilmu seharusnya menjadi jalan untuk mengenali batas kemampuan manusia dan memahami betapa luasnya kuasa Allah.

Hal itu semakin jelas ketika Nabi Sulaiman melihat singgasana tersebut telah berada di hadapannya. Beliau tidak menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk menyombongkan kerajaan atau kekuasaannya. Sebaliknya, beliau berkata:

"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya." (QS. An-Naml: 40)

Betapa dalam makna perkataan tersebut. Sesuatu yang luar biasa tidak selalu menjadi alasan untuk berbangga diri. Ia juga dapat menjadi ujian: apakah manusia semakin dekat kepada Allah atau justru merasa bahwa segala sesuatu terjadi semata-mata karena kehebatannya sendiri?

Dari sinilah kita dapat memahami hubungan antara ilmu, iman, dan rasa syukur. Ilmu membantu manusia memahami, iman menuntun arah langkahnya, sedangkan syukur menjaga hatinya agar tidak dikuasai kesombongan.
Sebagian ulama mengaitkan kisah Asif dengan Ismullah al-A'zham, yakni Nama Allah Yang Paling Agung, yang disebut dalam sejumlah hadis tentang doa. Namun, identitas pasti orang tersebut dan nama Allah yang digunakannya tidak dinyatakan secara tegas dalam ayat tersebut. Karena itu, kita tidak perlu mengubah bagian yang belum pasti menjadi sebuah kepastian. Justru sikap jujur terhadap keterbatasan pengetahuan merupakan bagian dari adab dalam mencari ilmu.

Lalu, apa makna kisah ini bagi kehidupan kita hari ini?

Sebagai seorang pendidik, saya melihat bahwa ilmu yang berharga bukan hanya ilmu yang membuat seseorang mampu menjawab soal atau meraih penghargaan. Ilmu juga perlu menumbuhkan kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan kerendahan hati. Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan menjadi pintar. Mereka juga perlu dibimbing agar memahami untuk apa kepintaran itu digunakan.

Sebab, kecerdasan tanpa tanggung jawab dapat kehilangan arah. Prestasi tanpa rasa syukur dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang disertai akhlak dapat menjadi cahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

Kita mungkin tidak memiliki kerajaan seperti Nabi Sulaiman. Kita pun tidak mengetahui seluruh rahasia yang terkandung dalam kisah Asif bin Barkhiya. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan menggunakan pengetahuan demi kebaikan.

Pada akhirnya, kebesaran manusia tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak hal yang mampu dikuasainya, tetapi juga oleh bagaimana ia bersikap setelah memperoleh pengetahuan dan keberhasilan.

Sebab, ilmu yang sejati bukan hanya membuat manusia semakin banyak mengetahui. Ilmu juga mengajarkannya menyadari betapa banyak hal yang belum ia ketahui.

Dan ketika pengetahuan itu membuat hati semakin rendah di hadapan Allah, barangkali di situlah salah satu makna terdalam dari sebuah ilmu: bukan untuk membuat manusia merasa paling hebat, melainkan untuk membimbingnya semakin mengenal kebesaran Tuhan.
Penutup

Ketika Ilmu Menuntun Hati Kembali kepada Allah

Pada akhirnya, kisah Asif bin Barkhiya mengajak kita memahami bahwa tidak semua kehebatan harus disertai kemasyhuran. Ada ilmu yang tidak mencari pujian, ada pengabdian yang tidak menuntut pengakuan, dan ada hati yang semakin mengenal kebesaran Allah justru semakin menyadari keterbatasan dirinya.

Singgasana Ratu Balqis mungkin menjadi bagian paling menakjubkan dari kisah ini. Namun, bagi saya, pelajaran yang paling berharga terletak pada cara kita memandang ilmu dan karunia. Sebab, sehebat apa pun kemampuan manusia, tetap ada batas yang tidak dapat dilampauinya. Dan setinggi apa pun pengetahuan yang diraihnya, selalu ada ilmu Allah yang jauh lebih luas daripada apa yang sanggup dipahaminya.

Sebagai manusia, kita tidak harus menjadi sosok luar biasa untuk memberikan makna bagi kehidupan. Kita hanya perlu belajar dengan sungguh-sungguh, menggunakan ilmu untuk kebaikan, menjaga hati dari kesombongan, dan mensyukuri setiap kesempatan yang Allah berikan.

Barangkali, kita tidak akan pernah mengetahui seluruh rahasia yang tersimpan di balik kisah Asif bin Barkhiya. Namun, kita dapat membawa pulang satu pelajaran penting: jangan biarkan ilmu membuat kita merasa paling tinggi, tetapi biarkan ilmu menuntun kita untuk semakin rendah hati.

Sebab, ilmu yang sejati bukan hanya menerangi pikiran, melainkan juga membimbing hati agar mengenali jalan kebenaran.

Dan ketika kelak segala pencapaian tak lagi disebutkan, penghargaan tak lagi dikenang, serta nama kita perlahan dilupakan, semoga kebaikan yang lahir dari ilmu tetap hidup dalam diri orang lain.

Sebab, kemuliaan ilmu bukan terletak pada seberapa hebat seseorang terlihat di hadapan manusia, melainkan pada seberapa besar ilmu itu membawanya kepada kebaikan dan mendekatkannya kepada Allah.

Semoga kita menjadi manusia yang tidak pernah berhenti belajar, tidak lelah menebar manfaat, dan tidak lupa bersyukur atas setiap ilmu yang dititipkan-Nya.

Penulis Sri Wulandari

Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi*Omjay*

1 komentar:

Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏

HARI SANTRI DI RUANG KELAS

HARI SANTRI DI RUANG KELAS Menanamkan Iman, Mengenang Perjuangan Karya: Sri Wulandari Sapeken, 20 Oktober 2026 Hari Santri bukan sekadar...

STATEGI MENANGKAL HOAKS