Senin, 19 Oktober 2026

REFLEKSI DIRI_PELUKAN YANG KUTITIPKAN DALAM DOA

PELUKAN YANG KUTITIPKAN DALAM DOA

Refleksi Diri
Karya: Sri Wulandari

Ada kehilangan yang tidak selesai hanya karena waktu terus berjalan. Hari berganti, pekerjaan tetap menunggu, dan kehidupan harus diteruskan. Namun, di antara kesibukan itu, ada satu ruang dalam hati yang tetap menyimpan nama seseorang Ibu.
Sejak Ibu pergi, aku belajar bahwa kehilangan bukan sekadar tentang seseorang yang tidak lagi dapat kita temui. Kehilangan juga tentang hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa, tetapi kini menjadi sesuatu yang sangat ingin kuulangi.

Aku merindukan kesempatan untuk duduk di sampingnya. Aku ingin merawatnya dengan lebih sabar, mendengarkan keluhannya tanpa tergesa-gesa, dan memenuhi keinginannya selama aku masih mampu. Keinginan Ibu untuk pergi ke Tanah Suci pun masih tersimpan dalam ingatanku. Ketika sakit datang, rencana itu belum sempat terwujud. Aku hanya dapat mengirimkan sebuah foto sebagai ungkapan kasih yang tidak sepenuhnya mampu menggantikan keinginannya.
Dari sana, aku mulai memahami bahwa niat baik saja terkadang tidak cukup. Kasih sayang juga membutuhkan waktu, perhatian, dan tindakan. Kita mungkin merasa masih memiliki hari esok, padahal tidak pernah benar-benar mengetahui berapa banyak waktu yang tersisa bersama seseorang.

Mimpi-mimpi tentang Ibu datang silih berganti. Ada pertemuan yang membuatku bahagia, ada pula perpisahan yang membuatku terbangun dengan air mata. Dalam salah satu mimpi, aku ingin membawanya pergi sebentar, tetapi waktu berkunjung telah berakhir. Aku tidak berhasil mengajaknya keluar.

Aku tidak tahu apa arti mimpi itu. Aku tidak ingin menafsirkannya terlalu jauh. Namun, setiap kali mengingatnya, aku menyadari betapa besar keinginanku untuk kembali melakukan hal-hal yang dahulu masih mungkin kulakukan.

Mungkin yang kurindukan bukan hanya kehadiran Ibu, melainkan juga kesempatan untuk memperbaiki diriku sendiri.
Aku pernah merasa belum cukup sabar ketika merawatnya. Penyesalan itu kadang muncul tanpa diminta. Seandainya waktu dapat diputar kembali, tentu ada banyak hal yang ingin aku ubah. Akan tetapi, hidup tidak memberi kesempatan untuk mengulang masa lalu sesuka hati.

Aku hanya dapat belajar dari apa yang telah terjadi.
Ketika akhirnya aku menziarahi makam Ibu dan melihat pusaranya perlu dirapikan, aku berusaha melakukan sesuatu yang masih bisa kulakukan. Aku memesan pasir dan mengajak beberapa murid membantu membawanya. Kami merapikan makam itu bersama-sama.
Pekerjaan sederhana tersebut tidak mengembalikan Ibu. Namun, saat itu aku merasa telah menunaikan sesuatu yang lama mengganjal di hati. Aku pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang, meskipun kerinduan tetap tinggal.

Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa cinta tidak selalu dapat diwujudkan dalam bentuk yang kita inginkan. Ada hal-hal yang dahulu bisa dilakukan secara langsung, tetapi setelah seseorang berpulang, hanya dapat diteruskan melalui doa, kenangan, dan kebaikan.

Aku juga mulai memahami bahwa penyesalan tidak seharusnya membuatku terus menghukum diri sendiri. Aku memang memiliki kekurangan. Ada sikap yang mungkin kurang tepat, ada kesabaran yang belum sempurna, dan ada keinginan yang belum sempat kupenuhi. Namun, aku tidak dapat mengubah semuanya dengan terus menyalahkan diri.

Yang masih bisa aku lakukan adalah memohon ampun kepada Allah, mendoakan Ibu, dan memperbaiki sikapku kepada orang-orang yang masih berada di dekatku.
Kini, aku ingin belajar lebih sabar kepada keluarga, lebih sungguh-sungguh mendengarkan orang lain, dan tidak menunda kebaikan hanya karena merasa masih ada waktu. Aku tidak ingin menunggu kehilangan berikutnya untuk menyadari betapa berharganya sebuah kehadiran.

Barangkali itulah pelajaran paling sunyi yang kuterima dari kepergian Ibu. 
Kasih sayang perlu diungkapkan ketika kesempatan masih ada.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti rinduku akan terasa lebih ringan. Mungkin aku hanya akan belajar menjalani hari-hari dengan membawa kenangan itu secara lebih tenang. Aku akan tetap mengingat Ibu, tetapi aku juga harus melanjutkan hidup dan menjaga kebaikan yang pernah tumbuh dalam diriku.

Jika suatu malam kami kembali bertemu dalam mimpi, aku ingin menyapanya tanpa tergesa-gesa. Aku ingin mengatakan bahwa aku masih merindukannya, bahwa aku berterima kasih atas segala yang pernah diberikannya, dan bahwa aku sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Namun, selama pertemuan itu belum datang, aku akan menitipkan pelukan melalui doa.

Untuk Ibu, semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya. Semoga segala kebaikan yang pernah Ibu tanamkan terus tumbuh melalui langkah-langkah kecil yang kulakukan.

Dan untuk diriku sendiri, aku ingin mengingat satu hal, masa lalu memang tidak dapat dibuka kembali, tetapi hari ini masih memberi kesempatan untuk berbuat baik.
Sebab, ketika pelukan tak lagi dapat kusampaikan, kasih sayang masih dapat kuteruskan melalui doa dan kebaikan.


Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi**OMJAY** https://Wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏

HARI SANTRI DI RUANG KELAS

HARI SANTRI DI RUANG KELAS Menanamkan Iman, Mengenang Perjuangan Karya: Sri Wulandari Sapeken, 20 Oktober 2026 Hari Santri bukan sekadar...

STATEGI MENANGKAL HOAKS