Jumat, 04 September 2026

karya Bajo menuju bali

Puisi


Karya Bajo menuju Bali

Nginta, ningkolo, kita bekerja
Jolor membawa hasil ke laut
Pare' hasil menjadi karya
Dari tangan Bajo untuk semua

Ingat atau wattu didikit
Jamaah bekerja dengan tekun
Ingat atau wattu didiki'
Karya dibuat untuk masa depan


Dahako garumu, tetap semangat
Pampahe karya dengan tangan
Baha pacce menjadi kekuatan
Ellau itu dibunan gampang

Misa aha mirek gai nia Adak
Bo gampang makai mesin
Dibuat menjadi tas beke songkok
Diboe ka Bali, dipadagangan ka turis

Sri Wulandari
Sapeken, 21 Agustus 2026



Membedah Fatamorgana Bintang kehidupan

Membedah buku Fatamorgana Bintang Kehidupan

Secercah Harapan yang Dibalut Doa dan Asa

Bersama Gol A Gong dkk.

Ada buku yang sekadar dibaca, tetapi ada pula buku yang mengajak pembacanya masuk ke dalam perjalanan panjang tentang kehidupan, harapan, doa, cinta, dan asa. Salah satunya adalah Fatamorgana Bintang Kehidupan: Secercah Harapan yang Dibalut Doa dan Asa, edisi jenjang grup guru dan umum.

Buku ini merupakan karya emas para penulis hebat dalam Sayembara Menulis Cerpen Nasional 2025, yang digagas oleh IGINIOS, kepanjangan dari Ikatan Guru Inovator dan Penggerak Literasi Nasional.

Antologi ini menjadi ruang pertemuan bagi 57 penulis dari seluruh Nusantara, dengan beragam gender dan latar belakang profesi. Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan tersendiri karena setiap penulis membawa warna, pengalaman, imajinasi, serta cara pandang masing-masing ke dalam sebuah karya.

Bagi saya, buku ini memiliki tempat yang istimewa. Bukan hanya karena saya menjadi salah satu pembaca, tetapi juga karena saya mendapat kesempatan menjadi bagian dari 57 penulis yang karyanya terangkum di dalamnya.

Cerpen saya berjudul “Jejak Cinta di Balik Langit.”

Jejak Cinta yang Melampaui Waktu

“Jejak Cinta di Balik Langit” berkisah tentang tiga tokoh dengan alur yang membawa pembaca seolah-olah sedang menikmati sebuah novel. Cerita berawal dari dua jiwa yang pernah terikat dalam cinta sejati di kehidupan lain.

Namun, cinta tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Kesalahpahaman dan waktu memisahkan dua jiwa tersebut. Mereka harus menjalani kehidupan masing-masing sebelum akhirnya takdir kembali mempertemukan keduanya.

Lira terlahir kembali sebagai manusia. Sementara itu, Qayan merupakan makhluk langit yang memiliki tugas menjaga keseimbangan alam semesta.

Pertemuan mereka kembali terjadi ketika dunia berada di ambang kehancuran. Dalam keadaan tersebut, hanya mereka yang mampu mengembalikan keseimbangan semesta.

Namun, perjalanan mereka tidaklah mudah.

Hadir pula Arank, sosok yang selalu muncul dalam kehidupan Elira dan membawa bayang-bayang kegelapan yang menjadi penyebab kekacauan dunia.

Di sinilah cerita mulai membawa pembaca pada pertanyaan: apakah cinta yang pernah terpisah oleh waktu mampu menemukan jalannya kembali? Apakah ketulusan mampu mengalahkan kegelapan?

Cerita ini tidak hanya berbicara tentang cinta antara dua jiwa. Lebih jauh, ia membawa pesan tentang takdir, kesetiaan, ketulusan, pengorbanan, dan harapan.

Cinta dalam cerita ini bukan sekadar perasaan antara dua insan. Cinta menjadi kekuatan yang memiliki peran lebih besar, bahkan ketika keseimbangan dunia dan alam langit berada dalam bahaya.

Ketika Cinta Menjadi Sebuah Harapan

Bagi saya, bagian paling menarik dari “Jejak Cinta di Balik Langit” adalah bagaimana cinta ditempatkan bukan sebagai akhir dari sebuah perjalanan, melainkan sebagai kekuatan untuk menghadapi persoalan yang jauh lebih besar.

Dua jiwa yang pernah terpisah oleh kesalahpahaman dan waktu kembali dipertemukan oleh keadaan. Pertemuan tersebut seolah mengajarkan bahwa sesuatu yang tulus tidak selalu benar-benar hilang. Ia dapat meninggalkan jejak, menunggu waktu yang tepat untuk kembali menemukan jalannya.

Sementara itu, kehadiran Arank memberikan warna tersendiri dalam cerita. Bayang-bayang kegelapan yang dibawanya menjadi tantangan bagi para tokoh untuk menemukan jalan keluar dari kekacauan.

Pada akhirnya, cerita ini membawa saya pada sebuah pemahaman sederhana: ketulusan adalah bentuk cinta yang paling murni.

Kadang, cinta sejati bukan hanya tentang memiliki seseorang. Cinta juga berarti bersedia berjuang, berkorban, dan menyelamatkan sesuatu yang lebih besar dari kepentingan diri sendiri.

Bahkan, dalam kisah ini, cinta sejati menjadi kekuatan yang mampu menyelamatkan dunia dan alam langit.

Lebih dari Sekadar Antologi

Membaca Fatamorgana Bintang Kehidupan bagi saya bukan sekadar membaca kumpulan cerpen dari para penulis di berbagai penjuru Nusantara. Buku ini merupakan sebuah perjalanan.

Perjalanan dari satu cerita menuju cerita lainnya. Perjalanan dari satu imajinasi menuju imajinasi yang berbeda. Dan yang paling penting, perjalanan untuk menemukan makna dari harapan, doa, cinta, dan asa yang dituangkan melalui tulisan.

Sebagai salah satu penulis di dalamnya, saya merasa bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan literasi ini.
Buku ini membuktikan bahwa sebuah karya tidak harus lahir dari satu suara. Beragam suara dapat berpadu menjadi sebuah karya yang kaya warna. Perbedaan latar belakang para penulis justru menjadikan buku ini semakin menarik untuk dinikmati.

Di balik setiap halaman, ada keberanian untuk menulis. Ada proses untuk menuangkan gagasan. Ada harapan agar tulisan dapat menemukan pembacanya.

Dan mungkin, di sanalah kekuatan terbesar sebuah buku: ketika tulisan yang lahir dari hati mampu mengetuk hati pembacanya.

Fatamorgana Bintang Kehidupan bukan sekadar kumpulan cerita. Ia adalah jejak perjalanan 57 penulis dalam merawat semangat literasi, menghadirkan imajinasi, serta menitipkan doa dan asa melalui kata-kata.

Dan bagi saya, “Jejak Cinta di Balik Langit” adalah salah satu jejak kecil yang saya titipkan di antara perjalanan besar tersebut.

Sebab, setiap penulis memiliki cerita untuk ditinggalkan.

Setiap kata memiliki makna untuk dikenang.

Dan setiap karya selalu memiliki harapan untuk menemukan hati yang bersedia membacanya.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi, kalimat sakti ini yang menjadi cambuk saya dalam menulis.  https://wijayalabs.com

Salam Menulis, salam literasi

Rabu, 02 September 2026

Ketika Lomba Kecil Menghadirkan Kebahagiaan


Ketika Lomba Kecil Menghadirkan Kebahagiaan

Rabu malam bercerita. Ditemani miliaran bintang yang indah, sunyi terasa begitu bersahabat. Gawai ada di tangan, segelas minuman kelapa menemani, membuatku ingin bercerita dan merangkai kata.
Kata-kata yang bagiku sederhana, tetapi semoga tetap penuh makna.

Saat Agustus berganti September, cerita tentang kebersamaan di sekolah seolah tidak pernah tertelan oleh waktu. Ada saja kisah yang ingin dituliskan.
Mengapa tidak?
Lomba yang kami tunggu-tunggu di dalam kelas akhirnya terlaksana. Kali ini, lombanya sederhana, lari sarung.
Canda dan tawa menghiasi suasana kelas. Kami memilih waktu yang agak siang untuk melaksanakan kegiatan lomba agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) peserta didik.

Sebenarnya, aku sempat berpikir anak-anak tidak jadi mengikuti lomba. Maklum, beberapa tugas mata pelajaran mereka belum selesai.
Namun, tiba-tiba aku dikejutkan oleh jawaban mereka.
“Sudah selesai, Bu!”
Spontan aku bertanya,
“Serius? Coba dikumpulkan!”
Tanpa terasa, meja guru pun dipenuhi tumpukan buku.
Aku masih memastikan.
“Serius sudah selesai semua?”
“Iya, Bu!” jawab mereka kompak.
Lontaran kalimat itu merekah dari bibir mereka. Aku pun tidak tega menolak semangat yang terpancar dari wajah mereka.
“Oke, baiklah. Kalau begitu, siapkan kelompok kalian. Setiap regu masing-masing satu anggota!”
Suaraku spontan menggema memenuhi ruangan.

Menurutku, mungkin ini hanya sebuah lomba kecil. Namun, sebenarnya kegiatan ini menjadi langkah sederhana untuk memberikan stimulus kebahagiaan, membangun keakraban, dan menciptakan suasana yang lebih dekat antara murid dan guru.

Lomba pun dimulai.
Suasana kelas mendadak berubah. Jatuh bangun mereka di dalam sarung mengundang gelak tawa. Suara sorak-sorai bahkan hampir memekakkan telinga.
Tawa dan kebahagiaan menjadi nyawa dalam lomba sederhana itu.
“Hadiahnya apa, ya?” gumamku dalam hati.
Sebagai guru, aku juga sempat bingung. Heee... Namanya juga lomba spontan, hadiah pun belum terpikirkan. Yang penting anak-anak bahagia terlebih dahulu.
Regu putra dan putri akhirnya menyelesaikan perlombaan.

Namun, di tengah kegiatan, tiba-tiba beberapa murid kelas 5 datang ke kelas. Mungkin mereka tertarik melihat aksi teman-temannya yang begitu seru.
Salah seorang dari mereka nyeletuk,
“Bu, ikut, Bu! Boleh, kan, Bu?”
Beberapa anak lainnya ikut menyahut.
Kemudian, seorang murid berkata dengan nada kecewa,
“Kenapa kami tidak seperti itu, Ibu?”
Aku terdiam sejenak. Sebagai guru, tentu hati ini tidak tega melihat mereka kecewa.
“Baiklah. Kalian serius mau ikut?” tanyaku.
Mereka mengangguk.
“Tugas kalian sudah dikerjakan belum di kelas 5?” tanyaku lagi.
Salah seorang anak menjawab,
“Sudah, Bu!”
Wali kelas mereka pun memberikan kesempatan.
“Oke, baiklah. Kalau tugas sudah selesai, silakan ikut.”

Seketika wajah mereka berubah ceria.
Lomba pun berlanjut.
Kali ini suasananya terasa jauh lebih seru. Tawa, sorakan, dan semangat anak-anak kembali memenuhi ruang kelas.

Tidak terasa, perlombaan pun selesai. Beberapa juara telah ditetapkan. Meskipun hadiahnya sederhana, kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka terasa jauh lebih berharga.

Alhamdulillah.
Kegiatan lomba kecil hari itu akhirnya selesai.
Semoga esok kami kembali melanjutkan rangkaian kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun, sesekali menyelipkan kegiatan sederhana seperti lomba di penghujung pembelajaran rasanya tidak ada salahnya.
Sebab, terkadang anak-anak tidak membutuhkan sesuatu yang mewah untuk bahagia.

Cukup diberi ruang untuk tertawa, bermain, dan merasa diperhatikan.
Dari sebuah lomba sederhana, kami belajar bahwa kebahagiaan bisa tumbuh dari kebersamaan.
Dan semoga, kebahagiaan itu kembali terpancar di hati mereka.

Kalimat akan ditutup dengan kalimat sakti omjay'' menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi" https://wijayalabs.com

 
Salam literasi

Selasa, 01 September 2026

Pawai Budaya dan Jejak Semangat Menulis

Pawai Budaya dan Jejak Semangat Menulis

Oleh: Sri Wulandari

Hari ini, 1 September 2026. Rangkaian kegiatan Agustusan telah berakhir. Namun, suasananya masih terasa dalam ingatan, terutama setelah kemeriahan puncak kegiatan ditutup pada 31 Agustus dengan karnaval umum atau yang lebih dikenal sebagai pawai budaya.

Pawai budaya menjadi salah satu kegiatan yang selalu dinanti masyarakat. Beberapa tahun sebelumnya, setiap RW turut berpartisipasi dengan menampilkan berbagai kostum yang menarik dan beragam. Pemandangan itu seolah menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat yang haus akan kemeriahan setelah berbagai kesibukan sehari-hari.

Tidak hanya masyarakat, beberapa instansi juga ikut ambil bagian. Aku pun selalu berusaha ikut memeriahkan kegiatan tersebut bersama beberapa rekan dari sekolah dasar lainnya. Instansi pendidikan seperti SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 1 juga turut berpartisipasi. Bahkan, beberapa perwakilan dari kepulauan di sekitar kami ikut hadir untuk menyemarakkan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Namun, ada sesuatu yang berbeda pada tahun ini.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya instansi SD turut memeriahkan pawai budaya, tahun ini kami tidak ikut serta. Meski demikian, kemeriahan tetap terasa karena instansi SMP dan SMA masih berpartisipasi dalam pawai tersebut.

Aku sendiri memilih mengenakan pakaian bernuansa Jogja. Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika mengenakannya. Seolah pakaian itu membawa kembali ingatan tentang sebuah kota yang pernah menjadi bagian dari cerita hidupku—kota kesayangan yang menyimpan banyak kenangan.

Mungkin bagi sebagian orang, pawai budaya hanyalah sebuah kegiatan tahunan. Namun bagiku, setiap kegiatan selalu menyimpan cerita. Ada kebersamaan, ada kenangan, ada rasa bangga menjadi bagian dari masyarakat, dan ada pula kesempatan untuk belajar melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.


Kini rangkaian HUT RI ke-81 telah selesai. Kemeriahan Agustus perlahan berganti dengan rutinitas seperti biasa. Akan tetapi, semangat yang tertinggal dari seluruh rangkaian kegiatan ini semoga tidak ikut berakhir.

Begitu pula dengan semangat menulis.

Tulisan ini mungkin masih sederhana dalam penyampaian. Kalimat-kalimatnya mungkin belum sempurna. Namun, ada satu niat yang selalu ingin kutanamkan dalam hati: terus menulis dan terus belajar.

Semoga aku selalu istiqamah menjalani kebiasaan ini. Sebab menulis bukan hanya tentang menghasilkan sebuah tulisan, tetapi juga tentang mengabadikan peristiwa, menyimpan kenangan, dan membuktikan bahwa setiap pengalaman memiliki cerita yang layak untuk dibagikan.

Dan aku akan terus mengingat kalimat sakti dari Omjay:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” https://wijayalabs.com

Karena mungkin hari ini tulisanku sederhana, tetapi siapa tahu, dari tulisan sederhana inilah akan lahir sebuah cerita besar di kemudian hari.

Sapeken, 1 September 2026
Tulisan ke _16


Senin, 31 Agustus 2026

Karnaval_langkah kecil semangat kemerdekaan

Karnaval: Langkah Kecil, Semangat Kemerdekaan

Karnaval tahunan selalu menjadi momen yang dinanti anak-anak. Langkah mereka penuh semangat, gerak pun begitu energik. Meski matahari terasa menyengat, wajah-wajah kecil itu tetap memancarkan kegembiraan. Semangat ’45 seakan tumbuh dalam dada, terpancar dari cara mereka memaknai 81 tahun Indonesia merdeka.
Menang atau kalah bukan lagi perkara utama. Yang tampak justru senyum bangga ketika mengenakan kostum dan berjalan bersama. Sebagai guru, aku hanya mampu memberi sentuhan sederhana: sebungkus permen. Setidaknya, setelah lelah melangkah di bawah terik matahari, masih ada rasa manis yang singgah di lidah mereka.

Barisan nomor empat mengusung nuansa hasil bumi, menggambarkan kemakmuran petani dan nelayan sebagai bagian penting dari kehidupan negeri. Hiasan karnaval menjadi warna yang membawa pesan tentang kerja, harapan, dan syukur.
Bagi mereka, karnaval bukan sekadar ajang berkompetisi. Ia menjadi ruang belajar, berkarya, berbagi tawa, dan menumbuhkan cinta kepada Indonesia. Di tengah riuhnya sorak warga, langkah kecil mereka menjelma kenangan indah. Sederhana, tetapi hangat, seperti semangat yang tumbuh dari kebersamaan.

Salam literasi

pulang kepada sang pencipta

Pulang Pada Sang Pencipta

Pulang pada Sang Pencipta
Aku berjalan jauh
mencari cahaya di antara manusia,
mencari jawaban
pada suara dunia yang tak pernah selesai.

Kupikir rumah adalah tempat
yang dapat disentuh tangan,
ternyata rumah paling sunyi
adalah hati yang kembali mengingat-Nya.
Aku mengejar banyak hal
nama, pujian, dan keinginan,
hingga suatu hari kusadari
semakin banyak yang kugenggam,
semakin berat langkahku untuk pulang.

Wahai hati,
jangan takut kehilangan dunia.
Yang pergi hanyalah sesuatu
yang memang tidak pernah menjadi milikmu.
Pulanglah perlahan.
Bersihkan jalan di dalam dirimu
dari kesombongan, iri, dan luka.

Sebab Tuhan tidak jauh,
kitalah yang terlalu sering
berjalan menjauh dari-Nya.
Jika malam membuatmu sepi,
jangan buru-buru mencari keramaian.

Duduklah dalam hening,
dengarkan suara kalbu
yang lama tertutup kebisingan.
Di sana,
mungkin kau akan menemukan
bahwa setiap tarikan napas
adalah panggilan lembut:
“Kembalilah.”
Bukan pulang dengan langkah kaki,
melainkan pulang dengan hati.
Bukan berpindah tempat,

Melainkan berpindah arah.
Dari dunia menuju Dia.
Dari keakuan menuju penghambaan.
Dari gelisah menuju pasrah.
Dari merasa memiliki
menuju kesadaran bahwa
kita semua hanyalah milik-Nya.
Ketika perjalanan selesai,
semoga hati tidak lagi bertanya
ke mana harus pulang.
Sebab sejak awal
kita berasal dari-Nya,
berjalan dalam penjagaan-Nya,
dan pada akhirnya
kembali kepada-Nya


Puisi kisah Darsim

 
KISAH DARSIM

Kalimat pilu membentur sunyi,
mengusik nurani yang lama terdiam.
Lelaki polos,
terseret riuh goda dunia
yang datang dengan wajah serupa cahaya.

Di ambang janji pernikahan,
ada rumah yang retak oleh tangan sendiri.
Air mata istri jatuh tanpa suara,
anak-anak belajar membaca pertengkaran
dari mata yang kehilangan teduh.
Ibu menyimpan luka
di balik doa yang tak pernah selesai.

Inilah paradoks keadilan dunia—
ketika kabar tentang gendam dan santet
berkelindan dalam cerita manusia,
sementara layar maya
menyusun wajah-wajah suci
di antara reruntuhan rumah tangga.

Ada doa yang salah alamat,
ada rindu yang menyeberangi batas.
Ingatan berbisik:
“Engkau telah menua,
terlalu sederhana untuk kembali dicinta.”
Lalu kesetiaan ditukar
dengan bayang-bayang semu
yang menjanjikan utopia.

Namun,
bukankah setiap hati
memiliki harga diri
yang tak semestinya dirampas?

Bertahun luka ditoreh
pada sesama perempuan.
Ketika jalan kemenangan
tak juga terbuka,
gelap pun dijadikan tempat bertanya.

Hingga lelah datang
dan kata taubat akhirnya terucap.
Tuhan,
jangan biarkan dunia
menimbang dosa dengan kebencian.
Biarkan setiap perbuatan
menemui cermin takdirnya sendiri.
Sebab keadilan bukanlah kutuk,
melainkan kebenaran
yang perlahan menemukan jalan pulang.

Sapeken, 28 Desember 2026

Jumat, 28 Agustus 2026

puisi

Salam Waras

Saat senyum tak lagi mudah terbit,
saat langkah terasa berat menahan nyeri,
ada kewarasan yang kadang dianggap biasa,
padahal hati sedang sibuk bertarung
dengan riuh ego di dalam diri.

Jika pada ujung perjalanan ini
aku sempat kehilangan arah,
jemputlah aku dengan kasihmu.
Bukan untuk menyelamatkan seluruh duniaku,
cukup genggam tangan ini
agar aku kembali menemukan jalan pulang.

Dalam raga yang tak selalu baik-baik saja,
ada ribuan kali aku belajar bertahan.
Jujur, berkali-kali harapan terasa redup,
namun selalu ada satu cahaya
yang membuatku memilih untuk melangkah lagi.

Jika masih ada ruang untuk menerima,
terimalah aku bersama segala kurangku.
Tak perlu melihatku sebagai seseorang
yang harus selalu kuat dan sempurna.
Cukup pandang aku sebagai manusia
yang sedang belajar berdamai
dengan luka dan perjalanan.

Ragaku mungkin tak lagi utuh seperti dahulu,
jejak waktu telah meninggalkan banyak cerita.
Namun, adakah hati yang sudi menerima
tanpa bertanya mengapa aku begini?

Aku percaya,
akan ada seseorang yang datang membawa cinta,
meletakkan tangan dengan lembut di pundakku,
lalu berkata,

"Pulanglah...
di sini kau tak perlu menjadi siapa-siapa."

Mungkin kalimat sederhana itu
adalah rumah yang selama ini kucari.
Aku masih menunggu
bukan pada kesempurnaan,
melainkan pada sebuah penerimaan.

Sebab hidup bukan selalu tentang
berapa kali kita jatuh,
melainkan tentang keberanian
untuk kembali mengenali diri
di antara panjangnya perjalanan.

Barangkali selama ini
aku hanya seorang pelakon
yang belajar memainkan peran dengan jujur,
menapaki garis hidup
yang kadang lurus, kadang berliku.
Sisa usia adalah rahasia waktu.
Entah masih panjang atau sebentar,
aku ingin menjalaninya
dengan hati yang lebih lapang,
dengan langkah yang tetap percaya
bahwa selalu ada alasan
untuk menyalakan cahaya.

Salam waras
Sapeken, 27 Agustus 2026

Kamis, 27 Agustus 2026

Semangat Gerak Jalan SD 2 Sapeken


Lomba Gerak Jalan


Lomba gerak jalan merupakan momen tahunan yang selalu dinantikan masyarakat dan berbagai instansi sekolah. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda rutin yang menghadirkan semangat, kebersamaan, dan persaingan sehat.

Selama beberapa tahun, SD 2 selalu berhasil meraih peringkat pertama atau kedua, baik putra maupun putri. Namun, tahun ini kejuaraan yang biasanya menjadi milik sekolah kami harus bergilir ke sekolah lain.

Bagi saya, ini bukan semata-mata perkara menang atau kalah. Kekalahan justru menjadi bahan evaluasi untuk melihat bagian mana yang perlu diperbaiki, terutama dalam proses latihan dan persiapan.

Mempertahankan prestasi tentu bukan perkara mudah. Ada beban dan tanggung jawab untuk mengolah kemampuan agar mampu bersaing. Namun, kita perlu memahami bahwa kemenangan tidak selamanya menjadi milik kita. Semua berotasi, seperti bumi yang terus berputar pada porosnya.

Ada hikmah yang dapat dipetik: tidak ada yang kekal di dunia ini. Semua bergulir sesuai dengan usaha dan perjuangan. Karena itu, mari berbenah, berlatih, dan kembali berjuang untuk meraih prestasi bersama.

Salam sehat dan penuh semangat.
Salam merdeka. 
Catatan Harian_ tulisan H_11

  

Tak Bernama_ Puisi Romansa


Tak Bernama
Oleh: Sri Wulandari



Di balik tirai awan
kau sembunyikan sepasang tanya
Tatapanmu memilih sembunyi
sementara mataku tak lelah mencari
Aku menatapmu kau membalas

Lagi-lagi semesta mempertemukan kita
Entah hadiah atau ujian bagi hati
Kau singgah sekejap lalu menjelma rindu

Kusapa hadirmu penuh haru
Balasanmu meruntuhkan segala ragu
Indahmu menjelma anugerah
tetaplah tinggal selamanya


Kadang kau menjelma teka-teki
Janji pertemuan sering tertunda
Sesibuk itukah dirimu
hingga rindu akrab dengan waktu

Aku setia menanti hadirmu
Kadang kau menghilang
kadang muncul membawa tawa
Gemar bermain dengan rindu
lalu berlari meninggalkan debar di dada

Bagiku kau adalah utuh yang kucari
Istimewa penjaga bahagia
Cahaya yang tak lekang oleh waktu

Meski tanpa nama
Hatiku selalu tahu ke mana pulang
Sebab tak semua cinta perlu disebut namanya
Cukup dirasakan hadirnya

Sapeken, 26 Agustusi 2026

Selasa, 25 Agustus 2026

Menyalakan Mimpi dari Tangan-Tangan Kecil

Menyalakan Mimpi dari Tangan-Tangan Kecil
Menjadi guru bukan hanya tentang mengajarkan pelajaran di dalam kelas. Ada hal-hal lain yang jauh lebih berarti: melihat anak-anak tumbuh, menemukan keberanian, lalu perlahan berani bermimpi.

Semua bermula ketika beberapa grup WhatsApp membahas ajakan mengikuti lomba menulis bersama Bapak Menteri. Saat membaca informasi itu, pikiran saya langsung melayang. Muncul satu pertanyaan sederhana dalam hati, “Mungkinkah saya menulis bersama siswa-siswa saya?”

Bukan hal yang mudah, tentu saja.

Jumlah siswa yang cukup banyak, kondisi sosial yang beragam, serta kemampuan mereka yang berbeda-beda sempat membuat saya ragu. Apalagi sebagian besar anak-anak masih sangat awal mengenal dunia puisi. Ada yang baru belajar menulis puisi sederhana, ada yang pernah mengikuti lomba kecil, dan ada pula yang masih malu menuangkan isi pikirannya ke dalam tulisan.

Namun, justru di situlah saya menemukan alasan untuk memulai.

Saya ingin mengenalkan kepada mereka bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mengejar nilai akademik. Sekolah juga menjadi ruang untuk menemukan potensi, menumbuhkan keberanian, dan belajar mempercayai mimpi.

Anak-anak kelas 4, 5, dan 6 memang masih belajar memahami banyak hal. Mereka mungkin belum mampu menghasilkan tulisan yang sempurna. Namun saya percaya, keberanian untuk mencoba jauh lebih penting daripada kesempurnaan di awal perjalanan.

Dari mereka pula saya belajar bahwa tugas seorang guru bukan sekadar mengajar. Kadang, guru hanya perlu menjadi seseorang yang menyalakan api kecil agar anak-anak berani melangkah.

Perjalanannya tentu tidak mudah. Menggerakkan semangat anak-anak membutuhkan tenaga, waktu, dan kesabaran. Keterbatasan yang saya miliki sebagai seorang guru pun sering menjadi tantangan tersendiri. Namun perlahan, sesuatu yang awalnya hanya berupa harapan kecil mulai tumbuh.

Alhamdulillah, beberapa rekan guru ikut mendukung dan terlibat dalam proses penulisan buku tersebut. Semangat yang semula hanya datang dari beberapa anak, akhirnya tumbuh menjadi semangat bersama.

Hingga akhirnya, karya-karya mereka berhasil disusun menjadi sebuah buku antologi bertema kerukunan dan persahabatan.

Bagi sebagian orang, mungkin buku itu hanyalah sebuah buku sederhana. Namun bagi saya, buku tersebut menyimpan cerita yang jauh lebih besar.

Di dalamnya ada keberanian anak-anak yang belajar percaya pada dirinya sendiri. Ada kesabaran guru yang mendampingi. Ada dukungan dari rekan-rekan yang ikut berjalan bersama. Dan ada mimpi-mimpi kecil yang untuk pertama kalinya berani dituangkan dalam bentuk karya.

Saya berharap suatu hari nanti, ketika mereka telah dewasa, anak-anak itu akan membuka kembali buku tersebut dan tersenyum. Mereka akan mengenang bahwa pernah ada masa ketika mereka menulis sebuah karya bersama guru dan teman-temannya.

Mungkin hari ini tulisan mereka masih sederhana. Mungkin kata-kata yang mereka pilih belum sempurna. Tetapi siapa yang tahu perjalanan mereka kelak?

Bisa jadi, dari tangan-tangan kecil yang dahulu masih ragu untuk menulis, akan lahir penulis-penulis hebat di masa depan.

Bagi saya, buku ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru inilah awal.

Awal untuk terus berkreasi.
Awal untuk berani mencoba.
Awal untuk percaya bahwa setiap anak memiliki potensi yang layak diberi ruang.

Semoga buku sederhana ini menjadi jejak kecil yang mengantarkan mereka pada mimpi-mimpi yang lebih tinggi.

Sebab terkadang, seorang guru tidak perlu melakukan sesuatu yang besar untuk mengubah masa depan seorang anak.

Cukup dengan percaya kepada mereka, memberi kesempatan, dan berkata, “Kamu bisa.”

karya Bajo menuju bali

Puisi Karya Bajo menuju Bali Nginta, ningkolo, kita bekerja Jolor membawa hasil ke laut Pare' hasil menjadi karya Dari t...

STATEGI MENANGKAL HOAKS