Oleh: Sri Wulandari, S.Si.
" Nawang, gimana kabarmu?" Sarinah mendekat sambil tersenyum lebar.
"Baik," jawab Nawang dengan singkat, mencoba menyembunyikan kegundahan. "Kamu sendiri?"
"Baik juga," sahut Sarinah dengan ringan.
Percakapan mereka berlanjut dipenuhi canda dan tawa. Nawang saat itu telah beranjak remaja berusaha melupakan kekacauan di dalam batinnya. Namun, bayangan terus menghantui pikiran. Ia ingat saat pertama kali mendengar suara janggal, bayangan yang selalu menemaninya. Bayangan putih itu selalu menemaninya sejak sebelum duduk di bangku SD sampai remaja. Rasa itu selalu terbawa sampai ke bangku SMA.
Ketika sore tiba di indekos, Nawang mencoba tidur untuk mengusir lelah. Namun, bayangan seseorang melintas di kamar membuatnya kaget hingga terbangun. Ada bayangan bergerak dengan cepat, ia bangkit dan berteriak, "Keluar! Siapa gerangan itu?"
Sepanjang sejarah cerita spiritual Nawang membuatnya kehilangan kesadaran secara akal. Banyak hal mistik yang sulit dijelaskan.
Nawang juga terlahir tanpa ayah dan ibu. Hanya ibu angkat yang merawatnya karena menemukannya di tengah hutan.
Saat malam tiba, gangguan datang kembali. Pria berjubah putih itu membawanya melesat tinggi dan memperlihatkan keajaiban alam langit. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Ketakutan terus menghantui hingga membuatnya merasa selalu diawasi.
Tepat di tengah malam, setelah Nawang salat Tahajud, ia pun tertidur dengan pulas. Ia bermimpi seperti berada dalam alam sadar dan tidak sadar tubuhnya membelah menjadi dua bagian seolah-olah Nawang ingin pergi meninggalkan jasadnya yang terasa lebih ringan. Kenyataan membuatnya menolak seperti berperang dengan sosok yang menginginkan tubuhnya untuk pindah alam.
Teriakan menggema sampai tubuhnya terpental hebat. Namun, dalam batas kesadarannya, perjanjian seperti dibisikkan di telinga Nawang. Hawa panas membakar telinga, seketika gadis itu sontak terbangun. Bulir bening menetes dari pipi lalu disekanya.
Pagi itu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, pihak kampus mengajaknya ke luar kota. Senyum tipis menerpa wajah manis Nawang. Tanpa sadar ada kalimat terucap dari bibirnya dengan lirih.
"Sudah berapa kali, ya, aku ke sini?"
Tanpa disadari, ada bisikan yang menjawab, "Kamu sudah dua kali ke kota ini. 800 tahun yang lalu."
Spontan, Nawang tersentak dalam hati berkata, "Mistik lagi."
Bersambung.......
Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi*Omjay*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungannya,master master terhebat sahabat bloger🙏🙏