Waktu berjalan dengan kisah dan mimpi berulang-ulang. Nawang merasa terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak nyata. "Waktunya aku yang akan memegang kendali," gumamnya dalam hati.
Tiba saatnya Nawang menyelesaikan studi dan bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Saat training, ia melihat seorang laki-laki menatap dengan tatapan tajam penuh makna. Nawang tersenyum, menyapa dengan lambaian tangan. Laki-laki itu tersenyum tipis, tetapi penuh rahasia.
Hari berganti hari, tepat di sif malam Nawang bekerja. Hal ganjil pun terjadi. Saat matanya menatap langit, cahaya indah mengajaknya bercanda. Nawang pun tersenyum seperti kupu-kupu dan kunang-kunang bergerak melambat. "Masyaallah, keindahan alam itu," gumamnya dalam hati.
Sosok laki-laki bertubuh kurus, tinggi, dan tampan mendekati Nawang hingga membuyarkan lamunan gadis itu.
"Bintangnya indah, ya?"
Nawang tersenyum seolah-olah mengerti bahasa jiwa laki-laki tersebut. Cerita mereka berlanjut lebih intens seperti jiwa keduanya telah saling mengenal sejak lama. Hubungan mereka berada di fase paling dekat, yaitu sebagai pasangan kekasih. Keduanya melanjutkan hubungan ke jenjang paling serius, yaitu pernikahan.
Saat itu, Nawang berkata pada kekasihnya bahwa sakit yang diderita sudah sejak balita. Kemiskinan dan penderitaan telah dirasakan selama hidup dengan orang tua angkat serta kakak yang tidak menyukai dirinya. Dia menangis dipelukan sang kekasih.
Wajah Nawang pucat. Dia menggenggam tangan kekasihnya. "Aku sepertinya akan berpindah alam, bisakah membawaku melihat bintang-bintang yang selama ini menemaniku?"
Sang kekasih berkata, "Sudah saatnya istriku, kita pergi dengan membawa tubuhmu yang lemah ini."
Nawang pun mengiyakan dan tubuh mereka melesat seperti angin. Sesungguhnya, mereka bukan manusia biasa, tetapi pasangan sejati yang terpisah.
Nawang menguatkan diri bahwa selama menjadi manusia utuh telah memberikan pelajaran dalam batin dan fisiknya di kehidupan khayangan. Kehidupan duniawi mengajarkan kesabaran, ketangguhan, dan pengorbanan air mata. Hal tersebut membuat Nawang tahu, ia harus tetap berdiri sebagai manusia tangguh.
Hanya dengan menyelesaikan tugas akibat karma di dunia, Nawang bisa menemukan kembali arti cinta yang sesungguhnya. Arti kehidupan yang sejati walau bayang-bayang pengkhianatan mengganggu psikologisnya selama menjadi manusia yang memengaruhi siklus kehidupannya di negeri khayangan sebagai permaisuri. Dia bisa memimpin lebih baik lagi, bijaksana, dan adil sebagai permaisuri khayangan. Dia memiliki raja yang senantiasa tulus dan setia menjaga karma, kutukan yang dialami permaisurinya selama menjadi manusia.
Menulislah Setiap hari dan buktikan yang Terjadi-**Omjay**