Jumat, 16 Oktober 2026

TERLAMBAT BUKAN BERARTI KALAH



TERLAMBAT BUKAN BERARTI KALAH


 Belajar Bersyukur di Tengah Lelah dan Perjalanan Menulis

Ada satu hal yang semakin kusadari seiring berjalannya waktu: ketika kita terlalu berfokus pada kompetisi dan keinginan untuk menang, terkadang kita justru lupa menikmati proses dan mensyukuri setiap pencapaian.

Semalam, aku terlalu lelah mengerjakan tugas. Setelah semuanya selesai, aku berniat mengunggah hasil pekerjaanku. Ponsel masih berada dalam genggaman ketika kantuk perlahan mengalahkan kesadaranku. Aku pun tertidur, ditemani nyanyian malam yang berdendang dalam kesunyian.

Entah berapa lama terlelap, aku sempat terbangun. Seolah-olah otakku masih mengingat sederet kegiatan yang belum tuntas. Aku mencoba meraba-raba ponsel sambil berpikir, apakah tugasku sudah diunggah?

Dengan mata yang masih berat, kupencet layar ponsel. Namun, tanpa kusadari, aku kembali terlelap bersama kantuk yang belum juga reda.

Ketika terbangun lagi, aku mulai kebingungan.
Waduh, mana ponselku? Apakah tugasku sudah terkirim?

Kucari dan kuperiksa ponsel itu. Ternyata, semuanya mati. Seketika, perasaan cemas mulai menghampiri. Aku teringat bahwa pekerjaanku menggunakan aplikasi SIC. 
Ada absen masuk yang harus diunggah, pelan-pelan hape diarahkan ke kabelnya, sementara aku belum yakin apakah semuanya sudah terselesaikan.

Pikiranku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Kecewa, cemas, pasrah, dan sedih bercampur menjadi satu. Dalam hati, aku hanya bisa berkata, apakah kali ini aku benar-benar gagal?

Anehnya, rasa kantukku masih belum juga hilang. Di tengah kebingungan itu, kuambil bantal dan berbaring di luar. Rambutku berantakan, sementara pikiranku masih berkelana di antara tugas-tugas yang belum tentu selesai.

Ketika tersadar kembali, hari sudah pagi.
Aku mencoba melanjutkan aktivitas kecil yang biasa kulakukan, menyiapkan barang dagangan untuk dititipkan, sebelum melaksanakan tugas negara. Ada tanggung jawab lain yang harus kuselesaikan, meskipun pikiranku masih tertuju pada tugas yang belum sempat kuunggah.

Hari ini, keterlambatan mengunggah tugas menjadi pengingat bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Tugas merevisi memang sangat menyita waktuku, ditambah laptop agak eror. Ketika ponsel mati, bukan hanya alat komunikasiku yang terhenti, tetapi juga beberapa kegiatan yang bergantung padanya.

Sesekali, aku bertanya kepada diri sendiri, apakah ini bagian dari proses menua?
Aku pun tersenyum kecil dalam hati.
Barangkali bukan semata-mata karena usia. Mungkin aku hanya sedang belajar memahami batas kemampuan diri. Ada kalanya tubuh membutuhkan istirahat, sementara pikiran masih ingin menyelesaikan banyak hal. Ada pula saatnya kita harus menerima bahwa kemampuan manusia memiliki batas, meskipun keinginan untuk terus berkarya begitu besar.

Dari kejadian sederhana itu, aku belajar bahwa keterlambatan bukan selalu tanda kekalahan. Namun, aku juga memahami bahwa tanggung jawab tetap harus dijaga. Kita perlu belajar mengatur waktu, mengenali batas diri, dan mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih baik.

Sebab, menjadi penulis bukan hanya tentang seberapa banyak karya yang berhasil diselesaikan atau berapa banyak kompetisi yang dimenangkan. Menulis juga mengajarkan kita untuk mengenali diri sendiri, memahami kehidupan, dan menerima kenyataan dengan hati yang lebih lapang.

Aku ingin terus belajar. Bukan sekadar menjadi pemenang, melainkan menjadi seseorang yang mampu menghargai setiap proses perjalanan, serta belajar konsisten itu penting.

MENGENANG SEBUAH BUKU: RINDU TAK BERUJUNG

Berbicara tentang perjalanan menulis, ingatanku kembali pada sebuah buku yang pernah kutulis beberapa waktu lalu. Buku itu lahir dari proses belajar bersama dalam kegiatan BM melalui Aula Belajar Bersama Ruang Literasi.

Judulnya Rindu Tak Berujung.

Buku tersebut telah memiliki ISBN dan memuat empat belas judul cerita. Bagiku, buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan yang kemudian menjadi sebuah karya cetak. Di dalamnya, ada jejak perjalanan, pengalaman, imajinasi, dan proses belajar yang telah kulalui.

Jika seseorang bertanya apakah kisah-kisah di dalamnya merupakan cerita nyata atau hanya imajinasi, jawabanku adalah keduanya.

Bagiku, kenyataan dan imajinasi terkadang dapat berjalan berdampingan. Kehidupan yang kita alami menyimpan begitu banyak peristiwa, perasaan, dan kenangan. Sementara itu, imajinasi memberikan ruang bagi pikiran untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang tidak selalu dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Keduanya dapat saling melengkapi, menghadirkan cerita yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna kehidupan.

Judul Rindu Tak Berujung sendiri menyimpan pertanyaan tentang kehilangan, harapan, dan pencarian cinta sejati di tengah perjalanan hidup.

Ada kenangan yang tak mudah memudar. Ada harapan yang tetap tumbuh meskipun keadaan berubah. Ada pula kerinduan yang membawa seseorang pada pencarian makna, bahkan ketika jawaban yang diharapkan belum juga ditemukan.

Seperti yang tergambar pada sampul buku tersebut, seorang perempuan berhijab merah muda hadir di antara rangkaian bunga. Senyumnya menyimpan kelembutan, sementara tatapan matanya seolah mengajak pembaca memasuki sebuah perjalanan yang belum sepenuhnya terungkap.

Bagi pembaca, sampul itu mungkin hanya sebuah ilustrasi. Namun, bagiku, ia menjadi pintu masuk untuk mengenal kisah-kisah yang tersembunyi di balik judulnya.

Empat belas judul di dalam buku itu menjadi bagian dari perjalanan kreatifku. Setiap cerita memiliki ruangnya sendiri, dengan pengalaman, imajinasi, dan pesan yang hendak disampaikan.

Aku menyadari bahwa sebuah karya tidak harus sepenuhnya lahir dari pengalaman pribadi untuk dapat menyentuh hati pembaca. Imajinasi pun dapat menyampaikan kebenaran tentang perasaan manusia. Sebaliknya, pengalaman nyata dapat diolah menjadi cerita yang membuka ruang bagi pembaca untuk membayangkan sesuatu yang lebih luas.

Pada akhirnya, kenyataan dan imajinasi bukanlah dua hal yang harus selalu dipertentangkan. Keduanya dapat bertemu dalam tulisan, lalu menghadirkan makna yang berbeda bagi setiap orang.

Kini, ketika kembali mengingat perjalanan buku Rindu Tak Berujung, aku merasa bahwa setiap karya memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh dan menemukan pembacanya.

Tidak semua proses berlangsung mudah. Tidak semua usaha langsung membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Namun, setiap langkah tetap memiliki arti selama kita bersedia belajar dan terus memperbaiki diri.

Aku pun kembali pada pemikiran awal: jangan sampai keinginan untuk menang membuat kita lupa bersyukur.

Kompetisi memang dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan, tetapi perjalanan menulis jauh lebih luas daripada sekadar perlombaan. Ada pengalaman yang memperkaya pikiran, kegagalan yang mengajarkan ketekunan, dan karya yang menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha.

Terlambat bukan berarti kalah. Tidak menang bukan berarti tidak berkembang. Dan sebuah karya tidak kehilangan maknanya hanya karena belum mendapatkan penghargaan.

Selama masih ada kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki langkah.

Sebab, pada akhirnya, perjalanan menulis bukan hanya tentang mencapai garis akhir, melainkan tentang menemukan makna di sepanjang jalan yang kita lalui.

Sri Wulandari berfokus pada kompetisi dan keinginan untuk menang, terkadang kita justru lupa menikmati proses dan mensyukuri setiap pencapaian.

Semalam, aku terlalu lelah mengerjakan tugas. Setelah semuanya selesai, aku berniat mengunggah hasil pekerjaanku. Ponsel masih berada dalam genggaman ketika kantuk perlahan mengalahkan kesadaranku. Aku pun tertidur, ditemani nyanyian malam yang berdendang dalam kesunyian.

Entah berapa lama terlelap, aku sempat terbangun. Seolah-olah otakku masih mengingat sederet kegiatan yang belum tuntas. Aku mencoba meraba-raba ponsel sambil berpikir, apakah tugasku sudah diunggah?

Dengan mata yang masih berat, kupencet layar ponsel. Namun, tanpa kusadari, aku kembali terlelap bersama kantuk yang belum juga reda.

Ketika terbangun lagi, aku mulai kebingungan.

Waduh, mana ponselku? Apakah tugasku sudah terkirim?

Kucari dan kuperiksa ponsel itu. Ternyata, semuanya mati. Seketika, perasaan cemas mulai menghampiri. Aku teringat bahwa pekerjaanku menggunakan aplikasi SIC. Ada tugas yang harus diunggah, sementara aku belum yakin apakah semuanya sudah terselesaikan.

Pikiranku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Kecewa, cemas, pasrah, dan sedih bercampur menjadi satu. Dalam hati, aku hanya bisa berkata, apakah kali ini aku benar-benar gagal?

Anehnya, rasa kantukku masih belum juga hilang. Di tengah kebingungan itu, kuambil bantal dan berbaring di luar. Rambutku berantakan, sementara pikiranku masih berkelana di antara tugas-tugas yang belum tentu selesai.

Ketika tersadar kembali, hari sudah siang.

Aku mencoba melanjutkan aktivitas kecil yang biasa kulakukan, menyiapkan barang dagangan untuk dititipkan. Ada tanggung jawab lain yang harus kuselesaikan, meskipun pikiranku masih tertuju pada tugas yang belum sempat kuunggah.

Hari itu, keterlambatan mengunggah tugas menjadi pengingat bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Ketika ponsel mati, bukan hanya alat komunikasiku yang terhenti, tetapi juga beberapa kegiatan yang bergantung padanya.

Sesekali, aku bertanya kepada diri sendiri, apakah ini bagian dari proses menua?

Aku pun tersenyum kecil dalam hati.

Barangkali bukan semata-mata karena usia. Mungkin aku hanya sedang belajar memahami batas kemampuan diri. Ada kalanya tubuh membutuhkan istirahat, sementara pikiran masih ingin menyelesaikan banyak hal. Ada pula saatnya kita harus menerima bahwa kemampuan manusia memiliki batas, meskipun keinginan untuk terus berkarya begitu besar.

Dari kejadian sederhana itu, aku belajar bahwa keterlambatan bukan selalu tanda kekalahan. Namun, aku juga memahami bahwa tanggung jawab tetap harus dijaga. Kita perlu belajar mengatur waktu, mengenali batas diri, dan mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih baik.

Sebab, menjadi penulis bukan hanya tentang seberapa banyak karya yang berhasil diselesaikan atau berapa banyak kompetisi yang dimenangkan. Menulis juga mengajarkan kita untuk mengenali diri sendiri, memahami kehidupan, dan menerima kenyataan dengan hati yang lebih lapang.

Aku ingin terus belajar, terus menerus, ingin menghidupkan blog gratisan ini, bukan sekadar menjadi pemenang, melainkan menjadi seseorang yang mampu menghargai setiap proses perjalanan.

MENGENANG SEBUAH BUKU: RINDU TAK BERUJUNG

Berbicara tentang perjalanan menulis, ingatanku kembali pada sebuah buku yang pernah kutulis beberapa waktu lalu. Buku itu lahir dari proses belajar bersama dalam kegiatan BM melalui Aula Belajar Bersama Ruang Literasi.

Judulnya Rindu Tak Berujung.

Buku tersebut telah memiliki ISBN dan memuat empat belas judul cerita. Bagiku, buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan yang kemudian menjadi sebuah karya cetak. Di dalamnya, ada jejak perjalanan, pengalaman, imajinasi, dan proses belajar yang telah kulalui.

Jika seseorang bertanya apakah kisah-kisah di dalamnya merupakan cerita nyata atau hanya imajinasi, jawabanku adalah keduanya.

Bagiku, kenyataan dan imajinasi terkadang dapat berjalan berdampingan. Kehidupan yang kita alami menyimpan begitu banyak peristiwa, perasaan, dan kenangan. Sementara itu, imajinasi memberikan ruang bagi pikiran untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang tidak selalu dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Keduanya dapat saling melengkapi, menghadirkan cerita yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna kehidupan.

Judul Rindu Tak Berujung sendiri menyimpan pertanyaan tentang kehilangan, harapan, dan pencarian cinta sejati di tengah perjalanan hidup.

Ada kenangan yang tak mudah memudar. Ada harapan yang tetap tumbuh meskipun keadaan berubah. Ada pula kerinduan yang membawa seseorang pada pencarian makna, bahkan ketika jawaban yang diharapkan belum juga ditemukan.

Seperti yang tergambar pada sampul buku tersebut, seorang perempuan berhijab merah muda hadir di antara rangkaian bunga. Senyumnya menyimpan kelembutan, sementara tatapan matanya seolah mengajak pembaca memasuki sebuah perjalanan yang belum sepenuhnya terungkap.
Bagi pembaca, sampul itu mungkin hanya sebuah ilustrasi. Namun, bagiku, ia menjadi pintu masuk untuk mengenal kisah-kisah yang tersembunyi di balik judulnya.

Empat belas judul di dalam buku itu menjadi bagian dari perjalanan kreatifku. Setiap cerita memiliki ruangnya sendiri, dengan pengalaman, imajinasi, dan pesan yang hendak disampaikan.

Aku menyadari bahwa sebuah karya tidak harus sepenuhnya lahir dari pengalaman pribadi untuk dapat menyentuh hati pembaca. Imajinasi pun dapat menyampaikan kebenaran tentang perasaan manusia. Sebaliknya, pengalaman nyata dapat diolah menjadi cerita yang membuka ruang bagi pembaca untuk membayangkan sesuatu yang lebih luas.

Pada akhirnya, kenyataan dan imajinasi bukanlah dua hal yang harus selalu dipertentangkan. Keduanya dapat bertemu dalam tulisan, lalu menghadirkan makna yang berbeda bagi setiap orang.

Kini, ketika kembali mengingat perjalanan buku Rindu Tak Berujung, aku merasa bahwa setiap karya memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh dan menemukan pembacanya.

Tidak semua proses berlangsung mudah. Tidak semua usaha langsung membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Namun, setiap langkah tetap memiliki arti selama kita bersedia belajar dan terus memperbaiki diri.

Aku pun kembali pada pemikiran awal: jangan sampai keinginan untuk menang membuat kita lupa bersyukur.

Kompetisi memang dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan, tetapi perjalanan menulis jauh lebih luas daripada sekadar perlombaan. Ada pengalaman yang memperkaya pikiran, kegagalan yang mengajarkan ketekunan, dan karya yang menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha.

Terlambat bukan berarti kalah. Tidak menang bukan berarti tidak berkembang. Dan sebuah karya tidak kehilangan maknanya hanya karena belum mendapatkan penghargaan.

Selama masih ada kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki langkah.

Sebab, pada akhirnya, perjalanan menulis bukan hanya tentang mencapai garis akhir, melainkan tentang menemukan makna di sepanjang jalan yang kita lalui.
Kalimat sakti selalu menemani tulisan ini"menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi"OMJAY. https://wijayalabs.com

PUISI _ SEJENAK

Sejenak

Karya: Sri Wulandari

Sejenak hati letih mengingat masalah,
sejenak terlintas pesan tentang pelaporan.

Langkahku terhenti tatkala melihat senyumnya, makin kupandang, makin terang cahayanya.

Ciptaan-Mu begitu indah, ya Robbi.
Bolehkah ia selamanya bersamaku

Memandang cahaya-cahaya yang Kau titipkan kepadanya,
sungguh menakjubkan dunia ciptaan-Mu.

Tuhan, jika boleh meminta,
bolehkah cahaya bintang-Mu
selalu menemani hati yang hampa ini,
memberi penyembuhan tanpa belajar berharap?

Sungguh, ciptaan-Mu begitu sempurna,
begitu indah dan berharga.
Tujuh bintang bergerak mengitari parade semesta,
syukur atas nikmat yang Kau beri,
Ilahi Robbi.

Sapeken, 16 Oktober 2026

Menangkap pesan yang lembut:

*Terkadang, di tengah kesibukan dan kekosongan hati, kita menemukan ketenangan melalui sesuatu yang sederhana, bahkan melalui cahaya yang mengingatkan kita untuk bersyukur.

Makna yang tersirat pada puisi saya 
Sejenak berhenti dari masalah: kesibukan dan tanggung jawab terkadang membuat hati lelah.

Senyuman dan cahaya: ada sesuatu yang mengingatkan penyair pada keindahan dan kebesaran Allah.

Hati yang hampa: sebuah pengakuan jujur tentang kebutuhan akan ketenangan, tanpa menggantungkan seluruh harapan pada sesuatu yang belum pasti.

Tujuh bintang dan parade semesta: gambaran tentang keteraturan dan keajaiban alam yang menumbuhkan rasa syukur.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi ya OMJAY. https://wijayalabs.com

Rabu, 14 Oktober 2026

ANDE-ANDE LUMUT


Ande-Ande Lumut
Oleh : Sri Wulandari

 
Di desa sunyi kau sembunyi
pemuda tampan berseri
Ande-Ande Lumut nama tersamar
Adipati Anom sang pangeran gemilang

Seberang jembatan datang tiga dara
menyulam harap menjemput cinta
mengajukan lamaran penuh maksud
namun hanya suci kau pilih teguh


Sungai membentang bak gerbang takdir
Yuyu Kangkang tawarkan sihir
dua jelita jatuh terlena
namun sang suci tak tergoda
Klenting Kuning berdiri tegak
tak bermahkota tubuhnya dekil
namun hatinya terang bersinar
di sanalah kau temukan kasih

Dewi Candrakirana dan sang pangeran
bersama dalam janji suci
kehormatan jadi benteng hati
setia berdua bahagia abadi

Sapeken, 14 Oktober 20



Menulislah Setiap hari dan buktikan yang terjadi. Omjay****https://wijayalabs.com

Puisi ini merangkum cerita rakyat Jawa Timur yang terkenal, yaitu Ande-Ande Lumut (penyamaran dari Pangeran Adipati Anom atau Panji Asmarabangun) dan Klenting Kuning (penyamaran dari Dewi Candrakirana).

• Bait 1: Menggambarkan pangeran yang bersembunyi di sebuah desa terpencil (Desa Dadapan) menggunakan nama samaran Ande-Ande Lumut.

• Bait 2 & 3: Menceritakan kedatangan para wanita (Klenting Merah, Klenting Hijau, Klenting Biru) yang ingin melamarnya. Untuk menyeberang sungai, mereka menggunakan jasa Yuyu Kangkang (kepiting raksasa) dan tergiur oleh tawarannya, sehingga mereka kehilangan "kesucian" mereka (melanggar norma demi kemudahan).

• Bait 4 & 5: Menyoroti Klenting Kuning yang datang dengan tubuh dekil dan bau karena strategi dari ibu angkatnya. Namun, karena dia menolak tawaran Yuyu Kangkang dan menjaga kehormatannya, Ande-Ande Lumut memilihnya. Identitas asli keduanya pun terungkap, dan mereka hidup bahagia.
 Salam literasi 

Selasa, 13 Oktober 2026

BERTAHAN ATAU PERGI

BERTAHAN ATAU PERGI?

Tips dan Trik Menghadapi Lingkungan Toxic Tanpa Kehilangan Jati Diri

Pernahkah kamu berada di lingkungan yang membuat pikiran terasa penuh, hati tidak tenang, dan langkah seolah kehilangan arah?

Kita sering mendengar istilah toxic ketika membicarakan hubungan antarmanusia. Istilah ini mengingatkan kita pada keadaan yang tidak sehat, ketika interaksi yang terus berulang justru menghadirkan tekanan, ketidaknyamanan, bahkan membuat seseorang merasa sulit menjadi dirinya sendiri.

Lingkungan seperti ini bisa hadir di mana saja. Mulai dari lingkungan terdekat, pertemanan, tempat kerja, hingga kehidupan bermasyarakat.

Pernahkah kamu merasa sudah berusaha melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi tetap saja ada yang dipersoalkan? Ingin menyampaikan pendapat, tetapi takut disalahartikan? Atau ingin mengekspresikan gagasan, tetapi justru merasa tertekan oleh penilaian orang lain?

Jika pernah merasakannya, kamu tidak sendirian.

Berada dalam lingkungan yang tidak sehat bisa membuat pikiran terbebani, perasaan gelisah, dan semangat perlahan menurun. Kita mungkin tetap menjalankan rutinitas seperti biasa, tersenyum ketika bertemu orang lain, bahkan terlihat baik-baik saja. Padahal, ada banyak hal yang sedang kita pertimbangkan di dalam diri.

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap?

Apakah kita harus pergi, bertahan, atau belajar menghadapinya dengan cara yang berbeda?

1. Memahami Lingkungan Toxic Sebelum Mengambil Keputusan

Sebelum memutuskan untuk pergi atau bertahan, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tidak semua perbedaan pendapat merupakan perilaku toxic. Kritik tidak selalu berarti kebencian, begitu pula ketidaksetujuan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang ingin menjatuhkan kita.

Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang memiliki cara berpikir, kebiasaan, dan sudut pandang yang berbeda. Namun, ketika interaksi yang berulang dipenuhi penghinaan, manipulasi, intimidasi, atau perlakuan tidak adil, kita perlu menyadari bahwa ada persoalan yang harus ditangani.

Jangan terburu-buru menyimpulkan, tetapi jangan pula terus-menerus mengabaikan apa yang kita alami.

Belajarlah membedakan antara kritik yang membangun dan perlakuan yang merendahkan. Dari sanalah kita bisa menentukan langkah dengan lebih bijaksana.
2. Bertahan atau Pergi, Keduanya Memiliki Konsekuensi

Ketika menghadapi lingkungan kerja yang tidak nyaman, pilihan kita terkadang tidak sesederhana membalikkan telapak tangan.

Sebagian orang mungkin memilih pergi, mencari pekerjaan baru, dan memulai kehidupan di lingkungan yang berbeda. Pilihan ini bisa menjadi jalan keluar ketika keadaan tidak lagi sehat dan kesempatan lain memungkinkan.

Namun, ada pula yang memilih bertahan.

Bisa jadi karena pekerjaan tersebut merupakan sumber penghidupan utama. Bisa juga karena sudah memiliki status kepegawaian tetap, tanggung jawab pelayanan, atau amanah yang tidak mudah ditinggalkan.

Sebagai contoh, seseorang yang telah lama mengabdi dalam suatu instansi pemerintahan mungkin perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Begitu pula pekerja di perusahaan swasta yang harus memikirkan kebutuhan hidup, keluarga, dan ketersediaan pekerjaan pengganti.

Karena itu, kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa orang yang bertahan berarti lemah atau orang yang pergi berarti kalah.

Setiap orang memiliki keadaan, pertimbangan, dan kemampuan yang berbeda.

Pergi bukan selalu tanda menyerah, sedangkan bertahan bukan selalu tanda keberanian. Keduanya membutuhkan pertimbangan yang matang.

Yang terpenting, jangan mengambil keputusan hanya karena emosi sesaat. Pertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan, kebutuhan, tanggung jawab, dan kesejahteraan diri sendiri.

3. Jika Memilih Bertahan, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bertahan bukan berarti membiarkan diri terus-menerus menerima perlakuan yang tidak pantas.

Jika kita belum bisa meninggalkan lingkungan tersebut, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, belajarlah mengendalikan respons.

Kita tidak selalu bisa mengatur perkataan dan perilaku orang lain. Namun, kita bisa belajar memilih cara meresponsnya.

Tidak semua perkataan harus dibalas. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Terkadang, menghentikan percakapan yang tidak produktif jauh lebih bijaksana daripada terus mempertahankannya.

Kedua, tetapkan batasan yang sehat.

Kita boleh bersikap ramah tanpa harus menyetujui semua hal. Kita boleh membantu tanpa harus mengorbankan seluruh waktu dan tenaga.

Sampaikan ketidaknyamanan dengan bahasa yang sopan dan tegas. Jika percakapan mulai mengarah pada penghinaan, kita berhak menghentikannya dengan cara yang aman dan profesional.

Ketiga, jangan sibuk membuktikan diri kepada semua orang.

Dalam lingkungan yang kurang sehat, terkadang kita merasa harus terus menunjukkan bahwa kita mampu, bekerja dengan baik, dan tidak seperti yang dituduhkan.

Padahal, menghabiskan energi untuk meyakinkan setiap orang bisa membuat kita kehilangan fokus terhadap tujuan utama.

Lakukan tanggung jawab sebaik mungkin. Evaluasi diri ketika menerima kritik yang masuk akal, tetapi jangan menjadikan setiap penilaian orang lain sebagai ukuran harga diri.

Keempat, tetap profesional dan berpegang pada fakta.

Terutama di tempat kerja, usahakan komunikasi tetap jelas dan berkaitan dengan tanggung jawab. Hindari terlibat dalam gosip, menyebarkan prasangka, atau membalas perlakuan buruk dengan tindakan serupa.

Jika terjadi intimidasi atau perlakuan tidak adil yang berulang, catat kejadian secara faktual dan mintalah bantuan kepada pihak yang tepat.

Kelima, bangun dukungan yang sehat.

Jangan merasa harus menghadapi semuanya sendirian. Temukan orang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita dan membantu mempertimbangkan pilihan.

Kita juga perlu menyediakan waktu untuk beristirahat, menulis, berdoa sesuai keyakinan, atau melakukan kegiatan yang membantu menenangkan pikiran.

Menjaga diri bukanlah bentuk keegoisan. Kita pun membutuhkan ruang untuk memulihkan tenaga dan semangat.

4. Jangan Terjebak dalam Informasi yang Terlalu Banyak

Saat menghadapi persoalan, kita sering mencari jawaban melalui internet, mesin pencari, media sosial, bahkan berbagai aplikasi kecerdasan buatan.

Beragam informasi menawarkan cara menghadapi lingkungan toxic. Ada yang menyarankan untuk menjauh, bersikap cuek, membangun batasan, atau segera meninggalkan lingkungan yang tidak sehat.

Semua itu dapat menjadi bahan pertimbangan. Namun, tidak setiap saran cocok diterapkan dalam semua keadaan.

Saran untuk segera pergi mungkin terasa mudah bagi seseorang yang memiliki banyak pilihan pekerjaan. Namun, bagi orang yang menggantungkan hidup pada satu pekerjaan, keputusan tersebut membutuhkan perencanaan yang lebih matang.

Begitu pula dengan anjuran untuk bersikap cuek. Mengabaikan provokasi mungkin membantu dalam situasi tertentu, tetapi tidak selalu menyelesaikan masalah yang melibatkan ketidakadilan atau penyalahgunaan wewenang.

Karena itu, informasi yang kita dapatkan sebaiknya tidak langsung dijadikan keputusan mutlak.

Gunakan informasi sebagai bahan pertimbangan, bukan sebagai pengganti kebijaksanaan dalam menilai keadaan sendiri.

Tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang masih bisa diperbaiki? Apa risiko jika aku bertahan? Apa yang perlu kusiapkan jika memilih pergi?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah kita belajar mengambil keputusan berdasarkan kenyataan, bukan semata-mata mengikuti pendapat orang lain.

5. Tidak Semua Orang Akan Menyukai Kita

Ada satu hal yang perlu kita pahami dalam kehidupan: apa pun yang kita lakukan, tidak semua orang akan menyukainya.

Ketika kita berbicara, mungkin ada yang tidak setuju. Ketika kita diam, mungkin ada yang menganggap kita tidak peduli. Ketika kita berusaha membantu, mungkin ada yang salah memahami niat kita.

Namun, bukan berarti setiap orang yang tidak menyukai kita sedang bersikap toxic.

Perbedaan selera, pendapat, dan prinsip merupakan bagian dari kehidupan bersama. Kita perlu belajar menerima perbedaan sekaligus mengenali kapan sebuah perlakuan telah melampaui batas yang wajar. Apalagi ujaran kebencian yang mendapatkan balasan alam dan Allah

Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari siapa yang salah hingga lupa mengevaluasi diri sendiri.

Jika ada kritik yang benar, terimalah sebagai pembelajaran. Jika terjadi kesalahpahaman, cobalah berkomunikasi. Namun, jika kita terus-menerus menghadapi perlakuan merendahkan atau intimidasi, jangan takut mencari bantuan dan mengambil langkah perlindungan.

Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan mana yang perlu diperbaiki, mana yang perlu diterima, dan mana yang harus ditindaklanjuti.

6. Ketika Cahaya Berada di Tengah Kegelapan

Pernahkah kita membayangkan sebuah cahaya yang berusaha menerangi ruangan gelap?

Cahaya itu tidak selalu dapat membuat seluruh ruangan menjadi terang dalam sekejap. Ada bagian yang masih tertutup, ada sudut yang belum tersentuh, dan ada pula penghalang yang membuat sinarnya tidak menjangkau setiap tempat.

Begitu pula ketika seseorang berusaha membawa sikap positif ke dalam lingkungan yang dipenuhi prasangka dan konflik.

Niat baik tidak selalu langsung diterima. Usaha memperbaiki keadaan tidak selalu mendapatkan dukungan. Bahkan, perbedaan cara pandang terkadang membuat dua pihak terus berbenturan.

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa persoalannya tidak selalu sesederhana cahaya positif melawan kegelapan negatif. Setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan alasan yang berbieda.

Karena itu, menghadapi lingkungan yang tidak sehat tidak cukup hanya dengan merasa bahwa diri kita benar. Kita juga perlu bersedia mengevaluasi sikap, mendengarkan penjelasan, dan mencari jalan keluar yang adil.

Cahaya tidak perlu memadamkan cahaya lain untuk membuktikan keberadaannya.

Demikian pula kita. Tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk menunjukkan kemampuan. Tidak perlu membalas keburukan untuk membuktikan bahwa kita kuat.

Tetaplah menjadi pribadi yang memiliki prinsip, tetapi jangan menutup diri dari perbaikan.

Jika keadaan masih bisa diperbaiki, mulailah dari komunikasi yang sehat. Jika masalah membutuhkan pihak ketiga, carilah penengah yang adil. Jika lingkungan tetap membahayakan meskipun berbagai upaya telah dilakukan, pertimbangkan jalan keluar yang lebih aman.

Sebab, menjaga cahaya dalam diri bukan berarti kita harus terus berdiri di tempat yang sama, apa pun risikonya.

7. Kapan Kita Harus Berhenti Bertahan?

Ada kalanya kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah aku masih bertahan karena keadaan memang membutuhkan waktu untuk diperbaiki, atau karena aku merasa bersalah jika memilih pergi?

Pertanyaan ini penting, sebab terkadang kita terlalu lama bertahan hanya karena sudah menginvestasikan banyak waktu, tenaga, dan perasaan.

Padahal, masa lalu tidak harus menjadi alasan untuk terus menjalani keadaan yang merugikan.

Jika lingkungan terus menghadirkan intimidasi, ancaman, penghinaan, atau perlakuan tidak adil, jangan hanya mengandalkan kesabaran. Mintalah dukungan, cari bantuan yang sesuai, dan pertimbangkan pilihan yang tersedia.

Apabila keputusan untuk pergi belum memungkinkan, susunlah rencana secara bertahap. Persiapkan kebutuhan, cari informasi tentang alternatif yang realistis, dan bangun dukungan yang dapat membantu kita melewati perubahan.

Tidak semua jalan keluar harus dilakukan hari ini. Namun, kita tetap boleh mulai menyiapkannya.

Kesabaran bukan berarti menerima segala perlakuan tanpa batas. Keberanian bukan berarti mengambil risiko tanpa perhitungan. Dan keikhlasan bukan berarti mengabaikan kebutuhan untuk melindungi diri.

Kita bisa tetap bertanggung jawab sekaligus mengakui bahwa diri kita juga membutuhkan lingkungan yang sehat.

Penutup: Bertahanlah dengan Bijaksana, Bukan dengan Mengorbankan Diri

Pada akhirnya, menghadapi lingkungan toxic bukan hanya tentang bagaimana kita melawan orang lain, melainkan bagaimana kita mengambil sikap tanpa kehilangan jati diri.

Kita tidak selalu bisa mengubah cara berpikir seseorang. Kita juga tidak bisa menjamin bahwa setiap lingkungan akan menerima kehadiran kita dengan baik.

Namun, kita masih bisa belajar mengendalikan respons, menetapkan batasan, memperbaiki komunikasi, dan memilih langkah yang sesuai dengan keadaan.

Jika masih ada ruang untuk memperbaiki hubungan, berusahalah dengan bijaksana. Jika perlu menyuarakan ketidakadilan, lakukan dengan cara yang tepat. Jika membutuhkan pertolongan, jangan merasa malu untuk memintanya.

Dan jika suatu hari kita harus pergi, jangan buru-buru menganggap diri sendiri gagal.

Sebab, kehidupan bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat bertahan dalam keadaan sulit. Kehidupan juga mengajarkan kita untuk mengenali batas kemampuan, menghargai diri sendiri, dan memahami kapan sebuah perjuangan perlu dilanjutkan dengan cara yang berbeda.

Seperti cahaya yang tetap bersinar tanpa harus membakar dirinya sendiri, kita pun dapat berusaha membawa kebaikan tanpa kehilangan ketenangan dan martabat.

Bertahanlah jika masih ada jalan untuk memperbaiki keadaan. Beranilah bersuara ketika menghadapi ketidakadilan. Dan jangan takut memilih jalan lain ketika keselamatan, kesejahteraan, serta masa depan membutuhkan keputusan yang berbeda.
Karena terkadang, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mengubah semua orang, melainkan ketika kita mampu melewati keadaan yang sulit dengan tetap menjaga nilai-nilai kebaikan dalam diri.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi, kalimat sakti Omjay, dan bisa dikunjungi di https:// wijayalabs.com

BAHAGIA ITU SEDERHANA

BAHAGIA ITU SEDERHANA

Bahagia itu sederhana
saat hadirnya membawa warna
saat tatapnya menyapa jiwa
saat kasihnya terasa nyata

Saat peduli hadir tanpa diminta
saat senyumnya merekah penuh makna
saat sapanya menyentuh rasa
saat godanya mengundang tawa

Saat langkahnya menuju arahku
saat kedip matanya mencuri perhatianku
saat senyumnya merekah di hadapanku
saat diam-diam matanya menatapku

Saat tak sependapat, tetapi tetap menyapa
saat diam menyimpan rasa yang tak terbaca
saat hadirnya menjadi teman cerita
saat doa terucap tanpa perlu kata

Bahagia itu sederhana
menyebut namanya dalam doa
dan menikmati hidangan bersama tanpa rupa
merangkai kenangan dalam kebersahajaan

Sapeken, 12 Oktober 2026

Kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar; terkadang, kebersamaan sederhana sudah cukup untuk meninggalkan kenangan.

Semesta penuh rahasia bagi hati yang ingin kembali pulang dalam pelukannya, tak berharap bahagia  dengan gemerlap  kekayaan dunia, hanya  ingin hidup  untuknya dan bersama dia surga selamanya.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi. Kalimat sakti Omjay, https://wijayalabs.con. 

Minggu, 11 Oktober 2026

Tentang perjalanan serta Ujiannya

MALAM MINGGU BERCERITA

Tentang Perjalanan, Ujian, dan Keberanian untuk Melanjutkan

Aku menulis kisah ini bukan untuk menunjukkan bahwa diriku adalah sosok yang kuat, apalagi merasa paling mampu dalam menggerakkan literasi. Tulisan ini hanyalah bagian dari ikhtiarku untuk melanjutkan perjalanan menulis sekaligus mendokumentasikan pengalaman-pengalaman sederhana yang menyimpan makna.

Bagiku, setiap proses memiliki ceritanya sendiri. Ada perjalanan yang terasa lapang, ada pula yang mengharuskan kita berhenti sejenak untuk mengumpulkan keberanian sebelum kembali melangkah.
Seperti kisah tahun lalu perjalanan literasi sampai kekota malang, lalu untuk melanjutkan tujuan dari selempang yang dianugerahkan kita butuh pengimbasan kesekolah setempat. Dari kesekian rencana, pengimbasan terhadap SDN SAPEKEN V kami lakukan.,,mungkin ada beberapa hal sempat diabadikan agar terlihat ada data  aksi, dalam mengikuti Literacy Innovation Golden Award.



LIGA IGINOS  sendiri saya tidak bisa kunjungi terlambatnya kapal, teman berangkat duluan menjadi cerita manis yang tidak hilang dari ingatan.
Dan Berjalannya waktu rasa lelah tidak menyurutkan diri untuk berhenti.  Beberapa pekan bulan yang telah berlalu selalu mengikuti kegiatan yang  membantu anak-anak dan cerita ini berlanjut dengan tawaran pegiat literasi  pak guru Pedia bersama KYM.

Aku pernah merasakan kebahagiaan ketika berhasil menyelesaikan buku antologi puisi bersama 50 peserta didik dalam jilid pertama. Proses itu bukan tanpa kesulitan. Ada keterbatasan keadaan, ada tantangan dalam membimbing anak-anak merangkai kata, dan ada usaha yang harus terus dijaga agar naskah mereka dapat tersusun menjadi sebuah buku.

Meski demikian, perlahan-lahan semuanya menemukan jalan. Dengan segala keterbatasan yang ada, buku itu akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Ada rasa syukur yang tumbuh, bukan semata-mata karena sebuah buku berhasil diterbitkan, melainkan karena anak-anak telah memperoleh pengalaman berharga: belajar menulis, menyampaikan gagasan, dan percaya bahwa kata-kata sederhana mereka layak menjadi bagian dari sebuah karya.

Pengalaman itu membuatku percaya bahwa kesungguhan, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar dapat mengantarkan kita melewati berbagai kesulitan.

Namun, ternyata tidak semua perjalanan berjalan dengan cara yang sama.

Ketika mengikuti proses penulisan buku bersama Menteri Pendidikan, Bupati, Kepala Dinas Pendidikan, serta tim pegiat literasi di Sumenep, aku kembali dihadapkan pada perjalanan yang berbeda. Kali ini, proses menyelesaikan tulisan terasa jauh lebih berat daripada yang kubayangkan.

Berbagai hambatan datang silih berganti. Waktu seakan-akan mengajakku berhenti, seolah berbisik bahwa aku tidak akan sanggup menyelesaikannya. Halangan demi halangan muncul ketika aku justru sedang berusaha menjaga tulisan agar tetap berjalan menuju garis akhir.

Aku yang biasanya dapat menyelesaikan tulisan dengan lebih leluasa, kali ini harus berhadapan dengan banyak hal yang menguras pikiran dan perasaan.

Ada saat ketika aku mulai bertanya kepada diri sendiri, Apakah ada kesalahan besar yang telah kulakukan? Mengapa kali ini begitu sulit? Mengapa jalan yang biasanya dapat kutempuh perlahan-lahan terasa seperti tembok tinggi yang menghalangi langkahku?

Pertanyaan-pertanyaan itu hadir tanpa selalu menemukan jawaban.

Sebagai guru pesisir yang terus belajar menghidupkan literasi di tengah keterbatasan, aku menyadari bahwa kemampuan menulis saja terkadang tidak cukup untuk membuat setiap proses berjalan mudah. Ada keadaan yang tidak dapat kita kendalikan, ada waktu yang terus bergerak, dan ada tuntutan yang harus diselesaikan ketika tenaga serta pikiran terasa semakin terbatas.

Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang perlahan kusadari: kesulitan bukanlah bukti bahwa aku tidak mampu. Kegagalan menyelesaikan sesuatu dengan sempurna pun bukan satu-satunya kemungkinan yang harus kutakuti.

Aku hanya perlu terus berusaha, melakukan yang terbaik sesuai kemampuanku, dan menerima bahwa tidak setiap karya dapat lahir melalui proses yang ideal.

Hingga akhirnya, ketika batas waktu hampir habis, naskah itu berhasil kukirimkan.

Ada kelegaan setelahnya, tetapi ada pula rasa yang tertinggal. Aku belum sepenuhnya puas dengan hasil yang kukirimkan. Masih ada bagian dari diriku yang berharap dapat memberikan lebih banyak, memperbaiki lebih banyak, dan menyelesaikan semuanya dengan keadaan yang lebih baik.

Namun, waktu telah membawa proses itu sampai pada batasnya. Aku pun belajar menerima bahwa terkadang keberanian bukan hanya tentang menghasilkan karya yang sempurna, melainkan juga tentang menyelesaikan tanggung jawab di tengah keadaan yang tidak sempurna.

Malam Minggu ini, ketika kembali merangkai cerita, aku mencoba memandang perjalanan itu dengan hati yang lebih lapang.

Aku tidak ingin terus-menerus menyalahkan diri sendiri hanya karena sebuah proses terasa lebih sulit daripada sebelumnya. Aku juga tidak ingin mengukur kemampuanku hanya berdasarkan seberapa mudah aku menyelesaikan sebuah tulisan.

Sebab, setiap perjalanan memiliki ujian yang berbeda. Buku antologi puisi bersama 50 peserta didik mengajarkanku tentang kesabaran dalam mendampingi anak-anak. Sementara itu, pengalaman menyelesaikan naskah bersama para tokoh pendidikan dan pegiat literasi mengajarkanku tentang keteguhan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Keduanya menyimpan pelajaran yang tidak sama, tetapi sama-sama berharga.

Kini, aku memahami bahwa perjalanan literasi bukan hanya tentang buku yang berhasil diterbitkan, tulisan yang selesai tepat waktu, atau nama yang tercantum di antara para penulis. Lebih dari itu, perjalanan ini juga tentang bagaimana aku mengenali keterbatasan diri, belajar menerima proses, dan menemukan kembali alasan mengapa aku memilih untuk menulis.

Aku menulis bukan karena setiap hari terasa mudah. Aku menulis karena selalu ada pengalaman yang layak dikenang, ada pelajaran yang ingin kubagikan, dan ada harapan yang ingin kutitipkan kepada anak-anak didikku.

Jika suatu hari nanti aku kembali menghadapi jalan yang terjal, aku ingin mengingat malam ini: malam ketika aku belajar bahwa berhenti sejenak untuk mengatur langkah tidak sama dengan menyerah, dan merasa lelah tidak berarti kehilangan kemampuan.

Bisikan untuk berhenti pernah hadir, tetapi aku memilih untuk tidak membiarkannya menjadi akhir dari perjalanan.

Aku melanjutkan langkah, meski perlahan. Aku menyelesaikan tanggung jawab, meski dengan perasaan yang belum sepenuhnya lega. Dan aku belajar bahwa menerima hasil yang belum sempurna bukan berarti berhenti memperbaiki diri.

Sebagai guru pesisir, aku mungkin masih memiliki banyak kekurangan. Masih banyak hal yang perlu kupelajari, masih banyak kata yang harus kurangkai, dan masih banyak pengalaman yang ingin kubagikan. Namun, selama masih ada kemauan untuk belajar, aku percaya selalu ada ruang untuk bertumbuh.

Malam Minggu Bercerita kali ini bukan tentang keberhasilan semata, melainkan tentang keberanian untuk tetap melanjutkan perjalanan ketika hati mulai meragukan kemampuan diri sendiri.

Sebab, tidak semua perjuangan harus berakhir dengan rasa puas. Ada kalanya sebuah perjalanan justru meninggalkan pelajaran yang baru kita pahami setelah melewatinya.

Dan jika kelak aku kembali menulis cerita tentang literasi, aku ingin mengingat satu hal: aku pernah berada di persimpangan antara berhenti dan melanjutkan, tetapi pada akhirnya aku memilih untuk terus belajar, terus bertumbuh, dan tetap menyalakan cahaya kecil melalui kata-kata.

Sebab, selama masih ada harapan, perjalanan belum benar-benar usai. Sebagai penutup tulisan ini, kalimat sakti Omjay tetap setia menemani tulisan kami, Menulislah Setiap Hari Dan Buktikan Yang terjadi_OMJAY. https://wijayalabs.com
 

RINDU MALAM_LAGU

RINDU MALAM


[Verse]
Kala senja turun, namamu tinggal gema
Di ruang yang dulu hangat, kini sepi tak bernyawa
Kau temani aku pulih dari retak yang lama
Lalu menghilang perlahan, tanpa jejak, tanpa suara

[Bridge]
Aku masih menunggu di tepi sepi
Menggenggam kenangan yang tak lagi kembali

[Chorus]
Kembalilah sekejap, biar hatiku tak jatuh lagi
Aku masih menyimpan namamu di paling sunyi
Kau yang menuntunku bangkit dari semua yang perih ini
Pergi tanpa kabar, membuat cintaku sepi tak terhenti

[Verse]
Setiap pagi kupanggil bayangmu dalam diam
Rindu ini tumbuh liar, mengisi seluruh malam
Kau pernah jadi rumah saat dunia terasa kelam
Kini aku belajar kuat, meski hatiku tenggelam

[Bridge]
Andai saja kau sempat mengucap selamat tinggal
Mungkin luka ini tak sedalam yang kutahan

[Chorus]
Kembalilah sekejap, biar hatiku tak jatuh lagi
Aku masih menyimpan namamu di paling sunyi
Kau yang menuntunku bangkit dari semua yang perih ini
Pergi tanpa kabar, membuat cintaku sepi tak terhenti

[Outro]
Jika takdir tak bisa memulangkanmu lagi
Biarlah rinduku bernyanyi di antara luka yang abadi

 Lirik lagu penuh rasa rindu.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi. Kalimat sakti Omjay.https://wijayalabs.com

Sabtu, 10 Oktober 2026

KEHILANGAN CAHAYA BESTI

KEHILANGAN
Karya : Sri Wulandari

Suara menggema bak melodi
Mengalun syahdu di relung sanubari

Perlahan sunyi bak nyala padam
Berganti hening menyesakkan malam

Menyendiri dalam kelam senja
Menatap langit muram tanpa bintang

Senja redup dalam siluet pilu
Bayang luka larut bersama waktu
.             .ohh....wajahku agak berubah🙃
Aku kehilangan juga terisih
Kau berlalu terus melangkah

Aku memeluk merangkul sisa bayang
Lalu melepas terhempas angin senja

Sapeken, 9 Oktober 2026

Puisi ini menggambarkan rasa kehilangan yang mendalam, kesunyian, kenangan yang tertinggal, dan kepasrahan ketika seseorang harus melepaskan kepergian.

Tak semua yang hilang harus kembali,
Tak semua luka abadi dalam diri.
Biarkan waktu merawat kenangan,
Jangan biarkan hilang memadamkan harapan. Esok siapa tau masih kembal
             Tarra....... Datang .....sulit²

Setiap pertemuan memiliki makna dan setiap perpisahan mengajarkan kedewasaan. Tidak semua yang hilang harus kembali, dan tidak semua kenangan harus dilupakan. Terkadang, kita hanya perlu berdamai dengan keadaan, memaafkan masa lalu, serta melangkah kembali dengan hati yang lebih lapang.

Jangan biarkan kehilangan merenggut seluruh kebahagiaan. Belajarlah menerima sesuatu yang telah berlalu, mengikhlaskan yang tak lagi bersama, dan merawat kenangan tanpa harus terus hidup di dalam kesedihan.  Tulisan malam ini versi mellow.

Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi , kalimat sakti Omjay berkata demikian...https://wijayalabs.com



Kamis, 08 Oktober 2026

Gerimis Rindu_Puisi

GERIMIS RINDU
Oleh: Sri Wulandari 


Gerimis jatuh membasahi jendela
Menyisakan jejak embun di kaca

Seperti kenangan yang tak sirna
Mengukir rindu dalam sukma

Bait-bait hujan memanggil namamu
Menari syahdu di atas daun-daun

Membawa semilir wangi setiamu
Mengajak hati berlayar dalam lamun

Setiap tetes adalah bisikan sunyi
Tentang janji yang tak pernah mati

Walau jarak terbentang kini
Cinta abadi tak akan berhenti

Biarlah gerimis ini jadi saksi
Kisah kita yang tak lekang waktu

Dalam setiap denting hati
Engkau selalu jadi melodi

Sapeken, 9 Oktober 2026

Makna yang tersirat yaitu, Tidak semua yang jauh harus dilupakan. Ada kenangan yang tetap menjadi cahaya, meski waktu dan jarak memisahkan. Sebab, sesuatu yang pernah bermakna dapat tetap hidup dalam hati, seperti bintang yang tetap bercahaya di balik gelapnya malam.

Makna keseluruhannya
“Geminis Rindu” menggambarkan seseorang yang sedang mengenang sebuah cinta atau hubungan yang terpisah oleh jarak dan waktu. Gerimis menjadi simbol kerinduan, malam menjadi ruang perenungan, sedangkan cahaya bintang menjadi lambang harapan bahwa sesuatu yang pernah berarti tidak benar-benar hilang.

Jadi jika dijabarkan memiliki makna secara garis besar.
1. Gerimis sebagai simbol kenangan
“Gerimis jatuh membasahi jendela atau menyisakan jejak embun di kaca”

2.Rindu yang masih tersimpan
“Seperti kenangan yang tak sirna atau mengukir rindu dalam sukma”

3. Hujan menjadi suara hati
“Bait-bait hujan memanggil namamu

4. Gerimis sebagai saksi perjalanan waktu
“Biarlah gerimis ini jadi saksi atau kisah kita yang tak lekang waktu”

5. Jarak tidak selalu memisahkan hati
“Walau jarak terbentang kini atau cinta abadi tak akan berhenti”

6. “Melodi” sebagai simbol kenangan yang terus terdengar
“Dalam setiap denting hati atau engkau selalu jadi melodi”


Menulislah setiap hari dan buktikan yang terjadi - Omjay. https://wijayalabs.com

Puisi Doa

Aku akan membuat sebuah Makna puisi yang berisi perjalanan batin seseorang yang sedang berusaha keluar dari gelap dirinya menuju cahaya Allah.


Secara garis besar menjelaskan tentang sebuah : Syukur kepada Allah, pembuka puisi menunjukkan kesadaran bahwa dunia dan seluruh alam semesta adalah ciptaan Allah.
Cahaya Ilahi “cahaya-Nya” menjadi simbol petunjuk, iman, kasih sayang, dan jalan menuju kebaikan.

Luka dalam jiwa “gelap penuh luka” menggambarkan kelemahan, kesedihan, amarah, ego, dan pergulatan batin manusia.
Kerinduan kepada teladan kekasih Allah — penyair memohon agar tidak kehilangan tuntunan dari sosok yang dicintai Allah, yang dapat dimaknai sebagai kerinduan kepada teladan Rasulullah ï·º.
Melawan ego dan keangkuhan bagian “amarah”, “ego”, dan “boneka dunia” merupakan pengakuan bahwa manusia bisa terjebak oleh hawa nafsu dan kesombongan.
Menjadi cahaya keinginan “agar gelapku menjadi nyala yang membara” bukan berarti menjadi sempurna, tetapi memiliki kekuatan iman untuk menerangi diri dan tidak kembali dikuasai kegelapan.

pesan terdalamnya adalah: manusia tidak hanya meminta agar hidupnya diterangi, tetapi juga memohon agar dirinya mampu menjadi cahaya bagi dirinya sendiri—dengan iman, keteladanan, kesabaran, dan pengendalian ego.

Puisi Mushahabah/ Doa
Oleh : Sri Wulandari


Cahaya yang Menuntun
Tanpa henti kuucap syukur pada Ilahi Rabbi
Yang menciptakan dunia dan alam semesta
Cahaya-Nya menuntun jiwa yang gelap penuh luka.

Ia datang membawa cinta dan iba
Wahai kekasih Allah Wahai kesayangan Allah
Jangan pergi aku butuh tuntunanmu
Agar gelapku menjadi nyala yang membara

Melindungiku dari gelap yang mencengkeram jiwa
Mataku kadang terbelenggu amarah dan ego
Keangkuhan menjadikanku boneka dunia

Bisakah engkau membimbingku
Agar sekuat cahayamu
Menanti hadirmu kembali dekap dalam abadi


Sapeken, 8 Oktober 2026

Menulislah setiap hari dan buktikan yang akan terjadi (OMJAY). https://Wijayalabs.com

Rabu, 07 Oktober 2026

Menyusuri Laut Menyimpan Kenangan

Malam Selasa Bercerita

Menyusuri Laut, Menyimpan Kenangan Bersama Anak-Anak

Malam Selasa ini aku ingin bercerita tentang kita, aku dan anak-anak didikku.

Sebelum mereka melangkah ke kelas yang lebih tinggi, ada banyak momen yang ingin kusimpan dalam ingatan. Bukan hanya tentang pelajaran di dalam kelas, tetapi juga tentang canda, tawa, kebersamaan, dan perjalanan kecil yang tanpa sadar menjadi kenangan besar.
Sore itu, anak-anak mengajakku melakukan sesuatu yang sederhana.

“Bu, kita bikin rujak, yuk!”
Ajakan sederhana itu akhirnya membawa kami menjelajah laut.
Di tempatku, ketika air laut mulai surut dan musim kering tiba, ada hamparan karang putih yang biasa dijadikan tempat duduk dan berkumpul. Pasir putih membentang, laut perlahan mengering, dan karang-karang mulai terlihat. Di sanalah kami berencana menikmati rujak bersama.

Kami menunggu air benar-benar surut.
Ketika waktunya tiba, perjalanan pun dimulai.

Anak-anak menyusuri laut yang perlahan membuka jalannya. Langkah demi langkah kami menuju karang putih. Sesampainya di sana, kami mulai mengupas buah dan menyiapkan rujak.

Rujakan pun dimulai.
Tentu saja, kalau sudah bersama anak-anak, rasanya tidak pernah benar-benar tenang. Selalu ada cerita lucu yang membuat kami tertawa.

Salah satunya ketika sandal seorang peserta didik tiba-tiba masuk ke sebuah lubang di antara karang. Ketika ia berusaha mengambilnya, sandal itu malah sulit dibalik dan tersangkut di sekitar kaki.

Kami spontan tertawa.
Bukan untuk menertawakan kesulitannya, tetapi karena kejadian sederhana itu berubah menjadi cerita lucu yang membuat suasana semakin hangat.
Di sela-sela tawa, kami juga mengabadikan momen dengan berfoto bersama.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan.
Kami menyusuri karang-karang laut, melihat berbagai biota yang selama ini akrab dengan kehidupan anak-anak pesisir. Ada berbagai jenis hasil laut yang mereka kenal dengan nama masing-masing. Bahkan bintang laut pun menjadi bagian dari permainan dan canda mereka.

Bagi sebagian orang, mungkin semua itu terlihat sederhana.
Namun bagi anak-anak pesisir, laut adalah halaman luas tempat mereka belajar mengenal kehidupan.

Hari mulai beranjak sore. Kami menyusuri pantai dari ujung ke ujung hingga akhirnya berhenti dan bermusyawarah untuk kembali ke daratan. Waktu magrib semakin dekat.

Kami pun pulang.
Sesampainya di daratan, aku baru menyadari bahwa anak-anak membawa cukup banyak hasil dari perjalanan kami.

Dalam pikiranku, tentu mereka akan membawa semuanya pulang ke rumah masing-masing.

Namun ternyata aku salah.
Mereka justru datang menghampiriku dan membagikan hasil yang mereka dapatkan.

“Bu, ini buat Ibu.”
Aku sempat terdiam.
“Lho, kok tidak dibawa pulang?”
Mereka menjawab dengan sederhana, seolah tidak ada yang istimewa.

“Buat Ibu saja.”
Kalimat pendek itu terasa begitu dalam.
Di situlah aku kembali belajar bahwa kebersamaan dengan anak-anak bukan hanya tentang apa yang bisa diberikan guru kepada murid. Kadang, justru dari tangan-tangan kecil mereka, seorang guru menerima ketulusan yang tidak ternilai.

Kami pun berpamitan.
Tetapi ternyata cerita belum selesai.
Kami masih menyimpan satu momen kebersamaan lainnya: makan bersama.

Dengan uang kas yang kami kumpulkan, kami membeli bahan makanan. Ada ikan untuk dibakar, ada ayam, dan tentu saja ada banyak cerita yang ikut tersaji di antara kami.

Kami duduk bersama, makan bersama, tertawa bersama.

Tidak ada jarak yang terasa kaku.
Yang ada hanyalah guru dan anak-anak yang sedang menikmati sebuah sore sederhana.

Kini aku sadar, momen seperti ini mungkin tidak akan terulang dengan cara yang sama.

Setiap generasi memiliki ceritanya sendiri.
Anak-anak yang pernah duduk di kelas empat akan membawa kenangan mereka sendiri ketika melangkah ke kelas berikutnya. Tahun depan mungkin akan hadir wajah-wajah baru, cerita baru, tawa baru, dan perjalanan yang berbeda.

Namun kenangan hari itu akan tetap menjadi bagian dari perjalanan kami.
Sebab pendidikan tidak selalu lahir dari papan tulis dan buku.

Kadang, pelajaran paling indah justru tumbuh ketika guru dan murid berjalan bersama, menyusuri laut, berbagi rujak, menertawakan sandal yang tersangkut di karang, mengumpulkan hasil laut, lalu duduk bersama menikmati makanan.

Dari laut aku belajar tentang kebersamaan.

Dari anak-anak aku belajar tentang ketulusan.

Dan dari sebuah sore sederhana, aku belajar bahwa kenangan terbaik tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mewah. Cukup kebersamaan yang tulus, tawa yang lepas, dan hati yang saling menghargai.

Mungkin suatu hari nanti mereka akan lupa pelajaran apa yang kami bahas pada hari itu.

Tetapi semoga mereka tidak lupa bahwa pernah ada seorang guru yang berjalan bersama mereka, tertawa bersama mereka, dan menyimpan setiap cerita kecil mereka sebagai kenangan yang berharga.

Karena setiap anak memiliki cerita.

Dan setiap generasi meninggalkan jejaknya sendiri.

Salam literasi.
Terus menuliskan setiap hari, mengabadikan yang terjadi, dan menemukan makna dari setiap perjalanan.
Menulislah setiap hari dan buktikan yang yang terjadi Omjay. https:// Wijayalabs.com

Hunter moon

HUNTER’S MOON Ketika Langit Kehilangan Bintang 26 Oktober 2026 Malam itu, langit tampak berbeda. Tak ada bintang yang berkedip d...

STATEGI MENANGKAL HOAKS